Berbahaya
Posted in Fiksi on 06/13/2010 11:31 pm by Nadiah Alwi
Ia terhenyak. Tiba-tiba nama orang itu tak ada lagi di dalam daftar kontaknya. Ia sampai mencari berkali-kali. Apakah ia menghapusku dari daftar kontaknya? Tanyanya dalam hati.
Dua hari kemudian, ia menerima pesan di telepon genggamnya. Maaf, istriku menghapus kontak2ku yg menurutnya “berbahaya”. Jgn balas SMS ini ya.
Berbahaya? Ia kembali terhenyak. Apa yang harus dibahayakan dari dirinya? Astaghfirullah.
Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika orang itu mengirimkan pesan pribadi dan meminta saran bagaimana menghadapi istrinya — hubungan mereka sepertinya sedang kacau. Sebagai seorang sahabat lama, ia mencoba menyuarakan pendapatnya dengan membalas pesan itu. Karena itu kah?
Dan, kini ia berbahaya? Karena menjawab pesan itu dengan niat baik agar pernikahan orang itu dan istrinya tetap berada pada arah yang benar?
Ia tersenyum. Berbahaya. Ya, ini semua berbahaya. Istri orang itu berbahaya. Kini, ia hanya bersyukur karena tak harus berurusan lagi dengan orang itu — dan urusan-urusannya.
[Beautiful pic by Billy Alexander]

Gadis itu duduk di sana, dengan topi merahnya, jaket ungunya, dan terakhir…tas kuningnya. Ia nampak begitu menyala. Gadis yang aneh. Kakiku melangkah mendekatinya. Nampak ia sedang menikmati biskuit stik yang ia celupkan ke dalam susu stroberi melalui celah di mana orang ‘normal’ memasukkan sedotan. Lalu, ia meneguk susu itu melalui celah kecil yang sama. Tanpa sedotan. Lalu, ia melihatku. Bola matanya berbinar, dan ia berkata, “Halo, pacar! Mau?” Tangannya menyodorkan biskuit stik itu. Dan, aku — dengan mata yang sama berbinarnya — menerima biskuit itu, mencelupkannya ke dalam susu dengan cara yang sama, kemudian meneguk susu dengan cara yang tidak berbeda.







