güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Pekerjaan’ Category

Urusan Rumah Tangga

Sebenarnya, kalau waktunya ada, nggak ada tuh cerita urusan rumah tangga terbengkalai. Tapi, masalahnya, waktunya memang nggak cukup. Padahal sekarang ini aku cuma megang 2 kerjaan. Di batik dan di buku (dua-duanya bisnis online).

Dan, ada lagi satu faktor pendukung lainnya kenapa urusan rumah tangga kerap terbengkalai. Tidak dibiasakan sejak kecil.

Sedari lahir sampai hendak menikah, aku tinggal dengan Kakek-Nenek. Kebetulan mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga yang bisa diamanahkan untuk mengurus rumah. Itu termasuk urusan kamarku. Jadi memang kadang pulang sekolah atau kuliah dulu itu, jreng…tau-tau kamarku sudah rapi jali!

Nah, saat menikah pun, setelah pindah rumah, aku mendapat bantuan dari asisten rumah tangga. Begitu juga saat kembali ke rumah Nenek dulu.

Tapi sekarang, di rumah kontrakan ini, semua harus dikerjakan sendiri. Beruntung suamiku mau berbagi tugas. Tapi ya tetap saja kadang ada yang terbengkalai.

Masalah tidak terbiasa sejak kecil ini cukup mengganggu pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba memberi tanggung jawab kepada Hana. Tapi kelemahanku adalah jika tidak dikerjakan oleh Hana, aku gemas dan mengerjakannya sendiri. Salah ya?

Aku punya seorang teman yang sejak kecil sudah diberikan tanggung jawab mengurus rumah tangga oleh orang tuanya. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak! Aku salut kepadanya dan kepada orang tuanya.

Memang sudah semestinya anak diajarkan untuk turut membantu di rumah, agar nanti setelah dewasa, ia sudah terbiasa. Ia akan melakukannya dengan otomatis dan riang.

Sekarang sih, kalau memang waktunya ada, aku senang-senang saja melakukan semua. Bersih-bersih, memasak, semua sebenarnya menyenangkan. Apalagi memasak. Tapi ya itu, waktunya nggak cukup sih (bukan lagi ngarang alasan lho… ^____^ )

Menjadi Manusia

Meminjam istilah Rini, saya sedang menjadi manusia. Lho, memang pernah tidak menjadi manusia?

Antara pernah dan tidak. Begini, ini ada hubungannya dengan pekerjaan. Pekerjaan tetap saya adalah sebagai online promo & marketing plus content editor pada sebuah toko online yang menjual kain batik dan kain ikat. Meskipun bekerja di rumah, saya tetap ‘ngantor’ dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.

Pekerjaan saya ini menuntut banyak perhatian dan ketekunan. Pada jam-jam tersebut, sulit bagi saya berbagi pikiran ke hal-hal lainnya. Ya, paling banter, kalau lagi mentok, saya bermain-main dengan akun sosmed pribadi, atau ngeblog (yang ini agak jarang, karena ngeblog sebenarnya kan juga butuh konsentrasi ya?).

Sementara, sejak lama, sebelum bekerja di toko online ini, saya sudah menjalani profesi fleelancer yang kebetulan saya sukai, sebagai penerjemah. Selain menulis, menerjemahkan adalah hal menyenangkan lainnya yang bisa mendatangkan rejeki buat saya. Hobi yang dibayar, begitu.

Sehingga, agak sulit menampik jika ada tawaran untuk menerjemahkan. Biasanya, bukan karena uangnya, melainkan karena muatan pada buku yang ditawarkan. Kalau menarik, kata tidak agak sulit keluar dari ketikan tangan saya (biasanya tawaran itu datang melalui email atau YM).

Namun, sejalan usia yang semakin bertambah, ketahanan tubuh saya tidak seperti dulu. Menerjemahkan adalah hal yang saya lakukan pagi-pagi sebelum memulai pekerjaan di toko online tersebut atau setelahnya, pada malam hari. Dulu sih kuat-kuat saja. Tapi, sekarang, saya lebih mudah merasa letih. Terlebih, saat deadline menghampiri.

Seperti kesepakatan dengan suami, saya memutuskan untuk cuti dulu dari menerjemahkan. Untuk sementara waktu. Dan inilah yang dimaksud dengan menjadi manusia. Saya memiliki waktu luang untuk mengurus anak, mengurus rumah, membaca, bercengkerama dengan orang tua, dll., dsb.

Masalahnya, sejak menjadi manusia begini, saya kok kangen dengan kegiatan mengalihbahasakan novel atau buku-buku non fiksi menarik seperti dulu? Nah, memang begitu bukan menjadi manusia? Hehe…tidak puas dengan keadaan dan selalu melihat hal lain sebagai rumput yang lebih hijau?

Maka, saya nikmati saja rasa kangen itu. Atau saya alihkan dengan menulis atau mengedit tulisan lama yang kemudian saya kirimkan ke majalah (atau mungkin nanti ke penerbit, untuk tulisan yanh agak tebal, insya Allah). Entah akan dimuat/diterbitkan atau tidak, yang penting saya merasa senang. Dan, mudah-mudahan kebiasaan saya dalam mengolah kata tidak tumpul.

Menjadi manusia? Enak!

Lebih Enak Mana?

Kerja di rumah atau di tempat lain?

Buat saya yang bekerja tanpa harus ngantor, lokasi kerja bisa di mana-mana. Bisa di atap rumah, di tengah jalan, di mana aja — Ok, that shounds lebay. Maksudnya, ya bisa saya lakukan di rumah, ataupun di tempat lain seperti kafe.

Memang sih, gaya banget kerja di kafe itu. Duduk di sofa, santai, dengan koneksi internet tak terbatas — kebetulan pekerjaan saya menuntut koneksi internet, dan ya itu…keren deh kayaknya.

Dan, hari ini saya terpaksa berkeren ria di sebuah kafe yang menjual kopi — iyalah kafe menjual kopi! — yang lumayan enak dengan nama brand lokal. Tapi saya nggak minum kopi, saya minum iced chocolate + hazelnut. Hm…so? Gimana rasanya?

Nggak seru! Saya terpaku pada tempat duduk ini. Belum lagi distraction berupa pengunjung kafe yang aneh-aneh. Baca: aneh. Andai ada yang enak dilihat gitu. Nggak ada. Hihi. Bukan cuma itu, saya harus mengeluarkan uang untuk minuman dan makanan yang sebenarnya nggak saya butuhkan. Dan, saya kebelet pipis! ^___^

Coba deh kalo di rumah. Saya bisa kerja di pojok kerja saya yang nyaman, ditemani suami tercinta yang juga Work at Home Daddy, bisa bobo-boboan kalo pinggang pegel, atau bahkan bisa kerja di atas tempat tidur. Plus, nggak ada dana yang harus dikeluarkan. Dan, saya bisa ke kamar mandi anytime saya mau.

Tapi ya, sesekali kerja di kafe gini boleh lah. Ganti suasana. Bahkan tadi sempat memberi sedikit ide untuk cerpen yang akan saya tulis. Hihi.

Sering-sering ngafe gini? Hm…saya harus pikir dua kali…dan cek dompet lima kali!

Yuk, ah…saya mau pulang dulu! Ada janji dengan pembatik yang menjadi rekanan di tempat kerja saya. Plus, saya pingin pipis!

Atasan

Bukan, ini bukan sedang membahas tentang baju atasan alias blouse dan teman-teman. Melainkan tentang atasan, alias bos.

Aku sekedar ingin menapaktilasi perjalananku sebagai bawahan dengan beragam atasan. Kesimpulanku, atasan yang baik adalah atasan yang tidak semata me-manage pekerjaan bawahannya sehingga tujuan perusahaan tercapai. Melainkan yang mampu menjadi guru bagi bawahannya. Yang sudi berbagi ilmu, baik ia sadari maupun tidak.

Tapi, itu tidak termasuk atasan menyebalkan yang darinya kita belajar untuk tidak menjadi pribadi yang pemarah, misalnya. Atau belajar untuk tidak menjadi bos yang cuma bisa menyuruh tapi jarang mampu memberikan solusi jika bawahan mentok dengan masalahnya.

atasanSo far, setelah aku hitung-hitung, aku pernah memiliki kurang lebih 12 orang atasan selama bekerja semenjak lulus kuliah di tahun 2000. Baik atasan langsung maupun tidak langsung.

Ehm, sebenarnya, sebelum lulus pun aku sudah pernah bekerja, menjadi guru pembimbing di BTA SMA 8.  Tapi saat itu aku belum melihat jajaran pimpinan BTA sebagai atasan, karena mereka lebih menganggap kami semua sebagai rekan. Jadi, rasanya agak berbeda.

Dari kedua belas atasan tersebut, 4 memberi kesan buruk, 3 biasa-biasa saja, dan 5 memberi kesan mendalam.

Yang lima itu di antaranya: Seorang pria berkebangsaan Inggris yang saat beliau wafat, aku menangis sejadi-jadinya — beliau sangat teramat baik, aku belajar banyak tentang kerendahan hati darinya;  seorang pria berkebangsaan India, yang mengajariku berpikir sistematis; seorang perempuan yang berhati lembut, yang darinya aku belajar bagaimana dapat bersikap tegas namun tetap dengan kelembutan — yang ternyata tidak mudah; dan dua orang pria lainnya yang dari mereka aku belajar mengenai banyak hal.

bos-yang-baikYang dua terakhir ini tergolong masih muda, hanya berbeda usia beberapa tahun dariku. Dan, mereka membuatku merasa seperti sponge — tanpa bob. Karena, begitu banyak yang mereka ketahui dan mereka bagi yang perlu kuserap. Bekerja dengan dan untuk mereka sama saja dengan sekolah lagi. Yang pasti, aku merasa, di bawah kepemimpinan mereka, kemampuan dan pengetahuanku bertambah, aku berkembang.

Kemarin, aku berkesempatan menemani seorang rekan kerja untuk mewawancarai seorang calon pegawai. Setelah sesi tanya jawab selesai, kami berdiskusi.

Dan, aku berkesempatan untuk berbagi tips dengannya. “Satu hal yang perlu kamu ketahui, atasan bukan sekedar orang yang nantinya bertugas memimpin kamu. Pastikan juga ia bisa menjadi guru untukmu. Caranya, kamu harus membuka diri. Jika tidak bisa, bilang tidak bisa. Pura-pura bisa justru akan merepotkan diri kamu sendiri. Kamu harus bisa mempelajari banyak hal dari atasanmu. Rugi kalau punya atasan cuma untuk kamu kasih wewenang buat menyuruh-nyuruh kamu. Serap semua ilmunya. Aplikasikan. Itu baru bawahan yang baik.”

Dan, itulah bawahan yang suatu hari nanti, pada akhirnya, bisa menjadi atasan. Plus, seperti pada pakaian, atasan dan bawahan pada akhirnya harus saling melengkapi, bukan?

Aku di 2011

tahun-baru-2011Biasanya, aku tidak mau membuat resolusi tahun baru. Tapi kali ini berbeda. Aku merasa aku harus mencanangkan resolusi.

Sebenarnya, dulu aku tidak mau beresolusi karena aku tidak ingin berharap. Aku takut akan harapan. Mungkin karena aku dulu aku terlalu berharap. Jadi, aku leboh fokus kepada akhir yang selalu positif. Tidak siap ketika ternyata hasilnya negatif.

Tapi, setelah aku intip di KBII online, kata harap memang pada akhirnya mengacu kepada hal yang berakhir positif alias harapan itu akan jadi kenyataan.

ha·rap 2 n keinginan supaya sesuatu terjadi >> ber·ha·rap v 1 berkeinginan supaya terjadi >> meng·ha·rap v 1 berharap akan; menantikan; menginginkan >> ha·rap·an n 2 keinginan supaya menjadi kenyataan.

Tapi ya memang aneh juga ya kalau berharap tapi nggak mikirin hasil alias kenyataannya? Haha!

Ya, pokoknya, bagaimana pun hasilnya, aku ikhlas. Karena, harapan yang akan kugantungkan kepada diriku sendiri pada tahun 2011 ini lebih kepada prosesnya. Karena, aku merasa pada tahun 2010 ini aku kurang giat dalam mengupayakan prosesnya.

Kira-kira apa yang akan aku lakukan tahun 2011 mendatang? Wah, banyak! Pokoknya harus memperkaya diriku baik dari berbagai segi, termasuk  kualitas diri dan kualitas materi. Yup, nggak mau muna ah. Siapapun butuh materi kan?

Yang pasti, aku berjanji untuk lebih giat tahun ini. Lebih semangat lagi dalam membesarkan nama http://KainIkat.com, http://BatikIndonesia.com, dan http://BukuMurMer.com. Lebih disiplin lagi dalam mencari dan mengerjakan job terjemahan. Lebih tekun lagi dalam menulis — tahun 2010 ini aku tidak mengirim cerpen ke majalah hiks.

Semoga dari semua niat baik itu akan ada hasil yang indah, apapun dan bagaimanapun itu. Amin.

Semangat menyongsong 2011!