• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for May 23rd, 2010

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

May 23

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbaik Sangka

foto islamiAlhamdulillah, pagi ini aku kembali berkesempatan untuk mengikuti pengajian bulanan Ustadzah Halimah Alaydrus di Tebet. Seperti beberapa pengajian sebelumnya, entah bagaimana somehow temanya seperti nyambung dengan apa yang ada di pikiranku atau suasana hatiku.

Kali ini temanya adalah berbaik sangka kepada Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Aku berusaha menyarikannya di sini sesuai dengan kemampuanku dalam menyerap pengajian tadi ya. Harap maklum jika banyak kekurangan.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada Allah SWT

Sering kita sebagai manusia selalu merasa dirundung malang, ditimba berbagai musibah, dan dilibat berbagai masalah. Kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Padahal, hey, semua orang juga punya masalah.

Yang sudah cukup umurnya namun belum menikah, merasa punya masalah. Yang sudah menikah, suaminya tampan dan ramah, juga punya masalah — cemburu, misalnya. Yang sudah menikah namun belum juga dikaruniai anak, masalah. Yang sudah dikaruniai anak — dan dikaruniai lagi dan lagi — juga merasa bermasalah.

Jadi, adakah manusia di muka bumi ini yang tidak bermasalah? Tidak, kan?

Kuncinya dalam menghadapi semua masalah itu adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Ya, sesederhana itu. Dan, insya Allah, yang muncul dalam hati kita adalah rasa syukur kepada-Nya.

Allah selalu memiliki maksud di balik semua yang Ia tetapkan. Dan, apa yang kemudian kita kenal dengan kata ‘hikmah‘ di balik masalah biasanya memang baru kita dapati setelah semua berlalu. Namun, cobalah menerka sedari sekarang.

Ini bukan contoh dari Ustadzah, tapi saya coba mencarikan saja contoh yang bisa saya olah di kepala — jadi maaf jika agak aneh atau konyol hehe. Misalkan, kita menikah dengan suami yang — maaf — kurang tampan, tapi coba bayangkan jika kita — yang ternyata pencemburu berat — menikah dengan pria tampan yang digila-gilai banyak perempuan, wah…sepertinya masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi ya? ;)

Jika katakanlah ada do’a-do’a kita yang belum diijabah oleh-Nya, itu karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun, salah satu cara agar Allah mengabulkan do’a kita adalah dengan berbaik sangka kepada-Nya. Bahwa, jika memang do’a kita berakibat baik bagi dunia dan akhirat kita, Ia akan mengabulkannya.

Hidup akan terasa sangat nikmat jika kita bisa terus berbaik sangka kepada Sang Pencipta.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada hamba-hamba Allah SWT

Pernahkah kita melihat seseorang dan menetapkan sebuah sangkaan yang kurang baik? Misalkan karena ia berbaju kumal, kotor, dan nampak hina? Astaghfirullah, nampaknya pernah ya?

Dan, pada pengajian pagi tadi Ustadzah mengangkat kisah Uwais al-Qarni. Pernah mendengar kan? Itu lho, yang dikisahkan sangat memuliakan ibunya. Tapi, tadi Ustadzah mengisahkan hal lainnnya tentang Uwais. Di antaranya adalah saat ia dalam perjalanan menuju Madinah bersama yang lainnya di atas sebuah kapal / perahu dari Yaman.

Di dalam kapal itu seorang kaya mengaku kehilangan barang berharga. Dicari ke mana-mana tak juga diketemukan. Semua menyangka Uwais yang saat itu sedang dengan khusyuknya sholat sebagai pelakunya, bahwa Uwais hanya berpura-pura sholat agar tidak dituduh.

Semua menunggu, namun Uwais tak kunjung selesai beribadah. Mereka semakin menyangka yang buruk kepada Uwais. Dan, tiba-tiba kapal itu pun terhempas ombak dan hancur berkeping-keping. Namun, Uwais seperti tidak menyadari keadaan di sekelilingnya dan ia tetap sholat. Ruhnya telah menang dari jasadnya. Ruhnya yang sedang bertemu dengan Allah SWT.

Semua yang telah berburuk sangka kepadanya hampir tenggelam dan berusaha berpegangan pada kayu-kayu sisa kapal. Dan, mereka pun menyadari.

“Wah, mungkin kita tadi tidak semestinya berburuk sangka kepada orang itu. Ternyata ia adalah Waliyullah.”

Lalu, Uwais selesai melaksanakan sholatnya dan terkejut melihat sekeliling.

“Loh, mana kapalnya?” tanyanya bingung.

Orang-orang itu pun menjelaskan seakan Uwais tadi tidak sedang berada di dalam kapal yang sama dengan mereka.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, dan orang-orang itu memohon pertolongan, Uwais pun berdo’a kepada Allah untuk keselamatan orang-orang tersebut.

Dan, sudah barang tentu do’anya dikabulkan. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah berkisah kepada para sahabat tentang Uwais — padahal Nabi Muhammad SAW tak pernah bertemu dengannya. Menurut Baginda Rasul, Uwais adalah orang yang jika berdo’a Allah saja akan merasa malu jika tidak mengabulkannya.

Lalu, setelah selamat orang-orang itu berkata, “Andai semua harta kami yang tenggelam bersama kapal itu dapat diselamatkan, kami akan bersedekah dengan semua harta kami tersebut.”

“Kalian berjanji?” tanya Uwais.

“Kami berjanji.”

Maka Uwais pun berdoa sekali lagi, dan Allah mengabulkannya. Semua harta itu selamat.

Lalu, orang-orang itu bertanya kepada Uwais, “Siapa kau sebenarnya?”

“Uwais al-Qarni,” jawabnya sambil melenggang santai.

Bagaimana Uwais bisa begitu dicintai oleh Allah? Ketahuilah, bahwa saat mengisahkan kepada para sahabat, beliau menggambarkan bahwa Uwais berpakaian kumal, berdebu, dianggap tidak penting. Namun, Uwais ini begitu mencintai Allah dan umat mukmin.

Ia tidak punya apa-apa. Namun, jika ia memiliki sesuatu, yang ia pikirkan bukanlah dirinya. Melainkan orang-orang papa di sekitarnya.

Pernah suatu kali ia memohon maaf kepada Allah, “Ya Allah, maafkan Uwais karena hari ini Uwais tidak bisa membantu orang. Kalau ada orang mukmin yang tidak bisa makan karena Uwais tidak bisa membantu, maafkanlah Uwais ya Allah.”

Selain itu, pernah Uwais menderita penyakit belang pada kulitnya. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika nanti aku sembuh, tolong sisakan sedikit penyakit ini agar aku selalu bisa ingat bahwa Engkau pernah memberiku kesembuhan.”

Dan, memang tersisa sedikit penyakit itu di bahunya.

Apakah makna kisah Uwais ini?

Jangan pernah kita melihat orang dari luarnya saja. Terlebih jika kita melihatnya dengan tatapan hina ataupun sangkaan yang buruk. Karena, kita tidak pernah mengetahui hakikat orang tersebut. Karena, bisa saja orang yang kita anggap hina justru jauh lebih baik di mata Allah ketimbang kita sendiri.

Seperti apa yang Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus ajarkan kepada anaknya setelah anaknya itu baligh. Ia meminta sang anak mencari yang si anak lebih baik daripada orang tersebut di luar sana. Apa saja, siapa saja.

Anak itu pun pergi, mencari yang dimaksud sang ayah. Ia pikir, banyak orang yang ia lebih baik daripada orang itu — seperti pikiran kita sering kali kan seperti itu, merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia mendapat ide untuk mencari di tempat maksiat, dan menemukan seorang yang sedang mabuk. Ia pun membawa orang itu bersamanya sambil berpikir, ia mabuk saya tidak, saya lebih baik daripada orang ini. Tapi, kemudian ia berpikir lagi. Jika orang ini kemudian tobat dan tidak mabuk-mabukan lagi, orang ini tinggi derajatnya di sisi Allah. Allah mencintai hamba-hambanya yang bertobat. Si anak pun menyadari bahwa mungkin belum tentu ia lebih baik daripada orang itu.

Lalu, ia mencari lagi. Dan, ia melihat seekor anjing. Dan, ia pun merasa menemukan yang ia cari. Walau bagaimanapun ia adalah manusia dan si anjing hanyalah binatang. Saat membawa anjing itu pulang, ia teringat salah satu ayat yang menyatakan bahwa setelah hari akhir orang-orang yang kafir berteriak andai mereka menjadi tanah. Mengapa mereka berteriak begitu? Ternyata, hewan-hewan setelah dihisab di akhirat, mereka menjadi tanah. Mereka berteriak begitu karena mereka berandai jika mereka tak perlu menjadi manusia.

Si anak berpikir lagi, bagaimana jika nanti di akhirat aku tidak dapat melewati shirotol mustaqim, maka aku tidak lebih baik dari anjing ini.

Maka, ia pun pulang dan mengatakan kepada sang ayah bahwa tak ada orang di muka bumi yang lebih baik daripadanya.

Sang ayah pun berkata, “Sekarang, Nak, kamu telah menjadi orang dewasa.”

Sudahkah kita menjadi orang dewasa juga?

—————————————————————-

Demikianlah kira-kira apa yang tadi dapat aku tangkap dari pengajian Ustadzah Halimah kali ini. Semoga apa yang aku sarikan di sini dapat membawa manfaat baik bagi aku pribadi maupun bagi teman-teman yang membaca. Amin. Jika ada kesalahan, itu semata datang dari aku, karena keterbatasanku dalam menyerap ilmu. Mohon dibukakan pintu maaf.

[Foto oleh Owais Khan]

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top