• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Keluarga’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Feb 11

Semua Sayang Alsya

Dear Teman-teman,

Perkenalkan, ini keponakan saya, Alsya. Ia berusia 3 tahun. Alsya yang cantik, dengan bulu matanya yang lentik dan senyum yang ceria.

Namun semenjak sebulan yang lalu, Alsya diopname. Setelah dilakukan berbagai tes, diketahui bahwa Alsya menderita leukimia atau kanker darah. Saat ini ia dirawat di RS Fatmawati di kelas 3.

Besar harapan kami sekeluarga agar Alsya dapat sembuh dan sehat seperti sedia kala.

Kami akan sangat berterima kasih jika ada di antara teman-teman yang sudi menjadi bagian dari kesembuhan Alsya. Teman-teman dapat menghubungi saya dengan meninggalkan komen di sini atau mengirimkan e-mail ke semuasayangalsya@gmail.com.

Support dari teman-teman akan sangat berarti bagi Alsya dan kedua orang tuanya.

Terima kasih sebelumnya sudah menyempatkan diri membaca note panjang saya ini.

Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman dengan kebahagiaan yang lebih besar. Amin.

Salam.

Group Semua Sayang Alsya: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_171025799610709

Blog Semua Sayang Alsya: http://semuasayangalsya.blogspot.com/

Feb 01

Segalanya untuk Anak

parenthood-session-2Malam ini, rencananya aku mau nonton Parenthood Session 2 yang tayang di Starworld. Sudah mewanti-wanti ke Hana, anakku. “Na, nanti malam giliran Bunda ya yang nonton TV. Jam 7.” Hana sudah setuju.

Tapi apa daya. Sejak jam setengah tujuh tadi, ia sudah mantengin channel Disney. Dan, sebelum jam 7, sebuah film dimulai di Disney.

Aku pikir, ya biar sajalah. Nanti jam 7 teng, aku akan meminta jatahku. Aku pun kembali nge-tweet dan nge-FB.

Lalu, samar-samar, kudengar tawa Hana. Sepertinya film itu lucu. Ia tampak sanget menikmatinya.

Aku tanya, “Lucu ya, Na?”

“Hihi…sebenernya aku pingin nangis.”

“Emang sedih ceritanya?” tanyaku lagi.

Hana pun menjelaskan. Bla…bla…bla…aku tidak paham.

Lalu, jam tujuh pun tiba, aku pun menguatkan hati, mengganti channel. Hana tidak protes, tapi aku dapat menangkap ada kata yaaahhh di wajahnya. Aku pun nggak tega.

“Hana suka ya film ini?”

Nov 08

Belajar Ikhlas dan Ridho

Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.

Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.

Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.

Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.

Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.

Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.

Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.

Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.

Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.

Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.

Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.

Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.

Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

perempuan ikhlas

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]

Sep 18

Yang Benar dan Yang Salah

Ketika yang salah menjadi benar. Dan, yang benar dipersalahkan. Itulah gambaran negeri ini sekarang.

Semua itu membuatku semakin berhati-hati dalam mendidik anak. Membuatku terus-menerus memintanya menggunakan hati nurani dan keimanannya untuk melihat segala sesuatu. Bahwa segalanya adalah sepengetahuan Allah, atas seizin-Nya.

Seperti saat aku melihat peristiwa yang baru saja berlalu. Bahwa, Allah mengizinkan hal itu terjadi. Mengapa? Yang Maha Mengetahui pasti telah mempersiapkan hikmah indah bagi yang meyakini-Nya dengan segenap hati dan jiwa.

Terkadang, Allah menunjukkan yang benar dengan cara-Nya sendiri yang berada di luar jangkauan pemikiran manusia.

Apa yang terjadi kerap dilihat sebagai satu kejadian semata, tanpa dilihat rentetan peristiwa di baliknya. Mengapa itu bisa terjadi? Peristiwa apa yang melatarbelakanginya?

Media, dengan cara pandangnya sendiri — yang entah belakangan ini dipengaruhi oleh apa, namun semakin menyeramkan, setidaknya menurutku — membuat cara pandang seluruh masyarakat berubah. Ke arah yang baik? Tidak juga. Ke arah yang benar? Aku meragukannya.

Bagi yang masih memiliki hati nurani, silakan sisihkan sedikit waktu untuk melihat peristiwa ini dari sisi yang berbeda. Silakan intip berita berimbang dari Republika.co.id berikut ini.

Sep 12

Liburan Lebaran

Alhamdulillah, yang paling aku suka dari Lebaran kali ini adalah liburannya. Bukan, bukan berlibur ke luar kota atau bertamasya ke tempat rekreasi. Tapi, lebih ke memberikan waktu kepada diri sendiri untuk melakukan apa yang aku inginkan.

Nonton TV, membaca, menulis, ngeblog, FB-an, Twitter-an, dan mungkin nge-MP-i.

Mengenai beberes rumah, hm…sudah tiga bulanan lebih aku tidak menggunakan jasa ART (Asisten Rumah Tangga). Hanya ada kerabat yang membantu di rumah Mama yang juga datang ke rumah yang kutinggali untuk mencuci piring, menyapu dan mengepel.

Cuci-mencuci pakaian sudah beberapa waktu kuserahkan sebagian ke laundry kiloan — yang sekarang sedang tutup, hiks.

Masak? Di hari-hari biasa, aku mendapat kiriman masakan dari Mama karena kalau masak sendiri, selain rasanya tak terjamin, aku juga tidak sempat. Meski bekerja di rumah, working hour-nya seperti orang kantoran, dari pk. 9.00 s/d pk. 17.00. Terkadang lembur juga.

Jadi, ya tak terlalu berbeda sih. Kecuali mungkin hari ini, masak. Tadi aku membuat menu simple brunch yang banyak — supaya kenyang, nasi goreng telur. Nanti malam, sudah disiapkan bahan-bahan untuk membuat pasta.

Oh ya, aku libur semenjak tanggal 7 September silam. Kembali bekerja tanggal 16 yang akan datang. Selain cuti bersama, aku mengambil 2 hari cuti pribadi. Meski mencintai pekerjaanku di bidang kain, di http://KainIkat.com/ dan http://BatikIndonesia.com/, ternyata aku perlu juga me-refresh diri.

Mengenai Lebaran, selain membuat kue untuk persiapan Lebaran, aku juga menyempatkan diri menemani Mama berbelanja pakaian — karena tidak sempat menjahitkan ke penjahit langganan. Kami pergi bertiga, aku, Mama dan babyHana. Senang, tapi sedih. Aku jadi teringat Jiddah, nenekku. Dulu, aku, Mama, dan Jiddah juga pergi bertiga, belanja-belanja. Kangen banget sama Jiddah.

Lalu, tiba hari Lebaran. Pagi aku bersilaturahmi ke tetangga dan menemui Mama dan Papa untuk meminta maaf. Pagi menjelang siang, aku ke rumah Umi Mertua bersama Hana dan Abinya. Siang menjelang sore, kami kembali ke rumah Mamaku. Sore menjelang malam, kami pergi ke rumah keluarga besar Kakekku.

Hari kedua Lebaran, kami berkeliling di seputar Petamburan, Tanah Abang, dan Rawabelong. Bersilaturahmi dengan kerabat yang memang hanya bertemu setahun sekali — dua kali setahun jika ada acara perkawinan.

Dan, hari ketiga, kuputuskan untuk tidak ke mana-mana. Baik aku, Hana, maupun Abinya, kami butuh istirahat juga. Karena, besok, ada kemungkinan kami berkeliling lagi.

Teman-teman kuliah mengajak halal bihalal besok siang. Tapi, aku tidak yakin bisa. Karena, ya itu, mungkin harus berkeliling lagi, masih suasana Lebaran :D . Untuk besok-besoknya mungkin aku sudah tidak berkeliling. Tapi, entah Mama masih berkeliling atau tidak. Hubungannya? Aku mesti menitipkan Hana ke Mama kalau memang mau pergi :D .

Yah…begitulah kira-kira suasana Liburan Lebaran-ku kali ini.

Oh ya, masih ada satu lagi. Mau menengok ke belakang. What have I done wrong? Supaya, setelah Ramadhan dan Lebaran berlalu, ke depannya aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Amin.

Hampir lupa, mohon maaf lahir batin ya, dear bloggers! :D

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top