Perburuan Rumah 5
Kemarin, aku dan Abi kembali mengukur jalan demi berburu rumah.
Kali ini, kami memperluas wilayah ke daerah Pasar Minggu.
Rumah pertama yang kami kunjungi adalah di daerah Swadaya Siaga. Saat memasuki gang, hatiku sudah merasa kurang sreg. Tapi, sebagai orang yang senengannya penasaran, aku terus mengikuti sang makelar.
Dan, tibalah kami di depan sebuah rumah berdindingkan keramik kotak kecil — seperti di kamar mandi — yang berwarna merah dan putih. Jujur saja, aku kurang suka jenis dinding seperti ini. Hiks. Bentuk rumah pun kurang mengena di hati.
Tambah lagi, ada yang membuat aku benar-benar harus say NO kepada rumah ini. Dekat MAKAM alias kuburan. Rasanya kok gimanaaaa gitu ya…? Suratnya pun kurang sesuai dengan yang kuinginkan.
Kemudian, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah kedua. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu Baru. Kami masuk dari Jl. Batu Arab. Di ujung jalan, aku menelepon sang makelar.
“Pak, Bapak di mana? Kita ketemu di mana? Saya udah di ujung Jl. Batu Arab.”
“Saya di sini, Bu. Kita ketemu di sini aja.”
“Hm…Pak, di sini-nya di mana ya?”
Bapak baik hati itu pun akhirnya menjelaskan di mana ia berada. Hehehe…kumaha si Bapak…
Secara tampilan depan, rumah ini sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi, kami nggak bisa melihat ke dalam. Karena, sedang dikontrakkan dan yang mengontrak sedang pergi. Yah…
Dari harga ok, tapi lagi-lagi terbentur surat. Dan, suami kurang sreg dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah itu. Karena, mereka membicarakan si pengontrak, yang menurut hemat mereka tidak ramah dan sombong. Agak comel juga ya kayaknya ibu-ibu itu. Hehehe…
Rumah ketiga. Lokasi di Menteng Dalam, ok banget, gak jauh dari jalan mobil. Harga juga ok. Sayang, SUDAH TERJUAL dua hari sebelumnya. Hiks.
Rumah keempat, di Menteng Dalam juga. Ribet. Jadi, ada yang mau jual rumahnya tapi dibelah dua. Hua…gak ngerti gimana belahnya. Aku dapat ruang tamu dan dapur aja atau gimana? Terpaksa say NO juga nih.
Sore harinya, aku mendapat kabar dari adik Mama bahwa rumah tetangganya akan dijual. Lokasi di Condet. Menarik nih. Aku pernah lihat rumahnya sih dari luar. Jalan di depannya cukup untuk 2 mobil! Harganya bisa dibilang cukup murah untuk lokasi itu. Sungguh aku tertarik.
Tapi, meski cukup murah dan suratnya SHM — yang artinya bisa KPR –, harganya di luar budget yang pernah aku dan suami tetapkan. Jadi, kami harus memikirkannya masak-masak.
Dannnn…aku akan keluar dari comfort zone: TEBET! Artinya, aku harus akan memulai hidup baru di wilayah baru. A giant step, isn’t it? Tapi, mengingat banyak sekali keluarga yang tinggal di wilayah baru ini, semestinya adaptasi menjadi lebih mudah ya?
Another thing to consider. Aku (baca: Hana, anakku) akan jauh dari Mama dan Papa. Kata Mama sih, beliau nggak mikirin aku tapi lebih ke cucunya tercinta itu.
Jadi, meski sebenarnya aku ingin sekali mengambil kesempatan emas ini, banyak sekali pertimbangan dalam kepalaku. Semoga pada akhirnya aku dapat mengambil keputusan yang terbaik, apapun itu, dan di beri kemudahan oleh-Nya. Amin.
Foto Salak dari milik Nugroho Adhi.

Hari ini, akhirnya kesempatan cari-cari rumah kembali tersedia. Kebetulan aku dan suami tidak ada kerjaan mendesak dan cuaca pun mendukung (baca: gak hujan). Kali ini masih di seputaran Menteng Dalam.
Selain bentuknya yang aneh, kedua rumah ini punya kesamaan lain: tangganya serem, pemiliknya sama, suratnya sama-sama bukan SHM/HGB/AJB — cuma surat kelurahan yang artinya gak bisa dibeli dengan cara KPR! Huhuhu…