güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Aktivitas’ Category

Masak Itu Berkah

Saya dan suami senang mencoba makanan baru — tepatnya suami, saya yang sudah tujuh tahun menjadi istrinya hanya ikut-ikutan :) . Tapi, tahu sendiri, sekarang apa-apa mahal. Kalau sering-sering jajan di luar, wah…bahaya! Maksudnya, berbahaya bagi kesehatan kantong, dompet, dan rekening tabungan.

Jadi, saya pun mulai mencoba-coba memasak.Tapi, dulu, saya pernah punya pengalaman menyedihkan dalam hal memasak untuk suami. Setelah selesai, masakan itu tidak dapat dimakan. Rasanya kayak jamu! Huhuhu. Antara malu dan sedih. Akhirnya, setelah itu, saya memutuskan untuk titip masak ke Mama, yang sudah pasti masakannya enak dan bisa dimakan.

Walau begitu, pada dasarnya saya sebenarnya senang memasak. Mungkin karena saya senang makan juga, hehehe. Kesukaan saya akan memasak ini saya puaskan dengan menonton acara masak-memasak di televisi. Dulu, yang saya suka tonton adalah Gula-gula (Bara Patirajawane) dan Kitchen Stadium.

Tapi, alhamdulillah, sekarang kami berlangganan tv kabel. Ada kanal AFC (Asian Food Channel). Waaaahhh, layaknya surga! Seharian yang muncul adalah gambar orang memasak.

Nah, ada dua acara di AFC yang saya suka. Pertama, Chef at Home (Michael Smith). Kedua, Nigella Bites (Nigella Lawson).

Chef at Home menghadirkan acara memasak sang chef, Michael Smith, untuk menyiapkan makan malam bersama istri dan anaknya — terkadang untuk beberapa tamu yang datang, seperti teman atau ayahnya. Chef at Home ini spesial karena memiliki tagline “Cooking without a recipe, you can do it, too.” Keren kan? Jadi, saya juga mestinya bisa! So inspiring. Plus, Smith kerap menyuguhkan tips-tips menarik dalam masak-memasak.

Nigella Bites tak jauh beda. Kadang ia memasak untuk keluarga dan temannya, atau kadang hanya untuk dirinya sendiri. Tips-tipsnya juga keren-keren.

Nah, yang paling berkesan dari Michael Smith adalah ajarannya bahwa kita dapat mencampur bumbu apa saja. Dan, kita juga dapat bereksplorasi dengan bumbu-bumbu tersebut. Yang terpenting, ada keseimbangan di sana. Ini saya pegang betul.

Berbekal menonton dua acara tersebut, saya membuat beberapa masakan. Butter bread pudding, fettucine alfredo, spaghetti bolognaise, creamy spaghetti, dan banyak lagi. Tapi, semalam ada yang berbeda. Saya masak mie ayam! :) Kali ini menu oriental — eh, apa menu lokal ya? :D

mie-ayam-berkah

Modal membuat mie ayam jamur ini nggak banyak. Hanya sekitar Rp. 30.000,-. Ayam setengah, jamur lima ribu, sawi, mie, dan kerupuk pangsit. Daaannnn, berkah! Modal segitu, bisa menghasilkan lima mangkuk mie ayam. Jadi, saya bisa mengirimi dua mangkuk mie ayam jamur untuk Mama. Berkah banget.

Coba bayangkan, kalau makan di luar, di tempat makan yang enak. Tiga puluh ribu hanya dapat dua mangkuk. Bahkan kurang, di beberapa resto. Ya nggak?

Yang diperlukan hanya sedikit kreativitas dan kehebohan di dapur :) .

Hari ini misalnya. Tadi pagi, saya titip pesan ke Mama untuk tidak dikirimkan makanan. Saya saja yang ke rumah Mama. Tapi. ada jadwal yang tidak sesuai dengan rencana. Jadi, saya tidak dapat kiriman makanan. Wah, saya dan Hana, anak saya laper banget! Oh ya, suami sedang mengaji, jadi paling tidak, saya cukup memikirkan makanan untuk saya dan Hana.

Beli kok males. Bikin? Yup, ide bagus. Kebetulan, saya masih punya pasta spaghetti mungil-mungil sebanyak 50 gr, sisa masak spaghetti bolognaise tempo hari. Lalu, saya masih punya sisa buah lemon dan daging asap. Maka, saya pun mulai berjibaku di dapur.

Pertama, mencacah bawang putih dan bawang bombay sambil merebus pasta. Lalu, saya menumis kedua bawang-bawangan tersebut sambil menggoreng daging asap — oh ya, bawang putih, atas saran Michael Smith, sebaiknya dimasukkan terakhir karena cepat menjadi coklat. Setelah itu, saya masukkan susu, garam, dan lada ke tumisan bawang.

Kemudian, saya masukkan oregano dan biji pala bubuk, sedikit saja, untuk menambah rasa. Lalu, saya masukkan spaghetti yang sudah direbus tadi ke dalam panci berisi cream sauce. Untuk memperkaya rasa, saya tambahkan perasan buah lemon, sedikit saja. Dan, setelah diicip dan rasanya sudah pas, saya letakkan di atas piring, lalu saya tambahkan daging asap yang telah digoreng tadi dan parutan keju. Yummy!

Saya dan Hana pun siap bersantap siang dengan sepiring spaghetti cream sauce dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah, tanpa harus mengeluarkan uang lagi. Enak, berkah!

Oh ya, satu lagi…yang pasti TANPA MECIN atau penyedap rasa lainnya, judulnya bebas MSG :D .

pasta-saus-putih

Gambar di atas adalah Hana sedang menunggu makan siang sambil membaca buku dan tentunya menu makan siang hari ini.

Jadi pingin belajar masakan lainnya supaya irit..ooopsss…supaya berkah maksudnya :) .

Tertawa

Sudah beberapa hari ini, saya selalu tertawa sebelum tidur. Meski sebelumnya ada kejadian menyebalkan, sayatetap tertawa.

Dan, rasanya sangat menyenangkan! Ya iyalah, ketawa gitu loch!

Tidak bisa kita pungkiri, tertawa mengandung banyak manfaat. Menurut beberapa sumber, tertawa memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar hormon stres, plus membuat jantung dan sistem peredaran darah lebih sehat, serta otot menjadi lebih rileks.

Apa sih yang membuat saya tertawa?

Saya sangat suka menonton sitcom, komedi situasi. Beberapa yang paling saya sukai adalah Friends, The Cosby Show, Growing Pains, Dharma and Greg, dan banyak lagi.

Nah, yang membuat saya beberapa hari ini tertawa-tawa adalah Dharma and Greg. Dharma yang polos dan Greg yang ganteng plus orang tua dan teman-teman keduanya yang cukup sangat aneh menciptakan situasi-situasi yang berhasil memancing tawa.

Dan, saya merasa lebih santai. Somehow, bahkan saya bisa melupakan kekesalan, kelelahan, dan masalah saya.

Jadi, sepertinya, acara menonton sitcom ini akan terus berlanjut.

Oh ya, saya menontonnya di YouTube. Di bawah ini adalah episode yang sedang saya tonton:

Enjoy it! Dan, selamat tertawa!

PS: yup, lagi ber-saya ria nih.

Malam Pertama…

malam-pertamaHehe…bukan malam pertama itu. Tapi, ini malam pertama setelah sekian lama tak ada kerjaan tambahan. Biasanya, di luar pekerjaan utama di http://kainikat.com/ dan http://batikindonesia.com/, aku mengambil pekerjaan menerjemahkan buku dan menulis skrip.

Nah, semua sudah disetor, sudah selesai — alhamdulillah, jadi malam ini free. Horeee!!!

Oops. Bukannya happy atau gimana. Tapi, menangani 2 – 3 pekerjaan pada satu waktu cukup bikin stres juga. Pikiran dan tenaga harus dibagi dengan tepat. Jangan sampai ada yang dikorbankan — walaupun praktiknya gak gampang juga.

Dan, sekarang mau ngapain dong, setelah semua selesai?

Kayaknya, aku mau lebih sering nge-blog dan menulis fiksi. Sudah saatnya melakukan hal lain yang memang menjadi impian utama yang sampai sekarang belum 100% terwujud. Menerbitkan novel — kedua.

So, will you please excuse me, I gotta complete one story I started about…well, 9 months ago? ;)

[Picture by: Renate Kalloch]

Menghadapi Revisi

televisiBeberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.

Namun, ternyata mau tak mau, saya juga harus berjumpa dengan serangkaian revisi. Mulai dari revisi pada penulisan hingga revisi yang berkenaan dengan daya jual naskah.

Awalnya, gemas juga dengan revisi-revisi tersebut, apalagi acara tersebut kejar tayang. Jadi, revisi harus dilakukan segera.

Namun, belakangan, saya sudah mulai agak terbiasa.

Revisi memang tidak bisa dihindari. Ada unsur selera juga yang bermain. Memang, ada pakem-pakem yang sudah disepakati bersama. Namun, tak dapat dipungkiri, selera setiap orang berbeda.

Apapun hasilnya, saya menghargai betul kesempatan pertama ini. Saya dapat berlajar banyak hal. Terutama, melalui revisi-revisi tersebut.

Dan, memang itu yang saya kejar dari setiap pekerjaan yang saya jalani. Tak apalah jika saya belum berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebin tinggi lagi — saya pernah bermimpi mengambil master dalam bidang creative writing. Saya ternyata dapat belajar banyak dari serangkaian pekerjaan yang saya jalani sekarang.

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)