Belajar Ikhlas dan Ridho
Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.
Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.
Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.
Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.
Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.
Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.
Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.
Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.
Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.
Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.
Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.
Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.
Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]
Tu wa ga pat! Itu mah gerak jalan. Ini bukan. Hehehe…cuma jalan kaki biasa, dari pasar atau ATM ke rumah. Jaraknya berapa ya? Yaaa pokoknya nggak jauh-jauh amat lah. Tapi, cukup untuk menghasilkan setetes dua tetes keringat. Semoga benar-benar bisa jadi ajang jalan sehat buatku.
Oh ya, satu hal lagi yang membuatku bersemangat adalah acara televisi yang ditayangkan di channel Diva (dulu Hallmark), The Biggest Loser. Acara The Biggest Loser ini menyuguhkan sekelompok orang berbadan gemuk yang berkeinginan untuk menurunkan berat badan. Awalnya, mereka memiliki berat badan hingga ratusan kilo. Tapi, dalam beberapa bulan, ada yang bahkan bisa menurunkan berat badannya hingga puluhan kilo!
Aku teringat salah satu episode dalam serial televisi “Kiamat Sudah Dekat.” Ketika peran yang dimainkan oleh Deddy Mizwar meminta peran yang dimainkan oleh Andre Taulany untuk mempelajari makna ikhlas sebagai syarat untuk dapat mempersunting anaknya — yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Dan, akhirnya, Andre Taulany merelakan Zaskia Adya Mecca yang sangat dicintainya untuk menikah dengan pria pilihan Deddy Mizwar. Dan, saat itulah Deddy Mizwar justru melihat bahwa Andre Taulany sudah memahami makna ikhlas.
Anyway, setelah ngedumel panjang kali lebar 