[cerbung - DOKTER IMPIAN] 1. Seorang Dokter untuk Warga Kota Berkulit Hitam
Posted in CerBung - Dokter Impian, Fiksi on 12/19/2009 01:08 am by Nadiah AlwiKulit kami hitam, tapi kami bahagia.
Apa yang lebih membahagiakan daripada tinggal di tepi pantai? Kulit legam tak jadi masalah. Setidaknya buatku. Entah buat teman-temanku yang lain yang lebih suka mengeram diri di rumah agar terlihat lebih putih—tapi tetap saja terlihat sama hitamnya denganku.
Oh ya, tadi sudah kukatakan kan bahwa aku tinggal di tepi pantai? Kota tempat tinggalku ini—ingat, kota, bukan desa—terletak di sebuah pulau yang kecil pun tidak besar pun tidak. Sedanglah—setidaknya untukku yang belum sekali pun menginjak pulau lain selain pulu tempat tinggalku dan beberapa pulau lain di sekelilingnya.
Aku hanya perlu bersepeda kurang dari sepuluh menit dari rumah, maka aku sudah bisa memandang hamparan laut yang luas.
Syukurlah, laut yang mengelilingi kotaku itu bukan laut lepas, melainkan laut dalam. Ombaknya tenang dan kalau pasang tidak menakutkan. Jadi, kami tak perlu takut akan tsunami—setidaknya itu yang dikatakan oleh guru Geografi-ku di sekolah.
Di salah satu tepian pantai, terdapat semacam pelabuhan kecil. Kadang kulihat perahu boat kecil yang membawa beberapa turis lokal maupun manca negara yang menginap di pulau seberang bersandar di dermaga. Mereka memotret-motret sebentar, bermain-main dengan penyu-penyu yang kerap muncul, lalu pergi lagi dengan boat itu, entah ke pulau lain, entah kembali ke pulau seberang.
Mereka tak pernah masuk lebih jauh dari itu karena pemerintah kota—ingat, kota, bukan desa—tak pernah mau mengijinkan orang asing masuk mengotori kota kami. Cukuplah televisi mengacaukan tata cara berpakaian dan pergaulan di pulau ini. Tak perlu ditambah lagi dengan berkelompok-kelompok orang yang menjajah dengan kedok turisme.
Tapi, ada satu orang asing yang diperbolehkan masuk kota, tinggal lama, bahkan mempengaruhi warga. Bukan guru—karena semua guru di kota ini adalah anak daerah yang kembali merantau dan ingin membangun tempat kelahiran mereka.
Lalu siapa?








