• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Dec 06

Sekolah Lagi Berkat Blogfam

sekolah lagiSekolah lagi? Iya. Sudah beberapa minggu ini saya sekolah lagi. Menyenangkan sekali. Karena, sekolah yang saya ikuti adalah sekolah menulis.

Semenjak lulus dari Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Salah satu bidang yang saya minati adalah Creative Writing. Sayangnya, sepertinya program master dalam bidang ini hanya ada di luar negeri.

Karena tidak punya cukup uang untuk membiayai sendiri, saya pernah mendaftar program beasiswa. Tidak diterima, karena background saya di swasta (saat itu saya masih bekerja kantoran). Nggak nyambung dengan pekerjaan saya.

Karena itu, demi memuaskan minat saya dalam bidang kepenulisan dan kesukaan saya dalam belajar tentang kepenulisan, saya mengikuti beberapa workshop kepenulisan.

Pertama dulu sekali, di awal tahun 2004, saat saya sedang mengandung Hana. Workshop tersebut diselenggarakan oleh majalah MataBaca.

Dan, sekarang, saya sedang mengikuti Workshop Menulis Cerita Anak yang diadakan secara online oleh Blogfam — yang hari ini sedang berulang tahun ketujuh, selamat ya! Workshop ini, meski diadakan online, tidak main-main lho!

Sang pengajar yang telaten — yang juga penulis terkemuka, Kang Iwok Abqary, memberikan materi dan tugas dengan serius. Karenanya, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mangkir dari kelas dan mengerjakan tugas tepat pada waktunya. Masa gurunya serius, muridnya main-main? Rugi dong ah!

Kian hari materi dan tugas yang diberikan kian menyenangkan. Saya merasa, workshop ini mengobati keinginan saya kuliah Creative Writing yang terpaksa dipudarkan oleh keadaan. Workshop ini juga mengobati kerinduan saya akan mata kuliah Penulisan Populer yang pernah saya ambil saat kuliah dulu — mata kuliah favorit saya dengan dosen seorang penulis, Bapak Ismail Marahimin.

Jika dulu mata kuliah PenPop — begitu kami biasa menyingkat mata kuliah Penulisan Populer — dapat menggali minat saya dalam tulis-menulis yang sempat terkubur karena kesibukan kuliah — yang meski di Fakultas Sastra namun tidak terlalu banyak berhubungan dengan tulis-menulis, kecuali menulis makalah yang bejibun. Maka, Workshop Menulis Cerita Anak ini mulai membangkitkan keinginan terpendam saya untuk menulis cerita anak.

Selama ini, terlalu banyak yang membuat saya khawatir tentang menulis untuk anak. Namun, sepertinya workshop menarik ini mampu menghalau semua kekhawatiran saya. Tentunya, itu berkat ketelatenan Pak Guru Iwok — yang kerap digoda oleh para muridnya dengan panggilan Cik Gu ala Upin Ipin.

Oh ya, hebatnya, workshop ini tidak dipungut biaya sesen pun! Maka, yang dapat saya haturkan hanyalah doa yang tulus untuk rekan-rekan penggagas dan penyelenggara workshop ini di Blogfam.

Yang bisa saya sebutkan di sini di antaranya Mbak Indah Juli yang memberi informasi workshop ini via twitter, Bapak Kepala Sekolah Jaf yang rajin merapikan kelas dan memberi info menarik, dan tentunya Pak Guru Iwok Abqary yang telah mengajar dengan sabar dan dengan sangat menarik. Semoga kebaikan ketiganya dapat membawa kebaikan yang lebih indah lagi dalam kehidupan mereka. Amin.

Dan, sekali lagi, selamat ulang tahun untuk Blogfam! Terima kasih ya, berkat Blogfam saya bisa sekolah lagi!

Nov 08

Belajar Ikhlas dan Ridho

Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.

Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.

Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.

Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.

Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.

Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.

Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.

Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.

Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.

Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.

Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.

Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.

Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

perempuan ikhlas

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]

Nov 05

Jalan Sehat

jalan sehatTu wa ga pat! Itu mah gerak jalan. Ini bukan. Hehehe…cuma jalan kaki biasa, dari pasar atau ATM ke rumah. Jaraknya berapa ya? Yaaa pokoknya nggak jauh-jauh amat lah. Tapi, cukup untuk menghasilkan setetes dua tetes keringat. Semoga benar-benar bisa jadi ajang jalan sehat buatku.

Oke, kuakui, aku memang agak ndut. Catat, AGAK (baca: lumayan). Dulu, keinginan untuk diet besaaaaar sekali. Tapi, aku akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Buat apa menyengsarakan diri dengan keinginan berdiet? Just enjoy life while you can. Yang penting sehat.

Semenjak saat itu, aku cuek bebek sama yang namanya menjaga makan. Yang penting happy!

Tapi, beberapa waktu silam, aku menderita diare sampai dua minggu. Kenapa lama sekali? Karena, alhamdulillah aku tidak dehidrasi. Jadi, aku tidak meminum obat pemampet diare. Biarlah racun-racun itu keluar dari tubuhku. Akibatnya, berat badanku turun hingga 4 – 5 kiloan.

Semua orang terpana *lebaynya*. Dan, aku kok ya merasa nyaman juga jadinya dengan tubuhku.

Semenjak saat itu, aku pun mengurangi jumlah nasi yang kumakan saat makan malam. Memang, berat badanku tidak turun lagi. Tapi, paling tidak ya tidak bertambah juga.

Lalu, apa hubungannya dengan jalan sehat? Begini, setiap pagi, aku bertugas mengantar anak ke sekolah — tentang anakku, bisa diintip di http://TingkahAnak.com. Dan, terkadang, aku harus ke ATM atau ke pasar setelahnya, jadi aku minta Papaku yang membantu mengantarkan aku dan anakku ke sekolah setiap pagi untuk menurunkan aku di sana, dan ditinggal saja, tidak usah ditunggu.

Nah, selain untuk mengirit ongkos — biasanya aku dari pasar ke rumah naik bajaj, setelah urusanku di pasar atau ATM selesai, aku coba-coba pulang dengan berjalan kaki. Ternyata, setelah jalan pagi itu, kok rasanya lebih segar?

Maka, sudah seminggu ini, aku berjalan pagi. Pinginnya sih dari sekolah anakku tapi kok lumayan jauh ya? Sementara dari pasar dulu lah.

Selain itu, kepergian seorang teman SMP yang begitu tiba-tiba akibat stroke membuatku merasa perlu lebih memperhatikan kesehatan. Memang, ajal akan tiba tanpa bisa kita hindari, tapi berusaha menjaga kesehatan juga penting. Semacam kewajiban kita terhadap tubuh tempat tuh kita menetap selama di bumi ini. Ya tak?

the-biggest-loser-mikeOh ya, satu hal lagi yang membuatku bersemangat adalah acara televisi yang ditayangkan di channel Diva (dulu Hallmark), The Biggest Loser. Acara The Biggest Loser ini menyuguhkan sekelompok orang berbadan gemuk yang berkeinginan untuk menurunkan berat badan.  Awalnya, mereka memiliki berat badan hingga ratusan kilo. Tapi, dalam beberapa bulan, ada yang bahkan bisa menurunkan berat badannya hingga puluhan kilo!

Caranya, mereka mengatur pola makan dan berolahraga. Dan, pada akhirnya, bukan saja mereka menjadi lebih ramping tapi mereka juga menjadi lebih sehat. Yang kedua ini sungguh menginspirasi!

Karena, sekarang banyak sekali produk-produk yang mengklaim dapat menurunkan berat badan, tapi apakah menyehatkan? Terlebih lagi, beberapa produk diet tersebut harganya mahal sekali. Jujur, aku tidak punya uang sebanyak itu.

Jadi, kuputuskan untuk menjadi sehat dengan agak menjaga pola makan dan berolahraga meski tidak seintens para peserta The Biggest Loser. Yang kucoba adalah sesekali memasak makanan yang lebih sehat, tidak terlalu sering ngemil, dan jalan sehat tadi itu — yang sesekali diikuti dengan olahraga kecil-kecilan di rumah, sambil menginat-ingat gerakan aerobik yang pernah kupelajari saat senam dulu, sebelum menikah hehehe.

Hidup sehat, bisa! Yang murah: jalan sehat!

Semangat!

[Ket. Gambar: Foto Mike The Biggest Looser dari http://www.biggest-loser.org/before-and-after-photos/, foto orang jogging hasil bidikan Tim & Annette]

Oct 29

Terpicu dan Terpacu

Saya adalah seoorang ibu — udah ibu-ibu maksudnya. Hehe. Tentang anak saya bisa dibaca-baca di http://TingkahAnak.com. Intinya, ia adalah seorang anak perempuan berambut kriwil berusia 6 tahun.

Yang ingin saya bahas di sini adalah tentang kebiasaan baru anak saya itu yang kemudian membuat saya terpicu dan terpacu.

Eh iya…sebelumnya…kali ini saya ber-saya ria ya. Lagi pingin aja. Hehehe…

Nah, balik lagi ke topik pembahasan. Kebiasaan baru anak saya itu adalah menulis. Bukan menulis di buku — yang sebenarnya harus ia lakukan karena pesan gurunya saat memberikan rapot bayangan beberapa waktu silam adalah agar saya mengajak Hana berlatih menulis untuk memperbaiki tulisan tangan putri kriwil saya itu. Melainkan, menulis di program Word, di komputer.

Kebiasaan ini sebenarnya berawal dari keinginan Si Kriwil untuk ngeblog seperti saya. Saat ini ia memiliki dua blog: http://hanaimut.blogspot.com/ dan http://hana.tingkahanak.com/.

anak-menulis-di-komputerDan, setelah melihat saya sibuk menulis di Word dan setelah mengoleksi buku yang ditulis oleh anak-anak juga, ia pun menulis juga.

Kadang, bahkan, saya atau Abinya harus mengalah. Ia menguasai si Macho, laptop mungil saya yang hitam manis. Di lain waktu, ia menguasai PC Abinya.

Tapi, lama-lama, saya malu sendiri. Hana begitu bersemangat. Apalagi setelah saya berjanji untuk mengumpulkan serakan tulisannya dan mengirimkannya kepada penerbit.

“Hana pingin punya buku kayak Kak Ramya, Kak Putri Salsa, Kak Rizki, Kak Sri Izzati.”

Huhuhu. Kalah semangat nih sama anak kecil umur 6 tahun! Asli, malu deh. Masa dia yang jalannya masih panjang aja sesemangat itu, sementara saya yang sudah tua bangka jauh lebih dewasa ini masih santai aja?

Akhirnya, saya pun menetapkan diri. Tak ada hari tanpa menulis. Meskipun sehari hanya 1 – 2 halaman, tak mengapa. Yang penting ada progress dalam tulisan saya.

Oh ya, sekarang saya sedang asyik menulis sebuah novel. Sedikit cerita tentang tulisan saya ada di sini. Di samping itu, seorang sahabat baik hati mengusulkan sebuah ide cemerlang untuk buku non-fiksi yang saat ini sedang saya buat kerangkanya.

Kita lihat saja, apakah sebelum tiga kepala saya memiliki lima buntut saya sudah memiliki buku-buku selanjutnya atau belum. Kalau belum, saya perlu tiga kali menjitak kepala saya sendiri!

http://nadiahalwi.com/english/writing-with-for-and-about-sam/
Sep 18

Makna Ikhlas dan Ridho

Sejak dulu, sampai sekarang, aku masih berusaha memahami makna ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya. Ikhlas yang membawa bahagia. Ikhlas yang membawa ketenangan.

Mengapa harus memahami makna ikhlas?

Aku merasa butuh memahami makna ikhlas karena aku yakin bahwa itu adalah jalan terindah menuju kebahagiaan.

Kesannya mengawang-ngawang banget ya kalimatku di atas? *wink* Tapi, ya memang begitu adanya. Gimana dong?

Sebagai permulaan, aku mencari makna kata ikhlas di KBBI >> ikh·las a bersih hati; tulus hati; meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan; ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan.

Definisi Ikhlas dalam bahasa Indonesia ternyata berbeda dengan dalam bahasa asalnya, bahasa Arab.

Berikut ini, aku kutip penjelasan ikhlas dalam blog M.D. Faisal tentang ikhlas:

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Dan, berikut ini, penjelasan oleh M.D. Faisal tentang ridho:

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka. Seperti yang dikatakan oleh Habib Riziq Shahab yang disarikan oleh Usman Hasan, ” Ikhlas menyebabkan kita tidak mudah berputus asa.”

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

Tapi, apa daya, aku masih dalam proses mempelajari makna ikhlas dan ridho. Terkadang, Alhamdulillah, aku dapat merasakan sedikit ikhlas dan ridho itu. Tapi, ada kalanya, tidak. Jadi, aku masih harus banyak belajar.

kiamat-sudah-dekatAku teringat salah satu episode dalam serial televisi “Kiamat Sudah Dekat.” Ketika peran yang dimainkan oleh Deddy Mizwar meminta peran yang dimainkan oleh Andre Taulany untuk mempelajari makna ikhlas sebagai syarat untuk dapat mempersunting anaknya — yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Dan, akhirnya, Andre Taulany merelakan Zaskia Adya Mecca yang sangat dicintainya untuk menikah dengan pria pilihan Deddy Mizwar. Dan, saat itulah Deddy Mizwar justru melihat bahwa Andre Taulany sudah memahami makna ikhlas.

Seperti kata seorang sahabat dengan siapa aku sering berdiskusi tentang kehidupan dan bagaimana bisa ikhlas menjalaninya, “Ikhlas memang mdh diucap, disampaikan, diangankan, dilamunkan, diharapkan. Tapi perlu perjuangan dlm eksekusinya dlm kehidupan :) .”

Hm…semoga kita semua mampu memahami dan menghayati makna ikhlas dan ridho. Bukan hanya demi kebahagiaan kita kelak di akhirat, namun juga demi kebahagiaan kita di dunia. Amin.

[Ket gambar: diambil dari potongan youtube]

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top