Archive for June, 2010

Arisan!

Hampir sebagian besar orang (atau perempuan) di Indonesia pernah berurusan dengan yang namanya ARISAN.

arisanDi KBBI, dijelaskan bahwa ARISAN adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan di sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Sepanjang hidupku di usia ganda ketiga ini, aku sudah pernah melewati beberapa arisan. Arisan dengan teman SD, dengan keluarga kecil, dengan keluarga besar, dengan sepupu-sepupu, dan entah arisan apa lagi.

Dan, hari ini aku baru memulai arisan sesi baru dengan keluarga besar. Sangat besar. Bayangkan, pesertanya 40 orang — dan akan masih bertambah. Pertemuan dilakukan setiap dua bulan sekali dan sekali kocok, dua nama yang keluar. Jadi, kalau ditotal 40 bulan akan kami lalui dalam arisan ini.

40 bulan itu berarti 3 tahun 4 bulan — dan, ingat, bisa lebih. LAMA!

Tadi, aku berusaha memberi solusi untuk menambahkan nama yang keluar saat dikocok menjadi 4 orang. Sehingga, usia ARISAN ini takkan lebih dari 20 bulan.

Kenapa? Karena, nilai uang orang yang mendapat arisan lebih dulu dan yang terakhir tidak sama jika usia arisan ini harus sampai bertahun-tahun lamanya. Inflasi dan teman-temannya penyebabnya. Bayangkan saja, dalam kurun waktu tak sampai 2 tahun saja harga beberapa kebutuhan pokok naik hampir 2 kali lipatnya.

Tapi, sungguh disayangkan, peserta arisan lainnya menolak. Karena, memang jika 4 orang yang mendapat arisan, maka jumlahnya menjadi hanya setengah dari angka yang mereka dapatkan jika hanya 2 nama yang keluar. Tapi, bayangkan jika harus menunggu lebih dari tiga tahun untuk jumlah yang sesungguhnya tidak terlalu besar itu?

Aku sampai menjelaskannya dua kali. Dan, hanya ada 3 orang lainnya yang sepaham denganku.

Entah apa penyebabnya. Perbedaan pandangan dan pemahaman akan arisan atau uang? Perbedaan (baca: kesenjangan) pola pikir? Atau, mereka sekedar tidak mau berpikir lebih jauh?

Pokoknya dapat arisan sejumlah x bukan x/2.

Akhirnya, sebagai kelompok minoritas, kami terpaksa mengalah dan mengikuti mayoritas meskipun kami tahu betul bahwa kami benar dan mereka kurang benar — sepertinya bukan hal yang aneh ya belakangan ini?

Jadi, mari bermain arisan selama 40 bulan (atau lebih) ke depan…

Congrats, Nad!

Mencinta

mencintaSudah ia katakan berkali-kali, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk mencinta.

“Tapi, kamu masih memiliki kemampuan untuk dicinta.”

Lagi-lagi ia nyatakan, bahwa untuk dicinta, tidak diperlukan kemampuan, melainkan kebutuhan. Pria itu tak paham.

Ia meminta pria itu pergi dulu dari hidupnya, selama beberapa saat. Ia ingin melihat, apakah ia mampu mencinta atau butuh dicinta. Jika satu saja terpenuhi, mungkin ia takkan mengelak lagi dari pria itu.

Jika ia mampu mencinta, ia akan menerimanya. Jika ia butuh dicinta, ia juga akan menerimanya.

Beberapa hari berlalu. Ia tak juga menemukan kemampuan itu.

Ia menunggu lagi.

Beberapa minggu berselang. Tak juga datang kebutuhan itu.

Tapi, ia akhirnya menerima pria itu. Entah untuk alasan apa, ia sendiri tak paham. Mungkin, ada hal-hal yang tak selamanya bisa dipahami.

Kini, ia bersanding di sebelah pria itu, tanpa kemampuan untuk mencinta ataupun kebutuhan untuk dicinta.

[Picture by: Allie Hylton]

Berbahaya

bahayaIa terhenyak. Tiba-tiba nama orang itu tak ada lagi di dalam daftar kontaknya. Ia sampai mencari berkali-kali. Apakah ia menghapusku dari daftar kontaknya? Tanyanya dalam hati.

Dua hari kemudian, ia menerima pesan di telepon genggamnya. Maaf, istriku menghapus kontak2ku yg menurutnya “berbahaya”. Jgn balas SMS ini ya.

Berbahaya? Ia kembali terhenyak. Apa yang harus dibahayakan dari dirinya? Astaghfirullah.

Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika orang itu mengirimkan pesan pribadi dan meminta saran bagaimana menghadapi istrinya — hubungan mereka sepertinya sedang kacau. Sebagai seorang sahabat lama, ia mencoba menyuarakan pendapatnya dengan membalas pesan itu. Karena itu kah?

Dan, kini ia berbahaya? Karena menjawab pesan itu dengan niat baik agar pernikahan orang itu dan istrinya tetap berada pada arah yang benar?

Ia tersenyum. Berbahaya. Ya, ini semua berbahaya. Istri orang itu berbahaya. Kini, ia hanya bersyukur karena tak harus berurusan lagi dengan orang itu — dan urusan-urusannya.

[Beautiful pic by Billy Alexander]

Pernak-pernik Rumah

Sebenarnya, aku berprinsip, jika bisa minimalis, kenapa harus maksimalis. :) maksa ya?

hiasan-rumahJadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.

Satu per satu aku bersihkan dari debu. Aku lap. Aku tata ulang. Huhuhu…jadi kangen Nenekku. Kangen banget.

Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tiba-tiba terpikir, Nenekku itu memang kolektor pernak-pernik rumah sejati. Beragam barang ada — dan itu hanya sebagian yang tersisa. Banyak yang sudah pecah atau hilang.

Lucu-lucu, cantik-cantik.

Aku yang sok minimalis ini, saat membersihkan barang-barang itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang bisa-bisanya membeli semua itu? Hanya untuk dipajang?

perabotan-rumahAku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.

Mereka indah dan sedap dipandang mata.

Mudah-mudahan aku bisa terus menjaga semua barang-barang itu ya. Mungkin paling tidak sampai nanti ada anak-anak atau menantu-menantunya yang menginginkan barang-barang tersebut. Atau, nanti jika punya rumah sendiri, aku akan membawanya ke rumahku — mungkin saat itu aku sudah menjadi seorang maksimalis. ;)

Cewek-cewek di FB

cewekSeperti era FS dulu, sekarang di FB pun beredar cewek-cewek nggak jelas. Ada yang mengaku-ngaku alumni suatu universitas atau SMA tertentu tapi kok sepertinya dulu nggak ada yang namanya itu dan berwajah begitu. Parahnya lagi, mengaku-ngaku angkatan tertentu tapi fotonya terlihat 15 tahun lebih muda (operasi plastik?).

Kalau yang perempuan sih pasti langsung unapprove/reject atau minimal didiamkan dulu sampai akhirnya jelas identitas orang tersebut, siapa dia. Tapi, yang laki-laki? Ada yang tentu dengan senang hati meng-approve permohonan “pertemanan” dari cewek-cewek tidak jelas seperti itu — nggak semua sih, tapi ada.

Jadi, seakan-akan cewek-cewek tersebut memang bagian dari komunitas itu. Bahkan, ada yang akhirnya meng-approve karena dikiranya memang satu almamater atau memang teman karena ada friends in common-nya.

Sebenarnya sih bahayanya tak terlalu besar — walau berbahaya juga — jika si laki-laki tidak mengembangkan “pertemanan” tak jelas itu ke dunia nyata. Tapi, nggak ada salahnya untuk berhati-hati. Penipuan bisa dilakukan dengan cara yang kadang tak terbayangkan.

Bukan nakut-nakutin. Tapi, jaman sekarang gitu loh. Dari iseng-iseng berhadiah sampai iseng-iseng berbuah sial — amit-amit jabang bayi!

[Gambar oleh: Gabriella Fabbri]

| Setelah selesai publish postingan ini, aku baca postinganku sebelumnya. Tentang berbaik sangka. Ooppsss…apakah aku sedang tidak berbaik sangka? |