güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Belajar Ikhlas dan Ridho

Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.

Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.

Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.

Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.

Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.

Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.

Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.

Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.

Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.

Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.

Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.

Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.

Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

perempuan ikhlas

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]

Jalan Sehat

jalan sehatTu wa ga pat! Itu mah gerak jalan. Ini bukan. Hehehe…cuma jalan kaki biasa, dari pasar atau ATM ke rumah. Jaraknya berapa ya? Yaaa pokoknya nggak jauh-jauh amat lah. Tapi, cukup untuk menghasilkan setetes dua tetes keringat. Semoga benar-benar bisa jadi ajang jalan sehat buatku.

Oke, kuakui, aku memang agak ndut. Catat, AGAK (baca: lumayan). Dulu, keinginan untuk diet besaaaaar sekali. Tapi, aku akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Buat apa menyengsarakan diri dengan keinginan berdiet? Just enjoy life while you can. Yang penting sehat.

Semenjak saat itu, aku cuek bebek sama yang namanya menjaga makan. Yang penting happy!

Tapi, beberapa waktu silam, aku menderita diare sampai dua minggu. Kenapa lama sekali? Karena, alhamdulillah aku tidak dehidrasi. Jadi, aku tidak meminum obat pemampet diare. Biarlah racun-racun itu keluar dari tubuhku. Akibatnya, berat badanku turun hingga 4 – 5 kiloan.

Semua orang terpana *lebaynya*. Dan, aku kok ya merasa nyaman juga jadinya dengan tubuhku.

Semenjak saat itu, aku pun mengurangi jumlah nasi yang kumakan saat makan malam. Memang, berat badanku tidak turun lagi. Tapi, paling tidak ya tidak bertambah juga.

Lalu, apa hubungannya dengan jalan sehat? Begini, setiap pagi, aku bertugas mengantar anak ke sekolah — tentang anakku, bisa diintip di http://TingkahAnak.com. Dan, terkadang, aku harus ke ATM atau ke pasar setelahnya, jadi aku minta Papaku yang membantu mengantarkan aku dan anakku ke sekolah setiap pagi untuk menurunkan aku di sana, dan ditinggal saja, tidak usah ditunggu.

Nah, selain untuk mengirit ongkos — biasanya aku dari pasar ke rumah naik bajaj, setelah urusanku di pasar atau ATM selesai, aku coba-coba pulang dengan berjalan kaki. Ternyata, setelah jalan pagi itu, kok rasanya lebih segar?

Maka, sudah seminggu ini, aku berjalan pagi. Pinginnya sih dari sekolah anakku tapi kok lumayan jauh ya? Sementara dari pasar dulu lah.

Selain itu, kepergian seorang teman SMP yang begitu tiba-tiba akibat stroke membuatku merasa perlu lebih memperhatikan kesehatan. Memang, ajal akan tiba tanpa bisa kita hindari, tapi berusaha menjaga kesehatan juga penting. Semacam kewajiban kita terhadap tubuh tempat tuh kita menetap selama di bumi ini. Ya tak?

the-biggest-loser-mikeOh ya, satu hal lagi yang membuatku bersemangat adalah acara televisi yang ditayangkan di channel Diva (dulu Hallmark), The Biggest Loser. Acara The Biggest Loser ini menyuguhkan sekelompok orang berbadan gemuk yang berkeinginan untuk menurunkan berat badan.  Awalnya, mereka memiliki berat badan hingga ratusan kilo. Tapi, dalam beberapa bulan, ada yang bahkan bisa menurunkan berat badannya hingga puluhan kilo!

Caranya, mereka mengatur pola makan dan berolahraga. Dan, pada akhirnya, bukan saja mereka menjadi lebih ramping tapi mereka juga menjadi lebih sehat. Yang kedua ini sungguh menginspirasi!

Karena, sekarang banyak sekali produk-produk yang mengklaim dapat menurunkan berat badan, tapi apakah menyehatkan? Terlebih lagi, beberapa produk diet tersebut harganya mahal sekali. Jujur, aku tidak punya uang sebanyak itu.

Jadi, kuputuskan untuk menjadi sehat dengan agak menjaga pola makan dan berolahraga meski tidak seintens para peserta The Biggest Loser. Yang kucoba adalah sesekali memasak makanan yang lebih sehat, tidak terlalu sering ngemil, dan jalan sehat tadi itu — yang sesekali diikuti dengan olahraga kecil-kecilan di rumah, sambil menginat-ingat gerakan aerobik yang pernah kupelajari saat senam dulu, sebelum menikah hehehe.

Hidup sehat, bisa! Yang murah: jalan sehat!

Semangat!

[Ket. Gambar: Foto Mike The Biggest Looser dari http://www.biggest-loser.org/before-and-after-photos/, foto orang jogging hasil bidikan Tim & Annette]

Terpicu dan Terpacu

Saya adalah seoorang ibu — udah ibu-ibu maksudnya. Hehe. Tentang anak saya bisa dibaca-baca di http://TingkahAnak.com. Intinya, ia adalah seorang anak perempuan berambut kriwil berusia 6 tahun.

Yang ingin saya bahas di sini adalah tentang kebiasaan baru anak saya itu yang kemudian membuat saya terpicu dan terpacu.

Eh iya…sebelumnya…kali ini saya ber-saya ria ya. Lagi pingin aja. Hehehe…

Nah, balik lagi ke topik pembahasan. Kebiasaan baru anak saya itu adalah menulis. Bukan menulis di buku — yang sebenarnya harus ia lakukan karena pesan gurunya saat memberikan rapot bayangan beberapa waktu silam adalah agar saya mengajak Hana berlatih menulis untuk memperbaiki tulisan tangan putri kriwil saya itu. Melainkan, menulis di program Word, di komputer.

Kebiasaan ini sebenarnya berawal dari keinginan Si Kriwil untuk ngeblog seperti saya. Saat ini ia memiliki dua blog: http://hanaimut.blogspot.com/ dan http://hana.tingkahanak.com/.

anak-menulis-di-komputerDan, setelah melihat saya sibuk menulis di Word dan setelah mengoleksi buku yang ditulis oleh anak-anak juga, ia pun menulis juga.

Kadang, bahkan, saya atau Abinya harus mengalah. Ia menguasai si Macho, laptop mungil saya yang hitam manis. Di lain waktu, ia menguasai PC Abinya.

Tapi, lama-lama, saya malu sendiri. Hana begitu bersemangat. Apalagi setelah saya berjanji untuk mengumpulkan serakan tulisannya dan mengirimkannya kepada penerbit.

“Hana pingin punya buku kayak Kak Ramya, Kak Putri Salsa, Kak Rizki, Kak Sri Izzati.”

Huhuhu. Kalah semangat nih sama anak kecil umur 6 tahun! Asli, malu deh. Masa dia yang jalannya masih panjang aja sesemangat itu, sementara saya yang sudah tua bangka jauh lebih dewasa ini masih santai aja?

Akhirnya, saya pun menetapkan diri. Tak ada hari tanpa menulis. Meskipun sehari hanya 1 – 2 halaman, tak mengapa. Yang penting ada progress dalam tulisan saya.

Oh ya, sekarang saya sedang asyik menulis sebuah novel. Sedikit cerita tentang tulisan saya ada di sini. Di samping itu, seorang sahabat baik hati mengusulkan sebuah ide cemerlang untuk buku non-fiksi yang saat ini sedang saya buat kerangkanya.

Kita lihat saja, apakah sebelum tiga kepala saya memiliki lima buntut saya sudah memiliki buku-buku selanjutnya atau belum. Kalau belum, saya perlu tiga kali menjitak kepala saya sendiri!

http://nadiahalwi.com/english/writing-with-for-and-about-sam/

Makna Ikhlas dan Ridho

Sejak dulu, sampai sekarang, aku masih berusaha memahami makna ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya. Ikhlas yang membawa bahagia. Ikhlas yang membawa ketenangan.

Mengapa harus memahami makna ikhlas?

Aku merasa butuh memahami makna ikhlas karena aku yakin bahwa itu adalah jalan terindah menuju kebahagiaan.

Kesannya mengawang-ngawang banget ya kalimatku di atas? *wink* Tapi, ya memang begitu adanya. Gimana dong?

Sebagai permulaan, aku mencari makna kata ikhlas di KBBI >> ikh·las a bersih hati; tulus hati; meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan; ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan.

Definisi Ikhlas dalam bahasa Indonesia ternyata berbeda dengan dalam bahasa asalnya, bahasa Arab.

Berikut ini, aku kutip penjelasan ikhlas dalam blog M.D. Faisal tentang ikhlas:

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Dan, berikut ini, penjelasan oleh M.D. Faisal tentang ridho:

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka. Seperti yang dikatakan oleh Habib Riziq Shahab yang disarikan oleh Usman Hasan, ” Ikhlas menyebabkan kita tidak mudah berputus asa.”

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

Tapi, apa daya, aku masih dalam proses mempelajari makna ikhlas dan ridho. Terkadang, Alhamdulillah, aku dapat merasakan sedikit ikhlas dan ridho itu. Tapi, ada kalanya, tidak. Jadi, aku masih harus banyak belajar.

kiamat-sudah-dekatAku teringat salah satu episode dalam serial televisi “Kiamat Sudah Dekat.” Ketika peran yang dimainkan oleh Deddy Mizwar meminta peran yang dimainkan oleh Andre Taulany untuk mempelajari makna ikhlas sebagai syarat untuk dapat mempersunting anaknya — yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Dan, akhirnya, Andre Taulany merelakan Zaskia Adya Mecca yang sangat dicintainya untuk menikah dengan pria pilihan Deddy Mizwar. Dan, saat itulah Deddy Mizwar justru melihat bahwa Andre Taulany sudah memahami makna ikhlas.

Seperti kata seorang sahabat dengan siapa aku sering berdiskusi tentang kehidupan dan bagaimana bisa ikhlas menjalaninya, “Ikhlas memang mdh diucap, disampaikan, diangankan, dilamunkan, diharapkan. Tapi perlu perjuangan dlm eksekusinya dlm kehidupan :) .”

Hm…semoga kita semua mampu memahami dan menghayati makna ikhlas dan ridho. Bukan hanya demi kebahagiaan kita kelak di akhirat, namun juga demi kebahagiaan kita di dunia. Amin.

[Ket gambar: diambil dari potongan youtube]

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbaik Sangka

foto islamiAlhamdulillah, pagi ini aku kembali berkesempatan untuk mengikuti pengajian bulanan Ustadzah Halimah Alaydrus di Tebet. Seperti beberapa pengajian sebelumnya, entah bagaimana somehow temanya seperti nyambung dengan apa yang ada di pikiranku atau suasana hatiku.

Kali ini temanya adalah berbaik sangka kepada Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Aku berusaha menyarikannya di sini sesuai dengan kemampuanku dalam menyerap pengajian tadi ya. Harap maklum jika banyak kekurangan.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada Allah SWT

Sering kita sebagai manusia selalu merasa dirundung malang, ditimba berbagai musibah, dan dilibat berbagai masalah. Kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Padahal, hey, semua orang juga punya masalah.

Yang sudah cukup umurnya namun belum menikah, merasa punya masalah. Yang sudah menikah, suaminya tampan dan ramah, juga punya masalah — cemburu, misalnya. Yang sudah menikah namun belum juga dikaruniai anak, masalah. Yang sudah dikaruniai anak — dan dikaruniai lagi dan lagi — juga merasa bermasalah.

Jadi, adakah manusia di muka bumi ini yang tidak bermasalah? Tidak, kan?

Kuncinya dalam menghadapi semua masalah itu adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Ya, sesederhana itu. Dan, insya Allah, yang muncul dalam hati kita adalah rasa syukur kepada-Nya.

Allah selalu memiliki maksud di balik semua yang Ia tetapkan. Dan, apa yang kemudian kita kenal dengan kata ‘hikmah‘ di balik masalah biasanya memang baru kita dapati setelah semua berlalu. Namun, cobalah menerka sedari sekarang.

Ini bukan contoh dari Ustadzah, tapi saya coba mencarikan saja contoh yang bisa saya olah di kepala — jadi maaf jika agak aneh atau konyol hehe. Misalkan, kita menikah dengan suami yang — maaf — kurang tampan, tapi coba bayangkan jika kita — yang ternyata pencemburu berat — menikah dengan pria tampan yang digila-gilai banyak perempuan, wah…sepertinya masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi ya? ;)

Jika katakanlah ada do’a-do’a kita yang belum diijabah oleh-Nya, itu karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun, salah satu cara agar Allah mengabulkan do’a kita adalah dengan berbaik sangka kepada-Nya. Bahwa, jika memang do’a kita berakibat baik bagi dunia dan akhirat kita, Ia akan mengabulkannya.

Hidup akan terasa sangat nikmat jika kita bisa terus berbaik sangka kepada Sang Pencipta.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada hamba-hamba Allah SWT

Pernahkah kita melihat seseorang dan menetapkan sebuah sangkaan yang kurang baik? Misalkan karena ia berbaju kumal, kotor, dan nampak hina? Astaghfirullah, nampaknya pernah ya?

Dan, pada pengajian pagi tadi Ustadzah mengangkat kisah Uwais al-Qarni. Pernah mendengar kan? Itu lho, yang dikisahkan sangat memuliakan ibunya. Tapi, tadi Ustadzah mengisahkan hal lainnnya tentang Uwais. Di antaranya adalah saat ia dalam perjalanan menuju Madinah bersama yang lainnya di atas sebuah kapal / perahu dari Yaman.

Di dalam kapal itu seorang kaya mengaku kehilangan barang berharga. Dicari ke mana-mana tak juga diketemukan. Semua menyangka Uwais yang saat itu sedang dengan khusyuknya sholat sebagai pelakunya, bahwa Uwais hanya berpura-pura sholat agar tidak dituduh.

Semua menunggu, namun Uwais tak kunjung selesai beribadah. Mereka semakin menyangka yang buruk kepada Uwais. Dan, tiba-tiba kapal itu pun terhempas ombak dan hancur berkeping-keping. Namun, Uwais seperti tidak menyadari keadaan di sekelilingnya dan ia tetap sholat. Ruhnya telah menang dari jasadnya. Ruhnya yang sedang bertemu dengan Allah SWT.

Semua yang telah berburuk sangka kepadanya hampir tenggelam dan berusaha berpegangan pada kayu-kayu sisa kapal. Dan, mereka pun menyadari.

“Wah, mungkin kita tadi tidak semestinya berburuk sangka kepada orang itu. Ternyata ia adalah Waliyullah.”

Lalu, Uwais selesai melaksanakan sholatnya dan terkejut melihat sekeliling.

“Loh, mana kapalnya?” tanyanya bingung.

Orang-orang itu pun menjelaskan seakan Uwais tadi tidak sedang berada di dalam kapal yang sama dengan mereka.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, dan orang-orang itu memohon pertolongan, Uwais pun berdo’a kepada Allah untuk keselamatan orang-orang tersebut.

Dan, sudah barang tentu do’anya dikabulkan. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah berkisah kepada para sahabat tentang Uwais — padahal Nabi Muhammad SAW tak pernah bertemu dengannya. Menurut Baginda Rasul, Uwais adalah orang yang jika berdo’a Allah saja akan merasa malu jika tidak mengabulkannya.

Lalu, setelah selamat orang-orang itu berkata, “Andai semua harta kami yang tenggelam bersama kapal itu dapat diselamatkan, kami akan bersedekah dengan semua harta kami tersebut.”

“Kalian berjanji?” tanya Uwais.

“Kami berjanji.”

Maka Uwais pun berdoa sekali lagi, dan Allah mengabulkannya. Semua harta itu selamat.

Lalu, orang-orang itu bertanya kepada Uwais, “Siapa kau sebenarnya?”

“Uwais al-Qarni,” jawabnya sambil melenggang santai.

Bagaimana Uwais bisa begitu dicintai oleh Allah? Ketahuilah, bahwa saat mengisahkan kepada para sahabat, beliau menggambarkan bahwa Uwais berpakaian kumal, berdebu, dianggap tidak penting. Namun, Uwais ini begitu mencintai Allah dan umat mukmin.

Ia tidak punya apa-apa. Namun, jika ia memiliki sesuatu, yang ia pikirkan bukanlah dirinya. Melainkan orang-orang papa di sekitarnya.

Pernah suatu kali ia memohon maaf kepada Allah, “Ya Allah, maafkan Uwais karena hari ini Uwais tidak bisa membantu orang. Kalau ada orang mukmin yang tidak bisa makan karena Uwais tidak bisa membantu, maafkanlah Uwais ya Allah.”

Selain itu, pernah Uwais menderita penyakit belang pada kulitnya. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika nanti aku sembuh, tolong sisakan sedikit penyakit ini agar aku selalu bisa ingat bahwa Engkau pernah memberiku kesembuhan.”

Dan, memang tersisa sedikit penyakit itu di bahunya.

Apakah makna kisah Uwais ini?

Jangan pernah kita melihat orang dari luarnya saja. Terlebih jika kita melihatnya dengan tatapan hina ataupun sangkaan yang buruk. Karena, kita tidak pernah mengetahui hakikat orang tersebut. Karena, bisa saja orang yang kita anggap hina justru jauh lebih baik di mata Allah ketimbang kita sendiri.

Seperti apa yang Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus ajarkan kepada anaknya setelah anaknya itu baligh. Ia meminta sang anak mencari yang si anak lebih baik daripada orang tersebut di luar sana. Apa saja, siapa saja.

Anak itu pun pergi, mencari yang dimaksud sang ayah. Ia pikir, banyak orang yang ia lebih baik daripada orang itu — seperti pikiran kita sering kali kan seperti itu, merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia mendapat ide untuk mencari di tempat maksiat, dan menemukan seorang yang sedang mabuk. Ia pun membawa orang itu bersamanya sambil berpikir, ia mabuk saya tidak, saya lebih baik daripada orang ini. Tapi, kemudian ia berpikir lagi. Jika orang ini kemudian tobat dan tidak mabuk-mabukan lagi, orang ini tinggi derajatnya di sisi Allah. Allah mencintai hamba-hambanya yang bertobat. Si anak pun menyadari bahwa mungkin belum tentu ia lebih baik daripada orang itu.

Lalu, ia mencari lagi. Dan, ia melihat seekor anjing. Dan, ia pun merasa menemukan yang ia cari. Walau bagaimanapun ia adalah manusia dan si anjing hanyalah binatang. Saat membawa anjing itu pulang, ia teringat salah satu ayat yang menyatakan bahwa setelah hari akhir orang-orang yang kafir berteriak andai mereka menjadi tanah. Mengapa mereka berteriak begitu? Ternyata, hewan-hewan setelah dihisab di akhirat, mereka menjadi tanah. Mereka berteriak begitu karena mereka berandai jika mereka tak perlu menjadi manusia.

Si anak berpikir lagi, bagaimana jika nanti di akhirat aku tidak dapat melewati shirotol mustaqim, maka aku tidak lebih baik dari anjing ini.

Maka, ia pun pulang dan mengatakan kepada sang ayah bahwa tak ada orang di muka bumi yang lebih baik daripadanya.

Sang ayah pun berkata, “Sekarang, Nak, kamu telah menjadi orang dewasa.”

Sudahkah kita menjadi orang dewasa juga?

—————————————————————-

Demikianlah kira-kira apa yang tadi dapat aku tangkap dari pengajian Ustadzah Halimah kali ini. Semoga apa yang aku sarikan di sini dapat membawa manfaat baik bagi aku pribadi maupun bagi teman-teman yang membaca. Amin. Jika ada kesalahan, itu semata datang dari aku, karena keterbatasanku dalam menyerap ilmu. Mohon dibukakan pintu maaf.

[Foto oleh Owais Khan]