Archive for the ‘Islam’ Category

Doa Tilawah Qur’an

Tadi setelah bersih2 menjelang tidur, Hana bersenandung, “Allahummarhamna bil Qur’an…”

Dan, Bunda pun teringat masa-masa mengaji siang-siang dulu di Daarul Qur’an pimpinan K.H. Masyhuri Syahid MA. Kami sering menyanyikan lagu itu.

Ketika Bunda mulai ikut bernyanyi, Hana seneng banget. Padahal, Bunda lupa liriknya, hanya ingat sebagian.

Akhirnya kami googling dan nemu ini…dan kami nyanyi2 lagi sampe Hana bobo tadi.

Bunda mencari liriknya, dan menemukannya di sini. Terima kasih, Mas Muhammad.

Rahmat Qur’an
oleh: Haddad Alwi dan Shila

Versi Bahasa Indonesia

Allah turunkan rahmat qur’an
jadikan Qur’an cahaya petunjuk kebenaran
Allah ingatkan kami
semua yang kami lalai, berikan ilmu yang bermanfaat
jadikan qur’an bacaan yang kami cinta
di malam dan siang
jadikan Qur’an penerang
Ya Robbal ‘alamin

Versi Bahasa Inggris

Oh Allah bless us with al Qur’an
Make it our leader our light our guide and blessing
Allah remind us of what we forget and teach us what we don’t know
Oh my beloved Allah
Do al Qur’an as our reading all night and all day,
All night and all day
Make al Qur’an our foundation
Ya Robbal Alamin

Versi Bahasa Arab

Allahummarhamna bil Qur’an
Waj’alhulana imamaw wa nurrow wahudaw wa rohmah
Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa a’limna minhuma jahilna
Warzuqna tilawatahu aana
Allaili wa athrofannahar
Waj’alhu lana hujjatan
Ya Robbal ‘Alamin

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbaik Sangka

foto islamiAlhamdulillah, pagi ini aku kembali berkesempatan untuk mengikuti pengajian bulanan Ustadzah Halimah Alaydrus di Tebet. Seperti beberapa pengajian sebelumnya, entah bagaimana somehow temanya seperti nyambung dengan apa yang ada di pikiranku atau suasana hatiku.

Kali ini temanya adalah berbaik sangka kepada Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Aku berusaha menyarikannya di sini sesuai dengan kemampuanku dalam menyerap pengajian tadi ya. Harap maklum jika banyak kekurangan.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada Allah SWT

Sering kita sebagai manusia selalu merasa dirundung malang, ditimba berbagai musibah, dan dilibat berbagai masalah. Kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Padahal, hey, semua orang juga punya masalah.

Yang sudah cukup umurnya namun belum menikah, merasa punya masalah. Yang sudah menikah, suaminya tampan dan ramah, juga punya masalah — cemburu, misalnya. Yang sudah menikah namun belum juga dikaruniai anak, masalah. Yang sudah dikaruniai anak — dan dikaruniai lagi dan lagi — juga merasa bermasalah.

Jadi, adakah manusia di muka bumi ini yang tidak bermasalah? Tidak, kan?

Kuncinya dalam menghadapi semua masalah itu adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Ya, sesederhana itu. Dan, insya Allah, yang muncul dalam hati kita adalah rasa syukur kepada-Nya.

Allah selalu memiliki maksud di balik semua yang Ia tetapkan. Dan, apa yang kemudian kita kenal dengan kata ‘hikmah‘ di balik masalah biasanya memang baru kita dapati setelah semua berlalu. Namun, cobalah menerka sedari sekarang.

Ini bukan contoh dari Ustadzah, tapi saya coba mencarikan saja contoh yang bisa saya olah di kepala — jadi maaf jika agak aneh atau konyol hehe. Misalkan, kita menikah dengan suami yang — maaf — kurang tampan, tapi coba bayangkan jika kita — yang ternyata pencemburu berat — menikah dengan pria tampan yang digila-gilai banyak perempuan, wah…sepertinya masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi ya? ;)

Jika katakanlah ada do’a-do’a kita yang belum diijabah oleh-Nya, itu karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun, salah satu cara agar Allah mengabulkan do’a kita adalah dengan berbaik sangka kepada-Nya. Bahwa, jika memang do’a kita berakibat baik bagi dunia dan akhirat kita, Ia akan mengabulkannya.

Hidup akan terasa sangat nikmat jika kita bisa terus berbaik sangka kepada Sang Pencipta.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada hamba-hamba Allah SWT

Pernahkah kita melihat seseorang dan menetapkan sebuah sangkaan yang kurang baik? Misalkan karena ia berbaju kumal, kotor, dan nampak hina? Astaghfirullah, nampaknya pernah ya?

Dan, pada pengajian pagi tadi Ustadzah mengangkat kisah Uwais al-Qarni. Pernah mendengar kan? Itu lho, yang dikisahkan sangat memuliakan ibunya. Tapi, tadi Ustadzah mengisahkan hal lainnnya tentang Uwais. Di antaranya adalah saat ia dalam perjalanan menuju Madinah bersama yang lainnya di atas sebuah kapal / perahu dari Yaman.

Di dalam kapal itu seorang kaya mengaku kehilangan barang berharga. Dicari ke mana-mana tak juga diketemukan. Semua menyangka Uwais yang saat itu sedang dengan khusyuknya sholat sebagai pelakunya, bahwa Uwais hanya berpura-pura sholat agar tidak dituduh.

Semua menunggu, namun Uwais tak kunjung selesai beribadah. Mereka semakin menyangka yang buruk kepada Uwais. Dan, tiba-tiba kapal itu pun terhempas ombak dan hancur berkeping-keping. Namun, Uwais seperti tidak menyadari keadaan di sekelilingnya dan ia tetap sholat. Ruhnya telah menang dari jasadnya. Ruhnya yang sedang bertemu dengan Allah SWT.

Semua yang telah berburuk sangka kepadanya hampir tenggelam dan berusaha berpegangan pada kayu-kayu sisa kapal. Dan, mereka pun menyadari.

“Wah, mungkin kita tadi tidak semestinya berburuk sangka kepada orang itu. Ternyata ia adalah Waliyullah.”

Lalu, Uwais selesai melaksanakan sholatnya dan terkejut melihat sekeliling.

“Loh, mana kapalnya?” tanyanya bingung.

Orang-orang itu pun menjelaskan seakan Uwais tadi tidak sedang berada di dalam kapal yang sama dengan mereka.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, dan orang-orang itu memohon pertolongan, Uwais pun berdo’a kepada Allah untuk keselamatan orang-orang tersebut.

Dan, sudah barang tentu do’anya dikabulkan. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah berkisah kepada para sahabat tentang Uwais — padahal Nabi Muhammad SAW tak pernah bertemu dengannya. Menurut Baginda Rasul, Uwais adalah orang yang jika berdo’a Allah saja akan merasa malu jika tidak mengabulkannya.

Lalu, setelah selamat orang-orang itu berkata, “Andai semua harta kami yang tenggelam bersama kapal itu dapat diselamatkan, kami akan bersedekah dengan semua harta kami tersebut.”

“Kalian berjanji?” tanya Uwais.

“Kami berjanji.”

Maka Uwais pun berdoa sekali lagi, dan Allah mengabulkannya. Semua harta itu selamat.

Lalu, orang-orang itu bertanya kepada Uwais, “Siapa kau sebenarnya?”

“Uwais al-Qarni,” jawabnya sambil melenggang santai.

Bagaimana Uwais bisa begitu dicintai oleh Allah? Ketahuilah, bahwa saat mengisahkan kepada para sahabat, beliau menggambarkan bahwa Uwais berpakaian kumal, berdebu, dianggap tidak penting. Namun, Uwais ini begitu mencintai Allah dan umat mukmin.

Ia tidak punya apa-apa. Namun, jika ia memiliki sesuatu, yang ia pikirkan bukanlah dirinya. Melainkan orang-orang papa di sekitarnya.

Pernah suatu kali ia memohon maaf kepada Allah, “Ya Allah, maafkan Uwais karena hari ini Uwais tidak bisa membantu orang. Kalau ada orang mukmin yang tidak bisa makan karena Uwais tidak bisa membantu, maafkanlah Uwais ya Allah.”

Selain itu, pernah Uwais menderita penyakit belang pada kulitnya. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika nanti aku sembuh, tolong sisakan sedikit penyakit ini agar aku selalu bisa ingat bahwa Engkau pernah memberiku kesembuhan.”

Dan, memang tersisa sedikit penyakit itu di bahunya.

Apakah makna kisah Uwais ini?

Jangan pernah kita melihat orang dari luarnya saja. Terlebih jika kita melihatnya dengan tatapan hina ataupun sangkaan yang buruk. Karena, kita tidak pernah mengetahui hakikat orang tersebut. Karena, bisa saja orang yang kita anggap hina justru jauh lebih baik di mata Allah ketimbang kita sendiri.

Seperti apa yang Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus ajarkan kepada anaknya setelah anaknya itu baligh. Ia meminta sang anak mencari yang si anak lebih baik daripada orang tersebut di luar sana. Apa saja, siapa saja.

Anak itu pun pergi, mencari yang dimaksud sang ayah. Ia pikir, banyak orang yang ia lebih baik daripada orang itu — seperti pikiran kita sering kali kan seperti itu, merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia mendapat ide untuk mencari di tempat maksiat, dan menemukan seorang yang sedang mabuk. Ia pun membawa orang itu bersamanya sambil berpikir, ia mabuk saya tidak, saya lebih baik daripada orang ini. Tapi, kemudian ia berpikir lagi. Jika orang ini kemudian tobat dan tidak mabuk-mabukan lagi, orang ini tinggi derajatnya di sisi Allah. Allah mencintai hamba-hambanya yang bertobat. Si anak pun menyadari bahwa mungkin belum tentu ia lebih baik daripada orang itu.

Lalu, ia mencari lagi. Dan, ia melihat seekor anjing. Dan, ia pun merasa menemukan yang ia cari. Walau bagaimanapun ia adalah manusia dan si anjing hanyalah binatang. Saat membawa anjing itu pulang, ia teringat salah satu ayat yang menyatakan bahwa setelah hari akhir orang-orang yang kafir berteriak andai mereka menjadi tanah. Mengapa mereka berteriak begitu? Ternyata, hewan-hewan setelah dihisab di akhirat, mereka menjadi tanah. Mereka berteriak begitu karena mereka berandai jika mereka tak perlu menjadi manusia.

Si anak berpikir lagi, bagaimana jika nanti di akhirat aku tidak dapat melewati shirotol mustaqim, maka aku tidak lebih baik dari anjing ini.

Maka, ia pun pulang dan mengatakan kepada sang ayah bahwa tak ada orang di muka bumi yang lebih baik daripadanya.

Sang ayah pun berkata, “Sekarang, Nak, kamu telah menjadi orang dewasa.”

Sudahkah kita menjadi orang dewasa juga?

—————————————————————-

Demikianlah kira-kira apa yang tadi dapat aku tangkap dari pengajian Ustadzah Halimah kali ini. Semoga apa yang aku sarikan di sini dapat membawa manfaat baik bagi aku pribadi maupun bagi teman-teman yang membaca. Amin. Jika ada kesalahan, itu semata datang dari aku, karena keterbatasanku dalam menyerap ilmu. Mohon dibukakan pintu maaf.

[Foto oleh Owais Khan]

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbahagialah

Alhamdulillah, hari ini aku kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pengajian Ustadzah Halimah. Ada dua hal yang kucatat dalam benak. Pertama adalah tentang kebahagiaan. Dan, kedua tentang do’a untuk suami (karena pengajian ini khusus perempuan, jadi yang dibahas adalah yang berkenaan dengan perempuan).

———————————————–

DO’A UNTUK SUAMI

Terkadang, sebagai seorang istri, ada hal-hal dalam diri suami yang kurang berkenan di hati kita. Entah itu dari segi materi ataupun yang berhubungan dengan hati/perasaan.

Ustadzah tadi bercerita tentang seseorang yang memang ia kenal yang suaminya berbuat dzalim kepadanya, bermabuk-mabukan, sehingga ia harus mencari nafkah sendiri karena uang habis begitu saja. Namun, ia menutupi kehidupan pernikahannya dari semua, termasuk orang tua dan mertuanya. Suatu hari, ia tak sanggup lagi. Maka, ia bertekad harus ada yang berubah.

Ia memutuskan untuk memohon kepada Sang Kuasa dengan lebih intens. Ia pun memutuskan untuk melakukan sholat tahajjud setiap malam dan berdo’a. Ia berdo’a agar Allah memberi hidayah kepada suaminya, Allah lebih menyayangi suaminya. Setelah beberapa bulan melakukan sholat malam, suatu hari suaminya justru pergi dari rumah.

Dan, semua pun akhirnya mengetahui bahwa ada yang tak beres dengan pernikahan mereka. Akhirnya, orang tua dan mertuanya menawarkan kepadanya untuk bercerai. Namun, ia tak mau.

Lalu, setelah tiga bulan, suaminya kembali, pada suatu malam. Ia menyapa sang suami, “Hai, apa kabar?”

Suaminya meminta ia mengikutinya, “Ikutlah aku, aku sudah menemukan apa yang kucari.”

Ia pun mengikuti.

Suaminya itu ternyata telah menemukan kebahagiaan, hal yang selama ini ia cari. Bukan kebahagiaan semu dalam minum-minuman keras, melainkan dalam nikmatnya beribadah kepadanya. Dan, semenjak saat itu, suaminya bersikap sangat baik dan lebih bertanggung jawab.

Kisah ini mengingatkan kita, para istri, untuk berdo’a dengan lebih tulus. Kadang, kita berdo’a seperti ini: “Ya Allah, berilah rizki kepada suami saya agar saya bisa dibelikan (menyebutkan barang ini-itu), agar ia bisa membawa saya berlibur, dll., dsb.”

Do’a tersebut pada akhirnya adalah demi kepentingan kita. Bukankah itu do’a yang kadar ketulusannya rendah?

Cobalah berdo’a dengan lebih tulus seperti kenalan Ustadzah yang kisahnya tertulis di atas. Berdo’a agar Allah memberikan kebaikan kepada suami. Kalaupun pada akhirnya kebaikan itu juga menjadi kebaikan bagi kita — para istri — itu merupakan bonus dari Allah. Namun, jangan berpikir dulu tentang bonus itu. Berdo’alah dengan tulus dan hati yang bersih.

———————————————–

KEBAHAGIAAN

Tadi ada yang bertanya, “Ustadzah, saya resah karena sampai sekarang belum bertemu dengan jodoh. Bagaimana saya harus bersikap?”

Ustadzah pun mengingatkan, bahwa salah satu sifat manusia adalah tidak merasa puas dengan apa yang dimiliki.

Belum berjodoh, ingin berjodoh: “Duh, pasti saya akan bahagia jika sudah punya pasangan.”

Sudah berjodoh, ingin punya anak: “Pasti kalau saya sudah punya anak, saya bahagia.”

Sudah punya anak, ingin punya rumah yang lebih besar: “Pasti kalau rumah saya besar, saya dan keluarga bahagia.”

Akan terus begitu.

Padahal, sebenarnya, kita toh bisa berbahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Berfokuslah pada apa yang kita punya, bukan apa yang kita tidak punya. Karena, Allah tidak akan memberikan yang buruk kepada kita. Apa yang kita miliki ataupun tidak miliki sekarang adalah yang terbaik untuk kita. Belum tentu jika keadaannya berbeda kita mampu dan sanggup menjalaninya dan belum tentu bisa memberikan kebahagiaan yang kita pikir bisa kita raih.

Jadi, bagaimanapun keadaannya, berbahagialah.

———————————————–

Apa yang aku sampaikan di sini sekedar apa yang mampu diterima oleh kemampuan otakku yang terbatas. Jika ada kesalahan, itu sepenuhnya karena keterbatasanku. Semoga bisa memberikan manfaat.

Bidadari Bumi, 9 Kisah Wanita Shalehah

bidadari-bumi Bidadari Bumi, 9 Kisah Wanita Shalehah by Halimah Alaydrus

My rating: 5 of 5 stars

Pada dasarnya, aku memang sangat mengagumi sang penulis. Setiap bulannya aku ikut dalam pengajian yang ia adakan di dekat rumah. Ia adalah ustadzahku, Ustadzah Halimah Alaydrus. Seorang sosok bersahaja, dengan tutur yang lembut, menyenangkan, terkadang membuat kami — murid-muridnya tertawa, menertawakan diri sendiri — namun sering mampu menyentuh relung hati kami yang terdalam.

Beberapa kisah bidadari bumi ini pernah ia ceritakan dalam tausiahnya. Namun, membacanya lagi tak ubahnya seperti ketika aku mendengarkan untuk yang pertama kalinya. Indah, membuatku berlinang air mata.

Sungguh, andai dapat kuulang hidupku kembali, aku ingin bisa seperti bidadari-bidadari tersebut. Begitu dekat dengan Sang Kekasih yang sejatinya terdekat di hati setiap manusia, lebih dekat dari manusia lain. Ia Yang Paling Tahu isi hati kita, bahkan tanpa kita mengatakannya.

Subhanallah. Indah sekali cinta antara kesembilan bidadari dalam buku ini dengan-Nya. Aku iri. Aku sangat iri. Dan, jika biasanya rasa iri selalu kuhalau jauh-jauh, kali ini rasa iri itu kupelihara. Kujadikan bekal untuk melalui hari-hariku.

Buku ini akan selalu ada di dekatku, menjadi penghibur sekaligus penenang hati. Sudah beberapa hari ini, buku ini juga kubacakan untuk anakku, Hana, sebagai pengantar tidur. Sungguh, ini adalah buku terindah yang pernah kubaca.

http://www.bidadaribumi.com/

View all my reviews >>

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)