Archive for the ‘Hidup’ Category

Jangan Menyerah

Dari semua lagu lokal yang aku suka, ini yang paling berkesan. Lagu Jangan Menyerah dari d’Massiv. Ini bukan lagu pertama d’Massive yang aku suka — dan, ya, silakan call me cengeng or whatever, tapi at least aku jujur, aku suka lagu-lagu mereka. Tapi, lagu inilah yang paling segala-galanya di antara semua lagu mereka.

Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Lirik lagu ini dapat memberi kekuatan. Bahkan, bisa menjadi salah satu alasan bagiku untuk menambahkan kata TIDAK pada akhir puisiku — alasan lainnya ada di sini.

Sekarang, coba lihat sekeliling. Adakah manusia yang hidup tanpa masalah? Tanpa cobaan? Tentu tidak. Jadi, mari resapi bait ini:

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada obat yang paling mujarab dalam menghadapi penyakit kehidupan yang biasa kita kenal dengan kata masalah atau cobaan selain bersyukur.

Lupakan sejenak kepedihan yang ada dengan bersyukur. Jika masih memiliki kesehatan, bersyukurlah. Jika memiliki pekerjaan — sekalipun menguras tenaga, bersyukurlah. Jika dimarahi orang tua, bersyukurlah masih memiliki orang tua. Jika rumah terlalu kecil, bersyukurlah masih memiliki rumah. Jika hati tersiksa karena bulan ini tidak bisa beli buku, bersyukurlah karena mungkin bulan lalu masih bisa beli satu buku idaman — curahan hati terdalam kayaknya yang satu ini huehehe…!

Nggak usah melihat ke bawah — kadang kan kalau kita mengeluh, orang sering bilang: lihat tuh orang yang gak bisa makan, lihat tuh orang yang tinggal di kolong jembatan. Kadang, karena hal itu ada di mana-mana, rasa empati kita tidak mudah timbul.

Karenanya, minimal, mari kita lihat dulu apa yang ada dalam kehidupan kita. Apa yang kita punya. Sehingga, mudah-mudahan kita bisa melupakan apa yang kita nggak punya.

Sotoy banget ya tulisan ini? Hehe…sebenarnya sih ini lebih untuk diri sendiri. Self reminder yang panjang — karena biasanya self reminder-ku terbatasi oleh karakter status FB ;) .

Semoga aku bisa selalu ingat lagu d’Massiv satu ini jika katakanlah aku sedang muak dengan permasalahan hidup yang terkadang datang tanpa permisi. Semoga aku tidak akan berputus asa. Amin.

Didengar dan Mendengar

Suatu hari aku mengeluhkan ketidakberuntunganku kepada seorang teman. Responnya membuatku terhenyak.

“Mungkin Allah memberi anugrah dalam bentuk yang lain, Nad.”

Ah, ia betul. Aku semestinya tahu itu. Tapi, kadang mata kita terbutakan entah oleh apa — emosi, rasa kecewa, ekspektasi yang terlalu tinggi. Dan, kata-kata sederhana namun mengena dari orang lain yang sedang berpikiran jauh lebih jernih dari kita sangatlah berguna.

Ya kan? Kalau lagi sedih, sulit bagi kita untuk berpikiran jernih. Semua nampak salah dan suram. Dan, teman yang baik adalah teman yang membuka pikiran kita. Dan, ada baiknya juga jika kita bersedia membuka diri untuk sekedar meresapi kata-katanya.

Ini ada sedikit hubungannya dengan postinganku sebelumnya tentang “Curahan Hati.” Maksudku, jika kita sudah menuntut seseorang mendengarkan keluhan kita, kurasa cukup adil jika kita juga mau mendengarkan pendapat dan sarannya. Kalau perlu, lakukan — jangan hanya didengar lalu menguap begitu saja. Jika kita ingin didengar, kita pun harus mendengar.

Jadi, paling tidak curhat kita itu juga ada guna dan maknanya, bukan sekedar meluapkan emosi.

Sebenarnya, ini self reminder…hehehe…tapi harap maklum, rasa ingin sharing-ku lagi tinggi…

;)

Perburuan Rumah, dll, dsb

Harus kuakui, perburuan rumah terpaksa dihentikan. Seperti ceritaku sebelumnya, kami sudah menemukan sebuah rumah di bilangan Condet. Kami sudah mendapatkan harga yang cocok — meski kondisi rumah memerlukan perbaikan cukup banyak. Tapi, karena satu dan lain hal, terpaksa pembelian rumah itu dibatalkan.

Hm…ada dua penyebab sebenarnya. Yang pertama, Mamaku berharap kami tidak tinggal jauh darinya. Yang kedua, kami kesulitan mendapatkan KPR karena aku dan suami tidak memiliki slip gaji dan tidak bekerja di sebuah perusahaan selama minimal dua tahun. Itulah ternyata harga yang harus dibayar karena kami berdua memilih bekerja sendiri alias menjadi freelancer dan pewiraswasta kecil-kecilan.

Mengenai harapan Mama, aku tak bisa menampik. Saat ini, Mama dan Hana, anakku, adalah dua perempuan terpenting dalam hidupku. Jadi, sebisa mungkin, aku berusaha menyenangkan mereka. Meski mungkin tak selamanya berhasil.

Membeli rumah di kawasan dekat rumah Mama, di Tebet dan sekitarnya, adalah hal yang hampir dapat dibilang tidak mungkin. Karena, kalaupun harganya murah, tidak ada sertifikatnya — ya, aku tahu, toh sekarang tak ada gunanya juga jika rumah itu memiliki sertifikat. Jadi, kami memutuskan untuk mengontrak. Setelah urusan sekolah Hana beres, kami akan mencari kontrakan, insya Allah.

Sekarang, yang kulakukan adalah berusaha mengisi pundi-pundi kami agar niatan kecil ini dapat terlaksana. Selain tetap menghadirkan kain-kain cantik di http://kainikat.com/, aku juga aktif menerjemahkan. Selesai satu terjemahan, datang yang lain. Alhamdulillah.

Selain itu, aku juga berusaha menerapkan saran Richard Carlson, Not to Sweat the Small Stuff — meski pada kenyataannya tidak semudah itu. Begitu banyak hal perintilan yang mudah membuatku kesal belakangan ini. Huh!

Oh ya, satu lagi. Aku sedang berusaha menerapkan pola hidup AGAK sehat. Tidur cepat, bangun lebih pagi — untuk menerjemahkan — serta makan sayuran dan buah-buahan. Belum lama ini aku menonton video di FB tentang usus orang-orang yang pola makannya buruk. Wuih, seramnya! Di samping itu, belakangan punggungku terasa berat.

Aku ingin sehat, aku ingin bahagia. So, aku sedang berusaha menyehatkan jiwa dan raga. Dan, ngeblog sepertinya dapat membantu menyehatkan jiwa ;) .

Selamat Tahun Baru!

Alhamdulillah, sudah tahun baru (hijriah). Setahun telah berlalu.

Seperti yang diajarkan mertua tercinta, sebelum Maghrib (setelah Ashar) membaca do’a akhir tahun, lalu setelah Maghrib membaca do’a awal tahun.

Saat berdo’a, tak terasa air mata berjatuhan. Mengingat semua dosa yangtelah diperbuat sambil berharap tahun depan menjadi tahun yang lebih baik.

Sudah lama aku tidak berani memiliki harapan besar. Tapi, kali ini tak terhindarkan. RUMAH. Ya, aku ingin memiliki a place that I can call HOME.

Bukan tak bersyukur, aku bersyukur sekali dapat menempati sebuah kamar di rumah Nenek di kawasan Tebet. Tapi, toh pada akhirnya rumah ini harus berpindah tangan alias dijual. Aku harus mempersiapkan diri.

Dan, memang sudah saatnya. Terakhir kami — aku, suami, dan anak — berumah sendiri adalah tahun 2005. Karena permintaan Nenek serta satu dan lain hal, kami kembali ke rumah Nenek yang memang pernah menjadi rumahku semenjak aku lahir hingga sebelum menikah.

Dan, aku rindu saat-saat itu. Sehingga, mungkin resolusi besar tahun ini (tahun baru hijriah ini, 2010 kalo masehinya) adalah a place of my own.

Resolusi lainnya adalah semakin banyak menerjemahkan, semakin sering menulis, semakin seru jualan online kain ikat dan batik-nya, semakin punya lebih banyak waktu buat Hana, semakin yakin untuk ngasih adik buat Hana (secara capek gitu ditanya-tanya terus), semakin bisa lebih sabar menghadapi apapun. AMIN.

Nengok sebentar ah ke belakang. Tahun kemarin (2009 kalo masehinya), adalah tahun belajar hal baru. Di antaranya:

  • Jualan kain ikat dan batik secara online. Dulu jual buku online (masih sih sampai sekarang). Agak beda perilaku pembeli dan pendekatannya.
  • Menulis skrip untuk acara TV. Thanks to Jeruk Oranye nih. Seru dan…seru pokoknya! Haha…

Terus, aku juga kembali menerjemahkan. Thanks to kepercayaan dari Ufuk Press.

Tahun 2009 aku berhasil melewati angka 20-an dalam hal perbukuan. Meski tak sebanyak kutu buku lainnya, lumayanlah, 30 buku berhasil kulahap.

Not the bestest year in my life, but surely one of yang paling seru.

Awal tahun 2009 kulalui dengan berita yang menghenyakkan, patah hati tingkat akut akibat dirumahkan oleh tempat kerja yang paling HEBAT selama hidupku. Mereka dipaksa tutup juga pada akhirnya oleh keadaan.

Tahun 2010 ini nampaknya aku akan tetap bekerja di rumah. Tapi, sesekali perlu juga kerja di luar rumah supaya nggak sumpek kali yeee…

SEMANGAT!

EGP

Emang Gue Pikirin.

egpFrase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi ;) — dalam menggambarkan keinginan untuk tidak memikirkan suatu permasalahan.

Nah, saya sedang berusaha begitu. Karena, pada dasarnya, saya sebenarnya tipe orang yang apa-apa dipikirin. Capek juga loh. Tapi mengubah diri kan nggak segampang itu.

Memikirkan segala sesuatu membuat kita rentan stres memang. Sedikit-sedikit sakit kepala — atau bahkan menangis.

Padahal, dengan EGP, hal yang kita anggap beban bisa berubah menjadi hal yang enteng. Okelah, mungkin hanya sesaat. Tapi, lumayan kan, daripada seharian harus mutung?

Saya juga tipe orang yang senang menyiksa diri. Jika ada masalah, dibayang-bayangkan, diingat-ingat. Duh, tersiksa deh pokoknya. Kerja juga nggak konsen jadinya.

Tapi, alhamdulillah, terapi EGP — walu belum dapat membuat saya berubah 100% — dapat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Apalagi, belakangan tuntutan pekerjaan sedang tinggi.

Jika EGP dapat membuat hidup lebih damai, kenapa nggak? :D