güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for December, 2009

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 1. Seorang Dokter untuk Warga Kota Berkulit Hitam

Kulit kami hitam, tapi kami bahagia.

pantaiApa yang lebih membahagiakan daripada tinggal di tepi pantai? Kulit legam tak jadi masalah. Setidaknya buatku. Entah buat teman-temanku yang lain yang lebih suka mengeram diri di rumah agar terlihat lebih putih—tapi tetap saja terlihat sama hitamnya denganku.

Oh ya, tadi sudah kukatakan kan bahwa aku tinggal di tepi pantai? Kota tempat tinggalku ini—ingat, kota, bukan desa—terletak di sebuah pulau yang kecil pun tidak besar pun tidak. Sedanglah—setidaknya untukku yang belum sekali pun menginjak pulau lain selain pulu tempat tinggalku dan beberapa pulau lain di sekelilingnya.

Aku hanya perlu bersepeda kurang dari sepuluh menit dari rumah, maka aku sudah bisa memandang hamparan laut yang luas.

Syukurlah, laut yang mengelilingi kotaku itu bukan laut lepas, melainkan laut dalam. Ombaknya tenang dan kalau pasang tidak menakutkan. Jadi, kami tak perlu takut akan tsunami—setidaknya itu yang dikatakan oleh guru Geografi-ku di sekolah.

Di salah satu tepian pantai, terdapat semacam pelabuhan kecil. Kadang kulihat perahu boat kecil yang membawa beberapa turis lokal maupun manca negara yang menginap di pulau seberang bersandar di dermaga. Mereka memotret-motret sebentar, bermain-main dengan penyu-penyu yang kerap muncul, lalu pergi lagi dengan boat itu, entah ke pulau lain, entah kembali ke pulau seberang.

Mereka tak pernah masuk lebih jauh dari itu karena pemerintah kota—ingat, kota, bukan desa—tak pernah mau mengijinkan orang asing masuk mengotori kota kami. Cukuplah televisi mengacaukan tata cara berpakaian dan pergaulan di pulau ini. Tak perlu ditambah lagi dengan berkelompok-kelompok orang yang menjajah dengan kedok turisme.

Tapi, ada satu orang asing yang diperbolehkan masuk kota, tinggal lama, bahkan mempengaruhi warga. Bukan guru—karena semua guru di kota ini adalah anak daerah yang kembali merantau dan ingin membangun tempat kelahiran mereka.

Lalu siapa?

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Selamat Tahun Baru!

Alhamdulillah, sudah tahun baru (hijriah). Setahun telah berlalu.

Seperti yang diajarkan mertua tercinta, sebelum Maghrib (setelah Ashar) membaca do’a akhir tahun, lalu setelah Maghrib membaca do’a awal tahun.

Saat berdo’a, tak terasa air mata berjatuhan. Mengingat semua dosa yangtelah diperbuat sambil berharap tahun depan menjadi tahun yang lebih baik.

Sudah lama aku tidak berani memiliki harapan besar. Tapi, kali ini tak terhindarkan. RUMAH. Ya, aku ingin memiliki a place that I can call HOME.

Bukan tak bersyukur, aku bersyukur sekali dapat menempati sebuah kamar di rumah Nenek di kawasan Tebet. Tapi, toh pada akhirnya rumah ini harus berpindah tangan alias dijual. Aku harus mempersiapkan diri.

Dan, memang sudah saatnya. Terakhir kami — aku, suami, dan anak — berumah sendiri adalah tahun 2005. Karena permintaan Nenek serta satu dan lain hal, kami kembali ke rumah Nenek yang memang pernah menjadi rumahku semenjak aku lahir hingga sebelum menikah.

Dan, aku rindu saat-saat itu. Sehingga, mungkin resolusi besar tahun ini (tahun baru hijriah ini, 2010 kalo masehinya) adalah a place of my own.

Resolusi lainnya adalah semakin banyak menerjemahkan, semakin sering menulis, semakin seru jualan online kain ikat dan batik-nya, semakin punya lebih banyak waktu buat Hana, semakin yakin untuk ngasih adik buat Hana (secara capek gitu ditanya-tanya terus), semakin bisa lebih sabar menghadapi apapun. AMIN.

Nengok sebentar ah ke belakang. Tahun kemarin (2009 kalo masehinya), adalah tahun belajar hal baru. Di antaranya:

  • Jualan kain ikat dan batik secara online. Dulu jual buku online (masih sih sampai sekarang). Agak beda perilaku pembeli dan pendekatannya.
  • Menulis skrip untuk acara TV. Thanks to Jeruk Oranye nih. Seru dan…seru pokoknya! Haha…

Terus, aku juga kembali menerjemahkan. Thanks to kepercayaan dari Ufuk Press.

Tahun 2009 aku berhasil melewati angka 20-an dalam hal perbukuan. Meski tak sebanyak kutu buku lainnya, lumayanlah, 30 buku berhasil kulahap.

Not the bestest year in my life, but surely one of yang paling seru.

Awal tahun 2009 kulalui dengan berita yang menghenyakkan, patah hati tingkat akut akibat dirumahkan oleh tempat kerja yang paling HEBAT selama hidupku. Mereka dipaksa tutup juga pada akhirnya oleh keadaan.

Tahun 2010 ini nampaknya aku akan tetap bekerja di rumah. Tapi, sesekali perlu juga kerja di luar rumah supaya nggak sumpek kali yeee…

SEMANGAT!

Kemauan yang Keras

Vonis terakhir dari suami adalah: “Kamu banyak maunya.”

Benar itu.

Kayaknya sebentar lagi dia juga akan bilang: “Kamu tuh kalau ada maunya kekeuh ya?

Aku gak akan ngelak kalau dia bilang begitu. Karena memang begitu adanya. Kalau sudah menginginkan sesuatu, aku agak maksa. Tanpa lupa berusaha tentunya.

Oh bukan, bukan dengan maksa orang lain untuk mewujudkan keinginanku itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga meski tanpa bantuan orang lain. Walau begitu, tak jarang orang membantu juga. Biasanya pada hal-hal yang berbau materi.

Untuk hal-hal non materi, misalnya saat lulus SMP dan berjuang agar diterima di SMA terbaik di Thorn Hill dulu [;D], serta saat berusaha mati-matian tembus UMPTN agar diterima di Fakultas Sastra selepas SMA.

Untuk yang berbau materi adalah ketika ulang tahun ke-17 aku pingin banget punya radio tape sendiri, uang yang kukumpulkan belum cukup. Ternyata, pada akhirnya keinginanku tercapai juga dengan hadiah berupa uang dari keluarga.

Yang berbau materi lainnya adalah keinginan untuk tinggal pisah rumah dengan keluarga setelah menikah. Keinginan kuat itu ternyata dipermudah Allah dan keluarga.

Nah, sekarang, aku lagi punya keinginan yang sangat besar dan kuat. Keinginan seperti saat setelah menikah dulu, living in my own place. Dan, tiap saat, yang keluar dari mulutku adalah tentang rumah. Ada rumah dikontrak di sini, ada rumah dijual di sana, ada apartemen bersubsidi di sini, ada town house keren di sana.

Terakhir aku bahas itu ke suami beberapa menit yang lalu, dia hanya menggeleng-geleng. Mau tak mau aku tersenyum juga. Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama juga aku tidak memiliki keinginan sebesar ini.

Dia tahu, aku banyak maunya, tapi rata-rata hal-hal perintilan dan kadang dapat tercapai dengan mudahnya. Tapi, ini hal besar. Besar sekali malah!

Entah kapan keinginan itu dapat terwujud. Masih dalam taraf berusaha. Semoga tak terlalu lama lagi aku dapat tidur di rumah impian (baik beli ataupun kontrak, tak mengapa). Amin.

Hari yang Seru

Yup, hari ini hari yang seru untukku. Dimulai dengan seru-seruan mengurus http://kainikat.com dan perintilannya. Juga http://batikindonesia.org dengan pernak-perniknya.

Sejatinya, di dunia nyata, aku bukan tipe orang yang mahir atau menikmati berjualan. Tapi, entah mengapa, di dunia maya, semenjak memulai dengan berjualan buku di http://bukumurmer.multiply.com, aku nampaknya cukup enjoy. Mungkin karena aku ‘berlindung’ di balik tulisan dan layar monitor.

Berurusan dengan pelanggan di dunia maya agak-agak tricky. Kita harus bisa membaca mana yang serius, mana yang sekedar berminat dan tanya-tanya tanpa yakin akan membeli atau tidak. Ada kalanya, aku dan partner di kainikat.com dan batikindonesia.org dapat mentranformasikan si peminat dan penanya menjadi pembeli. Tapi, ada pula yang nyeheng alias kekeuh – apa sih bahasa Indonesianya? — bertanya lagi dan lagi tanpa berakhir dengan prosesi transfer dan pengiriman barang.

Tapi, itulah seninya. Dan, serunya.

Selain bekerja 9 to 5 untuk kedua web tersebut, aku juga menerjemahkan buku untuk sebuah penerbit yang nampaknya memiliki sayap yang kian lebar di dunia perbukuan.

Dan, sore tadi, sang editor menghubungi untuk membahas terjemahanku. Karena sudah merasa akrab, aku bisa ketawa-ketiwi dengannya. Tapi, tentu dengan diselingi pembicaraan serius yang sempat membuatku gemas. Namun, setelah dibicarakan, aku tak lagi gemas. Karena, sang editor telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

Hari yang seru secara profesional ini juga diikuti dengan keseruan lainnya di wilayah non profesional hidupku.

Pertama, adikku akan melangsungkan resepsi pernikahannya. Seperti biasa, aku mengajukan diri untuk membantu mengurus ini-itu. Seksi repot abadi.

Kedua, aku mengelola http://tingkahanak.com, situs yang kubuat untuk menulis segala tentang tingkah anak. Dan, setiap Rabu aku membuat acara Rabu Seru! Apa tu? Liat sendiri ya…haha!

Kalau dipikir-pikir, aku memang nggak bisa diam ya? Kalau kata suami, aku banyak maunya. Mungkin benar juga. Harus direm kah? Atau dibiarkan liar saja?

Sejujurnya, aku memilih yang terakhir. Supaya tetap bisa melalui hari-hari dengan seru!

;)