• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Rumah’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Jun 21

Rumah oh Rumah

Masih diribetin sama urusan rumah? Iya nih! Rumah kontrakan. Huh!

Kata si Abi (suamiku), itu karena aku tak kunjung mengambil keputusan.

Awalnya, kami beriringan mencari rumah hilir mudik. Si Abi memasrahkan pilihan kepadaku. Yang mana saja. Tapi rumah yang sempat kupilih menurutnya kurang pas. Sampai akhirnya aku pasrah. Terserah. Namun ketika si Abi mulai menentukan pilihan, aku mengintervensi. Dan, akhirnya kini ia yang pasrah. Dan aku lah yang harus memilih.

Padahal kan, aku nggak pinter milih. Aku paling nggak bisa menentukan pilihan, mengambil keputusan. Takut salah. Bukan sifat yang baik sih. Tapi ya memang beginilah aku.

Kok bisa jadi begini? Entahlah. Aku beberapa kali merunut, mungkin akibat pola asuh yang salah? Tapi seingatku, Papa dan Mama memberikan keleluasaan kepadaku untuk menentukan sendiri apa yang kuinginkan. Mulai dari memilih sekolah, pekerjaan, hingga suami.

Mulai deh ngalor-ngidul nggak jelas.

Kembali ke rumah. Tadi pagi, semestinya kami membayar DP sebuah rumah yang sempat kami sepakati meskipun memang banyak minus-nya. Tapi ujug-ujug ada pilihan lain. Hati kami pun berbelok.

Sayangnya, belokan itu verboden. Alias rumah itu belum siap untuk ditempati. Sigh. Kami pun memutuskan, besok pagi kami akan membayar DP. Tapiiii…ada pilihan lain lagi! Haha! Pusing deh.

Kami sempat mencoba menghubungi pemilik rumah pilihan lain ini. Tapi nomornya tidak aktif. Besok pagi mungkin.

Walau begitu, aku sudah bertekad. Besok pagi apapun yang terjadi, kami sudah harus memutuskan. Pilih yang mana, lalu langsung DP.

Buat orang yang memiliki kesulitan dalam menentukan pilihan, ternyata keputusan harus diambil segera. Agar tidak terlalu lama berpusing-pusing.

Akankah keputusan itu diambil besok? We’ll see!

Apr 12

Buku Bejibun

Sejak kecil, aku suka baca buku. Bisa dibayangkan dong sekarang banyak banget buku di rumah. Itu juga sebagian sudah dijual di BukuMurMer.com, online bookstore yang aku kelola. Dan, hiks…sebagian buku masa kanak-kanakku entah raib ke mana. Kayaknya dipinjam dan nggak dikembalikan.

Sekarang, jumlah buku yang ada sudah ditambah dengan buku-buku suami dan anakku.

buku di lemari esHana, si kecil yang saat ini berusia 6 tahun 10 bulan, memiliki koleksi buku yang tidak sedikit. Sampai berceceran di mana-mana karena nggak ada tempat untuk menyimpan.

Ceritanya, aku dan keluarga ada niat untuk mengontrak rumah lagi (insya Allah) — sekarang masih menempati rumah alm. nenekku. Aku mulai mengira-ngira, apa saja yang bisa dibawa, apa yang mungkin harus dilepas (baca: buang). Ternyata, barang yang paling banyak adalah buku.

Buku bejibun!

Tentu saja, aku nggak bisa membuang mereka. Jadi, semua harus diangkut ke rumah kontrakan yang mungil itu — yang sedang aku incar dan mudah-mudahan bisa berjodoh denganku. Suamiku sudah geleng-geleng kepala. Tapi memang harus dibawa. Karena buku adalah hartaku yang paling berharga.

Coba deh, kalau semua bukuku ada 500 buah, masing-masing kubeli dengan harga Rp. 20.000,00…sudah berapa coba? Sepuluh juta! Bahkan beberapa harganya lebih dari 20 ribu. *Baru terpikir, sudah sebanyak itu ya aku menghabiskan uang untuk buku? Haha!*

Jadi, nggak ada cerita deh, buku dibuang. Semoga aja ada space buat nyimpennya di rumah itu — dan mudah-mudahan rumah itu bisa untukku, amin, bantu doa ya? :)

Jun 13

Pernak-pernik Rumah

Sebenarnya, aku berprinsip, jika bisa minimalis, kenapa harus maksimalis. :) maksa ya?

hiasan-rumahJadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.

Satu per satu aku bersihkan dari debu. Aku lap. Aku tata ulang. Huhuhu…jadi kangen Nenekku. Kangen banget.

Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tiba-tiba terpikir, Nenekku itu memang kolektor pernak-pernik rumah sejati. Beragam barang ada — dan itu hanya sebagian yang tersisa. Banyak yang sudah pecah atau hilang.

Lucu-lucu, cantik-cantik.

Aku yang sok minimalis ini, saat membersihkan barang-barang itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang bisa-bisanya membeli semua itu? Hanya untuk dipajang?

perabotan-rumahAku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.

Mereka indah dan sedap dipandang mata.

Mudah-mudahan aku bisa terus menjaga semua barang-barang itu ya. Mungkin paling tidak sampai nanti ada anak-anak atau menantu-menantunya yang menginginkan barang-barang tersebut. Atau, nanti jika punya rumah sendiri, aku akan membawanya ke rumahku — mungkin saat itu aku sudah menjadi seorang maksimalis. ;)

Jan 31

Perburuan Rumah 5

Kemarin, aku dan Abi kembali mengukur jalan demi berburu rumah.

Kali ini, kami memperluas wilayah ke daerah Pasar Minggu.

rumah sederhanaRumah pertama yang kami kunjungi adalah di daerah Swadaya Siaga. Saat memasuki gang, hatiku sudah merasa kurang sreg. Tapi, sebagai orang yang senengannya penasaran, aku terus mengikuti sang makelar.

Dan, tibalah kami di depan sebuah rumah berdindingkan keramik kotak kecil — seperti di kamar mandi — yang berwarna merah dan putih. Jujur saja, aku kurang suka jenis dinding seperti ini. Hiks. Bentuk rumah pun kurang mengena di hati.

Tambah lagi, ada yang membuat aku benar-benar harus say NO kepada rumah ini. Dekat MAKAM alias kuburan. Rasanya kok gimanaaaa gitu ya…? Suratnya pun kurang sesuai dengan yang kuinginkan.

Kemudian, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah kedua. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu Baru. Kami masuk dari Jl. Batu Arab. Di ujung jalan, aku menelepon sang makelar.

“Pak, Bapak di mana? Kita ketemu di mana? Saya udah di ujung Jl. Batu Arab.”

“Saya di sini, Bu. Kita ketemu di sini aja.”

“Hm…Pak, di sini-nya di mana ya?”

Bapak baik hati itu pun akhirnya menjelaskan di mana ia berada. Hehehe…kumaha si Bapak…

Secara tampilan depan, rumah ini sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi, kami nggak bisa melihat ke dalam. Karena, sedang dikontrakkan dan yang mengontrak sedang pergi. Yah…

Dari harga ok, tapi lagi-lagi terbentur surat. Dan, suami kurang sreg dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah itu. Karena, mereka membicarakan si pengontrak, yang menurut hemat mereka tidak ramah dan sombong. Agak comel juga ya kayaknya ibu-ibu itu. Hehehe…

Rumah ketiga. Lokasi di Menteng Dalam, ok banget, gak jauh dari jalan mobil. Harga juga ok. Sayang, SUDAH TERJUAL dua hari sebelumnya. Hiks.

Rumah keempat, di Menteng Dalam juga. Ribet. Jadi, ada yang mau jual rumahnya tapi dibelah dua. Hua…gak ngerti gimana belahnya. Aku dapat ruang tamu dan dapur aja atau gimana? Terpaksa say NO juga nih.

Sore harinya, aku mendapat kabar dari adik Mama bahwa rumah tetangganya akan dijual. Lokasi di Condet. Menarik nih. Aku pernah lihat rumahnya sih dari luar. Jalan di depannya cukup untuk 2 mobil! Harganya bisa dibilang cukup murah untuk lokasi itu. Sungguh aku tertarik.

Tapi, meski cukup murah dan suratnya SHM — yang artinya bisa KPR –, harganya di luar budget yang pernah aku dan suami tetapkan. Jadi, kami harus memikirkannya masak-masak.

Dannnn…aku akan keluar dari comfort zone: TEBET! Artinya, aku harus akan memulai hidup baru di wilayah baru. A giant step, isn’t it? Tapi, mengingat banyak sekali keluarga yang tinggal di wilayah baru ini, semestinya adaptasi menjadi lebih mudah ya?

Another thing to consider. Aku (baca: Hana, anakku) akan jauh dari Mama dan Papa. Kata Mama sih, beliau nggak mikirin aku tapi lebih ke cucunya tercinta itu.

Jadi, meski sebenarnya aku ingin sekali mengambil kesempatan emas ini, banyak sekali pertimbangan dalam kepalaku. Semoga pada akhirnya aku dapat mengambil keputusan yang terbaik, apapun itu, dan di beri kemudahan oleh-Nya. Amin.

Foto Salak dari milik Nugroho Adhi.

Jan 23

Perburuan Rumah 4

rumah pohonHari ini, akhirnya kesempatan cari-cari rumah kembali tersedia. Kebetulan aku dan suami tidak ada kerjaan mendesak dan cuaca pun mendukung (baca: gak hujan). Kali ini masih di seputaran Menteng Dalam.

Aku ke rumah temannya teman yang menjanjikan bersedia mengantar. Ada 3 rumah yang ditawarkan.

Pertama, rumah pink (catnya pink booo). Luas tanahnya cuma 40-an something, tapi 2 lantai. Bentuk rumahnya cukup aneh, tapi masih ok lah. Gangnya gang becak. Tetangganya kayaknya lumayan enak. Pemandangan di lantai 2-nya ok. Kamar cuma 1, tapi di atas bisa disekat buat 2 kamar lagi. Cuma bingung juga posisi kamar pembantu di sebelah mana.

Kedua, rumah ungu (catnya ada unsur ungunya). Luas tanah 70-an. 2 lantai juga. Bentuknya lebih aneh dari yang pertama hahaha! Jalannya jalan motor, tapi dari jalan raya cuma 10 meter-an, dan gang buntu. Trus, ada pintu gerbang yang bisa ditutup kalo malam. Tapi, dari sisi harga kayaknya yang ini agak berat, apalagi tadi lagi di-renovasi.

tempat duduk dudukSelain bentuknya yang aneh, kedua rumah ini punya kesamaan lain: tangganya serem, pemiliknya sama, suratnya sama-sama bukan SHM/HGB/AJB — cuma surat kelurahan yang artinya gak bisa dibeli dengan cara KPR! Huhuhu…

Ketiga, rumah ketiga aja (bingung mau dikasih nama apa, gak ada yang spesifik). Harga terlalu tinggi. Kata yang nganterin tadi, lantai 2-nya masih papan dan sudah gonjret. Aku dan suami kurang sreg.

Terus, sekalian pulang, kami mampir ke tanah yang katanya mau dijual. Ternyata sudah dibeli 3 tahun lalu dengan harga yang cukup tinggi. Jadi, kayaknya nggak mungkin juga dijual lagi dengan harga di bawahnya (ya iyalah!). Hiks!

Entah besok bisa nyari-nyari lagi atau nggak. So far, I just won’t give up.

Foto pertama di kanan atas oleh: Patrick Hajzler

Foto kedua di kiri oleh: Ali Farid

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top