güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Pekerjaan’ Category

Berpikir Sistematis

klasifikasi-barangSaya bukan orang yang paling rapi di dunia. Kadang malah cenderung berantakan — karena saya tipe orang yang terbiasa melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Tapi, saya berusaha untuk tetap berpikir sistematis di antara hal-hal yang berantakan itu.

Misalkan, dengan mendata. Saya senang membuat data-data yang jelas, sehingga membuat saya mudah memahami sesuatu dan mempermudah pekerjaan saya.

Hal ini saya pelajari ketika saya menjadi sekretaris dulu. Beberapa atasan dan rekan kerja yang membimbing saya dalam berpikir sistematis. Bukan apa-apa, saya tidak berlatar belakang pendidikan kesekretarisan, jadi perlu bimbingan khusus.

Setelah itu, saya berusaha menerapkan pola pikir sistematis dalam setiap pekerjaan saya selanjutnya — meski saya tidak lagi berprofesi sebagai sekretaris.

Saya lebih suka jika semua diklasifikasikan terlebih dulu, baru kemudian diaplikasikan. Dengan begitu, hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan dan pengcekan progress pekerjaan menjadi lebih mudah. Apalagi berhubungan dengan pekerjaan yang melibatkan tim.

Saya yakin, jika semua jelas, segalanya akan lebih mudah.

Ibadah Siang dan Malam

Meski sedang tidak dapat berpuasa, insya Allah ibadah tetap dapat dilaksanakan. Bahkan, saya melakukannya siang dan malam.

Ibadah apa itu?

Saya bekerja. Ya, bukankah bekerja adalah ibadah juga?

Siang saya mengurus http://facebook.com/kainikat/, malam saya menerjemahkan sebuah novel.

Insya Allah, kedua kegiatan mencari nafkah ini dapat dikategorikan sebagai ibadah ya, oleh Yang Kuasa. :) .

bekerjaBukan hanya itu, kebetulan saya sangat menikmati keduanya. Tentu, ada riak di sana-sini, tapi alhamdulillah, sejauh ini dapat diatasi.

Siang tadi, kainikat.com baru saja mengadakan promo sajadah. Wah, ramai. Dan, alhamdulillah langsung sold out semua.

Selama bulan Ramadhan ini, memang diadakan promo. Promo sajadah tadi adalah promo kedua selama bulan puasa. Sebelumnya, kami mengadakan promo dengan mendiskon beberapa produk seperti taplak dan bed cover.

Jika lancar seperti sekarang ini, saya semakin semangat dalam bekerja!

Dalam menerjemahkan novel — ibadah malam hari saya ;) — saya juga merasa sangat bersemangat. Karena, sudah lama juga saya tidak menerjemahkan novel. Dan, novel kali ini cukup menantang.

Awalnya, saya pikir saya hanya dapat menikmati proses penerjemahan novel yang berbau romantis. Tapi, ternyata novel seru juga mengasyikkan.

Memang sih, saya juga harus banyak riset — minimal online — karena ada beberapa hal yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Tapi, selebihnya, menyenangkan juga.

Berbeda dengan non fiksi yang baru saya rampungkan pertengahan bulan Agustus lalu. Saat itu, rasanya lebih lambat, karena saya memang harus lagi-lagi cek n ricek dengan fakta yang terjadi. Bukan apa-apa, naskah yang satu itu adalah autobiografi.

Sungguh saya bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai pekerjaan yang saya cintai. Pernah ada masanya ketika saya mengeluhkan pekerjaan saya. Kebetulan, saya memang tidak menyukainya.

Kemudian, saya bertekad untuk hanya mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Mengapa? Karena, saya ingin ikhlas dan bahagia saat melakukannya. Sehingga, insya Allah proses pencarian nafkah tersebut bukan hanya membawa kebaikan bagi saya di dunia, namun juga di akhirat kelak. Amin.

Ada yang mengatakan bahwa saya terlalu asyik dengan comfort zone saya. Lalu, apakah salah merasa nyaman dan menikmatinya? Saya rasa tidak. Hidup sudah susah, jangan juga dibuat lebih susah dengan menantang diri dengan hal yang terlalu berat yang pada akhirnya membuat kita sendiri stres.

Keluar dari comfort zone juga sah-sah saja. Saya pun melakukannya. Tapi, dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang. Jangan semata karena merasa tertantang.

Tidak keluar dari comfort zone bukan berarti kita pengecut. Asalkan, alasan kita jelas dan memang sudah sesuai dengan takaran diri kita.

Jadi ke mana-mana ya? Haha…gak apalah. Sebenarnya sih, masih berhubungan juga. Intinya, kalau kita merasa nyaman di comfort zone dan kemudian menjalankan pekerjaan dengan nikmat, bukankah pada akhirnya rasa ikhlas yang bersemayam di hati?

Mari kita renungi lagi apa yang kita lakukan, sudahkah menjadi bagian dari ibadah? Mungkin saya juga masih harus menggali lagi. Karena, belum tentu juga semua yang saya lakukan ini dianggap ibadah oleh-Nya kan?

Paling tidak, semua yang saya katakan adalah untuk saya pribadi. Teman-teman mungkin berpikir lain. Kepala boleh sama hitam, tapi hati dan pikiran boleh berbeda. ;)

Menerjemahkan Lagi

bukuBuku yang sempat saya ceritakan itu sudah di tangan sekarang. Awalnya saya ragu karena hanya diberi waktu satu setengah bulan oleh penerbit untuk merampungkan proses penerjemahan buku yang terbalnya mencapai 460 halaman ini.

Namun, setelah berdiskusi dengan sang editor baik hati, saya pun diberi waktu selama dua bulan. Alhamdulillah.

Meski itu berarti saya harus bekerja lagi di malam hari — karena siang hari saya berkomitmen kepada pengembangan http://kainikat.com/ — saya sangat senang.

Mengapa?

Karena kali ini buku yang saya terjemahkan adalah sebuah novel. Berkat semangat seorang kawan penerjemah lainnya, saya bertekad untuk menyelesaikan novel ini sesuai deadline. Amin.

Ramadhan Dahulu dan Kini

Tak terasa sudah Ramadhan lagi. Alhamdulillah. Setahun berlalu, banyak hal terjadi, banyak hal berganti.

Mulai dari Hana yang semakin besar, hingga saya sendiri yang melalui banyak peristiwa.

Hana sekarang sudah ikut tarawih dan puasa. Benar-benar berbeda setelah ia berusia lima tahun. Hana bukan bayi lagi.

Dan, saya…banyak hal telah berubah.

Tahun lalu, saya masih bekerja sebagai web content editor untuk saluran Astro Oasis, tepatnya untuk PT. AKV. Astro Oasis sendiri adalah saluran keluarga dengan konten Islami. Sehingga, suasana Ramadhan menjadi lebih syahdu karena keterlibatan saya dalam berbagai hal di saluran tersebut.

Mulai dari ikut membantu beberapa konferensi pers, turut dalam rapat  programming, hingga mengedit beberapa acara untuk ditampilkan di website — yang merupakan tugas saya sehari-hari.

Pengalaman yang luar biasa, baik dari sisi profesional maupun spiritual. Saya semakin sadar bahwa di negeri ini, belum ada saluran serupa. Saluran yang mengingatkan kita bukan hanya tentang keindahan duniawi, namun juga nikmat ukhrawi.

Bukan hanya itu, suasana Ramadhan pun begitu terasa di PT. AKV. Saat istirahat / Dzuhur tiba — atau di waktu Ashar, banyak rekan kerja yang sibuk dengan Al-Qur’an masing-masing di tangan. Sore hari, jika waktu Maghrib menjelang, selalu dihidangkan makanan kecil untuk menemani berbuka — tak lupa hidangan susu coklat lezat di fun room.

Di luar semua itu, banyak hal yang membuat saya harus mengakui bahwa bekerja untuk AKV merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Karenanya, saat saya dipersilakan untuk menyelesaikan kontrak hingga pertengahan Februari 2009 yang lalu, saya seperti orang patah hati. Not only was it the best job ever, but also the best working place.

Namun, semua tinggal kenangan — kenangan yang hampir selalu membuat saya menangis setiap mengingatnya.

Sekarang, saya bekerja di rumah, dengan pekerjaan yang juga menarik, dengan orang-orang yang baik — kami bekerja di virtual office. Hikmahnya, saya tetap dapat beribadah dengan sama khusyuknya dengan tahun lalu (atau lebih?).

Kuncinya adalah tetap ikhlas dan bersyukur. Menerima dan menikmati apapun yang ditetapkan oleh-Nya atas diri saya. Seperti kata atasan saya di Astro Oasis, Mas Tomi Satryatomo, beberapa waktu yang lalu — entah di mana saya lupa, di FB sepertinya — yang intinya mengajak kami semua untuk move on, melanjutkan hidup kami masing-masing dan tidak terpuruk kesedihan.

Yah, mudah-mudahan saya bisa. Tapi, jika sudah patah hati, terkadang sulit untuk melupakan. Baik saat-saat yang indah, maupun saat-saat yang menyakitkan.

Yang pasti, Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan terdahulu. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, seberbeda apapun keadaannya.

Jualan Boleh Jutek?

anak-pasarEnggak dong.

Makanya, saat saya sedang menangani pelanggan di http://bukumurmer.multiply.com, meski mereka kadang suka ‘lucu-lucu’, saya berusaha se-cool mungkin.

Nah, tadi sore, saya dan Hana, anak semata wayang, jalan-jalan ke pasar. Bukan yang pertama kali buatnya, ke pasar tradisional. Tapi, ia belum pernah ke bagian sayur-mayur. Ia nampak bingung. Karena, selama ini yang ia lihat sayur tertata apik dalam ruangan yang bersih di hypermart.

Tapi, bukan jalan-jalan berdua Hana yang hendak saya bahas di sini, melainkan tingkah polah penjual yang saya temui di pasar tadi.

Ada yang ramah, tapi begitu saya menawar, mereka membalikkan tubuh, pura-pura sibuk merapikan barang dagangan.

Ada pula yang sejak awal memang acuh tak acuh.

Ada pula yang bete saat tahu ia tak menjual barang yang saya cari dan malah dengan nada mengesalkan menawarkan barang lain.

Ada yang seakan tak butuh pelanggan yang membeli barang sedikit karena ada yang sedang membeli dengan jumlah yang lebih banyak.

Ada yang jutek. Sejutek-juteknya.

Tapi ada pula yang memang benar-benar ramah. Keramahan yang tulus. Dan, saya berbelanja di sana, tentunya. Apalagi saya boleh menawar.

Wajah tanpa aura jutek sudah pasti mampu menarik pelanggan. Jualan sukses. Hati senang.

Buat apa jutek? Jutek itu tak ada gunanyaaa…