Arisan oh arisan…

Inget tak? Aku pernah bahas tentang arisan sebelumnya. Hehee…nggak inget ya? Ya enggak lah…belum pernah main-main ke sini kan? ;)

bahagiaAnyway, setelah ngedumel panjang kali lebar di sini, guess what?! Yup, aku dapat arisan! Entah peruntungan, atau memang Allah mengabulkan doaku agar nasib arisanku putaran ini tidak sama dengan arisan putaran lalu, ketika aku harus menelan pil pahit…aku termasuk orang-orang terakhir yang dapat arisan! Dan, aku terbebas dari inflasi! Hihihi…

Dan, bulan September mendatang, insya Allah aku dan adik iparku akan menjadi tuan rumah — karena memang kami mendapat arisan berbarengan. Karena belum punya rumah sendiri — makanya doain dong, pleaseeee… — kami sudah minta ijin kepada Mama untuk menggunakan rumah Mama sebagai lokasi arisan berikut. Alhamdulillah, Mama setuju. Love you, Mom!

Sebenarnya ada yang mau ditulis lagi malam ini. Tapi, capek bener. Jadi, next time aja kali ya. Ini cuma mau mengekspresikan kebahagiaanku karena tidak perlu memikirkan inflasi 3,5 tahun mendatang andaikata aku dapat arisan paling buntut.

Gambar oleh Billy Alexander.

Doa Tilawah Qur’an

Tadi setelah bersih2 menjelang tidur, Hana bersenandung, “Allahummarhamna bil Qur’an…”

Dan, Bunda pun teringat masa-masa mengaji siang-siang dulu di Daarul Qur’an pimpinan K.H. Masyhuri Syahid MA. Kami sering menyanyikan lagu itu.

Ketika Bunda mulai ikut bernyanyi, Hana seneng banget. Padahal, Bunda lupa liriknya, hanya ingat sebagian.

Akhirnya kami googling dan nemu ini…dan kami nyanyi2 lagi sampe Hana bobo tadi.

Bunda mencari liriknya, dan menemukannya di sini. Terima kasih, Mas Muhammad.

Rahmat Qur’an
oleh: Haddad Alwi dan Shila

Versi Bahasa Indonesia

Allah turunkan rahmat qur’an
jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran
Allah ingatkan kami
semua yang kami lalai, berikan ilmu yang bermanfaat
jadikan qur’an bacaan yang kami cinta
di malam dan siang
jadikan Qur’an penerang
Ya Robbal ‘alamin

Versi Bahasa Inggris

Oh Allah bless us with al Qur’an
Make it our leader our light our guide and blessing
Allah remind us of what we forget and teach us what we don’t know
Oh my beloved Allah
Do al Qur’an as our reading all night and all day,
All night and all day
Make al Qur’an our foundation
Ya Robbal Alamin

Versi Bahasa Arab

Allahummarhamna bil Qur’an
Waj’alhulana imamaw wa nurrow wahudaw wa rohmah
Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa a’limna minhuma jahilna
Warzuqna tilawatahu aana
Allaili wa athrofannahar
Waj’alhu lana hujjatan
Ya Robbal ‘Alamin

Arisan!

Hampir sebagian besar orang (atau perempuan) di Indonesia pernah berurusan dengan yang namanya ARISAN.

arisanDi KBBI, dijelaskan bahwa ARISAN adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan di sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Sepanjang hidupku di usia ganda ketiga ini, aku sudah pernah melewati beberapa arisan. Arisan dengan teman SD, dengan keluarga kecil, dengan keluarga besar, dengan sepupu-sepupu, dan entah arisan apa lagi.

Dan, hari ini aku baru memulai arisan sesi baru dengan keluarga besar. Sangat besar. Bayangkan, pesertanya 40 orang — dan akan masih bertambah. Pertemuan dilakukan setiap dua bulan sekali dan sekali kocok, dua nama yang keluar. Jadi, kalau ditotal 40 bulan akan kami lalui dalam arisan ini.

40 bulan itu berarti 3 tahun 4 bulan — dan, ingat, bisa lebih. LAMA!

Tadi, aku berusaha memberi solusi untuk menambahkan nama yang keluar saat dikocok menjadi 4 orang. Sehingga, usia ARISAN ini takkan lebih dari 20 bulan.

Kenapa? Karena, nilai uang orang yang mendapat arisan lebih dulu dan yang terakhir tidak sama jika usia arisan ini harus sampai bertahun-tahun lamanya. Inflasi dan teman-temannya penyebabnya. Bayangkan saja, dalam kurun waktu tak sampai 2 tahun saja harga beberapa kebutuhan pokok naik hampir 2 kali lipatnya.

Tapi, sungguh disayangkan, peserta arisan lainnya menolak. Karena, memang jika 4 orang yang mendapat arisan, maka jumlahnya menjadi hanya setengah dari angka yang mereka dapatkan jika hanya 2 nama yang keluar. Tapi, bayangkan jika harus menunggu lebih dari tiga tahun untuk jumlah yang sesungguhnya tidak terlalu besar itu?

Aku sampai menjelaskannya dua kali. Dan, hanya ada 3 orang lainnya yang sepaham denganku.

Entah apa penyebabnya. Perbedaan pandangan dan pemahaman akan arisan atau uang? Perbedaan (baca: kesenjangan) pola pikir? Atau, mereka sekedar tidak mau berpikir lebih jauh?

Pokoknya dapat arisan sejumlah x bukan x/2.

Akhirnya, sebagai kelompok minoritas, kami terpaksa mengalah dan mengikuti mayoritas meskipun kami tahu betul bahwa kami benar dan mereka kurang benar — sepertinya bukan hal yang aneh ya belakangan ini?

Jadi, mari bermain arisan selama 40 bulan (atau lebih) ke depan…

Congrats, Nad!

Mencinta

mencintaSudah ia katakan berkali-kali, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk mencinta.

“Tapi, kamu masih memiliki kemampuan untuk dicinta.”

Lagi-lagi ia nyatakan, bahwa untuk dicinta, tidak diperlukan kemampuan, melainkan kebutuhan. Pria itu tak paham.

Ia meminta pria itu pergi dulu dari hidupnya, selama beberapa saat. Ia ingin melihat, apakah ia mampu mencinta atau butuh dicinta. Jika satu saja terpenuhi, mungkin ia takkan mengelak lagi dari pria itu.

Jika ia mampu mencinta, ia akan menerimanya. Jika ia butuh dicinta, ia juga akan menerimanya.

Beberapa hari berlalu. Ia tak juga menemukan kemampuan itu.

Ia menunggu lagi.

Beberapa minggu berselang. Tak juga datang kebutuhan itu.

Tapi, ia akhirnya menerima pria itu. Entah untuk alasan apa, ia sendiri tak paham. Mungkin, ada hal-hal yang tak selamanya bisa dipahami.

Kini, ia bersanding di sebelah pria itu, tanpa kemampuan untuk mencinta ataupun kebutuhan untuk dicinta.

[Picture by: Allie Hylton]

Berbahaya

bahayaIa terhenyak. Tiba-tiba nama orang itu tak ada lagi di dalam daftar kontaknya. Ia sampai mencari berkali-kali. Apakah ia menghapusku dari daftar kontaknya? Tanyanya dalam hati.

Dua hari kemudian, ia menerima pesan di telepon genggamnya. Maaf, istriku menghapus kontak2ku yg menurutnya “berbahaya”. Jgn balas SMS ini ya.

Berbahaya? Ia kembali terhenyak. Apa yang harus dibahayakan dari dirinya? Astaghfirullah.

Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika orang itu mengirimkan pesan pribadi dan meminta saran bagaimana menghadapi istrinya — hubungan mereka sepertinya sedang kacau. Sebagai seorang sahabat lama, ia mencoba menyuarakan pendapatnya dengan membalas pesan itu. Karena itu kah?

Dan, kini ia berbahaya? Karena menjawab pesan itu dengan niat baik agar pernikahan orang itu dan istrinya tetap berada pada arah yang benar?

Ia tersenyum. Berbahaya. Ya, ini semua berbahaya. Istri orang itu berbahaya. Kini, ia hanya bersyukur karena tak harus berurusan lagi dengan orang itu — dan urusan-urusannya.

[Beautiful pic by Billy Alexander]