Archive for August, 2009

Menerjemahkan Lagi

bukuBuku yang sempat saya ceritakan itu sudah di tangan sekarang. Awalnya saya ragu karena hanya diberi waktu satu setengah bulan oleh penerbit untuk merampungkan proses penerjemahan buku yang terbalnya mencapai 460 halaman ini.

Namun, setelah berdiskusi dengan sang editor baik hati, saya pun diberi waktu selama dua bulan. Alhamdulillah.

Meski itu berarti saya harus bekerja lagi di malam hari — karena siang hari saya berkomitmen kepada pengembangan http://kainikat.com/ — saya sangat senang.

Mengapa?

Karena kali ini buku yang saya terjemahkan adalah sebuah novel. Berkat semangat seorang kawan penerjemah lainnya, saya bertekad untuk menyelesaikan novel ini sesuai deadline. Amin.

Ramadhan Dahulu dan Kini

Tak terasa sudah Ramadhan lagi. Alhamdulillah. Setahun berlalu, banyak hal terjadi, banyak hal berganti.

Mulai dari Hana yang semakin besar, hingga saya sendiri yang melalui banyak peristiwa.

Hana sekarang sudah ikut tarawih dan puasa. Benar-benar berbeda setelah ia berusia lima tahun. Hana bukan bayi lagi.

Dan, saya…banyak hal telah berubah.

Tahun lalu, saya masih bekerja sebagai web content editor untuk saluran Astro Oasis, tepatnya untuk PT. AKV. Astro Oasis sendiri adalah saluran keluarga dengan konten Islami. Sehingga, suasana Ramadhan menjadi lebih syahdu karena keterlibatan saya dalam berbagai hal di saluran tersebut.

Mulai dari ikut membantu beberapa konferensi pers, turut dalam rapat  programming, hingga mengedit beberapa acara untuk ditampilkan di website — yang merupakan tugas saya sehari-hari.

Pengalaman yang luar biasa, baik dari sisi profesional maupun spiritual. Saya semakin sadar bahwa di negeri ini, belum ada saluran serupa. Saluran yang mengingatkan kita bukan hanya tentang keindahan duniawi, namun juga nikmat ukhrawi.

Bukan hanya itu, suasana Ramadhan pun begitu terasa di PT. AKV. Saat istirahat / Dzuhur tiba — atau di waktu Ashar, banyak rekan kerja yang sibuk dengan Al-Qur’an masing-masing di tangan. Sore hari, jika waktu Maghrib menjelang, selalu dihidangkan makanan kecil untuk menemani berbuka — tak lupa hidangan susu coklat lezat di fun room.

Di luar semua itu, banyak hal yang membuat saya harus mengakui bahwa bekerja untuk AKV merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Karenanya, saat saya dipersilakan untuk menyelesaikan kontrak hingga pertengahan Februari 2009 yang lalu, saya seperti orang patah hati. Not only was it the best job ever, but also the best working place.

Namun, semua tinggal kenangan — kenangan yang hampir selalu membuat saya menangis setiap mengingatnya.

Sekarang, saya bekerja di rumah, dengan pekerjaan yang juga menarik, dengan orang-orang yang baik — kami bekerja di virtual office. Hikmahnya, saya tetap dapat beribadah dengan sama khusyuknya dengan tahun lalu (atau lebih?).

Kuncinya adalah tetap ikhlas dan bersyukur. Menerima dan menikmati apapun yang ditetapkan oleh-Nya atas diri saya. Seperti kata atasan saya di Astro Oasis, Mas Tomi Satryatomo, beberapa waktu yang lalu — entah di mana saya lupa, di FB sepertinya — yang intinya mengajak kami semua untuk move on, melanjutkan hidup kami masing-masing dan tidak terpuruk kesedihan.

Yah, mudah-mudahan saya bisa. Tapi, jika sudah patah hati, terkadang sulit untuk melupakan. Baik saat-saat yang indah, maupun saat-saat yang menyakitkan.

Yang pasti, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan terdahulu. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, seberbeda apapun keadaannya.

Saya dan Slang Amerika

menerjemahkanSelama satu setengah bulan lalu, saya sempat berjibaku dengan penerjemahan sebuah buku autobiografi – nanti setelah terbit saya beritahu judulnya. Buku yang menarik, proses penerjemahan yang seru.

Buku ini bukan buku pertama yang saya terjemahkan. Saya sudah pernah mengalihbahasakan sekitar tujuh buku sebelum ini. Namun, yang satu ini berbeda, karena autobiografi. Dan, banyak terdapat kata / idiom slang Amerika di dalamnya.

Sang penulis adalah tokoh yang sangat terkenal di negaranya sana. Dan, penggunaan kata / idiom slang merupakan hal yang menarik. Karena, saya harus membuka-buka bukan hanya online dictionnary, namun juga kamus slang Amerika warisan kakek saya.

kamus-slang-amerikaJika kata yang saya cari tidak dapat ditemukan dalam kamus warisan itu, saya menjelajah ke negeri Paman Google. Saya membuka beberapa online dictionnary sekaligus untuk memperbandingkan artinya. Apalagi, saya pernah menemukan beberapa kata yang memiliki banyak makna. Saya harus dapat mengambil makna yang paling sesuai dengan konteks.

Menerjemahkan buku satu ini saya memang sangat berhati-hati — bukan berarti sebelumnya saya tidak berhati-hati loh. Karena, saya tidak ingin ada kesalahan dalam pemaknaan kata. Semua di dalamnya adalah kisah nyata. Salah sedikit saja, sudah nggak asik lagi.

Dengar-dengar, penerbit sudah menyiapkan sebuah buku lainnya untuk saya terjemahkan. Kira-kira keseruan apa lagi yang akan saya temukan ya?

;)

EGP

Emang Gue Pikirin.

egpFrase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi ;) — dalam menggambarkan keinginan untuk tidak memikirkan suatu permasalahan.

Nah, saya sedang berusaha begitu. Karena, pada dasarnya, saya sebenarnya tipe orang yang apa-apa dipikirin. Capek juga loh. Tapi mengubah diri kan nggak segampang itu.

Memikirkan segala sesuatu membuat kita rentan stres memang. Sedikit-sedikit sakit kepala — atau bahkan menangis.

Padahal, dengan EGP, hal yang kita anggap beban bisa berubah menjadi hal yang enteng. Okelah, mungkin hanya sesaat. Tapi, lumayan kan, daripada seharian harus mutung?

Saya juga tipe orang yang senang menyiksa diri. Jika ada masalah, dibayang-bayangkan, diingat-ingat. Duh, tersiksa deh pokoknya. Kerja juga nggak konsen jadinya.

Tapi, alhamdulillah, terapi EGP — walu belum dapat membuat saya berubah 100% — dapat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Apalagi, belakangan tuntutan pekerjaan sedang tinggi.

Jika EGP dapat membuat hidup lebih damai, kenapa nggak? :D