güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for June, 2009

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com

Sop Mutilasi

sop-mutilasiAda kisah yang terlupakan saat saya melakukan business trip ke Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

Saat itu kami sudah sangat lapar, namun di sepanjang Pantura kami tak juga menemukan rumah makan yang kelihatannya cukup oke untuk makan siang.

Saya lupa tepatnya di mana, tapi yang pasti kami sudah memasuki wilayah Jawa Tengah, kami mendapati sebuah rumah makan yang tampak luarnya sangat representatif. Duh, saya pun lupa namanya apa.

Kami langsung menyerbu. Ternyata, kami harus memilih makanan dari display. Membingungkan, karena nampaknya semua menarik.

Mata saya melirik ke dinding di belakang pramusaji. Ada tulisan yang sangat menarik perhatian:

Sop Mutilasi >>> sebenarnya saya agak kurang yakin nama sebenarnya apa, tapi seigat saya, kata mutilasi itulah yang membuat saya tertarik.

O-ow…nama sop yang aneh. Saya colek-colekan dengan teman-teman seperjalanan.

“Mas, itu sop apa?”

“Oh, itu sop ayam, Mbak.”

“Kok namanya seperti itu?”

“Karena ayamnya memang dimutilasi.”

Well, ok, semua ayam pastinya harus dipotong kan sebelum dimasak. Saya pesan satu, juga beberapa teman yang lain.

Dan…benar saja, ayam itu sudah termutilasi dengan suksesnya di atas mangkuk. Ceker dan kepala terkulai pasrah di atas hamparan sayuran pendamping.

sop-ayamSaya, yang tak suka ceker bila tidak digoreng kering dan terlebih tidak suka kepala ayam, langsung menghibahkan keduanya kepada teman yang lain.

Awalnya, sop itu terasa lumayan enak, apalagi tampilannya bening gitu. Tapi, lama-lama bau amis ayam tercium. Saya batal menghabiskan kuah sop seperti niat semula.

Yah, paling tidak, saya sudah pernah mencicipi dan tahu rasa dan bentuk sop ayam mutilasi. Hiy! Poor chicken!

Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?

Tadi siang di FB saya dikejutkan oleh berita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang ditahan karena dianggap merusak nama baik sebuah rumah sakit.

Padahal, menurut postingan beberapa teman blogger dan setelah membaca ‘Surat Pembaca‘ yang ditulis oleh Mbak Prita, ia justru mengalami malpraktek di rumah sakit tersebut.

Sungguh aneh bila kemudian ia yang jusru dipenjarakan karena apa yang ia tulis tersebut.

Tak bisa dipungkiri, UU ITE memang membuat saya agak berhati-hati dalam ngeblog. Tapi, saya tak pernah menyangka akibatnya bisa serunyam itu.

Saya hanya berharap Mbak Prita segera mendapatkan keadilan. Semoga para penegak hukum mendengarkan hati nurani mereka.

Sangat miris membayangkan kedua anak Mbak Prita yang masih sangat kecil harus terpisah dari ibunya hanya karena hal yang semacam ini.

Berikut petikan dari blog Ndoro Kakung:

Prita bukan seorang teroris. Ia bukan koruptor. Dia bukan pembunuh bayaran. Prita hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang terpaksa mendekam di penjara gara-gara menulis email.

Semoga negeri ini masih memiliki sisa keadilan.

Mengunjungi Museum R.A. Kartini

museumrakartiniMinggu lalu, saya melakukan business trip ke Jawa Tengah. Salah satu kota tujuan adalah Jepara. Karena sudah sampai di sana, meski hari menjelang Maghrib (saat itu sudah jam 17.30 sore), saya dan rekan-rekan menyempatkan diri mengunjungi Museum R.A. Kartini.

Museum tutup jam 4 sore. Tapi, kami beruntung. Salah seorang penjaga yang baik hati — karena tahu kami dari Jakarta — memberi kesempatan untuk mengintip salah satu ruangan.

Saat memasuki ruangan tersebut, aura mistis agak terasa. Foto-foto tua dan lukisan R.A. Kartini yang besar itu seakan menyergap saya. Namun, saya berusaha sekuat tenaga mengabaikannya dan tetap terlihat santai dan berani — walau dalam hati saya terus berdo’a.

museum-kartiniAura mistis lebih terasa lagi saat kami memasuki sisi lain ruangan tersebut yang hanya tersekat kayu, ruangan meditasi Kartono, kakak R.A. Kartini. Ia dikenal sebagai dokter air, karena dapat menyembuhkan orang lain dengan memberikan air.

Di ruangan itu, kalau tidak salah, terdapat 5 lukisan lainnya. Saya sudah tidak konsen saat si penjaga menjelaskan lukisan siapa saja itu. Saya sedang berusaha menghalau bukan lagi bulu kuduk yang merinding, namun rasa tak enak di bahu saya. Entah apakah karena saya sekedar ketakutan atau memang ada hal lain.

andong-ra-kartiniTapi, tak dapat dipungkiri, semua memang merasa takut berada di dalam sana. Keesokan hari, dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, barulah kami membahasnya.

Mungkin memang karena kami datang menjelang Maghrib, suasana yang sepi, ruangan yang remang-remang, dan penuh dengan benda yang berumur ratusan tahun, ada yang berbeda dengan ruangan tersebut.

Salah seorang rekan kerja berfoto di dekat pintu masuk, namun setelah itu ia memutuskan untuk tidak berfoto lagi. Rekan kerja lainnya baru hendak berfoto, namun ia mendapati baterai kameranya habis. Wajar sih, karena memang seharian kami berfoto ria. Saya sendiri hanya mengambil gambar andong alias kereta kuda – tanpa kuda tentunya — R.A. Kartini dan tulisan Museum R.A. Kartini di bagian depan museum. Di dalam ruangan, saya memutuskan untuk menyimpan rapi kamera saya.