Archive for March, 2010

Curahan Hati

Sering curhat? Atau, pernah curhat? Minimal pernah lah ya. Aku sih pernah banget. Dulu malah dikit-dikit curhat. Tapi, belakangan frekuensinya sudah berkurang sih. Atau, mungkin karena sekarang lebih pilih-pilih dalam bercurhat.

Misalnya curhat tentang jempol cantengan ke teman A, tentang buku yang sobek ke teman B, tentang genteng yang bocor ke teman C. Gak penting semua ya curhatnya?

Well, intinya, masing-masing teman — buatku — punya porsi dan makna tersendiri dalam hal percurhatan.

Kenapa begitu?

Begini, misalnya teman B, aku nggak mungkin bahas tentang jempol yang cantengan, karena dia orangnya ngiluan. Baru dengar kata cantengan aja, dia sudah pingsan. Apalagi dikasih tahu tentang sakitnya cantengan, dll, dsb. Bisa-bisa dibawa ke UGD dia!

Teman C, nggak ngerti dia masalah buku yang sobek. Lah wong dia nggak peduli sama buku, nggak suka baca, atau malah jangan-jangan nggak bisa baca?

Teman A diajak ngebahas masalah genteng bocor? Secara duidnya banyak, dia pasti bilang, “Gitu aja kok repot? Beli aja genteng baru, panggil tukang, beres!”

See? Jadi, sebelum curhat, kita juga mesti mendalami pribadi orang yang kita curhatin, supaya nggak kesel, sebel, kecewa, apalagi sakit hati.

Kenapa sih seneng banget curhat? Atau, kenapa butuh curhat?

Nah, kebetulan tadi pagi, aku baruuuu aja curhat. Tau nggak yang kurasakan setelah curhat? PLONG! LEGA. Padahal masalahnya juga masih ada di situ, gak hilang, lenyap atau apa. Masih bertengger kuat di sana. Tapi, kok bisa lega? Itulah ajaibnya curhat!

Nggak suka curhat? Nggak papa. Bukan hal yang jelek juga. Mungkin kamu punya cara lain untuk membuat hati plong, seperti misalnya nyanyi kencang-kencang di kamar mandi, cemberut seharian, macul, joged-joged, lompat-lompat, fitness, makan sebanyak-banyaknya, bikin status 2 menit sekali @ FB/TWITTER/MP/PLURK, ngeblog — yang menurutku sih judulnya curhat juga — atau apalah. Jadi, nggak harus curhat juga.

Kadang, aku bernyanyi sekencang-kencangnya untuk memplongkan dada. Atau, menghela nafas. Atau, makan — yang ini sudah harus dikurangi!

Tapi, yah…paling enak memang curhat ke orang yang tepat. ;)

Apa yang Dikangenin?

Barusan baca komen salah seorang teman di FB. Kebayang gimana dia mengucapkannya, cara dia ketawa, wah langsung kangen. Tapi, teman satu ini memang ngangenin sih. Karena, kalau ketawa dia heboh banget, jadi rasanya mau ikutan ketawa.

Akhirnya, aku malah teringat teman-teman yang lain. Ada yang komentarnya kocak, selalu bikin ketawa. Ada yang super jail. Ada juga yang kalau curhat selalu bikin ketawa — padahal curhatannya itu gak dimaksudkan untuk melucu. Ada yang selalu meluruskan masalah dan menenangkan teman yang dijailin. Ada yang komen serius tapi jadinya malah lucu. Ada yang gak banyak ngomong, sekalinya ngomong lucu. Ada yang senang menganalisa dengan tatapannya. Ada yang jadi obyek penderita. Dan, banyak lagi.

Mereka lucu dengan caranya masing-masing dan ngangenin. Ngumpul dengan mereka selalu menghadirkan tawa. Kadang ada juga sih yang curhat serius. Tapi, biasanya kalau sudah yang serius gitu seringnya one on one atau one on two. Kalau sudah ngumpul bareng semua? Ya ketawa-tawa aja. The best way to let go your stress.

Tapi lagi, anehnya mereka itu nggak ngumpul kalo gak dimotorin. Masalahnya, motornya itu suka sok sibuk. Jadi, jadwal kumpul-kumpulnya pun sering tertunda.

;)

Lucu juga betapa masing-masing teman memiliki kekhasannya masing-masing yang bisa dikangenin. Tapi, seringnya kekhasan itu justru nggak muncul saat one on one atau one on two. Minimal one on three lah — alias berempat — baru bisa keluar.

Ah, aku rindu kalian, temans!

Perburuan Rumah, dll, dsb

Harus kuakui, perburuan rumah terpaksa dihentikan. Seperti ceritaku sebelumnya, kami sudah menemukan sebuah rumah di bilangan Condet. Kami sudah mendapatkan harga yang cocok — meski kondisi rumah memerlukan perbaikan cukup banyak. Tapi, karena satu dan lain hal, terpaksa pembelian rumah itu dibatalkan.

Hm…ada dua penyebab sebenarnya. Yang pertama, Mamaku berharap kami tidak tinggal jauh darinya. Yang kedua, kami kesulitan mendapatkan KPR karena aku dan suami tidak memiliki slip gaji dan tidak bekerja di sebuah perusahaan selama minimal dua tahun. Itulah ternyata harga yang harus dibayar karena kami berdua memilih bekerja sendiri alias menjadi freelancer dan pewiraswasta kecil-kecilan.

Mengenai harapan Mama, aku tak bisa menampik. Saat ini, Mama dan Hana, anakku, adalah dua perempuan terpenting dalam hidupku. Jadi, sebisa mungkin, aku berusaha menyenangkan mereka. Meski mungkin tak selamanya berhasil.

Membeli rumah di kawasan dekat rumah Mama, di Tebet dan sekitarnya, adalah hal yang hampir dapat dibilang tidak mungkin. Karena, kalaupun harganya murah, tidak ada sertifikatnya — ya, aku tahu, toh sekarang tak ada gunanya juga jika rumah itu memiliki sertifikat. Jadi, kami memutuskan untuk mengontrak. Setelah urusan sekolah Hana beres, kami akan mencari kontrakan, insya Allah.

Sekarang, yang kulakukan adalah berusaha mengisi pundi-pundi kami agar niatan kecil ini dapat terlaksana. Selain tetap menghadirkan kain-kain cantik di http://kainikat.com/, aku juga aktif menerjemahkan. Selesai satu terjemahan, datang yang lain. Alhamdulillah.

Selain itu, aku juga berusaha menerapkan saran Richard Carlson, Not to Sweat the Small Stuff — meski pada kenyataannya tidak semudah itu. Begitu banyak hal perintilan yang mudah membuatku kesal belakangan ini. Huh!

Oh ya, satu lagi. Aku sedang berusaha menerapkan pola hidup AGAK sehat. Tidur cepat, bangun lebih pagi — untuk menerjemahkan — serta makan sayuran dan buah-buahan. Belum lama ini aku menonton video di FB tentang usus orang-orang yang pola makannya buruk. Wuih, seramnya! Di samping itu, belakangan punggungku terasa berat.

Aku ingin sehat, aku ingin bahagia. So, aku sedang berusaha menyehatkan jiwa dan raga. Dan, ngeblog sepertinya dapat membantu menyehatkan jiwa ;) .