Archive for June, 2009

Social Entrepreneur

freshSemalam saya menyempatkan diri ikut dalam acara Fresh yang diadakan di FX. Tema yang diusung adalah “Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change“.

Saat memutuskan untuk berangkat, saya tidak tahu apa Social Entrepreneurship dan Online Movement for Social Change itu. Yang saya tahu, dengan ikutan Fresh, saya pasti dapat informasi baru dan terinspirasi.

Dan, benar saja. Selain jadi paham akan tema tersebut, saya juga terinspirasi.

Pembicara yang paling membuat saya terkesan malam itu adalah Grace dari Books for Hope dan Pandji ‘Kena Deh‘ — andai semalam bisa bawa Hana, anakku, dia suka banget acara ‘Kena Deh’-nya Pandji huhuhu.

Grace membuka mata saya bahwa siapapun dapat membantu orang lain dan ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membantu.

Pandji mengajak saya kembali mengingat kenangan saat saya ikut dalam acara kunjungan ke RSCM, menjenguk anak-anak yang sedang sakit karena Pandji melakukan hal yang sama di RS. Dharmais. Di samping itu, Pandji benar-benar seorang entertainer sejati deh.

Nah, sekarang…apa sih social entrepreneur?

Itu adalah julukan bagi seseorang yang memecahkan ma sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip  entrepreneurial. Ia seorang yang inovatif, kreatif dan gigih.

Menurut Grace, seorang social entrepreneur adalah perpaduan antara Richard Branson, pemilik brand Virgin, yang penuh ide gila dalam menjalankan bisnisnya dan Bunda Theresa yang berhati mulia.

Belum selesai Grace menerangkan, saya langsung mendapat ide untuk situs tentang anak yang saya kelola, http://tingkahanak.com. Segera saya ambil buku catatan yang selalu saya bawa ke mana-mana. Saya tuangkan ide tersebut berikut langkah-langkah yang harus saya ambil. Semoga saja dapat terwujud.

Saat dalam perjalanan pulang, saya baru teringat, sebenarnya ide ini sudah muncul di awal-awal pembuatan situs tersebut. Syukurlah, dengan ikut Fresh semalam, saya kembali tercolek untuk menjalankannya.

Tentang Pandji. Ia memasuki panggung dengan iringan lagunya, Untuk Indonesia.

“Angkat tanganmu untuk Indonesia,” seru Pandji. “Yang nggak angkat tangan bukan orang Indonesia.”

Langsung semua yang hadir mengangkat tangan. Ada sih, 1 – 2 yang enggak, sepertinya lagi asyik nge-tweet-in acara Fresh. :D

Dari Pandji, saya tahu tentang C3 Friends. Apa sih C3 Friends? Intip aja website-nya. Yang pasti, kalau kamu ke sana, kamu bisa ikut bantu anak-anak penderita kanker.

Nah, banyak cara kan untuk menjadi seorang social entrepreneur?

Nggak yakin bisa? Mulai dari hal yang sederhana. Bantulah orang di dekatmu. Siapa aja. Seperti misalnya salah seorang perempuan yang menunjuk tangan saat Pandji tanya siapa yang sudah bantu orang kemarin. Mbak tersebut membantu orang lain dengan memberikan data. Ya, itu pun sebuah bentuk bantuan.

Jadi, apapun itu, bantuan dalam bentuk apapun, yang bagaimanapun, lakukanlah. Mulai dari yang kecil.

Suka ngeblog? Share sesuatu yang berguna. Jangan cuma curhat-curhat aja >> nunjuk diri sendiri.

Kata W. Churchil — yang semalam dikutip Ibu Ayling dari UNICEF, We make a living by what we get but we make a life by what we give.”

Kata Grace, “Do you want to make a difference in other people’s life?

Kata Pandji, “Add another layer to your life. You’re a father to someone, a lover to someone, now add another one by helping others.”

Datang ke acara Fresh memang bikin Fresh! Oh ya, semalam Fresh bisa ditonton juga di http://freshyourmind.com/tv/ loh.

BTW, acara semalam ternyata disponsori oleh ACER dan Microsoft, karena sekalian lauching “Bringing ICT into Villages” sebuah kolaborasi  antara ACER-Microsoft dan Books for Hope untuk membantu peningkatan computer literacy di sekolah-sekolah di Indonesia. Proyek pertama mereka adalah sebuah sekolah di Cirebon.

Mengolah Rasa

rasa-senyumSaya memperhatikan, semakin umur saya bertambah, saya harus semakin pandai mengolah rasa.

Mengolah rasa kadang sama dengan menutupi rasa, di lain waktu sama dengan mengubah rasa, di kesempatan lain sama dengan memutarbalikkan rasa.

Semua yang saya sebut di atas tentunya ketika saya harus berurusan dengan orang lain. Terhadap diri sendiri, saya sangat jujur akan rasa.

Saya bukan orang yang selalu meledak-ledak — walau beberapa kali kecolongan. Saya lebih suka mengolah rasa yang sedang bercokol di hati untuk kemudian saya telusuri setiap jengkalnya, dan melahirkan emosi yang saya sendiri yang tahu. Sendiri.

Terdengar melelahkan bagi sebagian orang, memang. Tapi, saya lebih nyaman begitu.

Rasa adalah rahasia jiwa dan hanya saya yang tahu.

Memberi Makan Orang yang Sedang Berpuasa

Beberapa waktu sebelum Maghrib, saat saya lewat di meja makan, saya menemukan sebungkus kantung plastik yang berisi dua gelas bubur sumsum + biji salak. Wuih, menggoda nian.

Saya tanya ke mereka yang ada di dekat-dekat sana punya siapakah makanan itu. Tak ada seorang pun yang tahu.

“Dikirim untuk Ibu berbuka mungkin,” ujar Pengasuh Hana.

“Siapa yang kirim?”

“Yang nggak kelihatan,” jawabnya asal.

Hayah…

Jujur, saya benar-benar tegoda oleh tampilan makanan tersebut. Saya berusaha mencari tahu. Apakah ini rejeki saya atau bukan.

Adik saya yang tengah, Najib, keluar kamar. Dan, ketika saya tanyakan kepadanya, senyum saya pun terkembang.

“Tadi dari teman.”

“Kakak lagi puasa nih…boleh minta buat berbuka?”

“Makan aja, Kak.”

“Alhamdulillah.”

Kebetulan, adik bungsu saya juga sedang puasa, jadi satu gelas untuk saya, satu lagi untuk dia. Alhamdulillah.

Terima kasih untuk teman Najib. Terima kasih juga untuk Najib. Insya Allah, kalian berdua juga mendapatkan pahala puasa kami. Amin.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya? Ia bisa memberi makan orang yang sedang berpuasa meski ia awalnya hanya berniat memberikan makanan tersebut untuk orang yang tidak sedang berpuasa.

Ket. gambar: dari blog Bunda Inong.

Nikmat dan Indahnya Sehat

Akhir minggu yang lalu, saya mengalami rasa sakit yang belum pernah saya rasakan sebelumnya di sekitar bagian belakang pinggang.

Jum’at malam rasa sakit itu masih tertahankan. Namun, setelah saya minta pijit ke Hana, anak saya yang memang enak pijitannya itu, rasa sakit justru semakin terasa. Saya mulai sulit bergerak.

Sabtu pagi, Mama saya yakin betul kalau saya itu sebenarnya hanya masuk angin. Saya ragu sih, karena kenapa jika masuk angin, rasa sakit itu berkumpul di pinggang belakang sebelah kiri?

Saya semakin sulit bergerak. Berdiri sakit, duduk sakit, berbaring pun sakit.

Akhirnya, Sabtu malam saya ke Pak Haji Dulo Tepok alias Haji Abdullah Tabrani, dukun urut/pijit langganan keluarga sejak 2001 — saat itu saya jatuh dan beliau yang menyembuhkan. Menurut Pak Haji, sebenarnya tidak parah. Namun, pemijitan yang salah itu yang membuat rasa sakit itu menjadi hebat.

Hari Minggunya saya sudah merasa enakan, bahkan dapat membantu di acara Akikah keponakan. Saya mulai bebas bergerak.

Malamnya, saya tercengang. Betapa nikmat dan indahnya sehat. Padahal, sehari sebelumnya, saya merasa tersiksa karena jika bergerak sedikit saja, rasa sakit mendera.

kerja-di-rumahTapi dasar manusia ya…sudah merasa enakan, saya memforsir diri. Duduk berlama-lama di depan komputer. Akibatnya, rasa sakit itu muncul lagi walau sedikit. Sepertinya, saya harus kembali ke Pak Haji.

Semestinya saya memang bersyukur dengan kesembuhan instan itu dengan menjaga diri, sering-sering istirahat dengan membaringkan diri saat bekerja — saya bekerja di rumah jadi bisa berbaring jika lelah.

Sepertinya, kini saat saya berbaring…

Jualan Boleh Jutek?

anak-pasarEnggak dong.

Makanya, saat saya sedang menangani pelanggan di http://bukumurmer.multiply.com, meski mereka kadang suka ‘lucu-lucu’, saya berusaha se-cool mungkin.

Nah, tadi sore, saya dan Hana, anak semata wayang, jalan-jalan ke pasar. Bukan yang pertama kali buatnya, ke pasar tradisional. Tapi, ia belum pernah ke bagian sayur-mayur. Ia nampak bingung. Karena, selama ini yang ia lihat sayur tertata apik dalam ruangan yang bersih di hypermart.

Tapi, bukan jalan-jalan berdua Hana yang hendak saya bahas di sini, melainkan tingkah polah penjual yang saya temui di pasar tadi.

Ada yang ramah, tapi begitu saya menawar, mereka membalikkan tubuh, pura-pura sibuk merapikan barang dagangan.

Ada pula yang sejak awal memang acuh tak acuh.

Ada pula yang bete saat tahu ia tak menjual barang yang saya cari dan malah dengan nada mengesalkan menawarkan barang lain.

Ada yang seakan tak butuh pelanggan yang membeli barang sedikit karena ada yang sedang membeli dengan jumlah yang lebih banyak.

Ada yang jutek. Sejutek-juteknya.

Tapi ada pula yang memang benar-benar ramah. Keramahan yang tulus. Dan, saya berbelanja di sana, tentunya. Apalagi saya boleh menawar.

Wajah tanpa aura jutek sudah pasti mampu menarik pelanggan. Jualan sukses. Hati senang.

Buat apa jutek? Jutek itu tak ada gunanyaaa…