Archive for the ‘Hidup’ Category

Perburuan Rumah, dll, dsb

Harus kuakui, perburuan rumah terpaksa dihentikan. Seperti ceritaku sebelumnya, kami sudah menemukan sebuah rumah di bilangan Condet. Kami sudah mendapatkan harga yang cocok — meski kondisi rumah memerlukan perbaikan cukup banyak. Tapi, karena satu dan lain hal, terpaksa pembelian rumah itu dibatalkan.

Hm…ada dua penyebab sebenarnya. Yang pertama, Mamaku berharap kami tidak tinggal jauh darinya. Yang kedua, kami kesulitan mendapatkan KPR karena aku dan suami tidak memiliki slip gaji dan tidak bekerja di sebuah perusahaan selama minimal dua tahun. Itulah ternyata harga yang harus dibayar karena kami berdua memilih bekerja sendiri alias menjadi freelancer dan pewiraswasta kecil-kecilan.

Mengenai harapan Mama, aku tak bisa menampik. Saat ini, Mama dan Hana, anakku, adalah dua perempuan terpenting dalam hidupku. Jadi, sebisa mungkin, aku berusaha menyenangkan mereka. Meski mungkin tak selamanya berhasil.

Membeli rumah di kawasan dekat rumah Mama, di Tebet dan sekitarnya, adalah hal yang hampir dapat dibilang tidak mungkin. Karena, kalaupun harganya murah, tidak ada sertifikatnya — ya, aku tahu, toh sekarang tak ada gunanya juga jika rumah itu memiliki sertifikat. Jadi, kami memutuskan untuk mengontrak. Setelah urusan sekolah Hana beres, kami akan mencari kontrakan, insya Allah.

Sekarang, yang kulakukan adalah berusaha mengisi pundi-pundi kami agar niatan kecil ini dapat terlaksana. Selain tetap menghadirkan kain-kain cantik di http://kainikat.com/, aku juga aktif menerjemahkan. Selesai satu terjemahan, datang yang lain. Alhamdulillah.

Selain itu, aku juga berusaha menerapkan saran Richard Carlson, Not to Sweat the Small Stuff — meski pada kenyataannya tidak semudah itu. Begitu banyak hal perintilan yang mudah membuatku kesal belakangan ini. Huh!

Oh ya, satu lagi. Aku sedang berusaha menerapkan pola hidup AGAK sehat. Tidur cepat, bangun lebih pagi — untuk menerjemahkan — serta makan sayuran dan buah-buahan. Belum lama ini aku menonton video di FB tentang usus orang-orang yang pola makannya buruk. Wuih, seramnya! Di samping itu, belakangan punggungku terasa berat.

Aku ingin sehat, aku ingin bahagia. So, aku sedang berusaha menyehatkan jiwa dan raga. Dan, ngeblog sepertinya dapat membantu menyehatkan jiwa ;) .

Selamat Tahun Baru!

Alhamdulillah, sudah tahun baru (hijriah). Setahun telah berlalu.

Seperti yang diajarkan mertua tercinta, sebelum Maghrib (setelah Ashar) membaca do’a akhir tahun, lalu setelah Maghrib membaca do’a awal tahun.

Saat berdo’a, tak terasa air mata berjatuhan. Mengingat semua dosa yangtelah diperbuat sambil berharap tahun depan menjadi tahun yang lebih baik.

Sudah lama aku tidak berani memiliki harapan besar. Tapi, kali ini tak terhindarkan. RUMAH. Ya, aku ingin memiliki a place that I can call HOME.

Bukan tak bersyukur, aku bersyukur sekali dapat menempati sebuah kamar di rumah Nenek di kawasan Tebet. Tapi, toh pada akhirnya rumah ini harus berpindah tangan alias dijual. Aku harus mempersiapkan diri.

Dan, memang sudah saatnya. Terakhir kami — aku, suami, dan anak — berumah sendiri adalah tahun 2005. Karena permintaan Nenek serta satu dan lain hal, kami kembali ke rumah Nenek yang memang pernah menjadi rumahku semenjak aku lahir hingga sebelum menikah.

Dan, aku rindu saat-saat itu. Sehingga, mungkin resolusi besar tahun ini (tahun baru hijriah ini, 2010 kalo masehinya) adalah a place of my own.

Resolusi lainnya adalah semakin banyak menerjemahkan, semakin sering menulis, semakin seru jualan online kain ikat dan batik-nya, semakin punya lebih banyak waktu buat Hana, semakin yakin untuk ngasih adik buat Hana (secara capek gitu ditanya-tanya terus), semakin bisa lebih sabar menghadapi apapun. AMIN.

Nengok sebentar ah ke belakang. Tahun kemarin (2009 kalo masehinya), adalah tahun belajar hal baru. Di antaranya:

  • Jualan kain ikat dan batik secara online. Dulu jual buku online (masih sih sampai sekarang). Agak beda perilaku pembeli dan pendekatannya.
  • Menulis skrip untuk acara TV. Thanks to Jeruk Oranye nih. Seru dan…seru pokoknya! Haha…

Terus, aku juga kembali menerjemahkan. Thanks to kepercayaan dari Ufuk Press.

Tahun 2009 aku berhasil melewati angka 20-an dalam hal perbukuan. Meski tak sebanyak kutu buku lainnya, lumayanlah, 30 buku berhasil kulahap.

Not the bestest year in my life, but surely one of yang paling seru.

Awal tahun 2009 kulalui dengan berita yang menghenyakkan, patah hati tingkat akut akibat dirumahkan oleh tempat kerja yang paling HEBAT selama hidupku. Mereka dipaksa tutup juga pada akhirnya oleh keadaan.

Tahun 2010 ini nampaknya aku akan tetap bekerja di rumah. Tapi, sesekali perlu juga kerja di luar rumah supaya nggak sumpek kali yeee…

SEMANGAT!

EGP

Emang Gue Pikirin.

egpFrase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi ;) — dalam menggambarkan keinginan untuk tidak memikirkan suatu permasalahan.

Nah, saya sedang berusaha begitu. Karena, pada dasarnya, saya sebenarnya tipe orang yang apa-apa dipikirin. Capek juga loh. Tapi mengubah diri kan nggak segampang itu.

Memikirkan segala sesuatu membuat kita rentan stres memang. Sedikit-sedikit sakit kepala — atau bahkan menangis.

Padahal, dengan EGP, hal yang kita anggap beban bisa berubah menjadi hal yang enteng. Okelah, mungkin hanya sesaat. Tapi, lumayan kan, daripada seharian harus mutung?

Saya juga tipe orang yang senang menyiksa diri. Jika ada masalah, dibayang-bayangkan, diingat-ingat. Duh, tersiksa deh pokoknya. Kerja juga nggak konsen jadinya.

Tapi, alhamdulillah, terapi EGP — walu belum dapat membuat saya berubah 100% — dapat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Apalagi, belakangan tuntutan pekerjaan sedang tinggi.

Jika EGP dapat membuat hidup lebih damai, kenapa nggak? :D

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com

Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?

Tadi siang di FB saya dikejutkan oleh berita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang ditahan karena dianggap merusak nama baik sebuah rumah sakit.

Padahal, menurut postingan beberapa teman blogger dan setelah membaca ‘Surat Pembaca‘ yang ditulis oleh Mbak Prita, ia justru mengalami malpraktek di rumah sakit tersebut.

Sungguh aneh bila kemudian ia yang jusru dipenjarakan karena apa yang ia tulis tersebut.

Tak bisa dipungkiri, UU ITE memang membuat saya agak berhati-hati dalam ngeblog. Tapi, saya tak pernah menyangka akibatnya bisa serunyam itu.

Saya hanya berharap Mbak Prita segera mendapatkan keadilan. Semoga para penegak hukum mendengarkan hati nurani mereka.

Sangat miris membayangkan kedua anak Mbak Prita yang masih sangat kecil harus terpisah dari ibunya hanya karena hal yang semacam ini.

Berikut petikan dari blog Ndoro Kakung:

Prita bukan seorang teroris. Ia bukan koruptor. Dia bukan pembunuh bayaran. Prita hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang terpaksa mendekam di penjara gara-gara menulis email.

Semoga negeri ini masih memiliki sisa keadilan.