Sepi
Posted in Fiksi on 04/18/2009 10:18 pm by Nadiah Alwi
Sore itu, hujan turun malu-malu. Di telapak tangan yang kukeluarkan dari jendela bus, hanya ada bintik-bintik kecil air.
Tapi, kulihat awan begitu pekat. Angin berhembus kencang. Ah, mungkin awan pekat itu sudah tergiring hembusan angin, pikirku.
Di hadapanku, di kursi yang letaknya persis di belakang kursi sang supir, dua gadis SMA sedang saling berbagi cerita.
Mereka tertawa, berbisik, tak pernah diam. Satu selesai berbicara, yang satu lagi mengawali cerita.
Andai aku bisa begitu, bercerita panjang lebar dengan seorang teman. Aku iri. Aku ingin begitu.
Mataku kembali menekuni rintik malu-malu hujan di luar bus. Bahkan dalam malu saja hujan masih turun bersama-sama.
Aku merasa begitu sepi.
Hari ini adalah hari keluar rumah bagi saya. Pagi bertemu rekan bisnis
Belum lama ini, saya berbincang dengan seorang sahabat tentang gaya sebagian penduduk dunia maya dalam memberi komentar atau mengutarakan buah pikiran dan isi hatinya.
Seakan kasar mereka definisikan sebagai ‘keren’ atau bahasa Inggrisnya ‘cool.’ The ruder you become, the cooler you are.
Lucunya, di dunia maya, banyak yang merasa lebih mudah mengeluarkan makian. Padahal, mungkin di dunia nyata ia tak sekasar itu–ok, ada juga sih yang baik di dunia maya maupun nyata sama saja kelakuannya, itu sudah nasibnya memiliki sikap tak mengenakkan seperti itu.
Barusan, lihat TV, saya kaget juga. Ternyata Abdul Hadi Jamal, tersangka kasus suap dana stimulus proyek pengembangan fasilitas laut dan udara di wilayah timur Indonesia, banyak dipilih. Caleg dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan I ini mendapat lebih dari 800 suara mengalahkan caleg lainnya. (CMIIW.)
Ternyata, saya nggak merasa perlu menunggu hingga minggu depan. Tadi saya iseng-iseng mencari template / theme yang pas dan ketemu yang satu ini. Bukan yang paling pas di hati sih tapi lumayan lah. Nggak terlalu ribet, cukup simple tapi ada unsur cantiknya.
