Archive for November, 2009

Tentang Menulis Blog

Saya sudah menulis blog sejak tahun 2004. Mulai di blogspot, lalu di multiply, lalu kembali ke blogspot.

Saya sangat mencintai dunia blog karena akhirnya saya dapat mengekspresikan diri melalui tulisan di tempat yang lebih seru ketimbang buku harian.

Setelah 4 tahun melanglang buana di dunia maya menggunakan blog gratisan, akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk memiliki blog non gratisan. Saya mengawalinya dengan http://tingkahanak.com yang memang saya dedikasikan khusus untuk hal-hal yang berbau anak.

Dan, awal 2009 ini, saya melangkah lebih jauh dengan memiliki situs yang menggunakan nama saya, http://nadiahalwi.com/. A ‘lil bit narsis memang. Tapi, demi kecintaan pada tulis-menulis dan blog, saya jabanin juga.

Awalnya, seperti pada blog-blog saya yang lain, saya ber-aku ria. Tapi, memasuki bulan kedua kepemilikian blog ini, saya memutuskan untuk ber-saya ria. Alasannya adalah karena saya tak mengenal semua pengunjung web saya. Jadi, kata saya terasa lebih tepat.

Namun, saya mulai berpikir-pikir lagi. Karena, seorang sahabat yang baru saja saya minta berkunjung ke sini protes. Katanya, terlalu kaku. Dan, bukan saya banget.

Jadi, sekarang, saya sedang menimbang-nimbang untuk kembali ber-aku ria di sini. Plin-plan ya? Haha…

Terlebih, saya baru saja mengunjungi blog saya yang lama, http://bunda-nadnuts.blogspot.com/. Kok rasanya lebih seru ber-aku ria?

Hm…we’ll see. Tapi, yang pasti, ber-aku atau ber-saya, saya tetap suka ngeblog. Dan, akan terus ngeblog — kecuali lagi dikejar deadline.

Gambar koleksi http://www.islandheritage.org/. Agak gak nyambung ya sebenarnya. Hehe…

Negeri van Oranje

Negeri van Oranje Negeri van Oranje by Wahyuningrat

My rating: 3 of 5 stars

Keputusan untuk membeli buku ini semata didasari rasa penasaran. Apa sih isinya?

Hm…salahnya, pada halaman 70-an, saya membaca-baca komen teman-teman GR tentang buku ini. Yang tadinya tidak ada pemikiran begini-begitu, jadi ada.

Tapi, memang, harus saya akui, teman-teman GR ada benarnya. Saya melewatkan cukup banyak halaman yang isinya penjelasan panjang-lebar tentang Belanda — padahal saya cukup tertarik dengan negeri kincir angin ini loh.

Ada juga sih beberapa yang tetap saya baca karena cukup menarik memang. Hanya saja, rasanya terlalu berlebihan. Sehingga, konflik yang disajikan dalam novel ini menjadi terlalu ringan.

Untungnya, saya memang sedang mencari bacaan ringan. Jadi, masih asyik-asyik saja. Dan, saya menikmati ‘persahabatan’ kelima tokoh dalam buku ini.

Lebih lagi, harus diakui, cara bercerita para penulis buku ini cukup enak. Ditambah lagi, banyak ilustrasi lucu seperti misalnya ada deskripsi hal-hal yang dilakukan tokoh, penulis menambahkan footnote yang kira-kira isinya: ‘kebayang gak? gak kebayang kan?’ (cmiiw)…sisi itu yang paling saya suka dari buku ini.

Hanya saja, ada yang sedikit mengganggu. Digambarkan bahwa salah satu tokoh mendapat rekomendasi beasiswa dari Gus Dur yang masih menjabat sebagai Presiden. Itu berarti, setting-nya terjadi pada tahun ‘99 – ‘01.

Biasanya, kuliah master 1 – 2 tahun (cmiiw, blm jd master soalnya) kan? Kalau dihitung-hitung, andai rekomendasi itu diterima pada 2001, setting latar waktu paling lama hingga 2003. Tapi, kenapa digambarkan seakan Facebook sudah booming — kalau tak salah, FB digagas baru pada tahun 2004 (cmiiw again). Tokoh-tokohnya dikisahkan sudah mengunggah foto-foto ke FB. Kalau Friendster memang lagi seru-serunya saat itu (cmiiw) ya? Tapi, FB?

Oh ya, yang terakhir ini sekedar bertanya ya, saya bisa saja salah, dan dengan senang hati menerima penjelasan mengenai settingan itu. Dan, jika saya salah, dengan senang hati pula mengoreksi catatan kecil saya tentang buku ini.

View all my reviews >>

Menghadapi Revisi

televisiBeberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.

Namun, ternyata mau tak mau, saya juga harus berjumpa dengan serangkaian revisi. Mulai dari revisi pada penulisan hingga revisi yang berkenaan dengan daya jual naskah.

Awalnya, gemas juga dengan revisi-revisi tersebut, apalagi acara tersebut kejar tayang. Jadi, revisi harus dilakukan segera.

Namun, belakangan, saya sudah mulai agak terbiasa.

Revisi memang tidak bisa dihindari. Ada unsur selera juga yang bermain. Memang, ada pakem-pakem yang sudah disepakati bersama. Namun, tak dapat dipungkiri, selera setiap orang berbeda.

Apapun hasilnya, saya menghargai betul kesempatan pertama ini. Saya dapat berlajar banyak hal. Terutama, melalui revisi-revisi tersebut.

Dan, memang itu yang saya kejar dari setiap pekerjaan yang saya jalani. Tak apalah jika saya belum berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebin tinggi lagi — saya pernah bermimpi mengambil master dalam bidang creative writing. Saya ternyata dapat belajar banyak dari serangkaian pekerjaan yang saya jalani sekarang.

[Cerpen] Kenangan yang Terlepas dari Pandangan

ruangan kosongRumah itu tidak besar, tidak pula kecil. Cukuplah untuk menampung kami sekeluarga. Kuakui, tanda-tanda bekas bocor ada di mana-mana. Di langit-langit kamarku juga ada. Aku dan dua adik perempuanku — sambil berbaring santai — kerap menebak-nebak dan membayangkan bercak kecoklatan itu sebagai buaya, awan gelap, ubur-ubur, sepatu, bintang laut patah kaki, kue bolu, dan banyak lagi.

Kamarku paling kecil karena aku menempatinya sendiri. Dua adikku yang lain menempati kamar yang lebih luas karena mereka berbagi. Tapi, mereka sering juga ‘menginap’ di kamarku. Dan, parahnya lagi, kami juga sering menghabiskan siang di kamar Mama, sebelum si empunya kamar pulang. Kamar Mama dan Papa adalah kamar paling nyaman, ada AC, ada televisi, ada DVD player, ada kamar mandi dalam. Lengkap.

Terkadang, di kamar tersebut, di akhir minggu, kami menonton film bersama, aku, dua adikku, dan Mama. Papa? Ia memilih mengobrol dengan tetangga di teras. Karena, yang kami tonton adalah komedi romantis. Dan, Papa sama sekali tidak romantis!

Klik untuk melanjutkan membaca ya »