güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for June 13th, 2010

Berbahaya

bahayaIa terhenyak. Tiba-tiba nama orang itu tak ada lagi di dalam daftar kontaknya. Ia sampai mencari berkali-kali. Apakah ia menghapusku dari daftar kontaknya? Tanyanya dalam hati.

Dua hari kemudian, ia menerima pesan di telepon genggamnya. Maaf, istriku menghapus kontak2ku yg menurutnya “berbahaya”. Jgn balas SMS ini ya.

Berbahaya? Ia kembali terhenyak. Apa yang harus dibahayakan dari dirinya? Astaghfirullah.

Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika orang itu mengirimkan pesan pribadi dan meminta saran bagaimana menghadapi istrinya — hubungan mereka sepertinya sedang kacau. Sebagai seorang sahabat lama, ia mencoba menyuarakan pendapatnya dengan membalas pesan itu. Karena itu kah?

Dan, kini ia berbahaya? Karena menjawab pesan itu dengan niat baik agar pernikahan orang itu dan istrinya tetap berada pada arah yang benar?

Ia tersenyum. Berbahaya. Ya, ini semua berbahaya. Istri orang itu berbahaya. Kini, ia hanya bersyukur karena tak harus berurusan lagi dengan orang itu — dan urusan-urusannya.

[Beautiful pic by Billy Alexander]

Pernak-pernik Rumah

Sebenarnya, aku berprinsip, jika bisa minimalis, kenapa harus maksimalis. :) maksa ya?

hiasan-rumahJadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.

Satu per satu aku bersihkan dari debu. Aku lap. Aku tata ulang. Huhuhu…jadi kangen Nenekku. Kangen banget.

Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tiba-tiba terpikir, Nenekku itu memang kolektor pernak-pernik rumah sejati. Beragam barang ada — dan itu hanya sebagian yang tersisa. Banyak yang sudah pecah atau hilang.

Lucu-lucu, cantik-cantik.

Aku yang sok minimalis ini, saat membersihkan barang-barang itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang bisa-bisanya membeli semua itu? Hanya untuk dipajang?

perabotan-rumahAku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.

Mereka indah dan sedap dipandang mata.

Mudah-mudahan aku bisa terus menjaga semua barang-barang itu ya. Mungkin paling tidak sampai nanti ada anak-anak atau menantu-menantunya yang menginginkan barang-barang tersebut. Atau, nanti jika punya rumah sendiri, aku akan membawanya ke rumahku — mungkin saat itu aku sudah menjadi seorang maksimalis. ;)