Alhamdulillah, hari ini aku kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pengajian Ustadzah Halimah. Ada dua hal yang kucatat dalam benak. Pertama adalah tentang kebahagiaan. Dan, kedua tentang do’a untuk suami (karena pengajian ini khusus perempuan, jadi yang dibahas adalah yang berkenaan dengan perempuan).
———————————————–
DO’A UNTUK SUAMI
Terkadang, sebagai seorang istri, ada hal-hal dalam diri suami yang kurang berkenan di hati kita. Entah itu dari segi materi ataupun yang berhubungan dengan hati/perasaan.
Ustadzah tadi bercerita tentang seseorang yang memang ia kenal yang suaminya berbuat dzalim kepadanya, bermabuk-mabukan, sehingga ia harus mencari nafkah sendiri karena uang habis begitu saja. Namun, ia menutupi kehidupan pernikahannya dari semua, termasuk orang tua dan mertuanya. Suatu hari, ia tak sanggup lagi. Maka, ia bertekad harus ada yang berubah.
Ia memutuskan untuk memohon kepada Sang Kuasa dengan lebih intens. Ia pun memutuskan untuk melakukan sholat tahajjud setiap malam dan berdo’a. Ia berdo’a agar Allah memberi hidayah kepada suaminya, Allah lebih menyayangi suaminya. Setelah beberapa bulan melakukan sholat malam, suatu hari suaminya justru pergi dari rumah.
Dan, semua pun akhirnya mengetahui bahwa ada yang tak beres dengan pernikahan mereka. Akhirnya, orang tua dan mertuanya menawarkan kepadanya untuk bercerai. Namun, ia tak mau.
Lalu, setelah tiga bulan, suaminya kembali, pada suatu malam. Ia menyapa sang suami, “Hai, apa kabar?”
Suaminya meminta ia mengikutinya, “Ikutlah aku, aku sudah menemukan apa yang kucari.”
Ia pun mengikuti.
Suaminya itu ternyata telah menemukan kebahagiaan, hal yang selama ini ia cari. Bukan kebahagiaan semu dalam minum-minuman keras, melainkan dalam nikmatnya beribadah kepadanya. Dan, semenjak saat itu, suaminya bersikap sangat baik dan lebih bertanggung jawab.
Kisah ini mengingatkan kita, para istri, untuk berdo’a dengan lebih tulus. Kadang, kita berdo’a seperti ini: “Ya Allah, berilah rizki kepada suami saya agar saya bisa dibelikan (menyebutkan barang ini-itu), agar ia bisa membawa saya berlibur, dll., dsb.”
Do’a tersebut pada akhirnya adalah demi kepentingan kita. Bukankah itu do’a yang kadar ketulusannya rendah?
Cobalah berdo’a dengan lebih tulus seperti kenalan Ustadzah yang kisahnya tertulis di atas. Berdo’a agar Allah memberikan kebaikan kepada suami. Kalaupun pada akhirnya kebaikan itu juga menjadi kebaikan bagi kita — para istri — itu merupakan bonus dari Allah. Namun, jangan berpikir dulu tentang bonus itu. Berdo’alah dengan tulus dan hati yang bersih.
———————————————–
KEBAHAGIAAN
Tadi ada yang bertanya, “Ustadzah, saya resah karena sampai sekarang belum bertemu dengan jodoh. Bagaimana saya harus bersikap?”
Ustadzah pun mengingatkan, bahwa salah satu sifat manusia adalah tidak merasa puas dengan apa yang dimiliki.
Belum berjodoh, ingin berjodoh: “Duh, pasti saya akan bahagia jika sudah punya pasangan.”
Sudah berjodoh, ingin punya anak: “Pasti kalau saya sudah punya anak, saya bahagia.”
Sudah punya anak, ingin punya rumah yang lebih besar: “Pasti kalau rumah saya besar, saya dan keluarga bahagia.”
Akan terus begitu.
Padahal, sebenarnya, kita toh bisa berbahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Berfokuslah pada apa yang kita punya, bukan apa yang kita tidak punya. Karena, Allah tidak akan memberikan yang buruk kepada kita. Apa yang kita miliki ataupun tidak miliki sekarang adalah yang terbaik untuk kita. Belum tentu jika keadaannya berbeda kita mampu dan sanggup menjalaninya dan belum tentu bisa memberikan kebahagiaan yang kita pikir bisa kita raih.
Jadi, bagaimanapun keadaannya, berbahagialah.
———————————————–
Apa yang aku sampaikan di sini sekedar apa yang mampu diterima oleh kemampuan otakku yang terbatas. Jika ada kesalahan, itu sepenuhnya karena keterbatasanku. Semoga bisa memberikan manfaat.