güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Kata’ Category

Pada dan Kepada yang Bikin Gemes

pada dan kepadaAda apa dengan pada dan kepada? Ada salah paham. Hehe. Bukan si pada dan si kepada yang salah paham sih. Tapi, para pengguna keduanya.

Kini, saatnya kita membedakan pada dan kepada.

Yuk, intip di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) – jangan mentang-mentang orang Indonesia, udah jago berbahasa Indonesia, terus nggak punya kamusnya, banyak lho kata-kata dalam bahasa Indonesia yang ternyata tidak benar-benar kita pahami maknanya. Sayang KBBI online lagi susah diakses — kenapa ya? Jadi, aku menyalin penjelasan kata pada dan kepada di bawah ini dari KBBI milikku yang merupakan warisan berharga dari alm. kakek – KBBI edisi kedua, cetakan kedua, tahun 1993, jadul abis tapi masih berguna.

Pada p 1 kata depan yang dipakai untuk menunjukkan posisi di atas atau di dalam hubungan dengan, searti dengan di (dipakai di depan kata benda, kata gandi orang, keterangan waktu):  pada dasarnya; ada padanya; pada keesokan harinya; 2 menurut …: pada sangkanya.

Kepada p kata depan untuk menandai tujuan orang: buku ini saya berikan kepadamu.

Jelas kan, perbedaannya?

Jadi, kira-kira kalau ada kalimat seperti di bawah ini benar atau salah ya?

“Saya sudah mengatakan hal itu padanya.”

Jawabannya: salah! Yang benar:

“Saya sudah mengatakan hal itu kepadanya.”

Sebenarnya sih nggak gemes-gemes amat kalau digunakan dalam bahasa lisan atau tulisan di blog — yang sering bergaya lisan. Tapi, ini berbentuk tulisan yang aku temukan dalam beberapa buku! Yang semestinya sudah diedit kan? Dan, urusan pada dan kepada ini berulang-ulang. Bukan hanya sekali. Kalau sekali, kan bisa saja salah tulis. Tapi, kalau berkali-kali, tandanya si penulis, penerjemah (pada buku terjemahan), dan/atau si editor tidak memahami perbedaan antara pada dan kepada.

Nah, keluar sudah unek-unekku semua soal pada dan kepada ini. Lega. Hehe. Nggak apa kan, curhat dikit? ;)

[Foto hasil bidikan Miguel Saavedra]

Makna Ikhlas dan Ridho

Sejak dulu, sampai sekarang, aku masih berusaha memahami makna ikhlas. Ikhlas yang sesungguhnya. Ikhlas yang membawa bahagia. Ikhlas yang membawa ketenangan.

Mengapa harus memahami makna ikhlas?

Aku merasa butuh memahami makna ikhlas karena aku yakin bahwa itu adalah jalan terindah menuju kebahagiaan.

Kesannya mengawang-ngawang banget ya kalimatku di atas? *wink* Tapi, ya memang begitu adanya. Gimana dong?

Sebagai permulaan, aku mencari makna kata ikhlas di KBBI >> ikh·las a bersih hati; tulus hati; meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan; ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan.

Definisi Ikhlas dalam bahasa Indonesia ternyata berbeda dengan dalam bahasa asalnya, bahasa Arab.

Berikut ini, aku kutip penjelasan ikhlas dalam blog M.D. Faisal tentang ikhlas:

Ikhlas berasal dari kata akhlasha yang merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yang diambil dari kata kerja intransitif khalasha (خَلصَ) dengan menambahkan satu huruf ‘alif (أ). Bentuk mudhâri‘ (saat ini) dari akhlasha (اَخْلَصَ) adalah yukhlishu (يُخْلِصُ) dan bentuk mashdarnya yaitu ikhlash (إِخْلاص). Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan syariat yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain.

Dan, berikut ini, penjelasan oleh M.D. Faisal tentang ridho:

Terkadang ridho disama artikan dengan ikhlas. Namun sebenarnya ridho dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Ridho (رِضً) berarti suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya.

Tapi, yang mana pun itu, aku ingin memahami keduanya. Karena, dalam hidup, terkadang kita menemukan titik di mana kita merasa berat menjalaninya. Titik di mana kita merasa hidup tidak adil. Titik di mana kita hanya bisa merasakan duka.

Dan, ketika semua itu datang, yang ingin kumiliki adalah ikhlas. Dengan keikhlasan, insya Allah semua tidak terasa berat, tidak ada yang tidak adil, dan aku tetap bisa merasakan suka cita meski sedang dirundung duka. Seperti yang dikatakan oleh Habib Riziq Shahab yang disarikan oleh Usman Hasan, ” Ikhlas menyebabkan kita tidak mudah berputus asa.”

Ikhlas dan ridho bahwa semua adalah ketentuan Allah. Dan, karena tujuan akhir kehidupan sesungguhnya adalah ridho-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun ridho atas segala yang ditetapkan oleh-Nya atas diri kita.

Tapi, apa daya, aku masih dalam proses mempelajari makna ikhlas dan ridho. Terkadang, Alhamdulillah, aku dapat merasakan sedikit ikhlas dan ridho itu. Tapi, ada kalanya, tidak. Jadi, aku masih harus banyak belajar.

kiamat-sudah-dekatAku teringat salah satu episode dalam serial televisi “Kiamat Sudah Dekat.” Ketika peran yang dimainkan oleh Deddy Mizwar meminta peran yang dimainkan oleh Andre Taulany untuk mempelajari makna ikhlas sebagai syarat untuk dapat mempersunting anaknya — yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Dan, akhirnya, Andre Taulany merelakan Zaskia Adya Mecca yang sangat dicintainya untuk menikah dengan pria pilihan Deddy Mizwar. Dan, saat itulah Deddy Mizwar justru melihat bahwa Andre Taulany sudah memahami makna ikhlas.

Seperti kata seorang sahabat dengan siapa aku sering berdiskusi tentang kehidupan dan bagaimana bisa ikhlas menjalaninya, “Ikhlas memang mdh diucap, disampaikan, diangankan, dilamunkan, diharapkan. Tapi perlu perjuangan dlm eksekusinya dlm kehidupan :) .”

Hm…semoga kita semua mampu memahami dan menghayati makna ikhlas dan ridho. Bukan hanya demi kebahagiaan kita kelak di akhirat, namun juga demi kebahagiaan kita di dunia. Amin.

[Ket gambar: diambil dari potongan youtube]

Tentang Menulis Blog

Saya sudah menulis blog sejak tahun 2004. Mulai di blogspot, lalu di multiply, lalu kembali ke blogspot.

Saya sangat mencintai dunia blog karena akhirnya saya dapat mengekspresikan diri melalui tulisan di tempat yang lebih seru ketimbang buku harian.

Setelah 4 tahun melanglang buana di dunia maya menggunakan blog gratisan, akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk memiliki blog non gratisan. Saya mengawalinya dengan http://tingkahanak.com yang memang saya dedikasikan khusus untuk hal-hal yang berbau anak.

Dan, awal 2009 ini, saya melangkah lebih jauh dengan memiliki situs yang menggunakan nama saya, http://nadiahalwi.com/. A ‘lil bit narsis memang. Tapi, demi kecintaan pada tulis-menulis dan blog, saya jabanin juga.

Awalnya, seperti pada blog-blog saya yang lain, saya ber-aku ria. Tapi, memasuki bulan kedua kepemilikian blog ini, saya memutuskan untuk ber-saya ria. Alasannya adalah karena saya tak mengenal semua pengunjung web saya. Jadi, kata saya terasa lebih tepat.

Namun, saya mulai berpikir-pikir lagi. Karena, seorang sahabat yang baru saja saya minta berkunjung ke sini protes. Katanya, terlalu kaku. Dan, bukan saya banget.

Jadi, sekarang, saya sedang menimbang-nimbang untuk kembali ber-aku ria di sini. Plin-plan ya? Haha…

Terlebih, saya baru saja mengunjungi blog saya yang lama, http://bunda-nadnuts.blogspot.com/. Kok rasanya lebih seru ber-aku ria?

Hm…we’ll see. Tapi, yang pasti, ber-aku atau ber-saya, saya tetap suka ngeblog. Dan, akan terus ngeblog — kecuali lagi dikejar deadline.

Gambar koleksi http://www.islandheritage.org/. Agak gak nyambung ya sebenarnya. Hehe…

Kata: Jepretan

fotografiMasih ada hubungannya dengan kegiatan menerjemahkan naskah beberapa waktu yang lalu, kali ini saya menemukan kata lain yang cukup seru — paling gak menurut saya — untuk dibahas.

Saya harus menemukan padanan kata ‘shot‘ yang terkait dengan bidang fotografi.

Tahu kata apa yang muncul di kepala saya? Jepretan!

Hayah, kok jepretan si? Tapi ya memang begitu. Selama beberapa saat saya berpikir keras untuk menemukan kata lain yang lebih ‘Indonesia.’

Pikir…

Pikir…

Pikir…

Nah…ketemu! Bidikan!

Mau nggak mau saya menertawakan diri sendiri juga. Suami yang sering saya jadikan referensi untuk mencari padanan kata juga ikut tertawa-tawa. Padahal, saat saya tanyakan tentang kata lain jepretan dalam fotografi, ia juga tidak dapat membantu.

“Kaget denger kata jepretan,” ia beralasan.

Hm…dipikir-pikir memang konyol juga sih, di otak settingannya menerjemahkan secara resmi, tapi kok yang muncul malah kata jepretan?

:)

Kata: Nyelap

Orang Betawi pasti sering bertemu dengan kata ini, NYELAP.

Artinya terlalu manis atau terlalu gurih sehingga tidak terlalu nikmat lagi.

gulaNah, saat menerjemahkan naskah beberapa waktu yang lalu, saya menemukan kata ‘cloying‘ dan ‘unbearably sweet‘ yang sepertinya pas sekali jika saya terjemahkan dengan kata nyelap itu.

Sebelum menggunakannya, saya mencari kata tersebut di KBBI saya yang keluaran tahun 1993 (edisi kedua) itu — warisan dari Kakek. Kata selap ada, tapi definisinya kurang pas — saya sertakan definisi kata selap di bawah. Kata nyelap tidak ada.

Saya coba cari juga di KBBI online. Sama saja.

Akhirnya saya pasrah. Saya batal menggunakan kata ‘nyelap’ tadi dan dengan terpaksa bertahan dengan gabungan kata ‘terlalu manis’ walau rasanya masih tidak sepas kata ‘nyelap.’

Mungkin gak ya kata itu masuk KBBI?

—————————————————————————-

se·lap v pingsan (hilang ingatan dsb) krn kerasukan roh jahat;
me·nye·lap v 1 masuk ke dl tubuh (tt roh jahat dsb); merasuk: hantu dapat – orang yg lewat di bawah pohon itu; 2 menimpa (tt penyakit, kegelisahan, kemarahan, dsb); menyerang: bencana alam sering – daerah yg tandus itu;
me·nye·lapi v menyelap;
ter·se·lap v tiba-tiba terlupa akan dirinya; tidak sadar;
ke·se·lap·an v 1 kemasukan setan; 2 hilang ingatan (krn sangat marah dsb)

Hiy…