Archive for the ‘Rumah’ Category

Pernak-pernik Rumah

Sebenarnya, aku berprinsip, jika bisa minimalis, kenapa harus maksimalis. :) maksa ya?

hiasan-rumahJadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.

Satu per satu aku bersihkan dari debu. Aku lap. Aku tata ulang. Huhuhu…jadi kangen Nenekku. Kangen banget.

Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tiba-tiba terpikir, Nenekku itu memang kolektor pernak-pernik rumah sejati. Beragam barang ada — dan itu hanya sebagian yang tersisa. Banyak yang sudah pecah atau hilang.

Lucu-lucu, cantik-cantik.

Aku yang sok minimalis ini, saat membersihkan barang-barang itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang bisa-bisanya membeli semua itu? Hanya untuk dipajang?

perabotan-rumahAku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.

Mereka indah dan sedap dipandang mata.

Mudah-mudahan aku bisa terus menjaga semua barang-barang itu ya. Mungkin paling tidak sampai nanti ada anak-anak atau menantu-menantunya yang menginginkan barang-barang tersebut. Atau, nanti jika punya rumah sendiri, aku akan membawanya ke rumahku — mungkin saat itu aku sudah menjadi seorang maksimalis. ;)

Perburuan Rumah 5

Kemarin, aku dan Abi kembali mengukur jalan demi berburu rumah.

Kali ini, kami memperluas wilayah ke daerah Pasar Minggu.

rumah sederhanaRumah pertama yang kami kunjungi adalah di daerah Swadaya Siaga. Saat memasuki gang, hatiku sudah merasa kurang sreg. Tapi, sebagai orang yang senengannya penasaran, aku terus mengikuti sang makelar.

Dan, tibalah kami di depan sebuah rumah berdindingkan keramik kotak kecil — seperti di kamar mandi — yang berwarna merah dan putih. Jujur saja, aku kurang suka jenis dinding seperti ini. Hiks. Bentuk rumah pun kurang mengena di hati.

Tambah lagi, ada yang membuat aku benar-benar harus say NO kepada rumah ini. Dekat MAKAM alias kuburan. Rasanya kok gimanaaaa gitu ya…? Suratnya pun kurang sesuai dengan yang kuinginkan.

Kemudian, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah kedua. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu Baru. Kami masuk dari Jl. Batu Arab. Di ujung jalan, aku menelepon sang makelar.

“Pak, Bapak di mana? Kita ketemu di mana? Saya udah di ujung Jl. Batu Arab.”

“Saya di sini, Bu. Kita ketemu di sini aja.”

“Hm…Pak, di sini-nya di mana ya?”

Bapak baik hati itu pun akhirnya menjelaskan di mana ia berada. Hehehe…kumaha si Bapak…

Secara tampilan depan, rumah ini sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi, kami nggak bisa melihat ke dalam. Karena, sedang dikontrakkan dan yang mengontrak sedang pergi. Yah…

Dari harga ok, tapi lagi-lagi terbentur surat. Dan, suami kurang sreg dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah itu. Karena, mereka membicarakan si pengontrak, yang menurut hemat mereka tidak ramah dan sombong. Agak comel juga ya kayaknya ibu-ibu itu. Hehehe…

Rumah ketiga. Lokasi di Menteng Dalam, ok banget, gak jauh dari jalan mobil. Harga juga ok. Sayang, SUDAH TERJUAL dua hari sebelumnya. Hiks.

Rumah keempat, di Menteng Dalam juga. Ribet. Jadi, ada yang mau jual rumahnya tapi dibelah dua. Hua…gak ngerti gimana belahnya. Aku dapat ruang tamu dan dapur aja atau gimana? Terpaksa say NO juga nih.

Sore harinya, aku mendapat kabar dari adik Mama bahwa rumah tetangganya akan dijual. Lokasi di Condet. Menarik nih. Aku pernah lihat rumahnya sih dari luar. Jalan di depannya cukup untuk 2 mobil! Harganya bisa dibilang cukup murah untuk lokasi itu. Sungguh aku tertarik.

Tapi, meski cukup murah dan suratnya SHM — yang artinya bisa KPR –, harganya di luar budget yang pernah aku dan suami tetapkan. Jadi, kami harus memikirkannya masak-masak.

Dannnn…aku akan keluar dari comfort zone: TEBET! Artinya, aku harus akan memulai hidup baru di wilayah baru. A giant step, isn’t it? Tapi, mengingat banyak sekali keluarga yang tinggal di wilayah baru ini, semestinya adaptasi menjadi lebih mudah ya?

Another thing to consider. Aku (baca: Hana, anakku) akan jauh dari Mama dan Papa. Kata Mama sih, beliau nggak mikirin aku tapi lebih ke cucunya tercinta itu.

Jadi, meski sebenarnya aku ingin sekali mengambil kesempatan emas ini, banyak sekali pertimbangan dalam kepalaku. Semoga pada akhirnya aku dapat mengambil keputusan yang terbaik, apapun itu, dan di beri kemudahan oleh-Nya. Amin.

Foto Salak dari milik Nugroho Adhi.

Perburuan Rumah 4

rumah pohonHari ini, akhirnya kesempatan cari-cari rumah kembali tersedia. Kebetulan aku dan suami tidak ada kerjaan mendesak dan cuaca pun mendukung (baca: gak hujan). Kali ini masih di seputaran Menteng Dalam.

Aku ke rumah temannya teman yang menjanjikan bersedia mengantar. Ada 3 rumah yang ditawarkan.

Pertama, rumah pink (catnya pink booo). Luas tanahnya cuma 40-an something, tapi 2 lantai. Bentuk rumahnya cukup aneh, tapi masih ok lah. Gangnya gang becak. Tetangganya kayaknya lumayan enak. Pemandangan di lantai 2-nya ok. Kamar cuma 1, tapi di atas bisa disekat buat 2 kamar lagi. Cuma bingung juga posisi kamar pembantu di sebelah mana.

Kedua, rumah ungu (catnya ada unsur ungunya). Luas tanah 70-an. 2 lantai juga. Bentuknya lebih aneh dari yang pertama hahaha! Jalannya jalan motor, tapi dari jalan raya cuma 10 meter-an, dan gang buntu. Trus, ada pintu gerbang yang bisa ditutup kalo malam. Tapi, dari sisi harga kayaknya yang ini agak berat, apalagi tadi lagi di-renovasi.

tempat duduk dudukSelain bentuknya yang aneh, kedua rumah ini punya kesamaan lain: tangganya serem, pemiliknya sama, suratnya sama-sama bukan SHM/HGB/AJB — cuma surat kelurahan yang artinya gak bisa dibeli dengan cara KPR! Huhuhu…

Ketiga, rumah ketiga aja (bingung mau dikasih nama apa, gak ada yang spesifik). Harga terlalu tinggi. Kata yang nganterin tadi, lantai 2-nya masih papan dan sudah gonjret. Aku dan suami kurang sreg.

Terus, sekalian pulang, kami mampir ke tanah yang katanya mau dijual. Ternyata sudah dibeli 3 tahun lalu dengan harga yang cukup tinggi. Jadi, kayaknya nggak mungkin juga dijual lagi dengan harga di bawahnya (ya iyalah!). Hiks!

Entah besok bisa nyari-nyari lagi atau nggak. So far, I just won’t give up.

Foto pertama di kanan atas oleh: Patrick Hajzler

Foto kedua di kiri oleh: Ali Farid

Perburuan Rumah 3

rumah mungilHari ini, aku dan suami kembali berputar-putar mencari rumah di sekitar Menteng Dalam, Tebet. Hasilnya: 2 rumah dan sebidang tanah.

Rumah pertama, kami kurang sreg. Karena, letaknya jauh sekali ke dalam gang. Kami sih tak apa jika di dalam gang, tapi maunya ya tidak lebih dari 30 meter ke dalam. Apalagi, tadi kami tidak bisa melihat ke dalam rumah.

Rumah kedua, sejujurnya aku cukup sreg. Lingkungannya enak, dan dari jalan raya kurang dari 20 meter — di dalam gang juga. Rumahnya juga terbilang nyaman. Suratnya pun SHM (Sertifikat Hak Milik). Dan, si pemilik pun terbuka untuk KPR — ada seorang pemilik rumah lainnya yang tidak mau dibeli dengan cara KPR, entah kenapa, mungkin takut lama ya prosesnya?

Nah, yang seru tanah nih. Lokasinya agak di pojok dan jalannya masuk mobil. Aku dan suami sreg banget! Hanya saja, tidak jelas apakah tanah itu dijual atau tidak. Kalau sampai dijual, kami naksir sekali.

Insya Allah perburuan rumah 4 akan kami lanjutkan hari Senin mendatang. Karena, ada seorang kawan yang memberi info tentang dua rumah lainnya yang akan dijual.

Sungguh seru. Tapi, agak menyesakkan. Karena, sepanjang jalan tadi, aku melihat beberapa rumah yang terabaikan, terbengkalai, dibiarkan hancur begitu saja. Entah ke mana pemiliknya. Padahal, di luar sana banyak sekali orang yang sedang mencari rumah.

Mudah-mudahan kami dapat menemukan rumah idaman sebelum harus hengkang dari rumah yang kami tempati sekarang. Amin.

Perburuan Rumah 2

Kemarin, perburuan rumah kembali aku lakukan, bersama suami tentunya. Dengan mengendarai motor, kami meluncur menuju tempat janjian, di sebuah Masjid di daerah Menteng Dalam.

Setelah menunggu beberapa saat, sang makelar pun muncul. Aku berjalan beriringan dengan Pak Makelar (PM), sementara suami mengikuti perlahan dengan motornya dari belakang.

Rumah pertama, I had to say no. Gak ada udara. Hiks…

PM memang sudah memperingatkan bahwa aku takkan suka, tapi karena harganya yang super miring, aku ngotot mau lihat juga.

Rumah kedua, hm…sebenarnya sih not that bad. Tapi, aku merasa kurang sreg. Padahal, tidak banjir dan suratnya sudah HGB (Hak Guna Bangunan).

Akhirnya, meski di luar rencana, kami melihat rumah ketiga. Aku setengah hati melihatnya, karena harganya di luar budget yang kami rencanakan.

Tapi, di sebelahnya ada tanah kosong. Sangat kecil, memang. Hanya saja, aku minat banget. Kebayang deh bisa aku bangun dengan bentuk rumah sesuai keinginan. Tapi, kata PM, tanah itu tidak dijual terpisah dengan rumah ketiga yang kami lihat karena akan dijadikan garasi.

Namun, aku ngotot. Pokoknya, kalau ada info, aku minta dikabari.

Memang tidak gampang mencari rumah dengan harga miring di lingkungan Tebet. Kalaupun ada, tak sesuai dengan hatiku. Hiks.

Apalagi, aku baru tahu bahwa untuk mengajukan KPR, syarat yang sehubungan dengan rumah adalah sbb:

  • tidak di gang
  • surat harus SHM (Sertifikat Hak Milik)

Wah, tambah susah deh.

Tapi, aku pantang menyerah! Harus semangat! Jadi, perburuan akan tetap kulakukan. Prioritas tetap di sekitar Tebet, tapi kalau nggak ketemu juga, nampaknya memang harus hunting di lokasi lain.

Fiuh…