Menerima dengan Ikhlas
Mungkin tidak mudah, tapi harus diusahakan.
Baru-baru ini, saya melewati masa yang begitu menyesakkan. Seakan perjuangan selama ini sia-sia belaka.
Sedih, kecewa, terkejut. Semua bercampur aduk di dalam hati saya.
You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:
Mungkin tidak mudah, tapi harus diusahakan.
Baru-baru ini, saya melewati masa yang begitu menyesakkan. Seakan perjuangan selama ini sia-sia belaka.
Sedih, kecewa, terkejut. Semua bercampur aduk di dalam hati saya.
Bercermin pada kesedihan
Apa yang tampak?
Bercermin pada kesedihan
Bayangan apa yang kau lihat?
Bercermin pada kesedihan
Apa yang kau harapkan?
Tadi, aku melihat seorang nenek sedang duduk di tepi jalan. Sayang, posisiku tidak memungkinkan untuk mendekatinya.
Ia menarik perhatianku karena tepat saat aku menoleh ke arahnya, ia sedang menghela nafas. Hatiku langsung terasa seperti diremas-remas. Di tepi jalan yang panas, ia duduk sendiri, mengenakan pakaian seadanya, dengan jilbab yang usang, dan sebuah kantung plastik putih entah berisi apa, teronggok di sebelahnya.
Helaan nafasnya membuatku sedih sekaligus berpikir. Subhanallah. Betapa helaan nafas itu menyimpan jutaan kisah.
Ke mana suaminya? Ke mana anak-anaknya? Ke mana cucu-cucunya? Mengapa ia sendiri di sana? Mengapa wajahnya begitu muram? Sekedar karena cuaca yang panas kah? Atau karena pedih yang tersimpan di hatinya yang ia hempaskan dalam helaan nafasnya?
Jujur, aku pun kerap menghela nafas jika ada yang mengganjal di hati. Helaan nafas terkadang mampu menghalau sedikit ganjalan itu. Ada lega setelahnya.
Semoga nenek itu pun begitu.
Dalam hati, kudoakan agar Allah sudi menghapus beban di hatinya, juga melindunginya. Agar hidupnya lebih mudah setelah ini. Aamiin.
Picture by: Vivek Chugh (Goa, India)
Pada dasarnya, saya tipe orang yang malas jika harus berkonflik. Saya lebih suka diam dan menjalani atau mengacuhkan saja. Selama masih kuat, selama kesabaran masih banyak tersisa.
Tapi, tak jarang saya terpaksa mengungkapkan sesuatu yang mungkin dapat memicu konflik. Saya tidak suka. Tapi harus dilakukan. Tidak bisa saya acuhkan begitu saja.
Kalau sudah begitu, perut saya terasa sakit. Tapi, kalau tidak saya ungkapkan, dada saya terasa sesak. Simalakama banget nggak, sih!
Saya sadar, hidup ini tidak sendiri. Mau tidak mau saya harus berinteraksi. Meskipun interaksi itu sendiri kerap berurusan dengan hal-hal yang dapat memicu konflik.
Semoga saya kuat menahan diri dan memiliki stok kesabaran sebanyak mungkin, agar tidak perlu berkonflik dengan siapapun. Aamiin.
Tadi sore, saya kumpul-kumpul dengan beberapa teman. Iseng aja, mendadak, kebetulan si A sedang bersama si B, lalu mereka mengontak si C, kemudian si D, yang dijemput oleh si E. Dan kami berlima pun berkumpul sore-sore untuk ngupi dan cerita-cerita.
Ngobrol punya ngobrol, entah bagaimana, akhirnya pembicaraan mengalir ke satu titik: DEFINISI CINTA.
Sementara si E sedang pergi dulu sebentar, masing-masing mengutarakan definisi cinta.
A: Cinta adalah pengorbanan
B: Love takes time (ini mah lagu ya?)
C: Cinta itu beda dengan kasih sayang. Cinta itu love, sayang itu care.
D: Cinta itu perasaan saat hati berdebar-debar akibat bertemu sang pujaan. Kalau sayang itu perasaan yang timbul kemudian, setelah cinta sama-sama bertepuk. (Ini definisi saya!)
E: (tiba-tiba muncul kembali, langsung ditanya, dan segera menjawab) Cinta itu ikhlas.
Akhirnya E penasaran, ia pun mencari definisi cinta di Wikipedia. Maklum, orang IT, jadi apa-apa dicari di internet? ^___^
Penjelasan Oom Wiki tentang cinta bisa dilihat di SINI.
Akhirnya, kami pun berkesimpulan bahwa definisi cinta itu unik, sesuai dengan pengalaman kehidupan percintaan yang pernah dilewati masing-masing individu.
So, apa definisi cinta menurut kamu? Care to share?
© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine