[cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk
SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

“Gadis! Bangun!”
Terdengar suara Ibu yang lantang di telingaku.
Huhuhu…Ibu…tega sekali sih. Aku kan sedang istrahat.
“Kamu itu ya…sekarang sering sekali tidur siang di mana-mana. Di kamar mandi, di kursi depan, di ruang tamu…kenapa sih? Sakit?”
O-ow…Ibu kalau sudah cas-cis-cus begitu, itu tandanya aku memang sudah keterlualuan. Jadi ingat kemarin, waktu aku tertidur saat mengerjakan LKS Matematika. Akhirnya, aku dipanggil Pak Bambang, sang guru, ke depan.
“Kamu kenapa sampai tidur di kelas begitu?” tanya Pak Bambang dengan lembut—ya, beliau memang sangat lembut dan penyayang, seperti Bu Halimah, guru Biologiku.
“Maaf, Pak…kemarin saya belajar sampai malam sekali. Jadi agak ngantuk.”
“Ya sudah, jangan kamu ulangi ya? Kamu kan selalu jadi juara kelas. Pertahankan ya. Tapi, jangan sampai mengganggu kesehatanmu.”
“Baik, Pak. Terima kasih, Pak.”
Aku maluuuuuuuuuu sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku memang ngantuk!
Apa yang lebih membahagiakan daripada tinggal di tepi pantai? Kulit legam tak jadi masalah. Setidaknya buatku. Entah buat teman-temanku yang lain yang lebih suka mengeram diri di rumah agar terlihat lebih putih—tapi tetap saja terlihat sama hitamnya denganku.