güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Teh Tarik

Salah satu minuman favoritku: Teh Tarik. Biasanya aku buat dari teh tarik sachet-an yang aku tambah sedikit susu kental manis dan bubuk kayu putih…eh bukan ding, bubuk kayu manis. Wkwkwk. [Asli, sebelum diedit barusan, aku cuma tulis bubuk kayu putih doang. Resep yang kacau!] :D

Barusan, sambil sarapan roti dan teh tarik, aku sambil blogwalking ke http://onewordonly.wordpress.com/. Eh, ternyata warnanya matching sama mug teh tarikku pagi ini ya? ;)

Persahabatan

Tadi pagi, aku, Papa, adikku, dan Hana menemani Mama periksa rutin ke dokter. Hihi. Iya, rame-rame. Papa pingin tetap ikut meskipun tugas menyetir sudah diambil alih adikku. Hana? Dia sih memang ke mana emaknya pergi maunya ngintilin terus.

Alhamdulillah, kata dokter, sudah ada kemajuan. Dan yang penting dokter optimis akan kesembuhan Mama. Menularkan semangat ke pasien, si Mama, dan aku, yang ikut nemenin ke dalam ruangan dokter — Papa, adikku, dan Hana tunggu di luar.

Setelah selesai periksa, Mama mengajak kami menjenguk sahabatnya yang sedang sakit di rumah sakit lain. Kebetulan masih sama-sama di selatan Jakarta. Kuyakinkan Mama, “Mama nggak pusing? Kuat? Nggak capek?”

“Nggak. Bisa kok,” jawab Mama pasti.

Mobil pun meluncur ke sana. Sebenarnya, aku sudah merencanakan untuk menjenguk sahabat Mama satu ini sore harinya, tanpa Mama. Tapi Mama pingin ikut. Jadi sekalian deh.

Waktu Mama dirawat beberapa minggu silam, sahabatnya yang sudah seperti saudara ini datang menjenguk juga lho.  Bahkan, tante baik hati ini lah yang membantu membujuk Mama untuk menyetujui sebuah tindakan medis yang disarankan dokter. Padahal, tadinya Mama takut dan menolak. Padahal, saat itu ia juga sedang kurang enak badan. Kakinya lagi bengkak.

Yang lebih membantu lagi, anak perempuan sahabat Mama ini sudah selesai mengambil spesialisasi internis di FKUI — usianya di bawahku lho. Jadi, sedikit-sedikit, aku memang konsul kepadanya soal Mama. Aku yakin ia akan jadi dokter hebat. Psssttt…bahkan penjelasannya lebih detil daripada yang kudapat dari tim dokter yang menangani Mama di rumah sakit.

Tadi, saat Mama memasuki ruangan, sahabatnya itu kayaknya seneng banget. Walau sambil bilang, “Duh, gue marah deh Emma pake dateng segala,” senyum merekah di bibirnya.

Hihi. Ternyata si Tante nggak mau ngerepotin Mama. Padahal Mama malah seneng bisa ketemu langsung sama sahabatnya, daripada cuma nanya-nanya ke aku soal kondisi si Tante.

Melihat mereka ngobrol, aku merasakan haru. Persahabatan yang sudah berpuluh tahun itu terus terjaga dengan baik. Kelihatan banget mereka saling sayang. Pembicaraan yang terjalin begitu indah, santun namun santai.

Ah, aku segera berdoa dalam hati. Semoga Mama dan sahabatnya itu (dan sahabat-sahabatnya yang lain) segera sembuh total dan selalu diberi kesehatan oleh Allah agar mereka bisa terus menjalin persahabatan dan silaturahmi. Aamiin.

Indah ya hidup ini jika kita dikelilingi para sahabat yang selalu mendukung dalam suka maupun duka? Care to share your story tentang sahabat tersayang? :)

Foto: by Martine Sansoucy 

Buat Mama

Selamat ulang tahun, Ma.

Semoga Mama panjang umur dalam nikmat sehat dan iman Islam.

Ma, di ulang tahun Mama, Nad mau berterima kasih dan minta maaf.

Terima kasih karena Mama selalu ada buat Nad. Dari hal besar, sampai yang sekecil-kecilnya, Mama selalu dukung Nad.

Maaf karena Nad sering ngerepotin Mama. Dari hal besar, sampai yang sekecil-kecilnya, Nad selalu deh, apa-apa Mama.

Karena memang, sama Mama lah Nad bisa bersandar. Sama Mama Nad bisa cerita. Sama Mama Nad bisa nangis. Sama Mama Nad bisa ketawa.

*bentar ya, Ma, Nad hapus air mata dulu*

Sampai saat ini, Nad belum bisa kasih apa-apa buat Mama. Nad belum bisa bahagiain Mama.

Kalau Mama tahu isi hati Nad, pingin rasanya Nad kasih semua yang terbaik dan terindah buat Mama. Tapi Nad tahu, sekarang ada yang bisa kasih semua itu buat Mama. Semoga Allah memberikan berkah kepadanya dan melindunginya. Aamiin.

Waktu Mama sakit kemarin, nggak ada yang indah di mata Nad, nggak ada yang sejuk di hati Nad.

Ma, sehat terus ya. Buat kita semua. Kita sayang Mama, sayang banget. Coba deh, tanya ke semua orang yang kenal Mama, ada yang nggak sayang sama Mama? Nggak ada, Ma. Nad yakin. Makanya Mama jaga kesehatan ya.

Buat Nad, Mama juga pedoman, contoh, suri tauladan. Semoga suatu hari nanti, Nad bisa kayak Mama. Selalu berusaha menyenangkan hati orang lain.

Nggak akan Nad lupa waktu Mama paksain makan masakan rumah sakit cuma karena Mama kasihan sama ibu-ibu yang masak yang dengan sedihnya bilang, “Ibu nggak suka ya masakan di sini?”

Walau sedikit, akhirnya Mama makan juga – Nad bantuin ngabisin bakso di capcaynya, hehe – padahal mulut Mama lagi sariawan banget. Dan ibu-ibu itu kayaknya seneng banget pas lihat Mama makan masakannya – yang rasanya adem dan bumbunya kayak belum mateng itu, hehe. Dan Mama ikut seneng.  :)

Ma, terima kasih sudah jadi Mama Nad, memberikan semua yang terbaik buat Nad. Semoga Allah memberi kebahagiaan yang jauh lebih banyak buat Mama, jauh lebih banyak daripada yang Mama pernah kasih ke Nad.

Semoga suatu hari nanti, Nad bener-bener bisa bahagiain Mama. Aamiin.

Happy birthday, Ma. I love you. So much!

- Nadiah Alwi, your only daughter -

[Foto: oleh Hana, dengan kamera HP]

Pancake Bantet

Selaluuuuu begitu. Pertama kali coba resep, sukses. Kedua kali, gagal. Contohnya pancake bantet ini.

Kalau rasa, masih sama lah dengan percobaan pertama membuat pancake. Tapi bentuk dan tekstur: Gagal! Jadilah pancake bantet dengan rasa nendang!

Selamat menikmati, Abi & Hana! :D

Konflik

Pada dasarnya, saya tipe orang yang malas jika harus berkonflik. Saya lebih suka diam dan menjalani atau mengacuhkan saja. Selama masih kuat, selama kesabaran masih banyak tersisa.

Tapi, tak jarang saya terpaksa mengungkapkan sesuatu yang mungkin dapat memicu konflik. Saya tidak suka. Tapi harus dilakukan. Tidak bisa saya acuhkan begitu saja.

Kalau sudah begitu, perut saya terasa sakit. Tapi, kalau tidak saya ungkapkan, dada saya terasa sesak. Simalakama banget nggak, sih!

Saya sadar, hidup ini tidak sendiri. Mau tidak mau saya harus berinteraksi. Meskipun interaksi itu sendiri kerap berurusan dengan hal-hal yang dapat memicu konflik.

Semoga saya kuat menahan diri dan memiliki stok kesabaran sebanyak mungkin, agar tidak perlu berkonflik dengan siapapun. Aamiin.