Mencinta
Posted in Fiksi on 06/14/2010 06:23 pm by Nadiah Alwi
Sudah ia katakan berkali-kali, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk mencinta.
“Tapi, kamu masih memiliki kemampuan untuk dicinta.”
Lagi-lagi ia nyatakan, bahwa untuk dicinta, tidak diperlukan kemampuan, melainkan kebutuhan. Pria itu tak paham.
Ia meminta pria itu pergi dulu dari hidupnya, selama beberapa saat. Ia ingin melihat, apakah ia mampu mencinta atau butuh dicinta. Jika satu saja terpenuhi, mungkin ia takkan mengelak lagi dari pria itu.
Jika ia mampu mencinta, ia akan menerimanya. Jika ia butuh dicinta, ia juga akan menerimanya.
Beberapa hari berlalu. Ia tak juga menemukan kemampuan itu.
Ia menunggu lagi.
Beberapa minggu berselang. Tak juga datang kebutuhan itu.
Tapi, ia akhirnya menerima pria itu. Entah untuk alasan apa, ia sendiri tak paham. Mungkin, ada hal-hal yang tak selamanya bisa dipahami.
Kini, ia bersanding di sebelah pria itu, tanpa kemampuan untuk mencinta ataupun kebutuhan untuk dicinta.
[Picture by: Allie Hylton]








