Menerjemahkan Lagi
Buku yang sempat saya ceritakan itu sudah di tangan sekarang. Awalnya saya ragu karena hanya diberi waktu satu setengah bulan oleh penerbit untuk merampungkan proses penerjemahan buku yang terbalnya mencapai 460 halaman ini.
Namun, setelah berdiskusi dengan sang editor baik hati, saya pun diberi waktu selama dua bulan. Alhamdulillah.
Meski itu berarti saya harus bekerja lagi di malam hari — karena siang hari saya berkomitmen kepada pengembangan http://kainikat.com/ — saya sangat senang.
Mengapa?
Karena kali ini buku yang saya terjemahkan adalah sebuah novel. Berkat semangat seorang kawan penerjemah lainnya, saya bertekad untuk menyelesaikan novel ini sesuai deadline. Amin.
Selama satu setengah bulan lalu, saya sempat berjibaku dengan penerjemahan sebuah buku autobiografi – nanti setelah terbit saya beritahu judulnya. Buku yang menarik, proses penerjemahan yang seru.
Jika kata yang saya cari tidak dapat ditemukan dalam kamus warisan itu, saya menjelajah ke negeri Paman Google. Saya membuka beberapa online dictionnary sekaligus untuk memperbandingkan artinya. Apalagi, saya pernah menemukan beberapa kata yang memiliki banyak makna. Saya harus dapat mengambil makna yang paling sesuai dengan konteks.
Frase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi 