Archive for the ‘Pekerjaan’ Category

Ramadhan Dahulu dan Kini

Tak terasa sudah Ramadhan lagi. Alhamdulillah. Setahun berlalu, banyak hal terjadi, banyak hal berganti.

Mulai dari Hana yang semakin besar, hingga saya sendiri yang melalui banyak peristiwa.

Hana sekarang sudah ikut tarawih dan puasa. Benar-benar berbeda setelah ia berusia lima tahun. Hana bukan bayi lagi.

Dan, saya…banyak hal telah berubah.

Tahun lalu, saya masih bekerja sebagai web content editor untuk saluran Astro Oasis, tepatnya untuk PT. AKV. Astro Oasis sendiri adalah saluran keluarga dengan konten Islami. Sehingga, suasana Ramadhan menjadi lebih syahdu karena keterlibatan saya dalam berbagai hal di saluran tersebut.

Mulai dari ikut membantu beberapa konferensi pers, turut dalam rapat  programming, hingga mengedit beberapa acara untuk ditampilkan di website — yang merupakan tugas saya sehari-hari.

Pengalaman yang luar biasa, baik dari sisi profesional maupun spiritual. Saya semakin sadar bahwa di negeri ini, belum ada saluran serupa. Saluran yang mengingatkan kita bukan hanya tentang keindahan duniawi, namun juga nikmat ukhrawi.

Bukan hanya itu, suasana Ramadhan pun begitu terasa di PT. AKV. Saat istirahat / Dzuhur tiba — atau di waktu Ashar, banyak rekan kerja yang sibuk dengan Al-Qur’an masing-masing di tangan. Sore hari, jika waktu Maghrib menjelang, selalu dihidangkan makanan kecil untuk menemani berbuka — tak lupa hidangan susu coklat lezat di fun room.

Di luar semua itu, banyak hal yang membuat saya harus mengakui bahwa bekerja untuk AKV merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Karenanya, saat saya dipersilakan untuk menyelesaikan kontrak hingga pertengahan Februari 2009 yang lalu, saya seperti orang patah hati. Not only was it the best job ever, but also the best working place.

Namun, semua tinggal kenangan — kenangan yang hampir selalu membuat saya menangis setiap mengingatnya.

Sekarang, saya bekerja di rumah, dengan pekerjaan yang juga menarik, dengan orang-orang yang baik — kami bekerja di virtual office. Hikmahnya, saya tetap dapat beribadah dengan sama khusyuknya dengan tahun lalu (atau lebih?).

Kuncinya adalah tetap ikhlas dan bersyukur. Menerima dan menikmati apapun yang ditetapkan oleh-Nya atas diri saya. Seperti kata atasan saya di Astro Oasis, Mas Tomi Satryatomo, beberapa waktu yang lalu — entah di mana saya lupa, di FB sepertinya — yang intinya mengajak kami semua untuk move on, melanjutkan hidup kami masing-masing dan tidak terpuruk kesedihan.

Yah, mudah-mudahan saya bisa. Tapi, jika sudah patah hati, terkadang sulit untuk melupakan. Baik saat-saat yang indah, maupun saat-saat yang menyakitkan.

Yang pasti, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan terdahulu. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, seberbeda apapun keadaannya.

Jualan Boleh Jutek?

anak-pasarEnggak dong.

Makanya, saat saya sedang menangani pelanggan di http://bukumurmer.multiply.com, meski mereka kadang suka ‘lucu-lucu’, saya berusaha se-cool mungkin.

Nah, tadi sore, saya dan Hana, anak semata wayang, jalan-jalan ke pasar. Bukan yang pertama kali buatnya, ke pasar tradisional. Tapi, ia belum pernah ke bagian sayur-mayur. Ia nampak bingung. Karena, selama ini yang ia lihat sayur tertata apik dalam ruangan yang bersih di hypermart.

Tapi, bukan jalan-jalan berdua Hana yang hendak saya bahas di sini, melainkan tingkah polah penjual yang saya temui di pasar tadi.

Ada yang ramah, tapi begitu saya menawar, mereka membalikkan tubuh, pura-pura sibuk merapikan barang dagangan.

Ada pula yang sejak awal memang acuh tak acuh.

Ada pula yang bete saat tahu ia tak menjual barang yang saya cari dan malah dengan nada mengesalkan menawarkan barang lain.

Ada yang seakan tak butuh pelanggan yang membeli barang sedikit karena ada yang sedang membeli dengan jumlah yang lebih banyak.

Ada yang jutek. Sejutek-juteknya.

Tapi ada pula yang memang benar-benar ramah. Keramahan yang tulus. Dan, saya berbelanja di sana, tentunya. Apalagi saya boleh menawar.

Wajah tanpa aura jutek sudah pasti mampu menarik pelanggan. Jualan sukses. Hati senang.

Buat apa jutek? Jutek itu tak ada gunanyaaa…

Mengunjungi Museum R.A. Kartini

museumrakartiniMinggu lalu, saya melakukan business trip ke Jawa Tengah. Salah satu kota tujuan adalah Jepara. Karena sudah sampai di sana, meski hari menjelang Maghrib (saat itu sudah jam 17.30 sore), saya dan rekan-rekan menyempatkan diri mengunjungi Museum R.A. Kartini.

Museum tutup jam 4 sore. Tapi, kami beruntung. Salah seorang penjaga yang baik hati — karena tahu kami dari Jakarta — memberi kesempatan untuk mengintip salah satu ruangan.

Saat memasuki ruangan tersebut, aura mistis agak terasa. Foto-foto tua dan lukisan R.A. Kartini yang besar itu seakan menyergap saya. Namun, saya berusaha sekuat tenaga mengabaikannya dan tetap terlihat santai dan berani — walau dalam hati saya terus berdo’a.

museum-kartiniAura mistis lebih terasa lagi saat kami memasuki sisi lain ruangan tersebut yang hanya tersekat kayu, ruangan meditasi Kartono, kakak R.A. Kartini. Ia dikenal sebagai dokter air, karena dapat menyembuhkan orang lain dengan memberikan air.

Di ruangan itu, kalau tidak salah, terdapat 5 lukisan lainnya. Saya sudah tidak konsen saat si penjaga menjelaskan lukisan siapa saja itu. Saya sedang berusaha menghalau bukan lagi bulu kuduk yang merinding, namun rasa tak enak di bahu saya. Entah apakah karena saya sekedar ketakutan atau memang ada hal lain.

andong-ra-kartiniTapi, tak dapat dipungkiri, semua memang merasa takut berada di dalam sana. Keesokan hari, dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, barulah kami membahasnya.

Mungkin memang karena kami datang menjelang Maghrib, suasana yang sepi, ruangan yang remang-remang, dan penuh dengan benda yang berumur ratusan tahun, ada yang berbeda dengan ruangan tersebut.

Salah seorang rekan kerja berfoto di dekat pintu masuk, namun setelah itu ia memutuskan untuk tidak berfoto lagi. Rekan kerja lainnya baru hendak berfoto, namun ia mendapati baterai kameranya habis. Wajar sih, karena memang seharian kami berfoto ria. Saya sendiri hanya mengambil gambar andong alias kereta kuda – tanpa kuda tentunya — R.A. Kartini dan tulisan Museum R.A. Kartini di bagian depan museum. Di dalam ruangan, saya memutuskan untuk menyimpan rapi kamera saya.

Kata: Jepretan

fotografiMasih ada hubungannya dengan kegiatan menerjemahkan naskah beberapa waktu yang lalu, kali ini saya menemukan kata lain yang cukup seru — paling gak menurut saya — untuk dibahas.

Saya harus menemukan padanan kata ‘shot‘ yang terkait dengan bidang fotografi.

Tahu kata apa yang muncul di kepala saya? Jepretan!

Hayah, kok jepretan si? Tapi ya memang begitu. Selama beberapa saat saya berpikir keras untuk menemukan kata lain yang lebih ‘Indonesia.’

Pikir…

Pikir…

Pikir…

Nah…ketemu! Bidikan!

Mau nggak mau saya menertawakan diri sendiri juga. Suami yang sering saya jadikan referensi untuk mencari padanan kata juga ikut tertawa-tawa. Padahal, saat saya tanyakan tentang kata lain jepretan dalam fotografi, ia juga tidak dapat membantu.

“Kaget denger kata jepretan,” ia beralasan.

Hm…dipikir-pikir memang konyol juga sih, di otak settingannya menerjemahkan secara resmi, tapi kok yang muncul malah kata jepretan?

:)

Saatnya Belajar Lagi

belajarSemenjak mulai bekerja di awal tahun 2000, kurang 2 bulan semenjak saya dinyatakan lulus kuliah, begitu banyak hal yang telah  saya pelajari.

Saya yang berlatar belakang sastra harus terjun bebas ke lingkungan kerja sebagai seorang Administrative Assistant. Saat itu, nge-fax saja saya belum tahu caranya.
Klik untuk melanjutkan membaca ya »