Aku sedang berpikir, apa makna pekerjaan bagi seseorang? Apakah pekerjaan adalah semata sarana mencari nafkah? Atau lebih dari itu?
Idealnya, tentu lebih dari sekadar sarana mencari nafkah. Pekerjaan itu semestinya juga membahagiakan. Bagaimana tidak? Waktu yang dialokasikan untuk bekerja (terutama yang bekerja kantoran) minimal adalah tujuh jam. Sudikah kita merasa tidak bahagia selama tujuh jam?
Tentu tidak. Tapi, itu kan idealnya. Dalam hidup ini, tidak semua bisa berjalan mulus dan sesuai dengan idealisme. Tidak sedikit yang terpaksa membunuh idealismenya demi sesuap dua suap nasi.
Miris memang. Tapi dengan harga daging sapi yang mencapai seratus ribu per kilogram, harga bawang yang mencapai lima puluh ribu per kilogram, dan kebutuhan hidup yang kian mencekik leher, bisa apa kita?
Buat mereka yang dapat berbahagia dalam melaksanakan pekerjaan, bersyukurlah. Uang dapat, kenyamanan dapat, pahala pun dapat — mencari nafkah berpahala, bukan?
Bagi mereka yang merasa terpaksa dalam menjalani pekerjaan, bersabarlah dan bersabarlah. Tak ada sabar yang tak berbuah manis. Kelak, rasa bahagia dan nyaman dalam bekerja akan datang juga. Memang, terkadang rasanya ingin mengomel, tapi ah, itu kan hanya akan menambah dosa. Rugi banget dong, nggak bahagia, nggak nyaman, dapat dosa lagi!
Yakin saja, bahwa segalanya akan indah pada waktunya. Oh ya, tentunya dengan diiringi keteguhan dalam mencari pekerjaan yang lebih baik. Bersabar bukan berarti hanya diam berpangku tangan lho!
Kalau kata Bapak Mario Teguh, pantaskanlah dirimu untuk hal yang lebih baik!