Archive for the ‘Dunia Digital’ Category

Social Entrepreneur

freshSemalam saya menyempatkan diri ikut dalam acara Fresh yang diadakan di FX. Tema yang diusung adalah “Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change“.

Saat memutuskan untuk berangkat, saya tidak tahu apa Social Entrepreneurship dan Online Movement for Social Change itu. Yang saya tahu, dengan ikutan Fresh, saya pasti dapat informasi baru dan terinspirasi.

Dan, benar saja. Selain jadi paham akan tema tersebut, saya juga terinspirasi.

Pembicara yang paling membuat saya terkesan malam itu adalah Grace dari Books for Hope dan Pandji ‘Kena Deh‘ — andai semalam bisa bawa Hana, anakku, dia suka banget acara ‘Kena Deh’-nya Pandji huhuhu.

Grace membuka mata saya bahwa siapapun dapat membantu orang lain dan ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membantu.

Pandji mengajak saya kembali mengingat kenangan saat saya ikut dalam acara kunjungan ke RSCM, menjenguk anak-anak yang sedang sakit karena Pandji melakukan hal yang sama di RS. Dharmais. Di samping itu, Pandji benar-benar seorang entertainer sejati deh.

Nah, sekarang…apa sih social entrepreneur?

Itu adalah julukan bagi seseorang yang memecahkan ma sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip  entrepreneurial. Ia seorang yang inovatif, kreatif dan gigih.

Menurut Grace, seorang social entrepreneur adalah perpaduan antara Richard Branson, pemilik brand Virgin, yang penuh ide gila dalam menjalankan bisnisnya dan Bunda Theresa yang berhati mulia.

Belum selesai Grace menerangkan, saya langsung mendapat ide untuk situs tentang anak yang saya kelola, http://tingkahanak.com. Segera saya ambil buku catatan yang selalu saya bawa ke mana-mana. Saya tuangkan ide tersebut berikut langkah-langkah yang harus saya ambil. Semoga saja dapat terwujud.

Saat dalam perjalanan pulang, saya baru teringat, sebenarnya ide ini sudah muncul di awal-awal pembuatan situs tersebut. Syukurlah, dengan ikut Fresh semalam, saya kembali tercolek untuk menjalankannya.

Tentang Pandji. Ia memasuki panggung dengan iringan lagunya, Untuk Indonesia.

“Angkat tanganmu untuk Indonesia,” seru Pandji. “Yang nggak angkat tangan bukan orang Indonesia.”

Langsung semua yang hadir mengangkat tangan. Ada sih, 1 – 2 yang enggak, sepertinya lagi asyik nge-tweet-in acara Fresh. :D

Dari Pandji, saya tahu tentang C3 Friends. Apa sih C3 Friends? Intip aja website-nya. Yang pasti, kalau kamu ke sana, kamu bisa ikut bantu anak-anak penderita kanker.

Nah, banyak cara kan untuk menjadi seorang social entrepreneur?

Nggak yakin bisa? Mulai dari hal yang sederhana. Bantulah orang di dekatmu. Siapa aja. Seperti misalnya salah seorang perempuan yang menunjuk tangan saat Pandji tanya siapa yang sudah bantu orang kemarin. Mbak tersebut membantu orang lain dengan memberikan data. Ya, itu pun sebuah bentuk bantuan.

Jadi, apapun itu, bantuan dalam bentuk apapun, yang bagaimanapun, lakukanlah. Mulai dari yang kecil.

Suka ngeblog? Share sesuatu yang berguna. Jangan cuma curhat-curhat aja >> nunjuk diri sendiri.

Kata W. Churchil — yang semalam dikutip Ibu Ayling dari UNICEF, We make a living by what we get but we make a life by what we give.”

Kata Grace, “Do you want to make a difference in other people’s life?

Kata Pandji, “Add another layer to your life. You’re a father to someone, a lover to someone, now add another one by helping others.”

Datang ke acara Fresh memang bikin Fresh! Oh ya, semalam Fresh bisa ditonton juga di http://freshyourmind.com/tv/ loh.

BTW, acara semalam ternyata disponsori oleh ACER dan Microsoft, karena sekalian lauching “Bringing ICT into Villages” sebuah kolaborasi  antara ACER-Microsoft dan Books for Hope untuk membantu peningkatan computer literacy di sekolah-sekolah di Indonesia. Proyek pertama mereka adalah sebuah sekolah di Cirebon.

Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?

Tadi siang di FB saya dikejutkan oleh berita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang ditahan karena dianggap merusak nama baik sebuah rumah sakit.

Padahal, menurut postingan beberapa teman blogger dan setelah membaca ‘Surat Pembaca‘ yang ditulis oleh Mbak Prita, ia justru mengalami malpraktek di rumah sakit tersebut.

Sungguh aneh bila kemudian ia yang jusru dipenjarakan karena apa yang ia tulis tersebut.

Tak bisa dipungkiri, UU ITE memang membuat saya agak berhati-hati dalam ngeblog. Tapi, saya tak pernah menyangka akibatnya bisa serunyam itu.

Saya hanya berharap Mbak Prita segera mendapatkan keadilan. Semoga para penegak hukum mendengarkan hati nurani mereka.

Sangat miris membayangkan kedua anak Mbak Prita yang masih sangat kecil harus terpisah dari ibunya hanya karena hal yang semacam ini.

Berikut petikan dari blog Ndoro Kakung:

Prita bukan seorang teroris. Ia bukan koruptor. Dia bukan pembunuh bayaran. Prita hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang terpaksa mendekam di penjara gara-gara menulis email.

Semoga negeri ini masih memiliki sisa keadilan.

Saat Harus Memilih

hanaHari ini adalah hari keluar rumah bagi saya. Pagi bertemu rekan bisnis http://bukumurmer.multiply.com. Siang bertemu dua orang kawan. Sore bertemu narasumber. Nah, rencananya malam saya ingin ke acara FreSh. Tapi, ada hal lain yang lebih penting. Wah, apakah yang lebih penting dari FreSh?

:)

Sejak Rabu Malam, my baby Hana batuk dan flu. Tapi, semalam sempat agak ‘anget’. Tapi, pagi tadi sudah normal lagi suhu tubuhnya. Jadi, memang sempat saya tinggal pergi juga tadi. Karena, memang sudah terlanjur buat janji.

Namun, tadi sore, Mama saya memberi kabar bahwa Hana ‘anget’ lagi. Hati tak tenang. Nah, daripada di FreSh juga tapi pikiran ada di rumah, akhirnya, saya putuskan untuk pulang saja. Sempat stress juga sih di taksi karena macet yang parah. Dari Senopati ke Tebet saja memakan waktu lebih dari 1 jam.

Saat tiba di rumah, Hana menyambut dengan senyumnya. Memang tidak terlalu ‘anget’ sih. Tapi, paling nggak saya melihat sendiri. Jadi, tidak perlu waswas atau berpikiran buruk saat berada di luar rumah.

Besok, salah satu agenda yang saya tulis barusan — saya memang selalu menuliskan my to-do-list setiap malam sebelum tidur — adalah mengecek blog atau teman-teman yang kira-kira darang ke acara seru itu atau cek. Siapa tahu sudah ada yang berbagi apa yang didapat di FreSh di FX malam tadi.

Mudah-mudahan bulan depan saya bisa datang. Amin.

Pssttt…kalau tak keberatan, boleh tolong doakan Hana agar lekas sembuh? :) Trims ya.

Di Dunia Maya…

sopan-santunBelum lama ini, saya berbincang dengan seorang sahabat tentang gaya sebagian penduduk dunia maya dalam memberi komentar atau mengutarakan buah pikiran dan isi hatinya.

Ada apa dengan gaya itu?

Kami berpendapat, ada yang bersikap kasar atau tidak semestinya dalam ‘bersuara’ di dunia maya. Seakan mereka berpikir bahwa kebebasannya berpendapat tak dibatasi oleh perasaan orang lain.

perasaanSeakan kasar mereka definisikan sebagai ‘keren’ atau bahasa Inggrisnya ‘cool.’ The ruder you become, the cooler you are.

Padahal, di dunia maya pun orang masih punya perasaan.

Ah, tapi jangan-jangan mereka yang punya perasaan dianggap cengeng oleh si cool. Entah juga.

Tapi, bagi saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, kita tetap harus menjaga perasaan orang lain. Toh penghuninya sama saja. Jadi, apakah perlu diperlakukan berbeda?

kasarLucunya, di dunia maya, banyak yang merasa lebih mudah mengeluarkan makian. Padahal, mungkin di dunia nyata ia tak sekasar itu–ok, ada juga sih yang baik di dunia maya maupun nyata sama saja kelakuannya, itu sudah nasibnya memiliki sikap tak mengenakkan seperti itu.

Rasa-rasanya kok ya seperti pengecut ya kalau tiba-tiba di dunia maya–di mana kita bisa jadi siapa saja tanpa perlu mengutarkan identitas atau tanpa perlu menunjukkan batang hidung–kita bicara seenaknya? Sementara di dunia nyata berusaha sekuat tenaga untuk bersikap santun.

Dengan bercanda, sahabat saya itu bahkan sampai mengusulkan seminar Digital EQ. Aih, menarik juga ya? Jangan-jangan saya juga perlu ikut. LOL.

Cocoknya di mana?

emailBeberapa waktu yang lalu, saya terlibat dalam proses persiapan digital campaign sebuah perusahaan. Saat itu, kami mengajukan FaceBook sebagai salah satu platform yang akan digunakan.

Namun, pada meeting awal, diketahui bahwa terdapat banyak faktor yang kemudian meemperlihatkan betapa FB tidak cocok dengan the big message yang ingin ditampilkan oleh perusahaan tersebut. Klik untuk melanjutkan membaca ya »