Buku Bejibun
Posted in Buku, Rumah on 04/12/2011 11:00 am by Nadiah AlwiSejak kecil, aku suka baca buku. Bisa dibayangkan dong sekarang banyak banget buku di rumah. Itu juga sebagian sudah dijual di BukuMurMer.com, online bookstore yang aku kelola. Dan, hiks…sebagian buku masa kanak-kanakku entah raib ke mana. Kayaknya dipinjam dan nggak dikembalikan.
Sekarang, jumlah buku yang ada sudah ditambah dengan buku-buku suami dan anakku.
Hana, si kecil yang saat ini berusia 6 tahun 10 bulan, memiliki koleksi buku yang tidak sedikit. Sampai berceceran di mana-mana karena nggak ada tempat untuk menyimpan.
Ceritanya, aku dan keluarga ada niat untuk mengontrak rumah lagi (insya Allah) — sekarang masih menempati rumah alm. nenekku. Aku mulai mengira-ngira, apa saja yang bisa dibawa, apa yang mungkin harus dilepas (baca: buang). Ternyata, barang yang paling banyak adalah buku.
Buku bejibun!
Tentu saja, aku nggak bisa membuang mereka. Jadi, semua harus diangkut ke rumah kontrakan yang mungil itu — yang sedang aku incar dan mudah-mudahan bisa berjodoh denganku. Suamiku sudah geleng-geleng kepala. Tapi memang harus dibawa. Karena buku adalah hartaku yang paling berharga.
Coba deh, kalau semua bukuku ada 500 buah, masing-masing kubeli dengan harga Rp. 20.000,00…sudah berapa coba? Sepuluh juta! Bahkan beberapa harganya lebih dari 20 ribu. *Baru terpikir, sudah sebanyak itu ya aku menghabiskan uang untuk buku? Haha!*
Jadi, nggak ada cerita deh, buku dibuang. Semoga aja ada space buat nyimpennya di rumah itu — dan mudah-mudahan rumah itu bisa untukku, amin, bantu doa ya?
Jadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.
Aku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.
Rumah pertama yang kami kunjungi adalah di daerah Swadaya Siaga. Saat memasuki gang, hatiku sudah merasa kurang sreg. Tapi, sebagai orang yang senengannya penasaran, aku terus mengikuti sang makelar.
Hari ini, akhirnya kesempatan cari-cari rumah kembali tersedia. Kebetulan aku dan suami tidak ada kerjaan mendesak dan cuaca pun mendukung (baca: gak hujan). Kali ini masih di seputaran Menteng Dalam.
Selain bentuknya yang aneh, kedua rumah ini punya kesamaan lain: tangganya serem, pemiliknya sama, suratnya sama-sama bukan SHM/HGB/AJB — cuma surat kelurahan yang artinya gak bisa dibeli dengan cara KPR! Huhuhu…
Hari ini, aku dan suami kembali berputar-putar mencari rumah di sekitar Menteng Dalam, Tebet. Hasilnya: 2 rumah dan sebidang tanah.







