Archive for the ‘CerBung - Dokter Impian’ Category

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

Pagi yang cerah. Aku terbangun saat adzan Subuh dikumandangkan oleh Pak Slamet, penjaga Masjid dekat rumahku. Suara Pak Slamet merdu sekali. Aku pernah nekat menanyakan kepada pria tua itu apakah dulu ia pernah berprofesi sebagai penyanyi. Dan, jawaban Pak Slamet sungguh dapat diduga: ‘Tidak pernah, Neng.’

Tapi, itu tidak penting. Yang penting adalah segera mandi, sholat Subuh, lalu sarapan, membereskan kamar dan…bersiap-siap ke rumah Dokter Bagas.

Tapi, rasanya aneh juga. Biasanya ke mana-mana aku naik sepeda. Dan, sekarang, aku harus berjalan kaki.

Aku keluar rumah sekitar jam setengah delapan pagi. Perkiraanku, aku akan sampai jam delapan kurang sepuluh menit—padahal kalau naik sepeda aku bisa sampai di sana jauh lebih cepat.

Hari Minggu Puskesmas tutup, tapi kalau ada yang butuh pertolongan, pintu rumah Dokter Bagas selalu terbuka lebar. Kadang, ada saja warga yang datang ke rumah dinas dokter—walau hanya untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Tapi, pagi ini, rumah itu lengang. Pintunya masih tertutup rapat. Hm…sudah bangun atau belum ya, si Dokter?

Kuketuk pintu rumahnya sambil mengintip melalui jendela. Sepi. Kuketuk lagi.

Kali ini, sambil memanggil namanya, “Dokter…Dokter Bagass…Assalamu’alaikum…”

Tidak dijawab. Duh, pasti belum bangun. Huh! Dokter kok bangunnya siang sih?!

Akhirnya, kuputuskan untuk melongok ke belakang rumahnya. Mungkin pintu belakang dibuka. Mungkin ia sedang mencuci, memasak atau apa.

Kakiku melangkah di antara pot-pot berisi bunga mawar kesayangan Dokter Putri yang sekarang diurus Pak Danu yang tinggal di sebelah rumah dinas Dokter. Entah Dokter Bagas berniat merawat mawar-mawar itu atau membiarkan Pak Danu terus menyirami, memupuk dan merapikannya.

Ternyata, di belakang rumah pun tak ada siapa-siapa.

Haruskah kuketuk pintu belakang ini? Tapi, kok rasanya kurang sopan ya? Ah, lebih baik tidak. Lebih baik aku pulang. Kalaupun Dokter Bagas mau mengembalikan sepedaku, ia bisa ke rumah.

Tepat saat aku membalikkan badan, aku dikejutkan oleh sebuah suara lantang, “Dor!”

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter

Dokter Bagas…namanya sih boleh juga. Nama yang sangat gagah bahkan. Seindah nama Dokter Putri, Dokter Jessica, Dokter Nadya. Paling tidak, ada yang patut disyukuri dari dirinya: nama yang indah.

Dokter Bagas masih menjelaskan tentang kesehatan tubuh di depan kelas. Ia tidak terlihat terlalu malu-malu lagi sekarang. Ia dengan tenang menjelaskan semua yang perlu kami ketahui dengan baik.

Tiba saatnya untuk mengajukan pertanyaan. Seisi kelas terdiam. Selalu begitu! Kelasku memang anti bertanya. Itu yang membuatku tidak betah di sini.

“Gadis, kamu ada pertanyaan?” tiba-tiba Bu Halimah bersuara. “Dokter, Gadis ingin jadi dokter juga suatu hari nanti. Nilainya dalam pelajaran biologi bagus semua. Biasanya dia punya pertanyaan.” Lalu, Bu Halimah menoleh ke arah Gadis lagi. “Pasti kamu punya pertanyaan, Gadis.”

Memang ada, Bu. Tapi, kali ini aku sedang tidak mood untuk bertanya, maaf saja. Bukan hanya itu, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan ulu hatiku seperti habis ditonjok, mual sekali.

“Kamu pucat sekali, Gadis,” kata Dokter Bagas sok akrab.

“Saya baik-baik saja, Pak Dokter. Saya cuma lupa sarapan, jadi sekarang saya mual…”

“Nah, anak-anak, Gadis ini adalah contoh yang tidak baik. Setiap pagi, bagaimanapun kondisinya, kita harus sarapan. Apalagi kalau punya penyakit maag. Jadi—“

“Kalau saya sarapan, saya bisa-bisa telat, Pak Dokter,” potongku ketus.

“Nah, anak-anak, oleh karena itu, sebaiknya kalian bangun lebih pagi agar sempat sarapan,” kata Dokter Bagas sok tahu itu. “Kamu pasti tidur malam sekali ya semalam sampai kesiangan?”

Duuuh! Asal Dokter Bagas yang terhormat tahu ya…semalam saya susah tidur gara-gara membayangkan Dokter!

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman

Hari ini sudah hari Jum’at. Sudah lima hari dokter laki-laki itu bertugas di kotaku. Tapi, belum sekalipun kumelihat wajahnya.

Yah, sudah lima hari ini pula guru-guru di sekolah rajin memberi PR. PR yang membosankan. Bayangkan, aku harus mengerjakan lima belas soal matematika, dua puluh soal fisika, lima soal kimia—yah, lima terlihat sedikit, tapi lebih baik tidak sama sekali kan?—, satu tugas mengarang dari Guru Bahasa Indonesia dan satu tugas menghafalkan lagu untuk dinyanyikan saat pelajaran seni musik—sayang, tak ada seorang pun di kelas yang punya alat musik, kalau ya, mungkin aku tak perlu mempermalukan diri di depan kelas dengan mengeluarkan suara jelekku.

Tapi, syukurlah…tadi siang semua sudah selesai. Dan, sepertinya guru-guru itu cukup puas hingga berbaik hati dengan membebaskan kami dari PR dalam bentuk apapun untuk akhir minggu ini.

Jadi, sekarang, kedua kakiku sedang mengayuh sepeda dengan sangat bersemangat. Ke mana lagi kalau bukan ke rumah dinas dokter pria itu.

Kusapu keringat di dahi dengan kibasan punggung tanganku. Aku ingin terlihat segar saat bertemu dengan sang dokter. Dalam bayanganku muncul seorang pria berjas putih—tapi segera kuhapus jas itu karena di sini panas sekali dan konyol sekali kalau dokter itu mau memakai jas karena pasti jas itu akan kuyup oleh keringat, dan muncullah seorang pria berkemeja putih berbahan tipis dengan kaus singlet di baliknya—dan bercelana coklat tua dengan stetoskop menggantung di lehernya. Kulitnya putih bersih. rambutnya disisir rapi, berbelah pinggir. Kaca matanya tidak tebal tapi tidak juga tipis. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima senti meter dan tubuhnya tidak gemuk tidak pula kurus. Agak kekar. Ya, seperti model pria yang pernah kulihat di majalah Wiwin, teman sekelasku.

Senyum mengembang di bibirku. Kuletakkan sepeda di depan Puskesmas yang terletak tepat di sebelah rumah dinas sang dokter. Benar dugaanku, dokter masih di Puskesmas.

Di teras Puskesmas, aku bertemu dengan Wak Dudung yang terlihat sangat pucat. Mulutnya komat-kamit, entah berdoa, entah mengomel.

“Sakit, Wak?” tanyaku menyapa.

“Iya, Neng. Badan sudah pada sakit semua, tapi obatnya cuma ini.” Pria tua kurus nan hitam itu menunjukkan kantung plastik berisikan beberapa tablet berwarna oranye, sepertinya vitamin. Berarti tadi ia mengomel.

“Payah dokter barunya,” lanjut Wak Dudung.

Hm…belum-belum sudah ada yang mengeluh. Semakin penasaran aku dengan dokter baru itu.

“Eh, Neng Gadis…sendirian?” tanya Bu Nunik, perawat setia Puskesmas.

Aku mengangguk.

“Sakit?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

“Cuma mau lihat dokter baru,” bisikku jujur di telinga Bu Nunik.

“Masih di dalam. Ada si Erah…” Bu Nunik balas berbisik di telingaku.

“Ooh…”

Duh, belum-belum si Erah, janda centil kota ini sudah sakit. Bu Nunik terlihat sebal.

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 1. Seorang Dokter untuk Warga Kota Berkulit Hitam

Kulit kami hitam, tapi kami bahagia.

pantaiApa yang lebih membahagiakan daripada tinggal di tepi pantai? Kulit legam tak jadi masalah. Setidaknya buatku. Entah buat teman-temanku yang lain yang lebih suka mengeram diri di rumah agar terlihat lebih putih—tapi tetap saja terlihat sama hitamnya denganku.

Oh ya, tadi sudah kukatakan kan bahwa aku tinggal di tepi pantai? Kota tempat tinggalku ini—ingat, kota, bukan desa—terletak di sebuah pulau yang kecil pun tidak besar pun tidak. Sedanglah—setidaknya untukku yang belum sekali pun menginjak pulau lain selain pulu tempat tinggalku dan beberapa pulau lain di sekelilingnya.

Aku hanya perlu bersepeda kurang dari sepuluh menit dari rumah, maka aku sudah bisa memandang hamparan laut yang luas.

Syukurlah, laut yang mengelilingi kotaku itu bukan laut lepas, melainkan laut dalam. Ombaknya tenang dan kalau pasang tidak menakutkan. Jadi, kami tak perlu takut akan tsunami—setidaknya itu yang dikatakan oleh guru Geografi-ku di sekolah.

Di salah satu tepian pantai, terdapat semacam pelabuhan kecil. Kadang kulihat perahu boat kecil yang membawa beberapa turis lokal maupun manca negara yang menginap di pulau seberang bersandar di dermaga. Mereka memotret-motret sebentar, bermain-main dengan penyu-penyu yang kerap muncul, lalu pergi lagi dengan boat itu, entah ke pulau lain, entah kembali ke pulau seberang.

Mereka tak pernah masuk lebih jauh dari itu karena pemerintah kota—ingat, kota, bukan desa—tak pernah mau mengijinkan orang asing masuk mengotori kota kami. Cukuplah televisi mengacaukan tata cara berpakaian dan pergaulan di pulau ini. Tak perlu ditambah lagi dengan berkelompok-kelompok orang yang menjajah dengan kedok turisme.

Tapi, ada satu orang asing yang diperbolehkan masuk kota, tinggal lama, bahkan mempengaruhi warga. Bukan guru—karena semua guru di kota ini adalah anak daerah yang kembali merantau dan ingin membangun tempat kelahiran mereka.

Lalu siapa?

Klik untuk melanjutkan membaca ya »