Sudut Kerja di Rumah
Tampilan terbaru meja kerja di rumah:

Tampilan meja kerja di rumah bulan Oktober 2011:
You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:
Tampilan terbaru meja kerja di rumah:

Tampilan meja kerja di rumah bulan Oktober 2011:
Sebenarnya, kalau waktunya ada, nggak ada tuh cerita urusan rumah tangga terbengkalai. Tapi, masalahnya, waktunya memang nggak cukup. Padahal sekarang ini aku cuma megang 2 kerjaan. Di batik dan di buku (dua-duanya bisnis online).
Dan, ada lagi satu faktor pendukung lainnya kenapa urusan rumah tangga kerap terbengkalai. Tidak dibiasakan sejak kecil.
Sedari lahir sampai hendak menikah, aku tinggal dengan Kakek-Nenek. Kebetulan mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga yang bisa diamanahkan untuk mengurus rumah. Itu termasuk urusan kamarku. Jadi memang kadang pulang sekolah atau kuliah dulu itu, jreng…tau-tau kamarku sudah rapi jali!
Nah, saat menikah pun, setelah pindah rumah, aku mendapat bantuan dari asisten rumah tangga. Begitu juga saat kembali ke rumah Nenek dulu.
Tapi sekarang, di rumah kontrakan ini, semua harus dikerjakan sendiri. Beruntung suamiku mau berbagi tugas. Tapi ya tetap saja kadang ada yang terbengkalai.
Masalah tidak terbiasa sejak kecil ini cukup mengganggu pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba memberi tanggung jawab kepada Hana. Tapi kelemahanku adalah jika tidak dikerjakan oleh Hana, aku gemas dan mengerjakannya sendiri. Salah ya?
Aku punya seorang teman yang sejak kecil sudah diberikan tanggung jawab mengurus rumah tangga oleh orang tuanya. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak! Aku salut kepadanya dan kepada orang tuanya.
Memang sudah semestinya anak diajarkan untuk turut membantu di rumah, agar nanti setelah dewasa, ia sudah terbiasa. Ia akan melakukannya dengan otomatis dan riang.
Sekarang sih, kalau memang waktunya ada, aku senang-senang saja melakukan semua. Bersih-bersih, memasak, semua sebenarnya menyenangkan. Apalagi memasak. Tapi ya itu, waktunya nggak cukup sih (bukan lagi ngarang alasan lho… ^____^ )
Kerja di rumah atau di tempat lain?
Buat saya yang bekerja tanpa harus ngantor, lokasi kerja bisa di mana-mana. Bisa di atap rumah, di tengah jalan, di mana aja — Ok, that shounds lebay. Maksudnya, ya bisa saya lakukan di rumah, ataupun di tempat lain seperti kafe.
Memang sih, gaya banget kerja di kafe itu. Duduk di sofa, santai, dengan koneksi internet tak terbatas — kebetulan pekerjaan saya menuntut koneksi internet, dan ya itu…keren deh kayaknya.
Dan, hari ini saya terpaksa berkeren ria di sebuah kafe yang menjual kopi — iyalah kafe menjual kopi! — yang lumayan enak dengan nama brand lokal. Tapi saya nggak minum kopi, saya minum iced chocolate + hazelnut. Hm…so? Gimana rasanya?
Nggak seru! Saya terpaku pada tempat duduk ini. Belum lagi distraction berupa pengunjung kafe yang aneh-aneh. Baca: aneh. Andai ada yang enak dilihat gitu. Nggak ada. Hihi. Bukan cuma itu, saya harus mengeluarkan uang untuk minuman dan makanan yang sebenarnya nggak saya butuhkan. Dan, saya kebelet pipis! ^___^
Coba deh kalo di rumah. Saya bisa kerja di pojok kerja saya yang nyaman, ditemani suami tercinta yang juga Work at Home Daddy, bisa bobo-boboan kalo pinggang pegel, atau bahkan bisa kerja di atas tempat tidur. Plus, nggak ada dana yang harus dikeluarkan. Dan, saya bisa ke kamar mandi anytime saya mau.
Tapi ya, sesekali kerja di kafe gini boleh lah. Ganti suasana. Bahkan tadi sempat memberi sedikit ide untuk cerpen yang akan saya tulis. Hihi.
Sering-sering ngafe gini? Hm…saya harus pikir dua kali…dan cek dompet lima kali!
Yuk, ah…saya mau pulang dulu! Ada janji dengan pembatik yang menjadi rekanan di tempat kerja saya. Plus, saya pingin pipis!
Kemarin, setelah DP dibayarkan, yang ada hanyalah rasa riang dan semangat. Terbayang akan membeli ini dan itu untuk menghias calon rumahku itu. Diskusi dengan Hana gorden warna apa yang ia inginkan. Merencanakan untuk berbelanja keperluan rumah akhir bulan nanti.
Namun, sedikit demi sedikit, perasaan khawatir pun menjalar. Bukan apa-apa, akan ada beberapa perubahan nantinya. Beberapa kenyamanan yang kunikmati di rumah ini mungkin tidak akan kudapati di sana.
Mula-mula mengenai internet. Rumah kontrakan kami itu berada di dalam gang motor. Sementara, kami menggunakan koneksi internet kabel. Dan setahuku, internet kabel ini tidak masuk ke gang motor. Kalaupun iya, maksimal 50 meter dari jalan mobil. Rumahku nantinya sepertinya lebih dari 50 meter dari jalan mobil.
Abi sudah memperhitungkan beberapa opsi. Tapi sebenarnya, aku lebih suka jika tetap menggunakan jasa internet provider yang sekarang. Hm…we’ll see.
Kenyamanan antar-jemput. Selama ini, untuk ke sekolah, Hana diantar dan dijemput oleh Kakeknya. Jarak antara rumah Papa-Mamaku dan rumah kontrakan kami nanti tidak bisa dibilang dekat. Sehingga, aku tidak dapat lagi bergantung kepada Papa. Tadi sudah sempat cek jemputan sekolah. Hm…mahal juga ternyata.
Ada lagi kenyamanan lainnya yang mungkin akan berkurang — tapi tidak akan hilang sama sekali, insya Allah. Yaitu nikmatnya masakan dan kudapan buatan Mamaku. Kata Mama sih, kami bisa menggunakan jasa tukang ojek langganan keluarga untuk mengantarkan makanan ke rumah kontrakanku nanti. Hihi!
Lalu, bagaimana caraku menghapus kekhawatiran itu? Yang aku coba saat ini adalah membayangkan yang indah-indah. Hana akan memiliki kamarnya sendiri. Abi juga akan mendapatkan space-nya untuk ngoprek komputer (baca: kerja). Aku? Aku mungkin akan menguasai salah satu sudut ruangan untuk meja kerja dan buku-bukuku.
Semoga saja semua keindahan itu membantu menghalau kekhawatiran dan kupu-kupu di perutku ini.
Ya, akhirnya rumah itu yang terpilih. Yang model duplex. Dua rumah di bawah dan dua rumah di atas. Kami akan menempati lantai atas karena sudah keduluan yang lain untuk yang bawah. Kami memilih yang lebih dekat ke arah timur.
Rasanya senang sekali. Barusan aku bilang ke si Abi, “DP rumah kontrakan aja hepinya kayak gini. Gimana kalo rumah sendiri ya?”
Abi tersenyum. “Insya Allah nanti bisa rumah sendiri.” Amin.
Saat ini rumah itu masih dalam proses penyelesaian. Pemiliknya akan menghubungi kami jika sudah selesai dibangun dan siap ditempati.
Semoga pilihan ini membawa kebaikan untuk kami sekeluarga. Amin.
© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine