• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Fiksi’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Jun 13

Berbahaya

bahayaIa terhenyak. Tiba-tiba nama orang itu tak ada lagi di dalam daftar kontaknya. Ia sampai mencari berkali-kali. Apakah ia menghapusku dari daftar kontaknya? Tanyanya dalam hati.

Dua hari kemudian, ia menerima pesan di telepon genggamnya. Maaf, istriku menghapus kontak2ku yg menurutnya “berbahaya”. Jgn balas SMS ini ya.

Berbahaya? Ia kembali terhenyak. Apa yang harus dibahayakan dari dirinya? Astaghfirullah.

Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika orang itu mengirimkan pesan pribadi dan meminta saran bagaimana menghadapi istrinya — hubungan mereka sepertinya sedang kacau. Sebagai seorang sahabat lama, ia mencoba menyuarakan pendapatnya dengan membalas pesan itu. Karena itu kah?

Dan, kini ia berbahaya? Karena menjawab pesan itu dengan niat baik agar pernikahan orang itu dan istrinya tetap berada pada arah yang benar?

Ia tersenyum. Berbahaya. Ya, ini semua berbahaya. Istri orang itu berbahaya. Kini, ia hanya bersyukur karena tak harus berurusan lagi dengan orang itu — dan urusan-urusannya.

[Beautiful pic by Billy Alexander]

Apr 29

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk

SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter


jatuh cinta

“Gadis! Bangun!”

Terdengar suara Ibu yang lantang di telingaku.

Huhuhu…Ibu…tega sekali sih. Aku kan sedang istrahat.

“Kamu itu ya…sekarang sering sekali tidur siang di mana-mana. Di kamar mandi, di kursi depan, di ruang tamu…kenapa sih? Sakit?”

O-ow…Ibu kalau sudah cas-cis-cus begitu, itu tandanya aku memang sudah keterlualuan. Jadi ingat kemarin, waktu aku tertidur saat mengerjakan LKS Matematika. Akhirnya, aku dipanggil Pak Bambang, sang guru, ke depan.

“Kamu kenapa sampai tidur di kelas begitu?” tanya Pak Bambang dengan lembut—ya, beliau memang sangat lembut dan penyayang, seperti Bu Halimah, guru Biologiku.

“Maaf, Pak…kemarin saya belajar sampai malam sekali. Jadi agak ngantuk.”

“Ya sudah, jangan kamu ulangi ya? Kamu kan selalu jadi juara kelas. Pertahankan ya. Tapi, jangan sampai mengganggu kesehatanmu.”

“Baik, Pak. Terima kasih, Pak.”

Aku maluuuuuuuuuu sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku memang ngantuk!

Feb 17

-

milkGadis itu duduk di sana, dengan topi merahnya, jaket ungunya, dan terakhir…tas kuningnya. Ia nampak begitu menyala. Gadis yang aneh. Kakiku melangkah mendekatinya. Nampak ia sedang menikmati biskuit stik yang ia celupkan ke dalam susu stroberi melalui celah di mana orang ‘normal’ memasukkan sedotan. Lalu, ia meneguk susu itu melalui celah kecil yang sama. Tanpa sedotan. Lalu, ia melihatku. Bola matanya berbinar, dan ia berkata, “Halo, pacar! Mau?” Tangannya menyodorkan biskuit stik itu. Dan, aku — dengan mata yang sama berbinarnya — menerima biskuit itu, mencelupkannya ke dalam susu dengan cara yang sama, kemudian meneguk susu dengan cara yang tidak berbeda.

Jan 01

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

SELANJUTNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter

Pagi yang cerah. Aku terbangun saat adzan Subuh dikumandangkan oleh Pak Slamet, penjaga Masjid dekat rumahku. Suara Pak Slamet merdu sekali. Aku pernah nekat menanyakan kepada pria tua itu apakah dulu ia pernah berprofesi sebagai penyanyi. Dan, jawaban Pak Slamet sungguh dapat diduga: ‘Tidak pernah, Neng.’

Tapi, itu tidak penting. Yang penting adalah segera mandi, sholat Subuh, lalu sarapan, membereskan kamar dan…bersiap-siap ke rumah Dokter Bagas.

Tapi, rasanya aneh juga. Biasanya ke mana-mana aku naik sepeda. Dan, sekarang, aku harus berjalan kaki.

Aku keluar rumah sekitar jam setengah delapan pagi. Perkiraanku, aku akan sampai jam delapan kurang sepuluh menit—padahal kalau naik sepeda aku bisa sampai di sana jauh lebih cepat.

Hari Minggu Puskesmas tutup, tapi kalau ada yang butuh pertolongan, pintu rumah Dokter Bagas selalu terbuka lebar. Kadang, ada saja warga yang datang ke rumah dinas dokter—walau hanya untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Tapi, pagi ini, rumah itu lengang. Pintunya masih tertutup rapat. Hm…sudah bangun atau belum ya, si Dokter?

Kuketuk pintu rumahnya sambil mengintip melalui jendela. Sepi. Kuketuk lagi.

Kali ini, sambil memanggil namanya, “Dokter…Dokter Bagass…Assalamu’alaikum…”

Tidak dijawab. Duh, pasti belum bangun. Huh! Dokter kok bangunnya siang sih?!

Akhirnya, kuputuskan untuk melongok ke belakang rumahnya. Mungkin pintu belakang dibuka. Mungkin ia sedang mencuci, memasak atau apa.

Kakiku melangkah di antara pot-pot berisi bunga mawar kesayangan Dokter Putri yang sekarang diurus Pak Danu yang tinggal di sebelah rumah dinas Dokter. Entah Dokter Bagas berniat merawat mawar-mawar itu atau membiarkan Pak Danu terus menyirami, memupuk dan merapikannya.

Ternyata, di belakang rumah pun tak ada siapa-siapa.

Haruskah kuketuk pintu belakang ini? Tapi, kok rasanya kurang sopan ya? Ah, lebih baik tidak. Lebih baik aku pulang. Kalaupun Dokter Bagas mau mengembalikan sepedaku, ia bisa ke rumah.

Tepat saat aku membalikkan badan, aku dikejutkan oleh sebuah suara lantang, “Dor!”

Dec 28

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter

SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman

Dokter Bagas…namanya sih boleh juga. Nama yang sangat gagah bahkan. Seindah nama Dokter Putri, Dokter Jessica, Dokter Nadya. Paling tidak, ada yang patut disyukuri dari dirinya: nama yang indah.

Dokter Bagas masih menjelaskan tentang kesehatan tubuh di depan kelas. Ia tidak terlihat terlalu malu-malu lagi sekarang. Ia dengan tenang menjelaskan semua yang perlu kami ketahui dengan baik.

Tiba saatnya untuk mengajukan pertanyaan. Seisi kelas terdiam. Selalu begitu! Kelasku memang anti bertanya. Itu yang membuatku tidak betah di sini.

“Gadis, kamu ada pertanyaan?” tiba-tiba Bu Halimah bersuara. “Dokter, Gadis ingin jadi dokter juga suatu hari nanti. Nilainya dalam pelajaran biologi bagus semua. Biasanya dia punya pertanyaan.” Lalu, Bu Halimah menoleh ke arah Gadis lagi. “Pasti kamu punya pertanyaan, Gadis.”

Memang ada, Bu. Tapi, kali ini aku sedang tidak mood untuk bertanya, maaf saja. Bukan hanya itu, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan ulu hatiku seperti habis ditonjok, mual sekali.

“Kamu pucat sekali, Gadis,” kata Dokter Bagas sok akrab.

“Saya baik-baik saja, Pak Dokter. Saya cuma lupa sarapan, jadi sekarang saya mual…”

“Nah, anak-anak, Gadis ini adalah contoh yang tidak baik. Setiap pagi, bagaimanapun kondisinya, kita harus sarapan. Apalagi kalau punya penyakit maag. Jadi—“

“Kalau saya sarapan, saya bisa-bisa telat, Pak Dokter,” potongku ketus.

“Nah, anak-anak, oleh karena itu, sebaiknya kalian bangun lebih pagi agar sempat sarapan,” kata Dokter Bagas sok tahu itu. “Kamu pasti tidur malam sekali ya semalam sampai kesiangan?”

Duuuh! Asal Dokter Bagas yang terhormat tahu ya…semalam saya susah tidur gara-gara membayangkan Dokter!

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top