Archive for the ‘Makanan’ Category

Memberi Makan Orang yang Sedang Berpuasa

Beberapa waktu sebelum Maghrib, saat saya lewat di meja makan, saya menemukan sebungkus kantung plastik yang berisi dua gelas bubur sumsum + biji salak. Wuih, menggoda nian.

Saya tanya ke mereka yang ada di dekat-dekat sana punya siapakah makanan itu. Tak ada seorang pun yang tahu.

“Dikirim untuk Ibu berbuka mungkin,” ujar Pengasuh Hana.

“Siapa yang kirim?”

“Yang nggak kelihatan,” jawabnya asal.

Hayah…

Jujur, saya benar-benar tegoda oleh tampilan makanan tersebut. Saya berusaha mencari tahu. Apakah ini rejeki saya atau bukan.

Adik saya yang tengah, Najib, keluar kamar. Dan, ketika saya tanyakan kepadanya, senyum saya pun terkembang.

“Tadi dari teman.”

“Kakak lagi puasa nih…boleh minta buat berbuka?”

“Makan aja, Kak.”

“Alhamdulillah.”

Kebetulan, adik bungsu saya juga sedang puasa, jadi satu gelas untuk saya, satu lagi untuk dia. Alhamdulillah.

Terima kasih untuk teman Najib. Terima kasih juga untuk Najib. Insya Allah, kalian berdua juga mendapatkan pahala puasa kami. Amin.

Kalau dipikir-pikir lucu juga ya? Ia bisa memberi makan orang yang sedang berpuasa meski ia awalnya hanya berniat memberikan makanan tersebut untuk orang yang tidak sedang berpuasa.

Ket. gambar: dari blog Bunda Inong.

Sop Mutilasi

sop-mutilasiAda kisah yang terlupakan saat saya melakukan business trip ke Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

Saat itu kami sudah sangat lapar, namun di sepanjang Pantura kami tak juga menemukan rumah makan yang kelihatannya cukup oke untuk makan siang.

Saya lupa tepatnya di mana, tapi yang pasti kami sudah memasuki wilayah Jawa Tengah, kami mendapati sebuah rumah makan yang tampak luarnya sangat representatif. Duh, saya pun lupa namanya apa.

Kami langsung menyerbu. Ternyata, kami harus memilih makanan dari display. Membingungkan, karena nampaknya semua menarik.

Mata saya melirik ke dinding di belakang pramusaji. Ada tulisan yang sangat menarik perhatian:

Sop Mutilasi >>> sebenarnya saya agak kurang yakin nama sebenarnya apa, tapi seigat saya, kata mutilasi itulah yang membuat saya tertarik.

O-ow…nama sop yang aneh. Saya colek-colekan dengan teman-teman seperjalanan.

“Mas, itu sop apa?”

“Oh, itu sop ayam, Mbak.”

“Kok namanya seperti itu?”

“Karena ayamnya memang dimutilasi.”

Well, ok, semua ayam pastinya harus dipotong kan sebelum dimasak. Saya pesan satu, juga beberapa teman yang lain.

Dan…benar saja, ayam itu sudah termutilasi dengan suksesnya di atas mangkuk. Ceker dan kepala terkulai pasrah di atas hamparan sayuran pendamping.

sop-ayamSaya, yang tak suka ceker bila tidak digoreng kering dan terlebih tidak suka kepala ayam, langsung menghibahkan keduanya kepada teman yang lain.

Awalnya, sop itu terasa lumayan enak, apalagi tampilannya bening gitu. Tapi, lama-lama bau amis ayam tercium. Saya batal menghabiskan kuah sop seperti niat semula.

Yah, paling tidak, saya sudah pernah mencicipi dan tahu rasa dan bentuk sop ayam mutilasi. Hiy! Poor chicken!

Rujak Kangkung

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kuliah kumpul-kumpul di rumah salah satu di antara kami.

rujak-kangkungSi empunya rumah berbaik hati menyuguhkan berbagai jenis rujak. Selain rujak buah, ada pula rujak kangkung.

Eits, rujak kangkung? Apa tu?

Rujak kangkung itu adalah lauk yang dimakan dengan nasi. Isinya adalah kangkung dan tauge rebus, ikan jambal, tempe goreng garing plus kerupuk putih. Dengan bumbu rujak tentunya.

Salah seorang teman yang memang agak lugu dalam hal makanan bertanya, “Ini maksudnya go green ya?”

Well, kind of.

Nah, saya ternyata jatuh cinta setengah mati dengan masakan ini. Karena, perpaduan antara bumbu rujak dan ikan jambal yummy banget. Kata si teman, rujak kangkung adalah masakan Betawi.

Saat saya cek ke Mama, ternyata memang Mama pernah mencoba. FYI, kami keturunan Betawi juga.

Dan, hari ini saya mencoba membuatnya. Yang menantang adalah membuat bumbu rujaknya.

Bahan-bahannya seperti bumbu rujak pada umumnya: cabai, air asem, gula merah, garam, dan terasi.  Hanya saja, agar rasanya pas, saya harus menambah ini-itu. Dan, akhirnya ketemu juga rasa yang diidamkan.

Thanks to Ari yang sudah sudi menampung kami di acara kumul-kumpul waktu itu dan memperkenalkan Rujak Kangkung. Love it!