Archive for April, 2010

Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

Recipes for a Perfect Marriage (Resep Perkawinan Sempurna) Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

My rating: 5 of 5 stars
Tak ada pernikahan yang mudah. Yang ada adalah dua orang yang berusaha membuatnya menjadi mudah.

Mungkin bukan itu yang ingin didengar oleh pasangan yang baru saja saling mengikat janji. Tapi, memang begitulah adanya.

Dan, buku ini menggambarkannya dengan sangat baik. Diolah dalam bentuk novel, padahal sesungguhnya begitu banyak pemikiran, nasihat, atau tips yang bisa dicatat oleh pembaca mengenai pernikahan. Namun, alih-alih merasa digurui, pembaca justru diajak tersenyum atau menghela nafas saat terdapat kemiripan pengalaman dengan kedua tokoh utama, Bernadine dan Tressa — terutama pembaca yang berstatus istri.

Namun, buku ini bukan semata mengangkat resep-resep menuju perkawinan sempurna. Tak sedikit pula pembahasan mengenai kehidupan. Seperti pada salah satu kutipan yang kupaling sukai:

“Hidup ini kadang-kadang keras, tapi kita membuatnya jadi lebih keras lagi melalui cara pandang kita.”

Dan, terdapat banyak kalimat-kalimat lainnya yang membuat pembaca berpikir, tersenyum, atau merasa terenyuh.

Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang berpredikat istri. Baik yang sedang berusaha membangkitkan lagi cinta dalam perkawinan mereka ataupun yang pasrah akan ada atau tidaknya cinta dalam perkawinan mereka. Karena, sesungguhnya, ada banyak hal lain dalam sebuah perkawinan selain cinta yang pada akhirnya justru menumbuhkan bentuk cinta yang sesungguhnya dalam perkawinan.

View all my reviews >>

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk

SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter


jatuh cinta

“Gadis! Bangun!”

Terdengar suara Ibu yang lantang di telingaku.

Huhuhu…Ibu…tega sekali sih. Aku kan sedang istrahat.

“Kamu itu ya…sekarang sering sekali tidur siang di mana-mana. Di kamar mandi, di kursi depan, di ruang tamu…kenapa sih? Sakit?”

O-ow…Ibu kalau sudah cas-cis-cus begitu, itu tandanya aku memang sudah keterlualuan. Jadi ingat kemarin, waktu aku tertidur saat mengerjakan LKS Matematika. Akhirnya, aku dipanggil Pak Bambang, sang guru, ke depan.

“Kamu kenapa sampai tidur di kelas begitu?” tanya Pak Bambang dengan lembut—ya, beliau memang sangat lembut dan penyayang, seperti Bu Halimah, guru Biologiku.

“Maaf, Pak…kemarin saya belajar sampai malam sekali. Jadi agak ngantuk.”

“Ya sudah, jangan kamu ulangi ya? Kamu kan selalu jadi juara kelas. Pertahankan ya. Tapi, jangan sampai mengganggu kesehatanmu.”

“Baik, Pak. Terima kasih, Pak.”

Aku maluuuuuuuuuu sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku memang ngantuk!

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Malam Pertama…

malam-pertamaHehe…bukan malam pertama itu. Tapi, ini malam pertama setelah sekian lama tak ada kerjaan tambahan. Biasanya, di luar pekerjaan utama di http://kainikat.com/ dan http://batikindonesia.com/, aku mengambil pekerjaan menerjemahkan buku dan menulis skrip.

Nah, semua sudah disetor, sudah selesai — alhamdulillah, jadi malam ini free. Horeee!!!

Oops. Bukannya happy atau gimana. Tapi, menangani 2 – 3 pekerjaan pada satu waktu cukup bikin stres juga. Pikiran dan tenaga harus dibagi dengan tepat. Jangan sampai ada yang dikorbankan — walaupun praktiknya gak gampang juga.

Dan, sekarang mau ngapain dong, setelah semua selesai?

Kayaknya, aku mau lebih sering nge-blog dan menulis fiksi. Sudah saatnya melakukan hal lain yang memang menjadi impian utama yang sampai sekarang belum 100% terwujud. Menerbitkan novel — kedua.

So, will you please excuse me, I gotta complete one story I started about…well, 9 months ago? ;)

[Picture by: Renate Kalloch]

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbahagialah

Alhamdulillah, hari ini aku kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pengajian Ustadzah Halimah. Ada dua hal yang kucatat dalam benak. Pertama adalah tentang kebahagiaan. Dan, kedua tentang do’a untuk suami (karena pengajian ini khusus perempuan, jadi yang dibahas adalah yang berkenaan dengan perempuan).

———————————————–

DO’A UNTUK SUAMI

Terkadang, sebagai seorang istri, ada hal-hal dalam diri suami yang kurang berkenan di hati kita. Entah itu dari segi materi ataupun yang berhubungan dengan hati/perasaan.

Ustadzah tadi bercerita tentang seseorang yang memang ia kenal yang suaminya berbuat dzalim kepadanya, bermabuk-mabukan, sehingga ia harus mencari nafkah sendiri karena uang habis begitu saja. Namun, ia menutupi kehidupan pernikahannya dari semua, termasuk orang tua dan mertuanya. Suatu hari, ia tak sanggup lagi. Maka, ia bertekad harus ada yang berubah.

Ia memutuskan untuk memohon kepada Sang Kuasa dengan lebih intens. Ia pun memutuskan untuk melakukan sholat tahajjud setiap malam dan berdo’a. Ia berdo’a agar Allah memberi hidayah kepada suaminya, Allah lebih menyayangi suaminya. Setelah beberapa bulan melakukan sholat malam, suatu hari suaminya justru pergi dari rumah.

Dan, semua pun akhirnya mengetahui bahwa ada yang tak beres dengan pernikahan mereka. Akhirnya, orang tua dan mertuanya menawarkan kepadanya untuk bercerai. Namun, ia tak mau.

Lalu, setelah tiga bulan, suaminya kembali, pada suatu malam. Ia menyapa sang suami, “Hai, apa kabar?”

Suaminya meminta ia mengikutinya, “Ikutlah aku, aku sudah menemukan apa yang kucari.”

Ia pun mengikuti.

Suaminya itu ternyata telah menemukan kebahagiaan, hal yang selama ini ia cari. Bukan kebahagiaan semu dalam minum-minuman keras, melainkan dalam nikmatnya beribadah kepadanya. Dan, semenjak saat itu, suaminya bersikap sangat baik dan lebih bertanggung jawab.

Kisah ini mengingatkan kita, para istri, untuk berdo’a dengan lebih tulus. Kadang, kita berdo’a seperti ini: “Ya Allah, berilah rizki kepada suami saya agar saya bisa dibelikan (menyebutkan barang ini-itu), agar ia bisa membawa saya berlibur, dll., dsb.”

Do’a tersebut pada akhirnya adalah demi kepentingan kita. Bukankah itu do’a yang kadar ketulusannya rendah?

Cobalah berdo’a dengan lebih tulus seperti kenalan Ustadzah yang kisahnya tertulis di atas. Berdo’a agar Allah memberikan kebaikan kepada suami. Kalaupun pada akhirnya kebaikan itu juga menjadi kebaikan bagi kita — para istri — itu merupakan bonus dari Allah. Namun, jangan berpikir dulu tentang bonus itu. Berdo’alah dengan tulus dan hati yang bersih.

———————————————–

KEBAHAGIAAN

Tadi ada yang bertanya, “Ustadzah, saya resah karena sampai sekarang belum bertemu dengan jodoh. Bagaimana saya harus bersikap?”

Ustadzah pun mengingatkan, bahwa salah satu sifat manusia adalah tidak merasa puas dengan apa yang dimiliki.

Belum berjodoh, ingin berjodoh: “Duh, pasti saya akan bahagia jika sudah punya pasangan.”

Sudah berjodoh, ingin punya anak: “Pasti kalau saya sudah punya anak, saya bahagia.”

Sudah punya anak, ingin punya rumah yang lebih besar: “Pasti kalau rumah saya besar, saya dan keluarga bahagia.”

Akan terus begitu.

Padahal, sebenarnya, kita toh bisa berbahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Berfokuslah pada apa yang kita punya, bukan apa yang kita tidak punya. Karena, Allah tidak akan memberikan yang buruk kepada kita. Apa yang kita miliki ataupun tidak miliki sekarang adalah yang terbaik untuk kita. Belum tentu jika keadaannya berbeda kita mampu dan sanggup menjalaninya dan belum tentu bisa memberikan kebahagiaan yang kita pikir bisa kita raih.

Jadi, bagaimanapun keadaannya, berbahagialah.

———————————————–

Apa yang aku sampaikan di sini sekedar apa yang mampu diterima oleh kemampuan otakku yang terbatas. Jika ada kesalahan, itu sepenuhnya karena keterbatasanku. Semoga bisa memberikan manfaat.

Jangan Menyerah

Dari semua lagu lokal yang aku suka, ini yang paling berkesan. Lagu Jangan Menyerah dari d’Massiv. Ini bukan lagu pertama d’Massive yang aku suka — dan, ya, silakan call me cengeng or whatever, tapi at least aku jujur, aku suka lagu-lagu mereka. Tapi, lagu inilah yang paling segala-galanya di antara semua lagu mereka.

Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Lirik lagu ini dapat memberi kekuatan. Bahkan, bisa menjadi salah satu alasan bagiku untuk menambahkan kata TIDAK pada akhir puisiku — alasan lainnya ada di sini.

Sekarang, coba lihat sekeliling. Adakah manusia yang hidup tanpa masalah? Tanpa cobaan? Tentu tidak. Jadi, mari resapi bait ini:

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada obat yang paling mujarab dalam menghadapi penyakit kehidupan yang biasa kita kenal dengan kata masalah atau cobaan selain bersyukur.

Lupakan sejenak kepedihan yang ada dengan bersyukur. Jika masih memiliki kesehatan, bersyukurlah. Jika memiliki pekerjaan — sekalipun menguras tenaga, bersyukurlah. Jika dimarahi orang tua, bersyukurlah masih memiliki orang tua. Jika rumah terlalu kecil, bersyukurlah masih memiliki rumah. Jika hati tersiksa karena bulan ini tidak bisa beli buku, bersyukurlah karena mungkin bulan lalu masih bisa beli satu buku idaman — curahan hati terdalam kayaknya yang satu ini huehehe…!

Nggak usah melihat ke bawah — kadang kan kalau kita mengeluh, orang sering bilang: lihat tuh orang yang gak bisa makan, lihat tuh orang yang tinggal di kolong jembatan. Kadang, karena hal itu ada di mana-mana, rasa empati kita tidak mudah timbul.

Karenanya, minimal, mari kita lihat dulu apa yang ada dalam kehidupan kita. Apa yang kita punya. Sehingga, mudah-mudahan kita bisa melupakan apa yang kita nggak punya.

Sotoy banget ya tulisan ini? Hehe…sebenarnya sih ini lebih untuk diri sendiri. Self reminder yang panjang — karena biasanya self reminder-ku terbatasi oleh karakter status FB ;) .

Semoga aku bisa selalu ingat lagu d’Massiv satu ini jika katakanlah aku sedang muak dengan permasalahan hidup yang terkadang datang tanpa permisi. Semoga aku tidak akan berputus asa. Amin.