güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Hidup’ Category

Liburan Lebaran

Alhamdulillah, yang paling aku suka dari Lebaran kali ini adalah liburannya. Bukan, bukan berlibur ke luar kota atau bertamasya ke tempat rekreasi. Tapi, lebih ke memberikan waktu kepada diri sendiri untuk melakukan apa yang aku inginkan.

Nonton TV, membaca, menulis, ngeblog, FB-an, Twitter-an, dan mungkin nge-MP-i.

Mengenai beberes rumah, hm…sudah tiga bulanan lebih aku tidak menggunakan jasa ART (Asisten Rumah Tangga). Hanya ada kerabat yang membantu di rumah Mama yang juga datang ke rumah yang kutinggali untuk mencuci piring, menyapu dan mengepel.

Cuci-mencuci pakaian sudah beberapa waktu kuserahkan sebagian ke laundry kiloan — yang sekarang sedang tutup, hiks.

Masak? Di hari-hari biasa, aku mendapat kiriman masakan dari Mama karena kalau masak sendiri, selain rasanya tak terjamin, aku juga tidak sempat. Meski bekerja di rumah, working hour-nya seperti orang kantoran, dari pk. 9.00 s/d pk. 17.00. Terkadang lembur juga.

Jadi, ya tak terlalu berbeda sih. Kecuali mungkin hari ini, masak. Tadi aku membuat menu simple brunch yang banyak — supaya kenyang, nasi goreng telur. Nanti malam, sudah disiapkan bahan-bahan untuk membuat pasta.

Oh ya, aku libur semenjak tanggal 7 September silam. Kembali bekerja tanggal 16 yang akan datang. Selain cuti bersama, aku mengambil 2 hari cuti pribadi. Meski mencintai pekerjaanku di bidang kain, di http://KainIkat.com/ dan http://BatikIndonesia.com/, ternyata aku perlu juga me-refresh diri.

Mengenai Lebaran, selain membuat kue untuk persiapan Lebaran, aku juga menyempatkan diri menemani Mama berbelanja pakaian — karena tidak sempat menjahitkan ke penjahit langganan. Kami pergi bertiga, aku, Mama dan babyHana. Senang, tapi sedih. Aku jadi teringat Jiddah, nenekku. Dulu, aku, Mama, dan Jiddah juga pergi bertiga, belanja-belanja. Kangen banget sama Jiddah.

Lalu, tiba hari Lebaran. Pagi aku bersilaturahmi ke tetangga dan menemui Mama dan Papa untuk meminta maaf. Pagi menjelang siang, aku ke rumah Umi Mertua bersama Hana dan Abinya. Siang menjelang sore, kami kembali ke rumah Mamaku. Sore menjelang malam, kami pergi ke rumah keluarga besar Kakekku.

Hari kedua Lebaran, kami berkeliling di seputar Petamburan, Tanah Abang, dan Rawabelong. Bersilaturahmi dengan kerabat yang memang hanya bertemu setahun sekali — dua kali setahun jika ada acara perkawinan.

Dan, hari ketiga, kuputuskan untuk tidak ke mana-mana. Baik aku, Hana, maupun Abinya, kami butuh istirahat juga. Karena, besok, ada kemungkinan kami berkeliling lagi.

Teman-teman kuliah mengajak halal bihalal besok siang. Tapi, aku tidak yakin bisa. Karena, ya itu, mungkin harus berkeliling lagi, masih suasana Lebaran :D . Untuk besok-besoknya mungkin aku sudah tidak berkeliling. Tapi, entah Mama masih berkeliling atau tidak. Hubungannya? Aku mesti menitipkan Hana ke Mama kalau memang mau pergi :D .

Yah…begitulah kira-kira suasana Liburan Lebaran-ku kali ini.

Oh ya, masih ada satu lagi. Mau menengok ke belakang. What have I done wrong? Supaya, setelah Ramadhan dan Lebaran berlalu, ke depannya aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Amin.

Hampir lupa, mohon maaf lahir batin ya, dear bloggers! :D

Arisan oh arisan…

Inget tak? Aku pernah bahas tentang arisan sebelumnya. Hehee…nggak inget ya? Ya enggak lah…belum pernah main-main ke sini kan? ;)

bahagiaAnyway, setelah ngedumel panjang kali lebar di sini, guess what?! Yup, aku dapat arisan! Entah peruntungan, atau memang Allah mengabulkan doaku agar nasib arisanku putaran ini tidak sama dengan arisan putaran lalu, ketika aku harus menelan pil pahit…aku termasuk orang-orang terakhir yang dapat arisan! Dan, aku terbebas dari inflasi! Hihihi…

Dan, bulan September mendatang, insya Allah aku dan adik iparku akan menjadi tuan rumah — karena memang kami mendapat arisan berbarengan. Karena belum punya rumah sendiri — makanya doain dong, pleaseeee… — kami sudah minta ijin kepada Mama untuk menggunakan rumah Mama sebagai lokasi arisan berikut. Alhamdulillah, Mama setuju. Love you, Mom!

Sebenarnya ada yang mau ditulis lagi malam ini. Tapi, capek bener. Jadi, next time aja kali ya. Ini cuma mau mengekspresikan kebahagiaanku karena tidak perlu memikirkan inflasi 3,5 tahun mendatang andaikata aku dapat arisan paling buntut.

Gambar oleh Billy Alexander.

Arisan!

Hampir sebagian besar orang (atau perempuan) di Indonesia pernah berurusan dengan yang namanya ARISAN.

arisanDi KBBI, dijelaskan bahwa ARISAN adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan di sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Sepanjang hidupku di usia ganda ketiga ini, aku sudah pernah melewati beberapa arisan. Arisan dengan teman SD, dengan keluarga kecil, dengan keluarga besar, dengan sepupu-sepupu, dan entah arisan apa lagi.

Dan, hari ini aku baru memulai arisan sesi baru dengan keluarga besar. Sangat besar. Bayangkan, pesertanya 40 orang — dan akan masih bertambah. Pertemuan dilakukan setiap dua bulan sekali dan sekali kocok, dua nama yang keluar. Jadi, kalau ditotal 40 bulan akan kami lalui dalam arisan ini.

40 bulan itu berarti 3 tahun 4 bulan — dan, ingat, bisa lebih. LAMA!

Tadi, aku berusaha memberi solusi untuk menambahkan nama yang keluar saat dikocok menjadi 4 orang. Sehingga, usia ARISAN ini takkan lebih dari 20 bulan.

Kenapa? Karena, nilai uang orang yang mendapat arisan lebih dulu dan yang terakhir tidak sama jika usia arisan ini harus sampai bertahun-tahun lamanya. Inflasi dan teman-temannya penyebabnya. Bayangkan saja, dalam kurun waktu tak sampai 2 tahun saja harga beberapa kebutuhan pokok naik hampir 2 kali lipatnya.

Tapi, sungguh disayangkan, peserta arisan lainnya menolak. Karena, memang jika 4 orang yang mendapat arisan, maka jumlahnya menjadi hanya setengah dari angka yang mereka dapatkan jika hanya 2 nama yang keluar. Tapi, bayangkan jika harus menunggu lebih dari tiga tahun untuk jumlah yang sesungguhnya tidak terlalu besar itu?

Aku sampai menjelaskannya dua kali. Dan, hanya ada 3 orang lainnya yang sepaham denganku.

Entah apa penyebabnya. Perbedaan pandangan dan pemahaman akan arisan atau uang? Perbedaan (baca: kesenjangan) pola pikir? Atau, mereka sekedar tidak mau berpikir lebih jauh?

Pokoknya dapat arisan sejumlah x bukan x/2.

Akhirnya, sebagai kelompok minoritas, kami terpaksa mengalah dan mengikuti mayoritas meskipun kami tahu betul bahwa kami benar dan mereka kurang benar — sepertinya bukan hal yang aneh ya belakangan ini?

Jadi, mari bermain arisan selama 40 bulan (atau lebih) ke depan…

Congrats, Nad!

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbaik Sangka

foto islamiAlhamdulillah, pagi ini aku kembali berkesempatan untuk mengikuti pengajian bulanan Ustadzah Halimah Alaydrus di Tebet. Seperti beberapa pengajian sebelumnya, entah bagaimana somehow temanya seperti nyambung dengan apa yang ada di pikiranku atau suasana hatiku.

Kali ini temanya adalah berbaik sangka kepada Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Aku berusaha menyarikannya di sini sesuai dengan kemampuanku dalam menyerap pengajian tadi ya. Harap maklum jika banyak kekurangan.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada Allah SWT

Sering kita sebagai manusia selalu merasa dirundung malang, ditimba berbagai musibah, dan dilibat berbagai masalah. Kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Padahal, hey, semua orang juga punya masalah.

Yang sudah cukup umurnya namun belum menikah, merasa punya masalah. Yang sudah menikah, suaminya tampan dan ramah, juga punya masalah — cemburu, misalnya. Yang sudah menikah namun belum juga dikaruniai anak, masalah. Yang sudah dikaruniai anak — dan dikaruniai lagi dan lagi — juga merasa bermasalah.

Jadi, adakah manusia di muka bumi ini yang tidak bermasalah? Tidak, kan?

Kuncinya dalam menghadapi semua masalah itu adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Ya, sesederhana itu. Dan, insya Allah, yang muncul dalam hati kita adalah rasa syukur kepada-Nya.

Allah selalu memiliki maksud di balik semua yang Ia tetapkan. Dan, apa yang kemudian kita kenal dengan kata ‘hikmah‘ di balik masalah biasanya memang baru kita dapati setelah semua berlalu. Namun, cobalah menerka sedari sekarang.

Ini bukan contoh dari Ustadzah, tapi saya coba mencarikan saja contoh yang bisa saya olah di kepala — jadi maaf jika agak aneh atau konyol hehe. Misalkan, kita menikah dengan suami yang — maaf — kurang tampan, tapi coba bayangkan jika kita — yang ternyata pencemburu berat — menikah dengan pria tampan yang digila-gilai banyak perempuan, wah…sepertinya masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi ya? ;)

Jika katakanlah ada do’a-do’a kita yang belum diijabah oleh-Nya, itu karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun, salah satu cara agar Allah mengabulkan do’a kita adalah dengan berbaik sangka kepada-Nya. Bahwa, jika memang do’a kita berakibat baik bagi dunia dan akhirat kita, Ia akan mengabulkannya.

Hidup akan terasa sangat nikmat jika kita bisa terus berbaik sangka kepada Sang Pencipta.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada hamba-hamba Allah SWT

Pernahkah kita melihat seseorang dan menetapkan sebuah sangkaan yang kurang baik? Misalkan karena ia berbaju kumal, kotor, dan nampak hina? Astaghfirullah, nampaknya pernah ya?

Dan, pada pengajian pagi tadi Ustadzah mengangkat kisah Uwais al-Qarni. Pernah mendengar kan? Itu lho, yang dikisahkan sangat memuliakan ibunya. Tapi, tadi Ustadzah mengisahkan hal lainnnya tentang Uwais. Di antaranya adalah saat ia dalam perjalanan menuju Madinah bersama yang lainnya di atas sebuah kapal / perahu dari Yaman.

Di dalam kapal itu seorang kaya mengaku kehilangan barang berharga. Dicari ke mana-mana tak juga diketemukan. Semua menyangka Uwais yang saat itu sedang dengan khusyuknya sholat sebagai pelakunya, bahwa Uwais hanya berpura-pura sholat agar tidak dituduh.

Semua menunggu, namun Uwais tak kunjung selesai beribadah. Mereka semakin menyangka yang buruk kepada Uwais. Dan, tiba-tiba kapal itu pun terhempas ombak dan hancur berkeping-keping. Namun, Uwais seperti tidak menyadari keadaan di sekelilingnya dan ia tetap sholat. Ruhnya telah menang dari jasadnya. Ruhnya yang sedang bertemu dengan Allah SWT.

Semua yang telah berburuk sangka kepadanya hampir tenggelam dan berusaha berpegangan pada kayu-kayu sisa kapal. Dan, mereka pun menyadari.

“Wah, mungkin kita tadi tidak semestinya berburuk sangka kepada orang itu. Ternyata ia adalah Waliyullah.”

Lalu, Uwais selesai melaksanakan sholatnya dan terkejut melihat sekeliling.

“Loh, mana kapalnya?” tanyanya bingung.

Orang-orang itu pun menjelaskan seakan Uwais tadi tidak sedang berada di dalam kapal yang sama dengan mereka.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, dan orang-orang itu memohon pertolongan, Uwais pun berdo’a kepada Allah untuk keselamatan orang-orang tersebut.

Dan, sudah barang tentu do’anya dikabulkan. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah berkisah kepada para sahabat tentang Uwais — padahal Nabi Muhammad SAW tak pernah bertemu dengannya. Menurut Baginda Rasul, Uwais adalah orang yang jika berdo’a Allah saja akan merasa malu jika tidak mengabulkannya.

Lalu, setelah selamat orang-orang itu berkata, “Andai semua harta kami yang tenggelam bersama kapal itu dapat diselamatkan, kami akan bersedekah dengan semua harta kami tersebut.”

“Kalian berjanji?” tanya Uwais.

“Kami berjanji.”

Maka Uwais pun berdoa sekali lagi, dan Allah mengabulkannya. Semua harta itu selamat.

Lalu, orang-orang itu bertanya kepada Uwais, “Siapa kau sebenarnya?”

“Uwais al-Qarni,” jawabnya sambil melenggang santai.

Bagaimana Uwais bisa begitu dicintai oleh Allah? Ketahuilah, bahwa saat mengisahkan kepada para sahabat, beliau menggambarkan bahwa Uwais berpakaian kumal, berdebu, dianggap tidak penting. Namun, Uwais ini begitu mencintai Allah dan umat mukmin.

Ia tidak punya apa-apa. Namun, jika ia memiliki sesuatu, yang ia pikirkan bukanlah dirinya. Melainkan orang-orang papa di sekitarnya.

Pernah suatu kali ia memohon maaf kepada Allah, “Ya Allah, maafkan Uwais karena hari ini Uwais tidak bisa membantu orang. Kalau ada orang mukmin yang tidak bisa makan karena Uwais tidak bisa membantu, maafkanlah Uwais ya Allah.”

Selain itu, pernah Uwais menderita penyakit belang pada kulitnya. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika nanti aku sembuh, tolong sisakan sedikit penyakit ini agar aku selalu bisa ingat bahwa Engkau pernah memberiku kesembuhan.”

Dan, memang tersisa sedikit penyakit itu di bahunya.

Apakah makna kisah Uwais ini?

Jangan pernah kita melihat orang dari luarnya saja. Terlebih jika kita melihatnya dengan tatapan hina ataupun sangkaan yang buruk. Karena, kita tidak pernah mengetahui hakikat orang tersebut. Karena, bisa saja orang yang kita anggap hina justru jauh lebih baik di mata Allah ketimbang kita sendiri.

Seperti apa yang Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus ajarkan kepada anaknya setelah anaknya itu baligh. Ia meminta sang anak mencari yang si anak lebih baik daripada orang tersebut di luar sana. Apa saja, siapa saja.

Anak itu pun pergi, mencari yang dimaksud sang ayah. Ia pikir, banyak orang yang ia lebih baik daripada orang itu — seperti pikiran kita sering kali kan seperti itu, merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia mendapat ide untuk mencari di tempat maksiat, dan menemukan seorang yang sedang mabuk. Ia pun membawa orang itu bersamanya sambil berpikir, ia mabuk saya tidak, saya lebih baik daripada orang ini. Tapi, kemudian ia berpikir lagi. Jika orang ini kemudian tobat dan tidak mabuk-mabukan lagi, orang ini tinggi derajatnya di sisi Allah. Allah mencintai hamba-hambanya yang bertobat. Si anak pun menyadari bahwa mungkin belum tentu ia lebih baik daripada orang itu.

Lalu, ia mencari lagi. Dan, ia melihat seekor anjing. Dan, ia pun merasa menemukan yang ia cari. Walau bagaimanapun ia adalah manusia dan si anjing hanyalah binatang. Saat membawa anjing itu pulang, ia teringat salah satu ayat yang menyatakan bahwa setelah hari akhir orang-orang yang kafir berteriak andai mereka menjadi tanah. Mengapa mereka berteriak begitu? Ternyata, hewan-hewan setelah dihisab di akhirat, mereka menjadi tanah. Mereka berteriak begitu karena mereka berandai jika mereka tak perlu menjadi manusia.

Si anak berpikir lagi, bagaimana jika nanti di akhirat aku tidak dapat melewati shirotol mustaqim, maka aku tidak lebih baik dari anjing ini.

Maka, ia pun pulang dan mengatakan kepada sang ayah bahwa tak ada orang di muka bumi yang lebih baik daripadanya.

Sang ayah pun berkata, “Sekarang, Nak, kamu telah menjadi orang dewasa.”

Sudahkah kita menjadi orang dewasa juga?

—————————————————————-

Demikianlah kira-kira apa yang tadi dapat aku tangkap dari pengajian Ustadzah Halimah kali ini. Semoga apa yang aku sarikan di sini dapat membawa manfaat baik bagi aku pribadi maupun bagi teman-teman yang membaca. Amin. Jika ada kesalahan, itu semata datang dari aku, karena keterbatasanku dalam menyerap ilmu. Mohon dibukakan pintu maaf.

[Foto oleh Owais Khan]

Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

Recipes for a Perfect Marriage (Resep Perkawinan Sempurna) Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

My rating: 5 of 5 stars
Tak ada pernikahan yang mudah. Yang ada adalah dua orang yang berusaha membuatnya menjadi mudah.

Mungkin bukan itu yang ingin didengar oleh pasangan yang baru saja saling mengikat janji. Tapi, memang begitulah adanya.

Dan, buku ini menggambarkannya dengan sangat baik. Diolah dalam bentuk novel, padahal sesungguhnya begitu banyak pemikiran, nasihat, atau tips yang bisa dicatat oleh pembaca mengenai pernikahan. Namun, alih-alih merasa digurui, pembaca justru diajak tersenyum atau menghela nafas saat terdapat kemiripan pengalaman dengan kedua tokoh utama, Bernadine dan Tressa — terutama pembaca yang berstatus istri.

Namun, buku ini bukan semata mengangkat resep-resep menuju perkawinan sempurna. Tak sedikit pula pembahasan mengenai kehidupan. Seperti pada salah satu kutipan yang kupaling sukai:

“Hidup ini kadang-kadang keras, tapi kita membuatnya jadi lebih keras lagi melalui cara pandang kita.”

Dan, terdapat banyak kalimat-kalimat lainnya yang membuat pembaca berpikir, tersenyum, atau merasa terenyuh.

Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang berpredikat istri. Baik yang sedang berusaha membangkitkan lagi cinta dalam perkawinan mereka ataupun yang pasrah akan ada atau tidaknya cinta dalam perkawinan mereka. Karena, sesungguhnya, ada banyak hal lain dalam sebuah perkawinan selain cinta yang pada akhirnya justru menumbuhkan bentuk cinta yang sesungguhnya dalam perkawinan.

View all my reviews >>