güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Hidup’ Category

Aku di 2011

tahun-baru-2011Biasanya, aku tidak mau membuat resolusi tahun baru. Tapi kali ini berbeda. Aku merasa aku harus mencanangkan resolusi.

Sebenarnya, dulu aku tidak mau beresolusi karena aku tidak ingin berharap. Aku takut akan harapan. Mungkin karena aku dulu aku terlalu berharap. Jadi, aku leboh fokus kepada akhir yang selalu positif. Tidak siap ketika ternyata hasilnya negatif.

Tapi, setelah aku intip di KBII online, kata harap memang pada akhirnya mengacu kepada hal yang berakhir positif alias harapan itu akan jadi kenyataan.

ha·rap 2 n keinginan supaya sesuatu terjadi >> ber·ha·rap v 1 berkeinginan supaya terjadi >> meng·ha·rap v 1 berharap akan; menantikan; menginginkan >> ha·rap·an n 2 keinginan supaya menjadi kenyataan.

Tapi ya memang aneh juga ya kalau berharap tapi nggak mikirin hasil alias kenyataannya? Haha!

Ya, pokoknya, bagaimana pun hasilnya, aku ikhlas. Karena, harapan yang akan kugantungkan kepada diriku sendiri pada tahun 2011 ini lebih kepada prosesnya. Karena, aku merasa pada tahun 2010 ini aku kurang giat dalam mengupayakan prosesnya.

Kira-kira apa yang akan aku lakukan tahun 2011 mendatang? Wah, banyak! Pokoknya harus memperkaya diriku baik dari berbagai segi, termasuk  kualitas diri dan kualitas materi. Yup, nggak mau muna ah. Siapapun butuh materi kan?

Yang pasti, aku berjanji untuk lebih giat tahun ini. Lebih semangat lagi dalam membesarkan nama http://KainIkat.com, http://BatikIndonesia.com, dan http://BukuMurMer.com. Lebih disiplin lagi dalam mencari dan mengerjakan job terjemahan. Lebih tekun lagi dalam menulis — tahun 2010 ini aku tidak mengirim cerpen ke majalah hiks.

Semoga dari semua niat baik itu akan ada hasil yang indah, apapun dan bagaimanapun itu. Amin.

Semangat menyongsong 2011!

Kesempatan

KESEMPATANKesempatan kerap datang ke dalam hidup kita. Terkadang, kita tidak tahu bagaimana menghadapinya. Bahkan, kita bisa saja salah langkah dalam menyikapinya.

Pengalaman mengajarkan kepadaku untuk mendengarkan kata hati dan insting terkuat dan yang pertama kali muncul. Perlu juga sedikit mendengarkan rasa takut atau kekhawatiran. Bisa jadi, itulah ungkapan terjujur yang ada dalam hati.

Bukan berarti aku lebih memilih menjadi pengecut dan bersembunyi di balik rasa takut. Kadang aku memberanikan diri. Nekat.

Tapi mungkin aku memang ditakdirkan menjadi orang yang memperhitungkan segalanya sebelum mengambil tindakan. Bukan orang yang cenderung impulsif dan nekat. Selain mendengarkan kata hati, aku mempertimbangkan semua, dari A sampai Z. Sehingga, konsekuensinya, bisa jadi kesempatan itu hilang — karena kesempatan kerap cepat berlalu.

Walau begitu, aku masih sedang belajar menjadi orang yang terus berusaha untuk mengikhlaskan segala yang telah ditetapkan atas hidupku. Jadi, meskipun kesempatan itu telah menguap dengan secepat kilat, secepat kedatangannya, insya Allah aku berusaha untuk tidak menyesalinya. Karena, aku sebenarnya telah mempertimbangkan dan memikirkannya.

Foto oleh: Aleksandar Milosevic (bCracker)

Belajar Ikhlas dan Ridho

Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.

Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.

Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.

Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.

Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.

Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.

Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.

Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.

Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.

Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.

Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.

Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.

Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

perempuan ikhlas

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]

Jalan Sehat

jalan sehatTu wa ga pat! Itu mah gerak jalan. Ini bukan. Hehehe…cuma jalan kaki biasa, dari pasar atau ATM ke rumah. Jaraknya berapa ya? Yaaa pokoknya nggak jauh-jauh amat lah. Tapi, cukup untuk menghasilkan setetes dua tetes keringat. Semoga benar-benar bisa jadi ajang jalan sehat buatku.

Oke, kuakui, aku memang agak ndut. Catat, AGAK (baca: lumayan). Dulu, keinginan untuk diet besaaaaar sekali. Tapi, aku akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Buat apa menyengsarakan diri dengan keinginan berdiet? Just enjoy life while you can. Yang penting sehat.

Semenjak saat itu, aku cuek bebek sama yang namanya menjaga makan. Yang penting happy!

Tapi, beberapa waktu silam, aku menderita diare sampai dua minggu. Kenapa lama sekali? Karena, alhamdulillah aku tidak dehidrasi. Jadi, aku tidak meminum obat pemampet diare. Biarlah racun-racun itu keluar dari tubuhku. Akibatnya, berat badanku turun hingga 4 – 5 kiloan.

Semua orang terpana *lebaynya*. Dan, aku kok ya merasa nyaman juga jadinya dengan tubuhku.

Semenjak saat itu, aku pun mengurangi jumlah nasi yang kumakan saat makan malam. Memang, berat badanku tidak turun lagi. Tapi, paling tidak ya tidak bertambah juga.

Lalu, apa hubungannya dengan jalan sehat? Begini, setiap pagi, aku bertugas mengantar anak ke sekolah — tentang anakku, bisa diintip di http://TingkahAnak.com. Dan, terkadang, aku harus ke ATM atau ke pasar setelahnya, jadi aku minta Papaku yang membantu mengantarkan aku dan anakku ke sekolah setiap pagi untuk menurunkan aku di sana, dan ditinggal saja, tidak usah ditunggu.

Nah, selain untuk mengirit ongkos — biasanya aku dari pasar ke rumah naik bajaj, setelah urusanku di pasar atau ATM selesai, aku coba-coba pulang dengan berjalan kaki. Ternyata, setelah jalan pagi itu, kok rasanya lebih segar?

Maka, sudah seminggu ini, aku berjalan pagi. Pinginnya sih dari sekolah anakku tapi kok lumayan jauh ya? Sementara dari pasar dulu lah.

Selain itu, kepergian seorang teman SMP yang begitu tiba-tiba akibat stroke membuatku merasa perlu lebih memperhatikan kesehatan. Memang, ajal akan tiba tanpa bisa kita hindari, tapi berusaha menjaga kesehatan juga penting. Semacam kewajiban kita terhadap tubuh tempat tuh kita menetap selama di bumi ini. Ya tak?

the-biggest-loser-mikeOh ya, satu hal lagi yang membuatku bersemangat adalah acara televisi yang ditayangkan di channel Diva (dulu Hallmark), The Biggest Loser. Acara The Biggest Loser ini menyuguhkan sekelompok orang berbadan gemuk yang berkeinginan untuk menurunkan berat badan.  Awalnya, mereka memiliki berat badan hingga ratusan kilo. Tapi, dalam beberapa bulan, ada yang bahkan bisa menurunkan berat badannya hingga puluhan kilo!

Caranya, mereka mengatur pola makan dan berolahraga. Dan, pada akhirnya, bukan saja mereka menjadi lebih ramping tapi mereka juga menjadi lebih sehat. Yang kedua ini sungguh menginspirasi!

Karena, sekarang banyak sekali produk-produk yang mengklaim dapat menurunkan berat badan, tapi apakah menyehatkan? Terlebih lagi, beberapa produk diet tersebut harganya mahal sekali. Jujur, aku tidak punya uang sebanyak itu.

Jadi, kuputuskan untuk menjadi sehat dengan agak menjaga pola makan dan berolahraga meski tidak seintens para peserta The Biggest Loser. Yang kucoba adalah sesekali memasak makanan yang lebih sehat, tidak terlalu sering ngemil, dan jalan sehat tadi itu — yang sesekali diikuti dengan olahraga kecil-kecilan di rumah, sambil menginat-ingat gerakan aerobik yang pernah kupelajari saat senam dulu, sebelum menikah hehehe.

Hidup sehat, bisa! Yang murah: jalan sehat!

Semangat!

[Ket. Gambar: Foto Mike The Biggest Looser dari http://www.biggest-loser.org/before-and-after-photos/, foto orang jogging hasil bidikan Tim & Annette]

Makna Ikhlas dan Ridho

Sejak dulu, sampai sekarang, aku masih berusaha memahami makna ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya. Ikhlas yang membawa bahagia. Ikhlas yang membawa ketenangan.

Mengapa harus memahami makna ikhlas?

Aku merasa butuh memahami makna ikhlas karena aku yakin bahwa itu adalah jalan terindah menuju kebahagiaan.

Kesannya mengawang-ngawang banget ya kalimatku di atas? *wink* Tapi, ya memang begitu adanya. Gimana dong?

Sebagai permulaan, aku mencari makna kata ikhlas di KBBI >> ikh·las a bersih hati; tulus hati; meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan; ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan.

Definisi Ikhlas dalam bahasa Indonesia ternyata berbeda dengan dalam bahasa asalnya, bahasa Arab.

Berikut ini, aku kutip penjelasan ikhlas dalam blog M.D. Faisal tentang ikhlas:

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Dan, berikut ini, penjelasan oleh M.D. Faisal tentang ridho:

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka. Seperti yang dikatakan oleh Habib Riziq Shahab yang disarikan oleh Usman Hasan, ” Ikhlas menyebabkan kita tidak mudah berputus asa.”

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

Tapi, apa daya, aku masih dalam proses mempelajari makna ikhlas dan ridho. Terkadang, Alhamdulillah, aku dapat merasakan sedikit ikhlas dan ridho itu. Tapi, ada kalanya, tidak. Jadi, aku masih harus banyak belajar.

kiamat-sudah-dekatAku teringat salah satu episode dalam serial televisi “Kiamat Sudah Dekat.” Ketika peran yang dimainkan oleh Deddy Mizwar meminta peran yang dimainkan oleh Andre Taulany untuk mempelajari makna ikhlas sebagai syarat untuk dapat mempersunting anaknya — yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Dan, akhirnya, Andre Taulany merelakan Zaskia Adya Mecca yang sangat dicintainya untuk menikah dengan pria pilihan Deddy Mizwar. Dan, saat itulah Deddy Mizwar justru melihat bahwa Andre Taulany sudah memahami makna ikhlas.

Seperti kata seorang sahabat dengan siapa aku sering berdiskusi tentang kehidupan dan bagaimana bisa ikhlas menjalaninya, “Ikhlas memang mdh diucap, disampaikan, diangankan, dilamunkan, diharapkan. Tapi perlu perjuangan dlm eksekusinya dlm kehidupan :) .”

Hm…semoga kita semua mampu memahami dan menghayati makna ikhlas dan ridho. Bukan hanya demi kebahagiaan kita kelak di akhirat, namun juga demi kebahagiaan kita di dunia. Amin.

[Ket gambar: diambil dari potongan youtube]