“Jangan!” teriak Meila saat tubuh itu dibawa pergi, menjauh darinya.
Tapi, tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang mau peduli perasaannya. Tak ada yang mau tahu mengenai apa yang diinginkannya.
Meila berontak, ingin mengejar tubuh itu. Ia berusaha melepaskan tangan orang-orang yang menahannya. Gagal. Tubuhnya terlalu kecil, sementara tangan-tangan itu begitu besar.
Ia tersedu. Meratap. Tapi, orang-orang menyuruhnya diam, “Ssshh…”
Ia merasa dunia tidak adil. Mengapa ia tak didengarkan? Mengapa tak ada yang sependapat dengannya? Mengapa tubuh itu dibawa pergi?
Ia memandang ibunya. Ibu tampak lemas. Tak berdaya. Air matanya tak kunjung surut. Laksana air terjun yang tak ada habisnya. Wajahnya, bajunya, basah. Ibu bahkan tampak seakan tidak mau menggerakkan tangan untuk menghapus jejak air mata di wajahnya.
Meila tak paham. Semua menangis. Sama sepertinya. Tapi, semua setuju tubuh itu dibawa pergi. Kenapa? Kenapa tubuh itu harus dibalut kain putih? Kenapa banyak kapas memenuhi wajah itu? Ia bahkan ragu mencium wajah itu meski semua orang menyuruhnya. Ia hanya bisa memandangi, dengan rasa rindu. Rasa yang aneh. Tubuh itu ada di sana. Tapi, mengapa ia merasa begitu rindu?
Dua orang perempuan mendekatinya.
“Ini anaknya,” bisik salah satunya. “Umurnya baru empat tahun.”
Dan, kedua perempuan itu mengelus kepalanya sambil berurai air mata.
[Foto oleh Erik Araujo, Brazil]