Masak Itu Berkah
Posted in Aktivitas, Makanan, Saya / Aku, Sekedar Cerita on 11/07/2010 04:44 pm by Nadiah AlwiSaya dan suami senang mencoba makanan baru — tepatnya suami, saya yang sudah tujuh tahun menjadi istrinya hanya ikut-ikutan
. Tapi, tahu sendiri, sekarang apa-apa mahal. Kalau sering-sering jajan di luar, wah…bahaya! Maksudnya, berbahaya bagi kesehatan kantong, dompet, dan rekening tabungan.
Jadi, saya pun mulai mencoba-coba memasak.Tapi, dulu, saya pernah punya pengalaman menyedihkan dalam hal memasak untuk suami. Setelah selesai, masakan itu tidak dapat dimakan. Rasanya kayak jamu! Huhuhu. Antara malu dan sedih. Akhirnya, setelah itu, saya memutuskan untuk titip masak ke Mama, yang sudah pasti masakannya enak dan bisa dimakan.
Walau begitu, pada dasarnya saya sebenarnya senang memasak. Mungkin karena saya senang makan juga, hehehe. Kesukaan saya akan memasak ini saya puaskan dengan menonton acara masak-memasak di televisi. Dulu, yang saya suka tonton adalah Gula-gula (Bara Patirajawane) dan Kitchen Stadium.
Tapi, alhamdulillah, sekarang kami berlangganan tv kabel. Ada kanal AFC (Asian Food Channel). Waaaahhh, layaknya surga! Seharian yang muncul adalah gambar orang memasak.
Nah, ada dua acara di AFC yang saya suka. Pertama, Chef at Home (Michael Smith). Kedua, Nigella Bites (Nigella Lawson).
Chef at Home menghadirkan acara memasak sang chef, Michael Smith, untuk menyiapkan makan malam bersama istri dan anaknya — terkadang untuk beberapa tamu yang datang, seperti teman atau ayahnya. Chef at Home ini spesial karena memiliki tagline “Cooking without a recipe, you can do it, too.” Keren kan? Jadi, saya juga mestinya bisa! So inspiring. Plus, Smith kerap menyuguhkan tips-tips menarik dalam masak-memasak.
Nigella Bites tak jauh beda. Kadang ia memasak untuk keluarga dan temannya, atau kadang hanya untuk dirinya sendiri. Tips-tipsnya juga keren-keren.
Nah, yang paling berkesan dari Michael Smith adalah ajarannya bahwa kita dapat mencampur bumbu apa saja. Dan, kita juga dapat bereksplorasi dengan bumbu-bumbu tersebut. Yang terpenting, ada keseimbangan di sana. Ini saya pegang betul.
Berbekal menonton dua acara tersebut, saya membuat beberapa masakan. Butter bread pudding, fettucine alfredo, spaghetti bolognaise, creamy spaghetti, dan banyak lagi. Tapi, semalam ada yang berbeda. Saya masak mie ayam!
Kali ini menu oriental — eh, apa menu lokal ya?

Modal membuat mie ayam jamur ini nggak banyak. Hanya sekitar Rp. 30.000,-. Ayam setengah, jamur lima ribu, sawi, mie, dan kerupuk pangsit. Daaannnn, berkah! Modal segitu, bisa menghasilkan lima mangkuk mie ayam. Jadi, saya bisa mengirimi dua mangkuk mie ayam jamur untuk Mama. Berkah banget.
Coba bayangkan, kalau makan di luar, di tempat makan yang enak. Tiga puluh ribu hanya dapat dua mangkuk. Bahkan kurang, di beberapa resto. Ya nggak?
Yang diperlukan hanya sedikit kreativitas dan kehebohan di dapur
.
Hari ini misalnya. Tadi pagi, saya titip pesan ke Mama untuk tidak dikirimkan makanan. Saya saja yang ke rumah Mama. Tapi. ada jadwal yang tidak sesuai dengan rencana. Jadi, saya tidak dapat kiriman makanan. Wah, saya dan Hana, anak saya laper banget! Oh ya, suami sedang mengaji, jadi paling tidak, saya cukup memikirkan makanan untuk saya dan Hana.
Beli kok males. Bikin? Yup, ide bagus. Kebetulan, saya masih punya pasta spaghetti mungil-mungil sebanyak 50 gr, sisa masak spaghetti bolognaise tempo hari. Lalu, saya masih punya sisa buah lemon dan daging asap. Maka, saya pun mulai berjibaku di dapur.
Pertama, mencacah bawang putih dan bawang bombay sambil merebus pasta. Lalu, saya menumis kedua bawang-bawangan tersebut sambil menggoreng daging asap — oh ya, bawang putih, atas saran Michael Smith, sebaiknya dimasukkan terakhir karena cepat menjadi coklat. Setelah itu, saya masukkan susu, garam, dan lada ke tumisan bawang.
Kemudian, saya masukkan oregano dan biji pala bubuk, sedikit saja, untuk menambah rasa. Lalu, saya masukkan spaghetti yang sudah direbus tadi ke dalam panci berisi cream sauce. Untuk memperkaya rasa, saya tambahkan perasan buah lemon, sedikit saja. Dan, setelah diicip dan rasanya sudah pas, saya letakkan di atas piring, lalu saya tambahkan daging asap yang telah digoreng tadi dan parutan keju. Yummy!
Saya dan Hana pun siap bersantap siang dengan sepiring spaghetti cream sauce dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah, tanpa harus mengeluarkan uang lagi. Enak, berkah!
Oh ya, satu lagi…yang pasti TANPA MECIN atau penyedap rasa lainnya, judulnya bebas MSG
.

Gambar di atas adalah Hana sedang menunggu makan siang sambil membaca buku dan tentunya menu makan siang hari ini.
Jadi pingin belajar masakan lainnya supaya irit..ooopsss…supaya berkah maksudnya
.
Hehe…bukan malam pertama itu. Tapi, ini malam pertama setelah sekian lama tak ada kerjaan tambahan. Biasanya, di luar pekerjaan utama di
Beberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.
Bukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.







