• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Fiksi’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Jan 25

[E-CerPen] Sang Manipulator

kartu kreditSang Manipulator oleh Nadiah Alwi

Cerpen ini dibuat beberapa tahun yang lalu. Sudah pernah diunggah juga di blog saya yang lainnya. Kali ini hadir dalam bentuk e-cerpen yang dapat diunduh dari link di atas. Caranya mudah, klik saja link tersebut. Setelah itu, Anda dapat menyimpannya. Silakan dibagikan, yang penting mencantumkan sumbernya. :)

Dec 28

[FF] Mencintainya

mawar-putihAku mencintainya. Ia berbeda. Senyumannya lebar. Mungkin karena bibirnya memang lebar. Matanya besar. Matanya memancarkan tawa. Ia bagai matahari pada setiap mendungku.

“Jangan muram,” katanya, sambil mengangkat daguku. Senyumnya terkembang, lebar.

Aku memeluknya. Erat. Tak ingin kulepas. Aroma tubuhnya tercium. Harum.

Ia segera melepaskan pelukan itu. Menutup mataku dan memintaku berjanji untuk tidak membukanya sebelum ia perintahkan. Aku menurut saja.

Aku berhitung dalam hati. Pada hitungan keduapuluh, ia memintaku membuka mata.

Senyumnya lebar terkembang. Sehelai mawar putih tegak di tangannya. Matanya tertawa. Mataku berkaca-kaca. Hatiku melonjak.

Ya, aku mencintainya. Sangat mencintainya.

[Foto mawar putih oleh Hilda de Graaf, Belanda]

Dec 06

[FF] Kini Ia Tahu

banner-flash-fiction

Pria itu bukan lagi pria yang dulu ia cintai. Pria itu kerap mengamuk. Membanting semua. Bahkan, pernah hampir mencekiknya. Tapi, ia tetap bersama pria itu. Seorang sahabat menyuruhnya pergi saja. Ia tak mau. Ia bergeming. Takkan pernah ia meninggalkannya, meski seluruh dunia mengatainya bodoh, meski ia tak lagi mencintainya.

Jangan tanya mengapa. Karena, awalnya ia pun tidak tahu. Tapi, kini ia tahu, ia bertahan demi rasa ingin tahunya. Ia ingin mengungkap apa yang membuat pria lembut yang ia cintai dulu berubah menjadi monster menakutkan.

Dan, pada malam kematian pria itu, ia tahu. Secarik kertas berisi sebuah nama tergeletak di meja, di bawah botol obat nyamuk yang telah kosong. Nama pria yang kini ia cintai. Pria itu tahu. Dan, pria itu kini sudah mati.

Oct 01

Ayah

anak-perempuan“Jangan!” teriak Meila saat tubuh itu dibawa pergi, menjauh darinya.

Tapi, tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang mau peduli perasaannya. Tak ada yang mau tahu mengenai apa yang diinginkannya.

Meila berontak, ingin mengejar tubuh itu. Ia berusaha melepaskan tangan orang-orang yang menahannya. Gagal. Tubuhnya terlalu kecil, sementara tangan-tangan itu begitu besar.

Ia tersedu.  Meratap. Tapi, orang-orang menyuruhnya diam, “Ssshh…”

Ia merasa dunia tidak adil. Mengapa ia tak didengarkan? Mengapa tak ada yang sependapat dengannya? Mengapa tubuh itu dibawa pergi?

Ia memandang ibunya. Ibu tampak lemas. Tak berdaya. Air matanya tak kunjung surut. Laksana air terjun yang tak ada habisnya. Wajahnya, bajunya, basah. Ibu bahkan tampak seakan tidak mau menggerakkan tangan untuk menghapus jejak air mata di wajahnya.

Meila tak paham. Semua menangis. Sama sepertinya. Tapi, semua setuju tubuh itu dibawa pergi. Kenapa? Kenapa  tubuh itu harus dibalut kain putih? Kenapa banyak kapas memenuhi wajah itu? Ia bahkan ragu mencium wajah itu meski semua orang menyuruhnya. Ia hanya bisa memandangi, dengan rasa rindu. Rasa yang aneh. Tubuh itu ada di sana. Tapi, mengapa ia merasa begitu rindu?

Dua orang perempuan mendekatinya.

“Ini anaknya,” bisik salah satunya. “Umurnya baru empat tahun.”

Dan, kedua perempuan itu mengelus kepalanya sambil berurai air mata.

[Foto oleh Erik Araujo, Brazil]

Jun 14

Mencinta

mencintaSudah ia katakan berkali-kali, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk mencinta.

“Tapi, kamu masih memiliki kemampuan untuk dicinta.”

Lagi-lagi ia nyatakan, bahwa untuk dicinta, tidak diperlukan kemampuan, melainkan kebutuhan. Pria itu tak paham.

Ia meminta pria itu pergi dulu dari hidupnya, selama beberapa saat. Ia ingin melihat, apakah ia mampu mencinta atau butuh dicinta. Jika satu saja terpenuhi, mungkin ia takkan mengelak lagi dari pria itu.

Jika ia mampu mencinta, ia akan menerimanya. Jika ia butuh dicinta, ia juga akan menerimanya.

Beberapa hari berlalu. Ia tak juga menemukan kemampuan itu.

Ia menunggu lagi.

Beberapa minggu berselang. Tak juga datang kebutuhan itu.

Tapi, ia akhirnya menerima pria itu. Entah untuk alasan apa, ia sendiri tak paham. Mungkin, ada hal-hal yang tak selamanya bisa dipahami.

Kini, ia bersanding di sebelah pria itu, tanpa kemampuan untuk mencinta ataupun kebutuhan untuk dicinta.

[Picture by: Allie Hylton]

Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top