Archive for the ‘Buku’ Category

Negeri van Oranje

Negeri van Oranje Negeri van Oranje by Wahyuningrat

My rating: 3 of 5 stars

Keputusan untuk membeli buku ini semata didasari rasa penasaran. Apa sih isinya?

Hm…salahnya, pada halaman 70-an, saya membaca-baca komen teman-teman GR tentang buku ini. Yang tadinya tidak ada pemikiran begini-begitu, jadi ada.

Tapi, memang, harus saya akui, teman-teman GR ada benarnya. Saya melewatkan cukup banyak halaman yang isinya penjelasan panjang-lebar tentang Belanda — padahal saya cukup tertarik dengan negeri kincir angin ini loh.

Ada juga sih beberapa yang tetap saya baca karena cukup menarik memang. Hanya saja, rasanya terlalu berlebihan. Sehingga, konflik yang disajikan dalam novel ini menjadi terlalu ringan.

Untungnya, saya memang sedang mencari bacaan ringan. Jadi, masih asyik-asyik saja. Dan, saya menikmati ‘persahabatan’ kelima tokoh dalam buku ini.

Lebih lagi, harus diakui, cara bercerita para penulis buku ini cukup enak. Ditambah lagi, banyak ilustrasi lucu seperti misalnya ada deskripsi hal-hal yang dilakukan tokoh, penulis menambahkan footnote yang kira-kira isinya: ‘kebayang gak? gak kebayang kan?’ (cmiiw)…sisi itu yang paling saya suka dari buku ini.

Hanya saja, ada yang sedikit mengganggu. Digambarkan bahwa salah satu tokoh mendapat rekomendasi beasiswa dari Gus Dur yang masih menjabat sebagai Presiden. Itu berarti, setting-nya terjadi pada tahun ‘99 – ‘01.

Biasanya, kuliah master 1 – 2 tahun (cmiiw, blm jd master soalnya) kan? Kalau dihitung-hitung, andai rekomendasi itu diterima pada 2001, setting latar waktu paling lama hingga 2003. Tapi, kenapa digambarkan seakan Facebook sudah booming — kalau tak salah, FB digagas baru pada tahun 2004 (cmiiw again). Tokoh-tokohnya dikisahkan sudah mengunggah foto-foto ke FB. Kalau Friendster memang lagi seru-serunya saat itu (cmiiw) ya? Tapi, FB?

Oh ya, yang terakhir ini sekedar bertanya ya, saya bisa saja salah, dan dengan senang hati menerima penjelasan mengenai settingan itu. Dan, jika saya salah, dengan senang hati pula mengoreksi catatan kecil saya tentang buku ini.

View all my reviews >>

Saya dan Slang Amerika

menerjemahkanSelama satu setengah bulan lalu, saya sempat berjibaku dengan penerjemahan sebuah buku autobiografi – nanti setelah terbit saya beritahu judulnya. Buku yang menarik, proses penerjemahan yang seru.

Buku ini bukan buku pertama yang saya terjemahkan. Saya sudah pernah mengalihbahasakan sekitar tujuh buku sebelum ini. Namun, yang satu ini berbeda, karena autobiografi. Dan, banyak terdapat kata / idiom slang Amerika di dalamnya.

Sang penulis adalah tokoh yang sangat terkenal di negaranya sana. Dan, penggunaan kata / idiom slang merupakan hal yang menarik. Karena, saya harus membuka-buka bukan hanya online dictionnary, namun juga kamus slang Amerika warisan kakek saya.

kamus-slang-amerikaJika kata yang saya cari tidak dapat ditemukan dalam kamus warisan itu, saya menjelajah ke negeri Paman Google. Saya membuka beberapa online dictionnary sekaligus untuk memperbandingkan artinya. Apalagi, saya pernah menemukan beberapa kata yang memiliki banyak makna. Saya harus dapat mengambil makna yang paling sesuai dengan konteks.

Menerjemahkan buku satu ini saya memang sangat berhati-hati — bukan berarti sebelumnya saya tidak berhati-hati loh. Karena, saya tidak ingin ada kesalahan dalam pemaknaan kata. Semua di dalamnya adalah kisah nyata. Salah sedikit saja, sudah nggak asik lagi.

Dengar-dengar, penerbit sudah menyiapkan sebuah buku lainnya untuk saya terjemahkan. Kira-kira keseruan apa lagi yang akan saya temukan ya?

;)

Social Entrepreneur

freshSemalam saya menyempatkan diri ikut dalam acara Fresh yang diadakan di FX. Tema yang diusung adalah “Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change“.

Saat memutuskan untuk berangkat, saya tidak tahu apa Social Entrepreneurship dan Online Movement for Social Change itu. Yang saya tahu, dengan ikutan Fresh, saya pasti dapat informasi baru dan terinspirasi.

Dan, benar saja. Selain jadi paham akan tema tersebut, saya juga terinspirasi.

Pembicara yang paling membuat saya terkesan malam itu adalah Grace dari Books for Hope dan Pandji ‘Kena Deh‘ — andai semalam bisa bawa Hana, anakku, dia suka banget acara ‘Kena Deh’-nya Pandji huhuhu.

Grace membuka mata saya bahwa siapapun dapat membantu orang lain dan ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membantu.

Pandji mengajak saya kembali mengingat kenangan saat saya ikut dalam acara kunjungan ke RSCM, menjenguk anak-anak yang sedang sakit karena Pandji melakukan hal yang sama di RS. Dharmais. Di samping itu, Pandji benar-benar seorang entertainer sejati deh.

Nah, sekarang…apa sih social entrepreneur?

Itu adalah julukan bagi seseorang yang memecahkan ma sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip  entrepreneurial. Ia seorang yang inovatif, kreatif dan gigih.

Menurut Grace, seorang social entrepreneur adalah perpaduan antara Richard Branson, pemilik brand Virgin, yang penuh ide gila dalam menjalankan bisnisnya dan Bunda Theresa yang berhati mulia.

Belum selesai Grace menerangkan, saya langsung mendapat ide untuk situs tentang anak yang saya kelola, http://tingkahanak.com. Segera saya ambil buku catatan yang selalu saya bawa ke mana-mana. Saya tuangkan ide tersebut berikut langkah-langkah yang harus saya ambil. Semoga saja dapat terwujud.

Saat dalam perjalanan pulang, saya baru teringat, sebenarnya ide ini sudah muncul di awal-awal pembuatan situs tersebut. Syukurlah, dengan ikut Fresh semalam, saya kembali tercolek untuk menjalankannya.

Tentang Pandji. Ia memasuki panggung dengan iringan lagunya, Untuk Indonesia.

“Angkat tanganmu untuk Indonesia,” seru Pandji. “Yang nggak angkat tangan bukan orang Indonesia.”

Langsung semua yang hadir mengangkat tangan. Ada sih, 1 – 2 yang enggak, sepertinya lagi asyik nge-tweet-in acara Fresh. :D

Dari Pandji, saya tahu tentang C3 Friends. Apa sih C3 Friends? Intip aja website-nya. Yang pasti, kalau kamu ke sana, kamu bisa ikut bantu anak-anak penderita kanker.

Nah, banyak cara kan untuk menjadi seorang social entrepreneur?

Nggak yakin bisa? Mulai dari hal yang sederhana. Bantulah orang di dekatmu. Siapa aja. Seperti misalnya salah seorang perempuan yang menunjuk tangan saat Pandji tanya siapa yang sudah bantu orang kemarin. Mbak tersebut membantu orang lain dengan memberikan data. Ya, itu pun sebuah bentuk bantuan.

Jadi, apapun itu, bantuan dalam bentuk apapun, yang bagaimanapun, lakukanlah. Mulai dari yang kecil.

Suka ngeblog? Share sesuatu yang berguna. Jangan cuma curhat-curhat aja >> nunjuk diri sendiri.

Kata W. Churchil — yang semalam dikutip Ibu Ayling dari UNICEF, We make a living by what we get but we make a life by what we give.”

Kata Grace, “Do you want to make a difference in other people’s life?

Kata Pandji, “Add another layer to your life. You’re a father to someone, a lover to someone, now add another one by helping others.”

Datang ke acara Fresh memang bikin Fresh! Oh ya, semalam Fresh bisa ditonton juga di http://freshyourmind.com/tv/ loh.

BTW, acara semalam ternyata disponsori oleh ACER dan Microsoft, karena sekalian lauching “Bringing ICT into Villages” sebuah kolaborasi  antara ACER-Microsoft dan Books for Hope untuk membantu peningkatan computer literacy di sekolah-sekolah di Indonesia. Proyek pertama mereka adalah sebuah sekolah di Cirebon.

Lebih dari 1 Sisi

mata

Waktu kecil dulu, saya melihat orang hanya dari satu sisi. Dia baik, ya baik. Titik. Dia jahat, ya jahat. Titik. Sehingga mudah bagi saya untuk mengidolakan atau membenci seseorang.

Bahkan pernah saya tak mau melihat sisi lain dari seseorang hanya karena saya begitu mengidolakannya. Jadi, saya menganggap sisi lain itu tidak ada. Ia sempurna. Titik. Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Tentang Buku

Sejak kecil, aku sudah memiliki hubungan istimewa dengan buku. Terlebih sejak Mama dan Papa lebih memilih ‘berekreasi’ ke toko buku ketimbang ke tempat lainnya.

Hampir setiap akhir minggu kami ke toko buku. Terkadang ke toko buku Wali Songo dan dilanjutkan ke toko buku Gunung Agung yang kebetulan dua-duanya berlokasi di Kwitang. Di lain waktu ke Gramedia Matraman. Klik untuk melanjutkan membaca ya »