güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for June 2nd, 2009

Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?

Tadi siang di FB saya dikejutkan oleh berita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang ditahan karena dianggap merusak nama baik sebuah rumah sakit.

Padahal, menurut postingan beberapa teman blogger dan setelah membaca ‘Surat Pembaca‘ yang ditulis oleh Mbak Prita, ia justru mengalami malpraktek di rumah sakit tersebut.

Sungguh aneh bila kemudian ia yang jusru dipenjarakan karena apa yang ia tulis tersebut.

Tak bisa dipungkiri, UU ITE memang membuat saya agak berhati-hati dalam ngeblog. Tapi, saya tak pernah menyangka akibatnya bisa serunyam itu.

Saya hanya berharap Mbak Prita segera mendapatkan keadilan. Semoga para penegak hukum mendengarkan hati nurani mereka.

Sangat miris membayangkan kedua anak Mbak Prita yang masih sangat kecil harus terpisah dari ibunya hanya karena hal yang semacam ini.

Berikut petikan dari blog Ndoro Kakung:

Prita bukan seorang teroris. Ia bukan koruptor. Dia bukan pembunuh bayaran. Prita hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang terpaksa mendekam di penjara gara-gara menulis email.

Semoga negeri ini masih memiliki sisa keadilan.

Mengunjungi Museum R.A. Kartini

museumrakartiniMinggu lalu, saya melakukan business trip ke Jawa Tengah. Salah satu kota tujuan adalah Jepara. Karena sudah sampai di sana, meski hari menjelang Maghrib (saat itu sudah jam 17.30 sore), saya dan rekan-rekan menyempatkan diri mengunjungi Museum R.A. Kartini.

Museum tutup jam 4 sore. Tapi, kami beruntung. Salah seorang penjaga yang baik hati — karena tahu kami dari Jakarta — memberi kesempatan untuk mengintip salah satu ruangan.

Saat memasuki ruangan tersebut, aura mistis agak terasa. Foto-foto tua dan lukisan R.A. Kartini yang besar itu seakan menyergap saya. Namun, saya berusaha sekuat tenaga mengabaikannya dan tetap terlihat santai dan berani — walau dalam hati saya terus berdo’a.

museum-kartiniAura mistis lebih terasa lagi saat kami memasuki sisi lain ruangan tersebut yang hanya tersekat kayu, ruangan meditasi Kartono, kakak R.A. Kartini. Ia dikenal sebagai dokter air, karena dapat menyembuhkan orang lain dengan memberikan air.

Di ruangan itu, kalau tidak salah, terdapat 5 lukisan lainnya. Saya sudah tidak konsen saat si penjaga menjelaskan lukisan siapa saja itu. Saya sedang berusaha menghalau bukan lagi bulu kuduk yang merinding, namun rasa tak enak di bahu saya. Entah apakah karena saya sekedar ketakutan atau memang ada hal lain.

andong-ra-kartiniTapi, tak dapat dipungkiri, semua memang merasa takut berada di dalam sana. Keesokan hari, dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, barulah kami membahasnya.

Mungkin memang karena kami datang menjelang Maghrib, suasana yang sepi, ruangan yang remang-remang, dan penuh dengan benda yang berumur ratusan tahun, ada yang berbeda dengan ruangan tersebut.

Salah seorang rekan kerja berfoto di dekat pintu masuk, namun setelah itu ia memutuskan untuk tidak berfoto lagi. Rekan kerja lainnya baru hendak berfoto, namun ia mendapati baterai kameranya habis. Wajar sih, karena memang seharian kami berfoto ria. Saya sendiri hanya mengambil gambar andong alias kereta kuda – tanpa kuda tentunya — R.A. Kartini dan tulisan Museum R.A. Kartini di bagian depan museum. Di dalam ruangan, saya memutuskan untuk menyimpan rapi kamera saya.