güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Dunia Digital’ Category

Sindir-Menyindir

komunikasiHubungan antar teman semakin erat belakangan ini. Semenjak ada FB, twitter, BBM, YM, Skype, dll.

Ada yang lebih suka saling kontak via dunia maya saja, baik melalui jejaring sosial ataupun layanan chat. Ada juga yang lebih suka melanjutkan ke ajang tatap muka alias kopdar, kopi darat. Atau, ada juga yang intens melakukan keduanya.

Memang, semua ada hikmahnya. Walau memang ada juga yang pada akhirnya “tak sengaja” terperangkap dalam sisi negatifnya, seperti perselingkuhan ataupun CLBK dan sejenisnya. Tapi saya yakin yang lagi baca nggak begitu kan ya? ;) Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Sekolah Lagi Berkat Blogfam

sekolah lagiSekolah lagi? Iya. Sudah beberapa minggu ini saya sekolah lagi. Menyenangkan sekali. Karena, sekolah yang saya ikuti adalah sekolah menulis.

Semenjak lulus dari Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Salah satu bidang yang saya minati adalah Creative Writing. Sayangnya, sepertinya program master dalam bidang ini hanya ada di luar negeri.

Karena tidak punya cukup uang untuk membiayai sendiri, saya pernah mendaftar program beasiswa. Tidak diterima, karena background saya di swasta (saat itu saya masih bekerja kantoran). Nggak nyambung dengan pekerjaan saya.

Karena itu, demi memuaskan minat saya dalam bidang kepenulisan dan kesukaan saya dalam belajar tentang kepenulisan, saya mengikuti beberapa workshop kepenulisan.

Pertama dulu sekali, di awal tahun 2004, saat saya sedang mengandung Hana. Workshop tersebut diselenggarakan oleh majalah MataBaca.

Dan, sekarang, saya sedang mengikuti Workshop Menulis Cerita Anak yang diadakan secara online oleh Blogfam — yang hari ini sedang berulang tahun ketujuh, selamat ya! Workshop ini, meski diadakan online, tidak main-main lho!

Sang pengajar yang telaten — yang juga penulis terkemuka, Kang Iwok Abqary, memberikan materi dan tugas dengan serius. Karenanya, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mangkir dari kelas dan mengerjakan tugas tepat pada waktunya. Masa gurunya serius, muridnya main-main? Rugi dong ah!

Kian hari materi dan tugas yang diberikan kian menyenangkan. Saya merasa, workshop ini mengobati keinginan saya kuliah Creative Writing yang terpaksa dipudarkan oleh keadaan. Workshop ini juga mengobati kerinduan saya akan mata kuliah Penulisan Populer yang pernah saya ambil saat kuliah dulu — mata kuliah favorit saya dengan dosen seorang penulis, Bapak Ismail Marahimin.

Jika dulu mata kuliah PenPop — begitu kami biasa menyingkat mata kuliah Penulisan Populer — dapat menggali minat saya dalam tulis-menulis yang sempat terkubur karena kesibukan kuliah — yang meski di Fakultas Sastra namun tidak terlalu banyak berhubungan dengan tulis-menulis, kecuali menulis makalah yang bejibun. Maka, Workshop Menulis Cerita Anak ini mulai membangkitkan keinginan terpendam saya untuk menulis cerita anak.

Selama ini, terlalu banyak yang membuat saya khawatir tentang menulis untuk anak. Namun, sepertinya workshop menarik ini mampu menghalau semua kekhawatiran saya. Tentunya, itu berkat ketelatenan Pak Guru Iwok — yang kerap digoda oleh para muridnya dengan panggilan Cik Gu ala Upin Ipin.

Oh ya, hebatnya, workshop ini tidak dipungut biaya sesen pun! Maka, yang dapat saya haturkan hanyalah doa yang tulus untuk rekan-rekan penggagas dan penyelenggara workshop ini di Blogfam.

Yang bisa saya sebutkan di sini di antaranya Mbak Indah Juli yang memberi informasi workshop ini via twitter, Bapak Kepala Sekolah Jaf yang rajin merapikan kelas dan memberi info menarik, dan tentunya Pak Guru Iwok Abqary yang telah mengajar dengan sabar dan dengan sangat menarik. Semoga kebaikan ketiganya dapat membawa kebaikan yang lebih indah lagi dalam kehidupan mereka. Amin.

Dan, sekali lagi, selamat ulang tahun untuk Blogfam! Terima kasih ya, berkat Blogfam saya bisa sekolah lagi!

Setia kepada WordPress

Sejak mengenal WordPress pada tahun 2006, aku memang bisa dikatakan tak berpikir untuk berpaling darinya. Entah mengapa. Mungkin karena WordPress memiliki back end yang bagiku mudah dipahami.

Aku sendiri mengawali kecintaanku akan blogging melalui blogspot, yang tak kalah user friendly-nya. Namun, entah karena berkutat dengan WordPress terus-menerus saat bekerja dulu (sebagai content editor website kesehatan dan parenting),  aku menemukan kenyamanan tersendiri dengan WordPress. Terutama sebagai alat manajemen konten.

Menggunakannya untuk pribadi kumulai saat mengaktifkan situs TingkahAnak.com. Kemudian, dilanjutkan dengan situs ini, NadiahAlwi.com. Sejauh ini, aku masih puas dengan WordPress yang kerap disingkat menjadi WP.

Baik TingkahAnak.com maupun NadiahAlwi.com, keduanya masih berbentuk blog. Sehingga, pengaturannya sangat mudah. Plugin yang kugunakan juga sedikit sekali.

Namun, kini aku sedang membangun online bookstore, bisnis baru yang merupakan impianku sejak lama. Dan, aku tetap ingin menggunakan WordPress. Kenapa? Karena, lagi-lagi dalam pekerjaan — yang juga berkutat dalam bidang online store, aku juga menggunakan WP. Dan, tampaknya tidak rumit-rumit amat.

Tapi, ternyata tidak semudah itu juga membangun online store. Aku baru menyadari, bahwa atasanku juga telah melalui proses panjang hingga akhirnya kami puas dengan sistem yang ada.

Nah, kini giliranku lah untuk berproses dengan plugin yang sudah pernah kukenal sebelumnya saat awal-awal proses pengembangan online store yang digunakan oleh atasanku — namun sekarang sudah ditinggalkan, WP e-commerce.

Tidak terlalu rumit. Tapi tetap saja, banyak hal yang harus di-set, ditata dengan baik. Walau begitu, kuputuskan untuk membuatnya se-simple mungkin, baik untukku maupun untuk pelanggan nantinya.

Sudah seminggu lebih, pagi-pagi sekali dan malam-malam, aku berkutat dengan WP e-commerce plugin. Alhamdulillah, sudah mulai berbentuk. Dan, terbayang apa-apa saja yang harus diperbaiki jika sudah ada waktu — di antara kesibukan mendata, memotret, dan mengupload buku yang hendak dijual.

Selangkah demi selangkah kulalui. Semoga dapat menjadi berkah. Amin.

online-bookstore

Tak ber-BB

BBSebelum aku jelaskan alasannya, coba simak dulu keseharianku:

Jam 06.00: Antar anak sekolah, dilanjutkan dengan menyalakan netbook dan bekerja (judulnya online di internet) atau tidur lagi sepulangnya aku dari sekolah.

Jam 09.00: Bekerja dengan internet sampai jam 17.00

Jam 20.00: Online lagi sambil nulis atau melanjutkan pekerjaan alias lembur.

Oh ya, tambahan lagi: aku bekerja di rumah.

Nggak ada mobile-mobile-nya kan? Sepanjang hari di rumah, dengan internet yang siap menyala selama 24 jam sekalipun.

Itulah jawabanku ketika teman-teman yang ber-BB bertanya, “Kenapa nggak beli BB aja?”

Yang kupahami, seseorang ber-BB atau menggunakan smart phone yang lainnya agar bisa mengakses internet dengan mudah di mana saja, kapan saja, dan terkoneksi dengan teman-teman. Karena, biasanya fitur yang digunakan adalah BBM, browsing, akses ke FB, YM,Twitter, dan e-mail.

Dan, kecuali BBM — yang bisa tergantikan oleh YM, semua bisa kulakukan dengan si Macho, netbook-ku yang tercinta.

Oke, semua itu alasan dari kegunaan dan fungsinya yang saat ini belum kubutuhkan. Ada alasan lain?

Ya. Ada keinginan besar yang membutuhkan dana tidak sedikit. Aku pun  membuat skala prioritas. BB tidak termasuk hal yang perlu diprioritaskan. Berhubungan dengan alasan pertama, aku tidak terlalu membutuhkannya. Jadi, buat apa dibela-belain?

Pertanyaan teman-temanku tentang kenapa aku tidak ber-BB di atas sebenarnya muncul karena mereka tahu, HP-ku bermasalah. Terkadang bunyi nguuungggg jika ditelepon. Tapi, aku masih cinta dengan HP ini. Jadi, selama masih bisa digunakan — walau aku akui, memang sedikit tidak nyaman, aku belum ingin menggantikannya.

Jadi, mohon maaf, teman-teman, aku masih memutuskan untuk tidak ber-BB. Entah nanti-nanti. Manusia berencana, Tuhan menentukan.

[Gambar hasil jepretan Mark Iafrate, USA]

Cewek-cewek di FB

cewekSeperti era FS dulu, sekarang di FB pun beredar cewek-cewek nggak jelas. Ada yang mengaku-ngaku alumni suatu universitas atau SMA tertentu tapi kok sepertinya dulu nggak ada yang namanya itu dan berwajah begitu. Parahnya lagi, mengaku-ngaku angkatan tertentu tapi fotonya terlihat 15 tahun lebih muda (operasi plastik?).

Kalau yang perempuan sih pasti langsung unapprove/reject atau minimal didiamkan dulu sampai akhirnya jelas identitas orang tersebut, siapa dia. Tapi, yang laki-laki? Ada yang tentu dengan senang hati meng-approve permohonan “pertemanan” dari cewek-cewek tidak jelas seperti itu — nggak semua sih, tapi ada.

Jadi, seakan-akan cewek-cewek tersebut memang bagian dari komunitas itu. Bahkan, ada yang akhirnya meng-approve karena dikiranya memang satu almamater atau memang teman karena ada friends in common-nya.

Sebenarnya sih bahayanya tak terlalu besar — walau berbahaya juga — jika si laki-laki tidak mengembangkan “pertemanan” tak jelas itu ke dunia nyata. Tapi, nggak ada salahnya untuk berhati-hati. Penipuan bisa dilakukan dengan cara yang kadang tak terbayangkan.

Bukan nakut-nakutin. Tapi, jaman sekarang gitu loh. Dari iseng-iseng berhadiah sampai iseng-iseng berbuah sial — amit-amit jabang bayi!

[Gambar oleh: Gabriella Fabbri]

| Setelah selesai publish postingan ini, aku baca postinganku sebelumnya. Tentang berbaik sangka. Ooppsss…apakah aku sedang tidak berbaik sangka? |