Ramadhan Dahulu dan Kini
Posted in Islam, Pekerjaan, Saya / Aku on 08/22/2009 09:56 pm by Nadiah AlwiTak terasa sudah Ramadhan lagi. Alhamdulillah. Setahun berlalu, banyak hal terjadi, banyak hal berganti.
Mulai dari Hana yang semakin besar, hingga saya sendiri yang melalui banyak peristiwa.
Hana sekarang sudah ikut tarawih dan puasa. Benar-benar berbeda setelah ia berusia lima tahun. Hana bukan bayi lagi.
Dan, saya…banyak hal telah berubah.
Tahun lalu, saya masih bekerja sebagai web content editor untuk saluran Astro Oasis, tepatnya untuk PT. AKV. Astro Oasis sendiri adalah saluran keluarga dengan konten Islami. Sehingga, suasana Ramadhan menjadi lebih syahdu karena keterlibatan saya dalam berbagai hal di saluran tersebut.
Mulai dari ikut membantu beberapa konferensi pers, turut dalam rapat programming, hingga mengedit beberapa acara untuk ditampilkan di website — yang merupakan tugas saya sehari-hari.
Pengalaman yang luar biasa, baik dari sisi profesional maupun spiritual. Saya semakin sadar bahwa di negeri ini, belum ada saluran serupa. Saluran yang mengingatkan kita bukan hanya tentang keindahan duniawi, namun juga nikmat ukhrawi.
Bukan hanya itu, suasana Ramadhan pun begitu terasa di PT. AKV. Saat istirahat / Dzuhur tiba — atau di waktu Ashar, banyak rekan kerja yang sibuk dengan Al-Qur’an masing-masing di tangan. Sore hari, jika waktu Maghrib menjelang, selalu dihidangkan makanan kecil untuk menemani berbuka — tak lupa hidangan susu coklat lezat di fun room.
Di luar semua itu, banyak hal yang membuat saya harus mengakui bahwa bekerja untuk AKV merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Karenanya, saat saya dipersilakan untuk menyelesaikan kontrak hingga pertengahan Februari 2009 yang lalu, saya seperti orang patah hati. Not only was it the best job ever, but also the best working place.
Namun, semua tinggal kenangan — kenangan yang hampir selalu membuat saya menangis setiap mengingatnya.
Sekarang, saya bekerja di rumah, dengan pekerjaan yang juga menarik, dengan orang-orang yang baik — kami bekerja di virtual office. Hikmahnya, saya tetap dapat beribadah dengan sama khusyuknya dengan tahun lalu (atau lebih?).
Kuncinya adalah tetap ikhlas dan bersyukur. Menerima dan menikmati apapun yang ditetapkan oleh-Nya atas diri saya. Seperti kata atasan saya di Astro Oasis, Mas Tomi Satryatomo, beberapa waktu yang lalu — entah di mana saya lupa, di FB sepertinya — yang intinya mengajak kami semua untuk move on, melanjutkan hidup kami masing-masing dan tidak terpuruk kesedihan.
Yah, mudah-mudahan saya bisa. Tapi, jika sudah patah hati, terkadang sulit untuk melupakan. Baik saat-saat yang indah, maupun saat-saat yang menyakitkan.
Yang pasti, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan terdahulu. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, seberbeda apapun keadaannya.

