güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Hidup’ Category

Mengubah Doa agar Diijabah

Ada sesuatu yang telah bertahun-tahun kupintakan kepada-Nya. Namun tak kunjung dikabulkan. Lalu, apakah aku harus berhenti berdoa?

Dalam beberapa tausiah-nya, Ustadzah Halimah Alaydrus menyarankan agar kita terus berdoa meskipun doa kita tak kunjung dijawab oleh-Nya karena Allah pasti menyimpan hikmah di balik itu. Beliau pun mencontohkan beberapa kisah tentang doa yang pada akhirnya diijabah oleh-Nya karena sang pendoa istiqomah dengan doanya.

Tapi ya namanya manusia. Kadang aku sempat juga berada di titik jenuh (padahal sebetulnya nggak boleh lho). Namun kemudian, aku kembali mengingat kisah yang diajarkan oleh Ustadzahku itu.

Kini, di bulan Ramadhan ini, aku kembali berdoa, meminta hal yang sama kepada-Nya. Namun, ada yang berbeda.

Aku sedikit mengubah doa yang kupanjatkan. Tujuan akhirnya sama. Namun cara menyampaikannya dan permintaannya aku ganti. Jika dulu aku meminta A, kini aku meminta B, yang pada akhirnya bisa mewujudkan A.

Untuk doa A, aku mendapati adanya emosi di sana, adanya keangkuhan. Ya, aku memintanya karena emosi, dengan sekelibat kesombongan yang awalnya tak kusadari. Namun untuk doa B, aku memintanya dengan segala kepasrahan yang ada. Sepenuhnya meminta-Nya agar Ia memberikan belas kasih-Nya.

Semoga dengan diubahnya doaku, di bulan yang penuh rahmat ini, Allah akan mengabulkan doaku. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita semua. Amin.

Oh ya, ini ada artikel menarik tentang doa: http://www.kisahinspiratif.com/10-alasan-baik-mengapa-kita-perlu-berdoa-dengan-tekun.html

Sumber gambar: http://4syifa.wordpress.com/sendiri-dalam-sunyi/

Are you OK?

Kali ini, aku ingin membahas tentang persahabatan…lagi. Ya, lagi. Karena sebenarnya sudah pernah juga aku sedikit menyinggung tentang 2 sahabatku di sini.

sahabat

Tapi kali ini bukan membahas keduanya. Melainkan aku sedang merasa menyesal dengan diriku sendiri.

Jadi, beberapa bulan silam, salah seorang sahabatku yang lain sedang dirundung masalah. Aku sebenarnya sudah dapat merasakan ada yang salah dengannya. Tapi aku memilih untuk diam.

Kenapa?

Karena aku pikir permasalahan itu berada di wilayah yang sangat pribadi. Aku mencoba menelaah — saat itu — bahwa jika aku di posisinya, aku lebih suka ditanya atau tidak? Dan, kebetulan aku juga bukan tipe orang yang want-to-know-ajah! Kalau tidak diceritakan ya aku tidak akan menanyakan.

Kupikir, jika memang seseorang ingin berbagi, itu semestinya datang dari dirinya sendiri, keinginan sendiri. Bukan karena ditanya.

Tapi kemarin, memang tanpa ditanya, sahabatku menceritakan tentang masalahnya. Dan, menurutnya, ia sebenarnya memang sudah ingin bercerita sejak dulu. Tapi pertemuan-pertemuan kami memang tidak pernah berdua saja. Selalu ada teman lainnya. Sehingga sepertinya kesempatan untuk bercerita tidak pernah ada.

Kemarin, kami berpelukan dalam tangis. Jujur, aku merasa menjadi seorang teman yang payah karena tidak ada di sana saat ia harus melewati semua itu.

Kini ia sudah baik-baik saja. Semua sudah lewat dan ia sudah dapat tersenyum kembali. Tapi, hingga sore kemarin, pikiranku masih digelayuti oleh permasalahannya — yang telah lewat itu.

Muncul penyesalan. Really wish I had been there for my dear friend. Really wish I had asked, had been a ‘lil bit fussy, so that I could lend her my shoulders.

Aku juga bertanya kepada beberapa teman, apakah mereka lebih suka ditanya jika sedang ada masalah atau tidak. Menurut salah seorang temanku yang lain, ia lebih suka ditanya. “Showing that you care,” katanya. Benar juga.

Aku pun meminta maaf kepada sahabatku itu, for not being there for her. Dan, ia berkata, it’s ok, kalau lo tahu waktu itu, entar lo ikut stres lagi. Subhanallah. Ia saja masih memikirkan aku.

Kemarin sore, aku pun menghubungi seorang teman lainnya yang aku tahu sedang berada dalam masalah juga. Aku sekedar bertanya, “Are you ok?” Alhamdulillah dia secara keseluruhan ok. Tapi seusai saling bercakap-cakap di telepon, ia mengirimkan SMS, “Thank you for calling.”

Ya, aku belajar sesuatu kemarin. Bahwa tidak ada salahnya menangakan kabar, atau sekedar bertanya, “Are you ok?” Karena itulah gunanya sahabat. You simply ask the question. Kalau mereka memang ingin bercerita, jadilah pendengar yang baik. Jika tidak, jangan ganggu privacy mereka.

Semoga setelah pelajaran berharga kemarin, aku bisa lebih menyayangi sahabat-sahabatku, bisa berada di sana saat mereka membutuhkan. Dan semoga semua sahabatku baik-baik saja. Amin.

Memahami Karakter Manusia

Menurutku, ini hal yang paling sulit dipahami. Sudah bertahun-tahun berusaha, nggak lulus-lulus juga.

Ada yang bilang, “Ya nggak akan pernah lulus, manusia itu unik, berbeda-beda. Kamu paham si A, habis itu muncul si B yang beda sama sekali dengan si A.”

Iya juga ya?

Memang dalam memahami karakter manusia itu, menurutku — ini menurutku lho ya — harus intens dan kitanya harus sabar. Contohnya memahami pasangan (suami atau istri). Walau nilai kelulusan rendah, paling nggak, aku merasa sudah mulai agak cukup bisa memahami si Abi, suamiku.

Sementara orang-orang yang intensitas kontaknya denganku rendah kian hari kian sulit untuk dipahami. Sementara untuk meningkatkan intensitas kontak, aku kok kayaknya aku agak malas. Sementara, terkadang ada satu-dua hal yang bisa teratasi hanya jika terjadi kontak yang intens. Tapi…ya gitu deh.

Semoga suatu hari nanti bisa lulus memahami beragam karakter manusia.

Semua Sayang Alsya

Dear Teman-teman,

Perkenalkan, ini keponakan saya, Alsya. Ia berusia 3 tahun. Alsya yang cantik, dengan bulu matanya yang lentik dan senyum yang ceria.

Namun semenjak sebulan yang lalu, Alsya diopname. Setelah dilakukan berbagai tes, diketahui bahwa Alsya menderita leukimia atau kanker darah. Saat ini ia dirawat di RS Fatmawati di kelas 3.

Besar harapan kami sekeluarga agar Alsya dapat sembuh dan sehat seperti sedia kala.

Kami akan sangat berterima kasih jika ada di antara teman-teman yang sudi menjadi bagian dari kesembuhan Alsya. Teman-teman dapat menghubungi saya dengan meninggalkan komen di sini atau mengirimkan e-mail ke semuasayangalsya@gmail.com.

Support dari teman-teman akan sangat berarti bagi Alsya dan kedua orang tuanya.

Terima kasih sebelumnya sudah menyempatkan diri membaca note panjang saya ini.

Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman dengan kebahagiaan yang lebih besar. Amin.

Salam.

Group Semua Sayang Alsya: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_171025799610709

Blog Semua Sayang Alsya: http://semuasayangalsya.blogspot.com/

Hidup Tanpa Masalah

hidup tanpa masalahAda nggak ya manusia yang hidup tanpa masalah?

Saat berusaha mencari-cari, saya merasa kesulitan menemukannya. Ada yang sepertinya secara finansial dia baik-baik saja, tapi ada hal lain yang membuat hidupnya tidak bebas masalah. Ada yang segalanya baik-baik saja, tapi ia harus menanggung sesuatu yang bahkan tak terbayangkan oleh orang lain. Ada juga yang sebenarnya bisa tidak memiliki masalah, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang kemudian justru menjebloskannya ke dalam masalah.

Jadi ya, intinya, semua manusia memang memiliki masalah masing-masing. Baik yang benar-benar masalah atau masalah yang ia bentuk sendiri untuk dirinya — secara tak sadar mungkin.

Ada yang mengabaikan saja masalah yang dimiliki. Anggap tidak ada. Orang seperti ini biasanya adalah tipe orang yang cuek. Semua dianggap enteng. Entah sebuah penyangkalan atau memang ia tipe santai. Akibatnya, masalah itu tak dapat diselesaikan dan berpotensi menjadi besar.

Ada juga yang justru membesar-besarkan masalah. Cuma hal kecil, tapi dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak besar dan ia tak sanggup menyelesaikannya.

Bagaimana sih sebaiknya menghadapi masalah hidup?

Menurut saya, setiap orang memiliki cara yang berbeda. Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa pada akhirnya masalah itu kita pecahkan, kita selesaikan.

Tidak menganggap sebuah masalah sebagai sesuatu yang besar itu baik juga. Tapi jangan sampai kita menyangkal bahwa kita memiliki masalah. Menyadari bahwa kita punya masalah adalah satu langkah menuju pen-delete-an masalah dari hidup kita.

Membesar-besarkan masalah adalah hal yang salah. Kalau sudah besar, biasanya kita enggan menghadapinya. Pada akhirnya, masalah itu memang benar-benar besar dan kita tak sanggup menyelesaikannya.

Bersikap tenang, kepala dingin, dan teguh. Ambil cara dan pendekatan yang paling nyaman dilakukan. Sebagian orang memilih pendekatan relijius, ada pula yang lebih menyukai pendekatan realistis, sementara yang lainnya memilih mengikuti kata hati.

Apapun itu, pastikan kita menyelesaikan masalah. Agar kita dapat hidup tanpa masalah.

(Sebuah self reminder di hari kedua tahun 2011)

Gambar oleh Zsuzsanna Kilian, Hungaria