Hari ini sudah hari Jum’at. Sudah lima hari dokter laki-laki itu bertugas di kotaku. Tapi, belum sekalipun kumelihat wajahnya.
Yah, sudah lima hari ini pula guru-guru di sekolah rajin memberi PR. PR yang membosankan. Bayangkan, aku harus mengerjakan lima belas soal matematika, dua puluh soal fisika, lima soal kimia—yah, lima terlihat sedikit, tapi lebih baik tidak sama sekali kan?—, satu tugas mengarang dari Guru Bahasa Indonesia dan satu tugas menghafalkan lagu untuk dinyanyikan saat pelajaran seni musik—sayang, tak ada seorang pun di kelas yang punya alat musik, kalau ya, mungkin aku tak perlu mempermalukan diri di depan kelas dengan mengeluarkan suara jelekku.
Tapi, syukurlah…tadi siang semua sudah selesai. Dan, sepertinya guru-guru itu cukup puas hingga berbaik hati dengan membebaskan kami dari PR dalam bentuk apapun untuk akhir minggu ini.
Jadi, sekarang, kedua kakiku sedang mengayuh sepeda dengan sangat bersemangat. Ke mana lagi kalau bukan ke rumah dinas dokter pria itu.
Kusapu keringat di dahi dengan kibasan punggung tanganku. Aku ingin terlihat segar saat bertemu dengan sang dokter. Dalam bayanganku muncul seorang pria berjas putih—tapi segera kuhapus jas itu karena di sini panas sekali dan konyol sekali kalau dokter itu mau memakai jas karena pasti jas itu akan kuyup oleh keringat, dan muncullah seorang pria berkemeja putih berbahan tipis dengan kaus singlet di baliknya—dan bercelana coklat tua dengan stetoskop menggantung di lehernya. Kulitnya putih bersih. rambutnya disisir rapi, berbelah pinggir. Kaca matanya tidak tebal tapi tidak juga tipis. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima senti meter dan tubuhnya tidak gemuk tidak pula kurus. Agak kekar. Ya, seperti model pria yang pernah kulihat di majalah Wiwin, teman sekelasku.
Senyum mengembang di bibirku. Kuletakkan sepeda di depan Puskesmas yang terletak tepat di sebelah rumah dinas sang dokter. Benar dugaanku, dokter masih di Puskesmas.
Di teras Puskesmas, aku bertemu dengan Wak Dudung yang terlihat sangat pucat. Mulutnya komat-kamit, entah berdoa, entah mengomel.
“Sakit, Wak?” tanyaku menyapa.
“Iya, Neng. Badan sudah pada sakit semua, tapi obatnya cuma ini.” Pria tua kurus nan hitam itu menunjukkan kantung plastik berisikan beberapa tablet berwarna oranye, sepertinya vitamin. Berarti tadi ia mengomel.
“Payah dokter barunya,” lanjut Wak Dudung.
Hm…belum-belum sudah ada yang mengeluh. Semakin penasaran aku dengan dokter baru itu.
“Eh, Neng Gadis…sendirian?” tanya Bu Nunik, perawat setia Puskesmas.
Aku mengangguk.
“Sakit?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
“Cuma mau lihat dokter baru,” bisikku jujur di telinga Bu Nunik.
“Masih di dalam. Ada si Erah…” Bu Nunik balas berbisik di telingaku.
“Ooh…”
Duh, belum-belum si Erah, janda centil kota ini sudah sakit. Bu Nunik terlihat sebal.
Klik untuk melanjutkan membaca ya »