Archive for June 12th, 2009

Jualan Boleh Jutek?

anak-pasarEnggak dong.

Makanya, saat saya sedang menangani pelanggan di http://bukumurmer.multiply.com, meski mereka kadang suka ‘lucu-lucu’, saya berusaha se-cool mungkin.

Nah, tadi sore, saya dan Hana, anak semata wayang, jalan-jalan ke pasar. Bukan yang pertama kali buatnya, ke pasar tradisional. Tapi, ia belum pernah ke bagian sayur-mayur. Ia nampak bingung. Karena, selama ini yang ia lihat sayur tertata apik dalam ruangan yang bersih di hypermart.

Tapi, bukan jalan-jalan berdua Hana yang hendak saya bahas di sini, melainkan tingkah polah penjual yang saya temui di pasar tadi.

Ada yang ramah, tapi begitu saya menawar, mereka membalikkan tubuh, pura-pura sibuk merapikan barang dagangan.

Ada pula yang sejak awal memang acuh tak acuh.

Ada pula yang bete saat tahu ia tak menjual barang yang saya cari dan malah dengan nada mengesalkan menawarkan barang lain.

Ada yang seakan tak butuh pelanggan yang membeli barang sedikit karena ada yang sedang membeli dengan jumlah yang lebih banyak.

Ada yang jutek. Sejutek-juteknya.

Tapi ada pula yang memang benar-benar ramah. Keramahan yang tulus. Dan, saya berbelanja di sana, tentunya. Apalagi saya boleh menawar.

Wajah tanpa aura jutek sudah pasti mampu menarik pelanggan. Jualan sukses. Hati senang.

Buat apa jutek? Jutek itu tak ada gunanyaaa…

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com

Sop Mutilasi

sop-mutilasiAda kisah yang terlupakan saat saya melakukan business trip ke Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

Saat itu kami sudah sangat lapar, namun di sepanjang Pantura kami tak juga menemukan rumah makan yang kelihatannya cukup oke untuk makan siang.

Saya lupa tepatnya di mana, tapi yang pasti kami sudah memasuki wilayah Jawa Tengah, kami mendapati sebuah rumah makan yang tampak luarnya sangat representatif. Duh, saya pun lupa namanya apa.

Kami langsung menyerbu. Ternyata, kami harus memilih makanan dari display. Membingungkan, karena nampaknya semua menarik.

Mata saya melirik ke dinding di belakang pramusaji. Ada tulisan yang sangat menarik perhatian:

Sop Mutilasi >>> sebenarnya saya agak kurang yakin nama sebenarnya apa, tapi seigat saya, kata mutilasi itulah yang membuat saya tertarik.

O-ow…nama sop yang aneh. Saya colek-colekan dengan teman-teman seperjalanan.

“Mas, itu sop apa?”

“Oh, itu sop ayam, Mbak.”

“Kok namanya seperti itu?”

“Karena ayamnya memang dimutilasi.”

Well, ok, semua ayam pastinya harus dipotong kan sebelum dimasak. Saya pesan satu, juga beberapa teman yang lain.

Dan…benar saja, ayam itu sudah termutilasi dengan suksesnya di atas mangkuk. Ceker dan kepala terkulai pasrah di atas hamparan sayuran pendamping.

sop-ayamSaya, yang tak suka ceker bila tidak digoreng kering dan terlebih tidak suka kepala ayam, langsung menghibahkan keduanya kepada teman yang lain.

Awalnya, sop itu terasa lumayan enak, apalagi tampilannya bening gitu. Tapi, lama-lama bau amis ayam tercium. Saya batal menghabiskan kuah sop seperti niat semula.

Yah, paling tidak, saya sudah pernah mencicipi dan tahu rasa dan bentuk sop ayam mutilasi. Hiy! Poor chicken!