Archive for the ‘Islam’ Category

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)

Ramadhan Dahulu dan Kini

Tak terasa sudah Ramadhan lagi. Alhamdulillah. Setahun berlalu, banyak hal terjadi, banyak hal berganti.

Mulai dari Hana yang semakin besar, hingga saya sendiri yang melalui banyak peristiwa.

Hana sekarang sudah ikut tarawih dan puasa. Benar-benar berbeda setelah ia berusia lima tahun. Hana bukan bayi lagi.

Dan, saya…banyak hal telah berubah.

Tahun lalu, saya masih bekerja sebagai web content editor untuk saluran Astro Oasis, tepatnya untuk PT. AKV. Astro Oasis sendiri adalah saluran keluarga dengan konten Islami. Sehingga, suasana Ramadhan menjadi lebih syahdu karena keterlibatan saya dalam berbagai hal di saluran tersebut.

Mulai dari ikut membantu beberapa konferensi pers, turut dalam rapatĀ  programming, hingga mengedit beberapa acara untuk ditampilkan di website — yang merupakan tugas saya sehari-hari.

Pengalaman yang luar biasa, baik dari sisi profesional maupun spiritual. Saya semakin sadar bahwa di negeri ini, belum ada saluran serupa. Saluran yang mengingatkan kita bukan hanya tentang keindahan duniawi, namun juga nikmat ukhrawi.

Bukan hanya itu, suasana Ramadhan pun begitu terasa di PT. AKV. Saat istirahat / Dzuhur tiba — atau di waktu Ashar, banyak rekan kerja yang sibuk dengan Al-Qur’an masing-masing di tangan. Sore hari, jika waktu Maghrib menjelang, selalu dihidangkan makanan kecil untuk menemani berbuka — tak lupa hidangan susu coklat lezat di fun room.

Di luar semua itu, banyak hal yang membuat saya harus mengakui bahwa bekerja untuk AKV merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Karenanya, saat saya dipersilakan untuk menyelesaikan kontrak hingga pertengahan Februari 2009 yang lalu, saya seperti orang patah hati. Not only was it the best job ever, but also the best working place.

Namun, semua tinggal kenangan — kenangan yang hampir selalu membuat saya menangis setiap mengingatnya.

Sekarang, saya bekerja di rumah, dengan pekerjaan yang juga menarik, dengan orang-orang yang baik — kami bekerja di virtual office. Hikmahnya, saya tetap dapat beribadah dengan sama khusyuknya dengan tahun lalu (atau lebih?).

Kuncinya adalah tetap ikhlas dan bersyukur. Menerima dan menikmati apapun yang ditetapkan oleh-Nya atas diri saya. Seperti kata atasan saya di Astro Oasis, Mas Tomi Satryatomo, beberapa waktu yang lalu — entah di mana saya lupa, di FB sepertinya — yang intinya mengajak kami semua untuk move on, melanjutkan hidup kami masing-masing dan tidak terpuruk kesedihan.

Yah, mudah-mudahan saya bisa. Tapi, jika sudah patah hati, terkadang sulit untuk melupakan. Baik saat-saat yang indah, maupun saat-saat yang menyakitkan.

Yang pasti, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan terdahulu. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, seberbeda apapun keadaannya.

Memberi Makan Orang yang Sedang Berpuasa

Beberapa waktu sebelum Maghrib, saat saya lewat di meja makan, saya menemukan sebungkus kantung plastik yang berisi dua gelas bubur sumsum + biji salak. Wuih, menggoda nian.

Saya tanya ke mereka yang ada di dekat-dekat sana punya siapakah makanan itu. Tak ada seorang pun yang tahu.

“Dikirim untuk Ibu berbuka mungkin,” ujar Pengasuh Hana.

“Siapa yang kirim?”

“Yang nggak kelihatan,” jawabnya asal.

Hayah…

Jujur, saya benar-benar tegoda oleh tampilan makanan tersebut. Saya berusaha mencari tahu. Apakah ini rejeki saya atau bukan.

Adik saya yang tengah, Najib, keluar kamar. Dan, ketika saya tanyakan kepadanya, senyum saya pun terkembang.

“Tadi dari teman.”

“Kakak lagi puasa nih…boleh minta buat berbuka?”

“Makan aja, Kak.”

“Alhamdulillah.”

Kebetulan, adik bungsu saya juga sedang puasa, jadi satu gelas untuk saya, satu lagi untuk dia. Alhamdulillah.

Terima kasih untuk teman Najib. Terima kasih juga untuk Najib. Insya Allah, kalian berdua juga mendapatkan pahala puasa kami. Amin.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya? Ia bisa memberi makan orang yang sedang berpuasa meski ia awalnya hanya berniat memberikan makanan tersebut untuk orang yang tidak sedang berpuasa.

Ket. gambar: dari blog Bunda Inong.

Dibayar Kontan

Hari ini adalah hari kelahiran saya. Sudah 32 tahun ini saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk bermukim di bumi.

nadiah-alwiSaya tidak merayakannya di dunia offline, tapi di dunia online saya mengadakan semacam syukuran dengan menggelar sayembara di toko buku online saya, http;//bukumurmer.multiply.com.

Dana yang awalnya sempat hendak saya gunakan untuk perayaan di dunia offline saya berikan kepada Mama. Karena, saya berkeyakinan bahwa yang lebih berhak diberikan ucapan selamat atau hadiah adalah seorang ibu karena ia yang bersusah payah mengeluarkan si jabang bayi di ruang bersalin.

Tapi, tadi sore, saya ke pasar untuk mengajak Hana, anak saya, dan Mama. Sekedar iseng-iseng saja. Saya membeli dua bungkus pempek — satu untuk Mama, satu untuk saya — dan duren sebatu –bukan sekepala.

Meski hari ini hari yang spesial, tetap saja tak luput dari hal-hal yang membuat kesal. Tapi, alhamdulillah, saya mampu melihat sisi lain dari kekesalan atau kekecewaan itu. Kenapa?

Karena, saya dibayar kontan oleh-Nya. Sempat tercengang. Saya tidak mengharapkan hadiah apapun — walau seorang sahabat telah lebih dulu menghadiahkan sebuah buku idaman dua hari yang lalu. Bahkan, sebenarnya memang sudah saya canangkan untuk memberi di hari pertama usia saya yang ke-32 ini, tidak untuk menerima — meski sempat juga meminta kepada si Abi alias suami tercinta untuk dicarikan software web di dunia maya. Tapi, Yang Maha Mengetahui kembali menunjukkan, saya yang berencana, Ia Yang Menentukan. Subhanallah.

Malam tadi ada yang memberikan hadiah untuk saya dan nominalnya melebihi apa yang telah saya keluarkan hari ini. Hadiah itu tentu sangat berharga bagi saya. Tapi, sebenarnya, ada yang lebih berharga lagi. Pelajaran akan kehidupan.

Bahwa, saya tidak tahu apa-apa. Bahwa, yang paling tahu yang terbaik untuk saya adalah Yang Menciptakan saya.

Belakangan ini, saya akui, begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya. Sebagai manusia yang diberikan kemampuan bertanya, terkadang muncul juga di kepala saya pertanyaan, “Why?”

Kadang saya dapat melihat hikmah di balik semua. Di lain kesempatan saya hanya dapat menerka apa maksud semua itu. Bahkan pernah juga ada masanya saya bingung dan tak ada clue sama sekali.

Mungkin Ia ingin saya paham bahwa apapun itu, Ia menjadikannya takdir untuk saya karena tak ada hal lain yang lebih baik yang dapat terjadi dalam hidup saya. Mungkin jika ia menakdirkan hal lain, saya takkan sanggup menjalaninya.

Lucu sekali. Saya tidak berniat berkontemplasi di hari istimewa ini. Tapi, lihat saja apa jadinya. Dan, oh, saya sangat teramat bersyukur karenanya.

Selamat ulang tahun, Nadiah Alwi.

Menghadiri Maulid

maulidSaya memang tidak terlalu sering menghadiri Maulid. Biasanya hanya jika yang mengadakan adalah Papa di Mushallah depan rumah. Karena, saya kan pasti ikut membantu. Yang lain adalah ketika pengajian yang biasa saya datangi juga mengadakan Maulid.

Sekitar dua minggu yang lalu, saya menghadiri Maulid di sebuah Mushallah yang dekat dengan rumah. Setiap bulan saya memang ikut pengajian di situ, pengajian yang dipimpin oleh Ustadzah Halimah Alaydrus.

Klik untuk melanjutkan membaca ya »