Archive for December, 2009

Kurang dari 1 jam menuju tahun 2010

Tahun Masehi yang baru…

Saat pergantian tahun Hijriah beberapa hari yang lalu, aku sudah menggantungkan 2 cita-cita besar. Tapi, justru di saat pergantian tahun Masehi ini, ada bimbang di hati sehubungan dengan salah satu cita-cita tersebut.

Apakah itu sebuah keputusan yang benar? Belum lagi aku dihantui oleh sekelumit permasalahan yang mungkin akan timbul.

Hm…entahlah.

Jadi ingat tahun-tahun sebelum ini, aku sempat takut bercita-cita. Akankah tahun ini aku kembali merasakan takut itu?

Lagi-lagi…entahlah…

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter

Dokter Bagas…namanya sih boleh juga. Nama yang sangat gagah bahkan. Seindah nama Dokter Putri, Dokter Jessica, Dokter Nadya. Paling tidak, ada yang patut disyukuri dari dirinya: nama yang indah.

Dokter Bagas masih menjelaskan tentang kesehatan tubuh di depan kelas. Ia tidak terlihat terlalu malu-malu lagi sekarang. Ia dengan tenang menjelaskan semua yang perlu kami ketahui dengan baik.

Tiba saatnya untuk mengajukan pertanyaan. Seisi kelas terdiam. Selalu begitu! Kelasku memang anti bertanya. Itu yang membuatku tidak betah di sini.

“Gadis, kamu ada pertanyaan?” tiba-tiba Bu Halimah bersuara. “Dokter, Gadis ingin jadi dokter juga suatu hari nanti. Nilainya dalam pelajaran biologi bagus semua. Biasanya dia punya pertanyaan.” Lalu, Bu Halimah menoleh ke arah Gadis lagi. “Pasti kamu punya pertanyaan, Gadis.”

Memang ada, Bu. Tapi, kali ini aku sedang tidak mood untuk bertanya, maaf saja. Bukan hanya itu, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan ulu hatiku seperti habis ditonjok, mual sekali.

“Kamu pucat sekali, Gadis,” kata Dokter Bagas sok akrab.

“Saya baik-baik saja, Pak Dokter. Saya cuma lupa sarapan, jadi sekarang saya mual…”

“Nah, anak-anak, Gadis ini adalah contoh yang tidak baik. Setiap pagi, bagaimanapun kondisinya, kita harus sarapan. Apalagi kalau punya penyakit maag. Jadi—“

“Kalau saya sarapan, saya bisa-bisa telat, Pak Dokter,” potongku ketus.

“Nah, anak-anak, oleh karena itu, sebaiknya kalian bangun lebih pagi agar sempat sarapan,” kata Dokter Bagas sok tahu itu. “Kamu pasti tidur malam sekali ya semalam sampai kesiangan?”

Duuuh! Asal Dokter Bagas yang terhormat tahu ya…semalam saya susah tidur gara-gara membayangkan Dokter!

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Perburuan Rumah 2

Kemarin, perburuan rumah kembali aku lakukan, bersama suami tentunya. Dengan mengendarai motor, kami meluncur menuju tempat janjian, di sebuah Masjid di daerah Menteng Dalam.

Setelah menunggu beberapa saat, sang makelar pun muncul. Aku berjalan beriringan dengan Pak Makelar (PM), sementara suami mengikuti perlahan dengan motornya dari belakang.

Rumah pertama, I had to say no. Gak ada udara. Hiks…

PM memang sudah memperingatkan bahwa aku takkan suka, tapi karena harganya yang super miring, aku ngotot mau lihat juga.

Rumah kedua, hm…sebenarnya sih not that bad. Tapi, aku merasa kurang sreg. Padahal, tidak banjir dan suratnya sudah HGB (Hak Guna Bangunan).

Akhirnya, meski di luar rencana, kami melihat rumah ketiga. Aku setengah hati melihatnya, karena harganya di luar budget yang kami rencanakan.

Tapi, di sebelahnya ada tanah kosong. Sangat kecil, memang. Hanya saja, aku minat banget. Kebayang deh bisa aku bangun dengan bentuk rumah sesuai keinginan. Tapi, kata PM, tanah itu tidak dijual terpisah dengan rumah ketiga yang kami lihat karena akan dijadikan garasi.

Namun, aku ngotot. Pokoknya, kalau ada info, aku minta dikabari.

Memang tidak gampang mencari rumah dengan harga miring di lingkungan Tebet. Kalaupun ada, tak sesuai dengan hatiku. Hiks.

Apalagi, aku baru tahu bahwa untuk mengajukan KPR, syarat yang sehubungan dengan rumah adalah sbb:

  • tidak di gang
  • surat harus SHM (Sertifikat Hak Milik)

Wah, tambah susah deh.

Tapi, aku pantang menyerah! Harus semangat! Jadi, perburuan akan tetap kulakukan. Prioritas tetap di sekitar Tebet, tapi kalau nggak ketemu juga, nampaknya memang harus hunting di lokasi lain.

Fiuh…

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman

Hari ini sudah hari Jum’at. Sudah lima hari dokter laki-laki itu bertugas di kotaku. Tapi, belum sekalipun kumelihat wajahnya.

Yah, sudah lima hari ini pula guru-guru di sekolah rajin memberi PR. PR yang membosankan. Bayangkan, aku harus mengerjakan lima belas soal matematika, dua puluh soal fisika, lima soal kimia—yah, lima terlihat sedikit, tapi lebih baik tidak sama sekali kan?—, satu tugas mengarang dari Guru Bahasa Indonesia dan satu tugas menghafalkan lagu untuk dinyanyikan saat pelajaran seni musik—sayang, tak ada seorang pun di kelas yang punya alat musik, kalau ya, mungkin aku tak perlu mempermalukan diri di depan kelas dengan mengeluarkan suara jelekku.

Tapi, syukurlah…tadi siang semua sudah selesai. Dan, sepertinya guru-guru itu cukup puas hingga berbaik hati dengan membebaskan kami dari PR dalam bentuk apapun untuk akhir minggu ini.

Jadi, sekarang, kedua kakiku sedang mengayuh sepeda dengan sangat bersemangat. Ke mana lagi kalau bukan ke rumah dinas dokter pria itu.

Kusapu keringat di dahi dengan kibasan punggung tanganku. Aku ingin terlihat segar saat bertemu dengan sang dokter. Dalam bayanganku muncul seorang pria berjas putih—tapi segera kuhapus jas itu karena di sini panas sekali dan konyol sekali kalau dokter itu mau memakai jas karena pasti jas itu akan kuyup oleh keringat, dan muncullah seorang pria berkemeja putih berbahan tipis dengan kaus singlet di baliknya—dan bercelana coklat tua dengan stetoskop menggantung di lehernya. Kulitnya putih bersih. rambutnya disisir rapi, berbelah pinggir. Kaca matanya tidak tebal tapi tidak juga tipis. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima senti meter dan tubuhnya tidak gemuk tidak pula kurus. Agak kekar. Ya, seperti model pria yang pernah kulihat di majalah Wiwin, teman sekelasku.

Senyum mengembang di bibirku. Kuletakkan sepeda di depan Puskesmas yang terletak tepat di sebelah rumah dinas sang dokter. Benar dugaanku, dokter masih di Puskesmas.

Di teras Puskesmas, aku bertemu dengan Wak Dudung yang terlihat sangat pucat. Mulutnya komat-kamit, entah berdoa, entah mengomel.

“Sakit, Wak?” tanyaku menyapa.

“Iya, Neng. Badan sudah pada sakit semua, tapi obatnya cuma ini.” Pria tua kurus nan hitam itu menunjukkan kantung plastik berisikan beberapa tablet berwarna oranye, sepertinya vitamin. Berarti tadi ia mengomel.

“Payah dokter barunya,” lanjut Wak Dudung.

Hm…belum-belum sudah ada yang mengeluh. Semakin penasaran aku dengan dokter baru itu.

“Eh, Neng Gadis…sendirian?” tanya Bu Nunik, perawat setia Puskesmas.

Aku mengangguk.

“Sakit?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“Cuma mau lihat dokter baru,” bisikku jujur di telinga Bu Nunik.

“Masih di dalam. Ada si Erah…” Bu Nunik balas berbisik di telingaku.

“Ooh…”

Duh, belum-belum si Erah, janda centil kota ini sudah sakit. Bu Nunik terlihat sebal.

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Perburuan Rumah 1

rumah idamanSebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.

Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan. Masih dicek dulu juga persyaratannya sih.

Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).

Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.

Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.

Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.

Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku) — cerita nggak penting ya? Hehehe.

Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski di gang dan bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.

Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.

Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.

Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.

Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.

Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.

Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…

Sebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.

Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan.

Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).

Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.

Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.

Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.

Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku).

Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.

Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.

Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.

Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.

Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.

Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.

Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…