• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Feb 20

Doa sebelum Masak

Sejak kecil kita diajarkan doa sebelum makan. Tapi, pernah kah kita diajarkan doa sebelum masak?

Sebenarnya, setiap kali hendak beraktivitas, apapun itu, hendaknya kita berdoa. Tapi, kita ingatnya hanya saat mau makan, tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, dll., doa-doa yang sering diajarkan sejak kecil.

Belum lama ini, saya mengobrol dengan mertua yang memang kesehariannya senang memasak. Ummi — begitu saya memanggilnya — mengingatkan bahwa bagaimanapun masakan rumah lebih baik daripada masakan di luar.

Selain karena kita yakin akan kebersihannya, juga karena setiap hendak memasak, hendaknya kita berdoa, atau menyebut asma-Nya.

“Mau nyalain kompor, Ummi baca Bismillah, mau mulai ngegoreng, Ummi baca Bismillah.”

Subhanallah. Iya juga ya.

Saya sendiri masih nebeng masak dengan Mama saya. Insya Allah Mama dan Mbak Is (saudara yang membantu Mama memasak) juga selalu mengucapkan Bismillah saat hendak memasak.

Buat yang suka memasak di rumah, yuk, kita sebut asma-Nya sebelum mulai memasak.

Foto: Tiago Pantaleao, Barcelona, Spain (it’s his own father’s farm kitchen; beautiful, isn’t it?)

Jan 07

Persahabatan

Tadi pagi, aku, Papa, adikku, dan Hana menemani Mama periksa rutin ke dokter. Hihi. Iya, rame-rame. Papa pingin tetap ikut meskipun tugas menyetir sudah diambil alih adikku. Hana? Dia sih memang ke mana emaknya pergi maunya ngintilin terus.

Alhamdulillah, kata dokter, sudah ada kemajuan. Dan yang penting dokter optimis akan kesembuhan Mama. Menularkan semangat ke pasien, si Mama, dan aku, yang ikut nemenin ke dalam ruangan dokter — Papa, adikku, dan Hana tunggu di luar.

Setelah selesai periksa, Mama mengajak kami menjenguk sahabatnya yang sedang sakit di rumah sakit lain. Kebetulan masih sama-sama di selatan Jakarta. Kuyakinkan Mama, “Mama nggak pusing? Kuat? Nggak capek?”

“Nggak. Bisa kok,” jawab Mama pasti.

Mobil pun meluncur ke sana. Sebenarnya, aku sudah merencanakan untuk menjenguk sahabat Mama satu ini sore harinya, tanpa Mama. Tapi Mama pingin ikut. Jadi sekalian deh.

Waktu Mama dirawat beberapa minggu silam, sahabatnya yang sudah seperti saudara ini datang menjenguk juga lho.  Bahkan, tante baik hati ini lah yang membantu membujuk Mama untuk menyetujui sebuah tindakan medis yang disarankan dokter. Padahal, tadinya Mama takut dan menolak. Padahal, saat itu ia juga sedang kurang enak badan. Kakinya lagi bengkak.

Yang lebih membantu lagi, anak perempuan sahabat Mama ini sudah selesai mengambil spesialisasi internis di FKUI — usianya di bawahku lho. Jadi, sedikit-sedikit, aku memang konsul kepadanya soal Mama. Aku yakin ia akan jadi dokter hebat. Psssttt…bahkan penjelasannya lebih detil daripada yang kudapat dari tim dokter yang menangani Mama di rumah sakit.

Tadi, saat Mama memasuki ruangan, sahabatnya itu kayaknya seneng banget. Walau sambil bilang, “Duh, gue marah deh Emma pake dateng segala,” senyum merekah di bibirnya.

Hihi. Ternyata si Tante nggak mau ngerepotin Mama. Padahal Mama malah seneng bisa ketemu langsung sama sahabatnya, daripada cuma nanya-nanya ke aku soal kondisi si Tante.

Melihat mereka ngobrol, aku merasakan haru. Persahabatan yang sudah berpuluh tahun itu terus terjaga dengan baik. Kelihatan banget mereka saling sayang. Pembicaraan yang terjalin begitu indah, santun namun santai.

Ah, aku segera berdoa dalam hati. Semoga Mama dan sahabatnya itu (dan sahabat-sahabatnya yang lain) segera sembuh total dan selalu diberi kesehatan oleh Allah agar mereka bisa terus menjalin persahabatan dan silaturahmi. Aamiin.

Indah ya hidup ini jika kita dikelilingi para sahabat yang selalu mendukung dalam suka maupun duka? Care to share your story tentang sahabat tersayang? :)

Foto: by Martine Sansoucy 

Jan 05

Buat Mama

Selamat ulang tahun, Ma.

Semoga Mama panjang umur dalam nikmat sehat dan iman Islam.

Ma, di ulang tahun Mama, Nad mau berterima kasih dan minta maaf.

Terima kasih karena Mama selalu ada buat Nad. Dari hal besar, sampai yang sekecil-kecilnya, Mama selalu dukung Nad.

Maaf karena Nad sering ngerepotin Mama. Dari hal besar, sampai yang sekecil-kecilnya, Nad selalu deh, apa-apa Mama.

Karena memang, sama Mama lah Nad bisa bersandar. Sama Mama Nad bisa cerita. Sama Mama Nad bisa nangis. Sama Mama Nad bisa ketawa.

*bentar ya, Ma, Nad hapus air mata dulu*

Sampai saat ini, Nad belum bisa kasih apa-apa buat Mama. Nad belum bisa bahagiain Mama.

Kalau Mama tahu isi hati Nad, pingin rasanya Nad kasih semua yang terbaik dan terindah buat Mama. Tapi Nad tahu, sekarang ada yang bisa kasih semua itu buat Mama. Semoga Allah memberikan berkah kepadanya dan melindunginya. Aamiin.

Waktu Mama sakit kemarin, nggak ada yang indah di mata Nad, nggak ada yang sejuk di hati Nad.

Ma, sehat terus ya. Buat kita semua. Kita sayang Mama, sayang banget. Coba deh, tanya ke semua orang yang kenal Mama, ada yang nggak sayang sama Mama? Nggak ada, Ma. Nad yakin. Makanya Mama jaga kesehatan ya.

Buat Nad, Mama juga pedoman, contoh, suri tauladan. Semoga suatu hari nanti, Nad bisa kayak Mama. Selalu berusaha menyenangkan hati orang lain.

Nggak akan Nad lupa waktu Mama paksain makan masakan rumah sakit cuma karena Mama kasihan sama ibu-ibu yang masak yang dengan sedihnya bilang, “Ibu nggak suka ya masakan di sini?”

Walau sedikit, akhirnya Mama makan juga – Nad bantuin ngabisin bakso di capcaynya, hehe – padahal mulut Mama lagi sariawan banget. Dan ibu-ibu itu kayaknya seneng banget pas lihat Mama makan masakannya – yang rasanya adem dan bumbunya kayak belum mateng itu, hehe. Dan Mama ikut seneng.  :)

Ma, terima kasih sudah jadi Mama Nad, memberikan semua yang terbaik buat Nad. Semoga Allah memberi kebahagiaan yang jauh lebih banyak buat Mama, jauh lebih banyak daripada yang Mama pernah kasih ke Nad.

Semoga suatu hari nanti, Nad bener-bener bisa bahagiain Mama. Aamiin.

Happy birthday, Ma. I love you. So much!

- Nadiah Alwi, your only daughter -

[Foto: oleh Hana, dengan kamera HP]

Aug 30

Ending PPT 5

para-pencari-tuhanDi awal kisah PPT 5 silam, saya sempat menuliskan tentang kisah-kisah apa saja yang sepertinya akan diangkat di postingan ini.

Ternyata, banyak sekali kisah yang berkembang. Namun ada satu tema yang tampaknya sangat menonjol di PPT 5 ini. Yaitu permasalahan dalam rumah tangga dan bagaimana tokoh-tokoh di sinetron ini menyikapinya.

Saya menerka, tema ini khusus diangkat dan ditempelkan pada beberapa tokoh sekaligus karena begitu banyak permasalahan dalam rumah tangga yang muncul sekarang ini. Dan, sayangnya, beberapa berakhir dengan memprihatinkan. Padahal, mungkin tak sedikit yang masih bisa diselamatkan. Seperti dalam kisah PPT 5 ini.

  • Mengenai permasalahan keuangan yang dialami oleh Pak Jalal dan istrinya. Hal ini pernah diangkat saat Bang Asrul dan Kak Mira masih dalam kekurangan. Sungguh indah penerimaan Kak Mira akan keadaan mereka saat itu. Namun, dalam PPT 5, diangkat pula betapa sesungguhnya Pak Jalal sebagai suami tetap harus memperjuangkan kehidupan keluarganya dan mencari nafkah dengan serius meskipun sang istri sudah dapat menerima keadaan mereka. Tak dapat dipungkiri, saat ini perekonomian tak menentu. Mungkin tak jarang yang akhirnya memutuskan untuk berpisah karena permasalahan ini. Namun, apakah perpisahan harus menjadi satu-satunya jalan keluar, padahal masih banyak yang dapat disyukuri di sisi lain kehidupan mereka?
  • Permasalahan Kak Mira yang masih merasa tidak nyaman dan aneh dengan perubahan dalam diri Bang Asrul. Padahal, sejatinya Bang Asrul hanya menjalankan sunah-sunah Rasul, salah satunya adalah memakai celak. Setelah dinasihati Bu Ustadz dan mendengarkan penjelasan Bang Asrul, Kak Mira tampak menerima perubahan Bang Asrul.
  • Rencana perceraian Udin dan Herlina. Yang diangkat di sini sepertinya lebih kepada betapa tidak dibenarkannya bagi seorang perempuan yang meminta cerai dengan alasan yang tidak dibenarkan syariat ataupun dengan main-main. Menurut keterangan Kak Haifa alias Bu Ustadz, diharamkan baginya mencium bau surga. Sepertinya Herlina memang tidak serius dengan permintaan cerainya, sehingga ia sangat terkejut mendengar penjelasan itu. Dan pada tampaknya perceraian pun tidak terjadi.
  • Hubungan saling menguatkan yang terbangun di antara Ustadz fery dan Kak Haifa. Tampak jelas Kak Haifa menjadi istri yang sangat intens dalam memberi dukungan kepada sang suami, bagaimana pun keadaannya. Dalam susah maupun senang.
  • Permasalahan CLBK Azzam dan Kalila. Duh, saya benar-benar merasa tidak simpatik kepada Kalila pada PPT 5 ini. Satu sisi, ia memang menjadi korban. Namun, di sisi lain, ia juga menjadi pelaku utama kekacauan yang terjadi dalam rumah tangga Azzam dan Aya. Alhamdulillah, pada akhirnya Azzam menyadari bahwa Aya lah permaisurinya yang sesungguhnya, bukan Kalila.
  • Permasalahan poligami dan ibu mertua yang mendera Aya. Bagi saya, Aya adalah tokoh yang unik. Karena, di satu waktu dapat membuat saya gemas setengah mati, namun di waktu lain bisa membuat saya menyayanginya bak adik sendiri. Caranya menyikapi kedua masalah itu juga unik. Pun caranya memperbaiki hubungannya dengan sang suami. Manis.

Ending PPT 5 ini menurut saya indah. Terutama karena dibacakannya surat Ar-Rahman yang berhasil membuat hati saya gerimis.

Juga kata-kata Aya, “Terlalu banyak kenikmatan yang kurang kusyukuri.”

Ditambah lagi dengan kalimat terakhir Bang Jack, “Ajari aku untuk terus bersyukur ya Allah. Hidup terlalu singkat untuk hanya dikenali keburukannya.”

Dalam hubungan suami-istri, tentu ada saja kerikil yang menganggu, entah itu tajam ataupun tidak. Namun, seperti halnya dalam bentuk hubungan apapun antar manusia, tidak ada yang tidak dapat diperbaiki.

Seperti kalimat Bang Jack, “Setiap orang boleh nyari jalan keluar, tapi sebaek-baeknya pertolongan hanya kepada Allah.”

Semoga kita semua dapat menghalau kerikil-kerikil itu dengan bantuan pertolongan dari Allah. Dan, walaupun kerikil itu tak kunjung pergi, semoga kita tetap dapat melihat hal-hal indah yang patut disyukuri dalam hubungan yang komitmennya kita buat di hadapan Allah tersebut. Aamiin.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Aug 15

PPT 5: Dialog Udin dan Asrul

asrul-udin-pptDialog antara dua sahabat, Udin dan Asrul, di Sinetron Para Pencari Tuhan kerap membuat saya berkerut kening walau tak jarang juga membuat saya tertawa.

Dialog barusan tentang betapa keluarga adalah urusan dunia yang kita yang sebaiknya kita cintai  dengan sewajarnya saja, tidak terlalu berlebihan, apalagi menghamba. Karena pada akhirnya akan diambil kembali oleh-Nya, entah dengan cara yang menyakitkan ataupun tidak membuat saya terhenyak.

Terlebih dialog lanjutan mereka:

Udin: Boleh nangis?

Asrul: Boleh, tapi jangan sampai meraung-raung, seakan Allah hanya mampu menghadirkan kesusahan dalam hidupmu.

Subhanallah.

Dialog itu membuat saya berkaca dengan beribu bahkan berjuta air mata yang pernah menetes di pipi ini. Terkadang, jika sedang dirundung malang, kita bisa menangis sejadi-jadinya. Padahal, jika hal itu telah berlalu, toh pada akhirnya kita bisa melanjutkan hidup. Jadi, apa makna tangis kita itu sebenarnya?

Ada yang bilang, tangis bisa membuat kita merasa lega. Saya mau tidak mau setuju. Setelah selesai mengumbar kesedihan lewat air mata, biasanya dada menjadi plong. Tapi mudah-mudahan setelah diingatkan oleh Asrul melalui dialognya di atas, saya akan lebih beradab dalam menangis. Amin.

Foto dari: FB Udin Nganga dan Asrul Dahlan

Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top