Sudut Kerja di Rumah
Tampilan terbaru meja kerja di rumah:

Tampilan meja kerja di rumah bulan Oktober 2011:
You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:
Tampilan terbaru meja kerja di rumah:

Tampilan meja kerja di rumah bulan Oktober 2011:
Alhamdulillah. Selesai sudah workshop keren bersama Bhai Benny Rhamdani kemarin. Workshop Cerita Anak bertajuk Kelas Ajaib 2012 ini mengajak pesertanya belajar banyak tentang Pictorial Book.
Apa yang saya dapatkan di sana? Wah, banyak sekali. Mulai dari cara membuat pictorial book secara garis besar, sampai hal-hal kecil lainnya dalam penulisan. Seperti misalnya tanda baca, pemilihan kata, mengolah kalimat pembuka, dll., dsb.
Pokoknya, membuka wawasan tentang dunia penulisan anak banget deh.
Untuk urusan menulis, saya memang selalu ingin belajar banyak. Sejauh ini sudah tiga workshop penulisan yang saya ikuti. Pertama kali dulu di Gramedia Matraman dengan pemberi materi Mbak Naning Pranoto, pada tahun 2004. Kemudian workshop online di BlogFam dengan Kang Iwok Abqary pada tahun 2010 seperti yang saya ceritakan di sini. Dan baru-baru ini Kelas Ajaib 2012.
Setelah ini masih mau belajar menulis lagi? Wah, masih. Menurut beberapa senior, lulusan Kelas Ajaib 2011, ikutan workshop-workshop kepenulisan itu bisa mengasah kemampuan menulis kita, meng-update ilmu. Mereka saja — di antaranya Mas Ari Kunto, Dewi ‘Ichen’ Cendika, Mbak Nelfi Sayffrina, dan Mbak Erna Fitri — ingin ikut lagi dan lagi.
Apalagi saya yang ilmunya masih seujung kuku. Tidak ada kata berhenti untuk belajar menulis.
Thank you, Bhai, sudah berbagi ilmu! Matur nuwun, Mbak Indah Juli, sudah berepot ria mempersiapkan semuanya! ^_^
Semangka! ^___^
Sebenarnya, kalau waktunya ada, nggak ada tuh cerita urusan rumah tangga terbengkalai. Tapi, masalahnya, waktunya memang nggak cukup. Padahal sekarang ini aku cuma megang 2 kerjaan. Di batik dan di buku (dua-duanya bisnis online).
Dan, ada lagi satu faktor pendukung lainnya kenapa urusan rumah tangga kerap terbengkalai. Tidak dibiasakan sejak kecil.
Sedari lahir sampai hendak menikah, aku tinggal dengan Kakek-Nenek. Kebetulan mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga yang bisa diamanahkan untuk mengurus rumah. Itu termasuk urusan kamarku. Jadi memang kadang pulang sekolah atau kuliah dulu itu, jreng…tau-tau kamarku sudah rapi jali!
Nah, saat menikah pun, setelah pindah rumah, aku mendapat bantuan dari asisten rumah tangga. Begitu juga saat kembali ke rumah Nenek dulu.
Tapi sekarang, di rumah kontrakan ini, semua harus dikerjakan sendiri. Beruntung suamiku mau berbagi tugas. Tapi ya tetap saja kadang ada yang terbengkalai.
Masalah tidak terbiasa sejak kecil ini cukup mengganggu pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba memberi tanggung jawab kepada Hana. Tapi kelemahanku adalah jika tidak dikerjakan oleh Hana, aku gemas dan mengerjakannya sendiri. Salah ya?
Aku punya seorang teman yang sejak kecil sudah diberikan tanggung jawab mengurus rumah tangga oleh orang tuanya. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak! Aku salut kepadanya dan kepada orang tuanya.
Memang sudah semestinya anak diajarkan untuk turut membantu di rumah, agar nanti setelah dewasa, ia sudah terbiasa. Ia akan melakukannya dengan otomatis dan riang.
Sekarang sih, kalau memang waktunya ada, aku senang-senang saja melakukan semua. Bersih-bersih, memasak, semua sebenarnya menyenangkan. Apalagi memasak. Tapi ya itu, waktunya nggak cukup sih (bukan lagi ngarang alasan lho… ^____^ )
Meminjam istilah Rini, saya sedang menjadi manusia. Lho, memang pernah tidak menjadi manusia?
Antara pernah dan tidak. Begini, ini ada hubungannya dengan pekerjaan. Pekerjaan tetap saya adalah sebagai online promo & marketing plus content editor pada sebuah toko online yang menjual kain batik dan kain ikat. Meskipun bekerja di rumah, saya tetap ‘ngantor’ dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.
Pekerjaan saya ini menuntut banyak perhatian dan ketekunan. Pada jam-jam tersebut, sulit bagi saya berbagi pikiran ke hal-hal lainnya. Ya, paling banter, kalau lagi mentok, saya bermain-main dengan akun sosmed pribadi, atau ngeblog (yang ini agak jarang, karena ngeblog sebenarnya kan juga butuh konsentrasi ya?).
Sementara, sejak lama, sebelum bekerja di toko online ini, saya sudah menjalani profesi fleelancer yang kebetulan saya sukai, sebagai penerjemah. Selain menulis, menerjemahkan adalah hal menyenangkan lainnya yang bisa mendatangkan rejeki buat saya. Hobi yang dibayar, begitu.
Sehingga, agak sulit menampik jika ada tawaran untuk menerjemahkan. Biasanya, bukan karena uangnya, melainkan karena muatan pada buku yang ditawarkan. Kalau menarik, kata tidak agak sulit keluar dari ketikan tangan saya (biasanya tawaran itu datang melalui email atau YM).
Namun, sejalan usia yang semakin bertambah, ketahanan tubuh saya tidak seperti dulu. Menerjemahkan adalah hal yang saya lakukan pagi-pagi sebelum memulai pekerjaan di toko online tersebut atau setelahnya, pada malam hari. Dulu sih kuat-kuat saja. Tapi, sekarang, saya lebih mudah merasa letih. Terlebih, saat deadline menghampiri.
Seperti kesepakatan dengan suami, saya memutuskan untuk cuti dulu dari menerjemahkan. Untuk sementara waktu. Dan inilah yang dimaksud dengan menjadi manusia. Saya memiliki waktu luang untuk mengurus anak, mengurus rumah, membaca, bercengkerama dengan orang tua, dll., dsb.
Masalahnya, sejak menjadi manusia begini, saya kok kangen dengan kegiatan mengalihbahasakan novel atau buku-buku non fiksi menarik seperti dulu? Nah, memang begitu bukan menjadi manusia? Hehe…tidak puas dengan keadaan dan selalu melihat hal lain sebagai rumput yang lebih hijau?
Maka, saya nikmati saja rasa kangen itu. Atau saya alihkan dengan menulis atau mengedit tulisan lama yang kemudian saya kirimkan ke majalah (atau mungkin nanti ke penerbit, untuk tulisan yanh agak tebal, insya Allah). Entah akan dimuat/diterbitkan atau tidak, yang penting saya merasa senang. Dan, mudah-mudahan kebiasaan saya dalam mengolah kata tidak tumpul.
Menjadi manusia? Enak!
Setelah beberapa lama vakum, sekarang aku menerjemahkan lagi. Melepas rindu.
Aku memang sempat tidak gencar mencari job terjemahan karena beberapa hal. Tapi setelah melihat beberapa teman asyik dengan terjemahan mereka, aku merasa rindu. Rindu menguntai kata menjadi kalimat yang pas. Memindahkan makna. Terkadang menuliskan kembali dengan gaya bahasa Indonesia.
Lalu muncullah tawaran itu. Langsung kuambil tanpa pikir dua kali. Semata karena aku rindu — yang kemudian terkontaminasi (atau tersemangati) oleh sebuah keinginan yang telah terpendam sekian lama. Meski khawatir dengan deadline yang sempit — untuk ukuran orang yang bekerja 9 to 5 sepertiku, 1.5 bulan adalah waktu yang sempit
— kuambil juga kesempatan ini.
Kebetulan aku sudah pernah membuat review buku ini untuk penerbit yang sama. Jadi, paling tidak, aku sudah mengetahui jalan ceritanya. Semoga bisa memudahkan.
Aku memang sempat me-request, jika memang copyright-nya sudah keluar, aku ingin dipertimbangkan untuk menerjemahkannya. Sepertinya sang editor ingat dan jatuhlah tawaran itu kepadaku.
Aku me-request karena aku menyukai cerita dalam buku ini. Menyentuh, namun juga mengandung harapan. Jenis kisah remaja yang mengandung makna, genre yang kebetulan aku suka.
Malam ini, aku menerjemahkan. Sekarang sedang rehat sejenak. Blogging — diselingi dengan chatting.
Semoga aku selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk menunaikan kewajiban — yang menyenangkan — ini, amin. Karena, tidak lah mudah duduk selama hampir 14 jam sehari di depan layar monitor
.
Foto oleh: Raoul Brouns, Netherlands.
© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine