güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Fiksi’ Category

[E-CerPen] Sang Manipulator

kartu kreditSang Manipulator oleh Nadiah Alwi

Cerpen ini dibuat beberapa tahun yang lalu. Sudah pernah diunggah juga di blog saya yang lainnya. Kali ini hadir dalam bentuk e-cerpen yang dapat diunduh dari link di atas. Caranya mudah, klik saja link tersebut. Setelah itu, Anda dapat menyimpannya. Silakan dibagikan, yang penting mencantumkan sumbernya. :)

[FF] Mencintainya

mawar-putihAku mencintainya. Ia berbeda. Senyumannya lebar. Mungkin karena bibirnya memang lebar. Matanya besar. Matanya memancarkan tawa. Ia bagai matahari pada setiap mendungku.

“Jangan muram,” katanya, sambil mengangkat daguku. Senyumnya terkembang, lebar.

Aku memeluknya. Erat. Tak ingin kulepas. Aroma tubuhnya tercium. Harum.

Ia segera melepaskan pelukan itu. Menutup mataku dan memintaku berjanji untuk tidak membukanya sebelum ia perintahkan. Aku menurut saja.

Aku berhitung dalam hati. Pada hitungan keduapuluh, ia memintaku membuka mata.

Senyumnya lebar terkembang. Sehelai mawar putih tegak di tangannya. Matanya tertawa. Mataku berkaca-kaca. Hatiku melonjak.

Ya, aku mencintainya. Sangat mencintainya.

[Foto mawar putih oleh Hilda de Graaf, Belanda]

[FF] Kini Ia Tahu

banner-flash-fiction

Pria itu bukan lagi pria yang dulu ia cintai. Pria itu kerap mengamuk. Membanting semua. Bahkan, pernah hampir mencekiknya. Tapi, ia tetap bersama pria itu. Seorang sahabat menyuruhnya pergi saja. Ia tak mau. Ia bergeming. Takkan pernah ia meninggalkannya, meski seluruh dunia mengatainya bodoh, meski ia tak lagi mencintainya.

Jangan tanya mengapa. Karena, awalnya ia pun tidak tahu. Tapi, kini ia tahu, ia bertahan demi rasa ingin tahunya. Ia ingin mengungkap apa yang membuat pria lembut yang ia cintai dulu berubah menjadi monster menakutkan.

Dan, pada malam kematian pria itu, ia tahu. Secarik kertas berisi sebuah nama tergeletak di meja, di bawah botol obat nyamuk yang telah kosong. Nama pria yang kini ia cintai. Pria itu tahu. Dan, pria itu kini sudah mati.

Ayah

anak-perempuan“Jangan!” teriak Meila saat tubuh itu dibawa pergi, menjauh darinya.

Tapi, tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang mau peduli perasaannya. Tak ada yang mau tahu mengenai apa yang diinginkannya.

Meila berontak, ingin mengejar tubuh itu. Ia berusaha melepaskan tangan orang-orang yang menahannya. Gagal. Tubuhnya terlalu kecil, sementara tangan-tangan itu begitu besar.

Ia tersedu.  Meratap. Tapi, orang-orang menyuruhnya diam, “Ssshh…”

Ia merasa dunia tidak adil. Mengapa ia tak didengarkan? Mengapa tak ada yang sependapat dengannya? Mengapa tubuh itu dibawa pergi?

Ia memandang ibunya. Ibu tampak lemas. Tak berdaya. Air matanya tak kunjung surut. Laksana air terjun yang tak ada habisnya. Wajahnya, bajunya, basah. Ibu bahkan tampak seakan tidak mau menggerakkan tangan untuk menghapus jejak air mata di wajahnya.

Meila tak paham. Semua menangis. Sama sepertinya. Tapi, semua setuju tubuh itu dibawa pergi. Kenapa? Kenapa  tubuh itu harus dibalut kain putih? Kenapa banyak kapas memenuhi wajah itu? Ia bahkan ragu mencium wajah itu meski semua orang menyuruhnya. Ia hanya bisa memandangi, dengan rasa rindu. Rasa yang aneh. Tubuh itu ada di sana. Tapi, mengapa ia merasa begitu rindu?

Dua orang perempuan mendekatinya.

“Ini anaknya,” bisik salah satunya. “Umurnya baru empat tahun.”

Dan, kedua perempuan itu mengelus kepalanya sambil berurai air mata.

[Foto oleh Erik Araujo, Brazil]

Mencinta

mencintaSudah ia katakan berkali-kali, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk mencinta.

“Tapi, kamu masih memiliki kemampuan untuk dicinta.”

Lagi-lagi ia nyatakan, bahwa untuk dicinta, tidak diperlukan kemampuan, melainkan kebutuhan. Pria itu tak paham.

Ia meminta pria itu pergi dulu dari hidupnya, selama beberapa saat. Ia ingin melihat, apakah ia mampu mencinta atau butuh dicinta. Jika satu saja terpenuhi, mungkin ia takkan mengelak lagi dari pria itu.

Jika ia mampu mencinta, ia akan menerimanya. Jika ia butuh dicinta, ia juga akan menerimanya.

Beberapa hari berlalu. Ia tak juga menemukan kemampuan itu.

Ia menunggu lagi.

Beberapa minggu berselang. Tak juga datang kebutuhan itu.

Tapi, ia akhirnya menerima pria itu. Entah untuk alasan apa, ia sendiri tak paham. Mungkin, ada hal-hal yang tak selamanya bisa dipahami.

Kini, ia bersanding di sebelah pria itu, tanpa kemampuan untuk mencinta ataupun kebutuhan untuk dicinta.

[Picture by: Allie Hylton]