güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for September, 2009

Antara Aya dan Kalila

Yang biasa nonton Para Pencari Tuhan pasti sudah terbiasa dengan nama dua perempuan ini. Yang belum?

para-pencari-tuhanOk, saya jelaskan sedikit. Dua perempuan ini adalah tokoh dalam serial Para Pencari Tuhan (PPT) yang tayang di SCTV setiap sore dan pagi di bulan Ramadhan.

Kenapa saya membahas dua perempuan ini secara khusus dalam blog saya?

Karena saya gemas! Hahaha!

Jujur, pada 2 PPT sebelumnya  (sejauh ini sudah 3 tahun PPT tayang di saluran televisi satu itu), saya kurang suka dengan tokoh Aya yang kesannya cuek-cuek butuh kepada Azzam.

Siapa pula Azzam?

Azzam adalah seorang pria dari kalangan berada yang menjadi teman Bang Jack (diperankan oleh Deddy Mizwar), sang penjaga Mushalla. Kalau tidak salah, awalnya dia berpura-pura bukan dari kalangan berada (CMIIW, saya kurang mengikuti dengan intens PPT 1 dulu).

Nah, pada PPT 1 dan PPT 2, Azzam dikisahkan ada hati dengan Aya, adik ipar ustadz di kampung itu. Namun, Aya merasa butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan diri bahwa memang Azzam lah pria yang akan menemani dalam sisa hidupnya.

Di akhir PPT 2, dimunculkan rasa suka dari pihak Kalila. Kalila adalah keponakan Pak Djalal, orang terkaya di kampung itu, sekaligus teman Aya.

Nah…pada PPT 3, rasa suka itu sudah berkembang menjadi cinta. Sampai episode tadi sore, dikisahkan bahwa Kalila ingin memperjuangkan cintanya terhadap Azzam.

Ini yang membuat gemas!

Mari kita lihat permasalahan ini dari sisi Aya terlebih dahulu. Aya yang awalnya tidak yakin terhadap Azzam, kini harus juga — dengan caranya sendiri — memperjuangkan cinta Azzam terhadap dirinya. Kenapa harus? Buat apa memperjuangkan cinta seorang pria yang belum ada komitmen apa-apa saja sudah berani terang-terangan menaruh hati pada perempuan lain?!

Lalu, kita coba lihat dari sisi Kalila. Ugh…saya awalnya suka sekali dengan tokoh manis satu ini. Baik, sopan, lucu, cantik pula. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Apa dia tidak punya hati? Kekasih sahabatnya sendiri? Kayak nggak ada laki-laki lain aja deh!

Mereka memperjuangkan cinta seorang Azzam yang plin-plan, oprtunis dalam percintaan, dan senang bersembunyi di balik kisah-kisah jaman Rasulallah SAW untuk menyelamatkan diri jika sedang berhadapan dengan kedua perempuan itu dalam waktu yang bersamaan?

Apa ini yang dinamakan cinta buta?

Terus terang, saya penasaran. Hendak ke mana Mas Wahyu HS, sang penulis skenario, membawa kisah cinta ini pada PPT 3? Apakah akan menggantung di ujung Ramadhan? Ataukah PPT3 akan berakhir dengan pernikahan antara Azzam dengan salah satu perempuan itu? ;)

Tapi, sebenarnya, bukan hanya kisah cinta yang membuat saya terus mengikuti serial satu ini. Sungguh, banyak sekali yang dapat dipelajari di sana.

Dari dialog sederhana Kak Mira, istri sabar Bang Asrul, tokoh yang amat miskin, saya belajar bagaimana menjadi istri solehah — suami saya sampai berkomentar: surga nih, buat istri seperti ini. Dan, banyak lagi…kalau saya sebut satu per satu di sini, bisa sampai pagi ;) .

Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya lagi, PPT masih akan tayang. Atau, minimal serial sejenis. Yang penting tulisan Mas Wahyu AS dan garapan Bang Jack…eh, maksudnya Mas Deddy Mizwar.

Keterangan Foto: dari sini.

Berpikir Sistematis

klasifikasi-barangSaya bukan orang yang paling rapi di dunia. Kadang malah cenderung berantakan — karena saya tipe orang yang terbiasa melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Tapi, saya berusaha untuk tetap berpikir sistematis di antara hal-hal yang berantakan itu.

Misalkan, dengan mendata. Saya senang membuat data-data yang jelas, sehingga membuat saya mudah memahami sesuatu dan mempermudah pekerjaan saya.

Hal ini saya pelajari ketika saya menjadi sekretaris dulu. Beberapa atasan dan rekan kerja yang membimbing saya dalam berpikir sistematis. Bukan apa-apa, saya tidak berlatar belakang pendidikan kesekretarisan, jadi perlu bimbingan khusus.

Setelah itu, saya berusaha menerapkan pola pikir sistematis dalam setiap pekerjaan saya selanjutnya — meski saya tidak lagi berprofesi sebagai sekretaris.

Saya lebih suka jika semua diklasifikasikan terlebih dulu, baru kemudian diaplikasikan. Dengan begitu, hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan dan pengcekan progress pekerjaan menjadi lebih mudah. Apalagi berhubungan dengan pekerjaan yang melibatkan tim.

Saya yakin, jika semua jelas, segalanya akan lebih mudah.

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)