Archive for the ‘Hidup’ Category

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com

Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?

Tadi siang di FB saya dikejutkan oleh berita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak yang ditahan karena dianggap merusak nama baik sebuah rumah sakit.

Padahal, menurut postingan beberapa teman blogger dan setelah membaca ‘Surat Pembaca‘ yang ditulis oleh Mbak Prita, ia justru mengalami malpraktek di rumah sakit tersebut.

Sungguh aneh bila kemudian ia yang jusru dipenjarakan karena apa yang ia tulis tersebut.

Tak bisa dipungkiri, UU ITE memang membuat saya agak berhati-hati dalam ngeblog. Tapi, saya tak pernah menyangka akibatnya bisa serunyam itu.

Saya hanya berharap Mbak Prita segera mendapatkan keadilan. Semoga para penegak hukum mendengarkan hati nurani mereka.

Sangat miris membayangkan kedua anak Mbak Prita yang masih sangat kecil harus terpisah dari ibunya hanya karena hal yang semacam ini.

Berikut petikan dari blog Ndoro Kakung:

Prita bukan seorang teroris. Ia bukan koruptor. Dia bukan pembunuh bayaran. Prita hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita yang terpaksa mendekam di penjara gara-gara menulis email.

Semoga negeri ini masih memiliki sisa keadilan.

Dibayar Kontan

Hari ini adalah hari kelahiran saya. Sudah 32 tahun ini saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk bermukim di bumi.

nadiah-alwiSaya tidak merayakannya di dunia offline, tapi di dunia online saya mengadakan semacam syukuran dengan menggelar sayembara di toko buku online saya, http;//bukumurmer.multiply.com.

Dana yang awalnya sempat hendak saya gunakan untuk perayaan di dunia offline saya berikan kepada Mama. Karena, saya berkeyakinan bahwa yang lebih berhak diberikan ucapan selamat atau hadiah adalah seorang ibu karena ia yang bersusah payah mengeluarkan si jabang bayi di ruang bersalin.

Tapi, tadi sore, saya ke pasar untuk mengajak Hana, anak saya, dan Mama. Sekedar iseng-iseng saja. Saya membeli dua bungkus pempek — satu untuk Mama, satu untuk saya — dan duren sebatu –bukan sekepala.

Meski hari ini hari yang spesial, tetap saja tak luput dari hal-hal yang membuat kesal. Tapi, alhamdulillah, saya mampu melihat sisi lain dari kekesalan atau kekecewaan itu. Kenapa?

Karena, saya dibayar kontan oleh-Nya. Sempat tercengang. Saya tidak mengharapkan hadiah apapun — walau seorang sahabat telah lebih dulu menghadiahkan sebuah buku idaman dua hari yang lalu. Bahkan, sebenarnya memang sudah saya canangkan untuk memberi di hari pertama usia saya yang ke-32 ini, tidak untuk menerima — meski sempat juga meminta kepada si Abi alias suami tercinta untuk dicarikan software web di dunia maya. Tapi, Yang Maha Mengetahui kembali menunjukkan, saya yang berencana, Ia Yang Menentukan. Subhanallah.

Malam tadi ada yang memberikan hadiah untuk saya dan nominalnya melebihi apa yang telah saya keluarkan hari ini. Hadiah itu tentu sangat berharga bagi saya. Tapi, sebenarnya, ada yang lebih berharga lagi. Pelajaran akan kehidupan.

Bahwa, saya tidak tahu apa-apa. Bahwa, yang paling tahu yang terbaik untuk saya adalah Yang Menciptakan saya.

Belakangan ini, saya akui, begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya. Sebagai manusia yang diberikan kemampuan bertanya, terkadang muncul juga di kepala saya pertanyaan, “Why?”

Kadang saya dapat melihat hikmah di balik semua. Di lain kesempatan saya hanya dapat menerka apa maksud semua itu. Bahkan pernah juga ada masanya saya bingung dan tak ada clue sama sekali.

Mungkin Ia ingin saya paham bahwa apapun itu, Ia menjadikannya takdir untuk saya karena tak ada hal lain yang lebih baik yang dapat terjadi dalam hidup saya. Mungkin jika ia menakdirkan hal lain, saya takkan sanggup menjalaninya.

Lucu sekali. Saya tidak berniat berkontemplasi di hari istimewa ini. Tapi, lihat saja apa jadinya. Dan, oh, saya sangat teramat bersyukur karenanya.

Selamat ulang tahun, Nadiah Alwi.

Di Dunia Maya…

sopan-santunBelum lama ini, saya berbincang dengan seorang sahabat tentang gaya sebagian penduduk dunia maya dalam memberi komentar atau mengutarakan buah pikiran dan isi hatinya.

Ada apa dengan gaya itu?

Kami berpendapat, ada yang bersikap kasar atau tidak semestinya dalam ‘bersuara’ di dunia maya. Seakan mereka berpikir bahwa kebebasannya berpendapat tak dibatasi oleh perasaan orang lain.

perasaanSeakan kasar mereka definisikan sebagai ‘keren’ atau bahasa Inggrisnya ‘cool.’ The ruder you become, the cooler you are.

Padahal, di dunia maya pun orang masih punya perasaan.

Ah, tapi jangan-jangan mereka yang punya perasaan dianggap cengeng oleh si cool. Entah juga.

Tapi, bagi saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, kita tetap harus menjaga perasaan orang lain. Toh penghuninya sama saja. Jadi, apakah perlu diperlakukan berbeda?

kasarLucunya, di dunia maya, banyak yang merasa lebih mudah mengeluarkan makian. Padahal, mungkin di dunia nyata ia tak sekasar itu–ok, ada juga sih yang baik di dunia maya maupun nyata sama saja kelakuannya, itu sudah nasibnya memiliki sikap tak mengenakkan seperti itu.

Rasa-rasanya kok ya seperti pengecut ya kalau tiba-tiba di dunia maya–di mana kita bisa jadi siapa saja tanpa perlu mengutarkan identitas atau tanpa perlu menunjukkan batang hidung–kita bicara seenaknya? Sementara di dunia nyata berusaha sekuat tenaga untuk bersikap santun.

Dengan bercanda, sahabat saya itu bahkan sampai mengusulkan seminar Digital EQ. Aih, menarik juga ya? Jangan-jangan saya juga perlu ikut. LOL.

Masjid Al-Barkah, Situ Gintung

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

(26) Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

(27) Namun, tetap kekal Dzat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Klik untuk melanjutkan membaca ya »