Archive for the ‘Pekerjaan’ Category

Hari yang Seru

Yup, hari ini hari yang seru untukku. Dimulai dengan seru-seruan mengurus http://kainikat.com dan perintilannya. Juga http://batikindonesia.org dengan pernak-perniknya.

Sejatinya, di dunia nyata, aku bukan tipe orang yang mahir atau menikmati berjualan. Tapi, entah mengapa, di dunia maya, semenjak memulai dengan berjualan buku di http://bukumurmer.multiply.com, aku nampaknya cukup enjoy. Mungkin karena aku ‘berlindung’ di balik tulisan dan layar monitor.

Berurusan dengan pelanggan di dunia maya agak-agak tricky. Kita harus bisa membaca mana yang serius, mana yang sekedar berminat dan tanya-tanya tanpa yakin akan membeli atau tidak. Ada kalanya, aku dan partner di kainikat.com dan batikindonesia.org dapat mentranformasikan si peminat dan penanya menjadi pembeli. Tapi, ada pula yang nyeheng alias kekeuh – apa sih bahasa Indonesianya? — bertanya lagi dan lagi tanpa berakhir dengan prosesi transfer dan pengiriman barang.

Tapi, itulah seninya. Dan, serunya.

Selain bekerja 9 to 5 untuk kedua web tersebut, aku juga menerjemahkan buku untuk sebuah penerbit yang nampaknya memiliki sayap yang kian lebar di dunia perbukuan.

Dan, sore tadi, sang editor menghubungi untuk membahas terjemahanku. Karena sudah merasa akrab, aku bisa ketawa-ketiwi dengannya. Tapi, tentu dengan diselingi pembicaraan serius yang sempat membuatku gemas. Namun, setelah dibicarakan, aku tak lagi gemas. Karena, sang editor telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

Hari yang seru secara profesional ini juga diikuti dengan keseruan lainnya di wilayah non profesional hidupku.

Pertama, adikku akan melangsungkan resepsi pernikahannya. Seperti biasa, aku mengajukan diri untuk membantu mengurus ini-itu. Seksi repot abadi.

Kedua, aku mengelola http://tingkahanak.com, situs yang kubuat untuk menulis segala tentang tingkah anak. Dan, setiap Rabu aku membuat acara Rabu Seru! Apa tu? Liat sendiri ya…haha!

Kalau dipikir-pikir, aku memang nggak bisa diam ya? Kalau kata suami, aku banyak maunya. Mungkin benar juga. Harus direm kah? Atau dibiarkan liar saja?

Sejujurnya, aku memilih yang terakhir. Supaya tetap bisa melalui hari-hari dengan seru!

;)

Menghadapi Revisi

televisiBeberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.

Namun, ternyata mau tak mau, saya juga harus berjumpa dengan serangkaian revisi. Mulai dari revisi pada penulisan hingga revisi yang berkenaan dengan daya jual naskah.

Awalnya, gemas juga dengan revisi-revisi tersebut, apalagi acara tersebut kejar tayang. Jadi, revisi harus dilakukan segera.

Namun, belakangan, saya sudah mulai agak terbiasa.

Revisi memang tidak bisa dihindari. Ada unsur selera juga yang bermain. Memang, ada pakem-pakem yang sudah disepakati bersama. Namun, tak dapat dipungkiri, selera setiap orang berbeda.

Apapun hasilnya, saya menghargai betul kesempatan pertama ini. Saya dapat berlajar banyak hal. Terutama, melalui revisi-revisi tersebut.

Dan, memang itu yang saya kejar dari setiap pekerjaan yang saya jalani. Tak apalah jika saya belum berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebin tinggi lagi — saya pernah bermimpi mengambil master dalam bidang creative writing. Saya ternyata dapat belajar banyak dari serangkaian pekerjaan yang saya jalani sekarang.

Berpikir Sistematis

klasifikasi-barangSaya bukan orang yang paling rapi di dunia. Kadang malah cenderung berantakan — karena saya tipe orang yang terbiasa melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Tapi, saya berusaha untuk tetap berpikir sistematis di antara hal-hal yang berantakan itu.

Misalkan, dengan mendata. Saya senang membuat data-data yang jelas, sehingga membuat saya mudah memahami sesuatu dan mempermudah pekerjaan saya.

Hal ini saya pelajari ketika saya menjadi sekretaris dulu. Beberapa atasan dan rekan kerja yang membimbing saya dalam berpikir sistematis. Bukan apa-apa, saya tidak berlatar belakang pendidikan kesekretarisan, jadi perlu bimbingan khusus.

Setelah itu, saya berusaha menerapkan pola pikir sistematis dalam setiap pekerjaan saya selanjutnya — meski saya tidak lagi berprofesi sebagai sekretaris.

Saya lebih suka jika semua diklasifikasikan terlebih dulu, baru kemudian diaplikasikan. Dengan begitu, hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan dan pengcekan progress pekerjaan menjadi lebih mudah. Apalagi berhubungan dengan pekerjaan yang melibatkan tim.

Saya yakin, jika semua jelas, segalanya akan lebih mudah.

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)

Menerjemahkan Lagi

bukuBuku yang sempat saya ceritakan itu sudah di tangan sekarang. Awalnya saya ragu karena hanya diberi waktu satu setengah bulan oleh penerbit untuk merampungkan proses penerjemahan buku yang terbalnya mencapai 460 halaman ini.

Namun, setelah berdiskusi dengan sang editor baik hati, saya pun diberi waktu selama dua bulan. Alhamdulillah.

Meski itu berarti saya harus bekerja lagi di malam hari — karena siang hari saya berkomitmen kepada pengembangan http://kainikat.com/ — saya sangat senang.

Mengapa?

Karena kali ini buku yang saya terjemahkan adalah sebuah novel. Berkat semangat seorang kawan penerjemah lainnya, saya bertekad untuk menyelesaikan novel ini sesuai deadline. Amin.