Tentang Menulis Blog
Posted in Blogging, Kata, Saya / Aku on 11/25/2009 09:37 pm by Nadiah AlwiSaya sudah menulis blog sejak tahun 2004. Mulai di blogspot, lalu di multiply, lalu kembali ke blogspot.
Saya sangat mencintai dunia blog karena akhirnya saya dapat mengekspresikan diri melalui tulisan di tempat yang lebih seru ketimbang buku harian.
Setelah 4 tahun melanglang buana di dunia maya menggunakan blog gratisan, akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk memiliki blog non gratisan. Saya mengawalinya dengan http://tingkahanak.com yang memang saya dedikasikan khusus untuk hal-hal yang berbau anak.
Dan, awal 2009 ini, saya melangkah lebih jauh dengan memiliki situs yang menggunakan nama saya, http://nadiahalwi.com/. A ‘lil bit narsis memang. Tapi, demi kecintaan pada tulis-menulis dan blog, saya jabanin juga.
Awalnya, seperti pada blog-blog saya yang lain, saya ber-aku ria. Tapi, memasuki bulan kedua kepemilikian blog ini, saya memutuskan untuk ber-saya ria. Alasannya adalah karena saya tak mengenal semua pengunjung web saya. Jadi, kata saya terasa lebih tepat.
Namun, saya mulai berpikir-pikir lagi. Karena, seorang sahabat yang baru saja saya minta berkunjung ke sini protes. Katanya, terlalu kaku. Dan, bukan saya banget.
Jadi, sekarang, saya sedang menimbang-nimbang untuk kembali ber-aku ria di sini. Plin-plan ya? Haha…
Terlebih, saya baru saja mengunjungi blog saya yang lama, http://bunda-nadnuts.blogspot.com/. Kok rasanya lebih seru ber-aku ria?
Hm…we’ll see. Tapi, yang pasti, ber-aku atau ber-saya, saya tetap suka ngeblog. Dan, akan terus ngeblog — kecuali lagi dikejar deadline.
Gambar koleksi http://www.islandheritage.org/. Agak gak nyambung ya sebenarnya. Hehe…

Beberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.
Rumah itu tidak besar, tidak pula kecil. Cukuplah untuk menampung kami sekeluarga. Kuakui, tanda-tanda bekas bocor ada di mana-mana. Di langit-langit kamarku juga ada. Aku dan dua adik perempuanku — sambil berbaring santai — kerap menebak-nebak dan membayangkan bercak kecoklatan itu sebagai buaya, awan gelap, ubur-ubur, sepatu, bintang laut patah kaki, kue bolu, dan banyak lagi.
