Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

33 – Usia Ganda Lagi

Alhamdulillah, hingga hari ini aku masih diberikan karunia untuk menikmati usia ganda sekali lagi. Usia ganda pertama 11, aku tidak terlalu ingat bagaimana ceritanya. Usia ganda kedua 22, aku masih kuliah. Aku dan teman-teman kuliah cukup heboh dengan usia ganda kami saat itu.

Sekarang, 33. Usia ganda yang jauh lebih matang daripada dua usia ganda sebelumnya. Dan, alhamdulillah, semalam aku berkesempatan mengajak makan malam Mama dan Papa sebelum kami menjenguk saudara sepupuku yang baru saja melahirkan.

Hal yang sudah cukup lama tidak kami lakukan, makan di luar bersama. Mudah-mudahan di lain waktu masih bisa melakukannya lagi dan lagi. Masih bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Dan, mudah-mudahan lain waktu adikku yang kecil dan suamiku juga bisa ikut. Kebetulan semalam keduanya berhalangan. Mudah-mudahan akan masih ada usia ganda lainnya untukku. Amin.

bday

mama-aku

papa-hana

mama-hana

the-couple

my-baby

menjenguk-bayi

Tertawa

Sudah beberapa hari ini, saya selalu tertawa sebelum tidur. Meski sebelumnya ada kejadian menyebalkan, sayatetap tertawa.

Dan, rasanya sangat menyenangkan! Ya iyalah, ketawa gitu loch!

Tidak bisa kita pungkiri, tertawa mengandung banyak manfaat. Menurut beberapa sumber, tertawa memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar hormon stres, plus membuat jantung dan sistem peredaran darah lebih sehat, serta otot menjadi lebih rileks.

Apa sih yang membuat saya tertawa?

Saya sangat suka menonton sitcom, komedi situasi. Beberapa yang paling saya sukai adalah Friends, The Cosby Show, Growing Pains, Dharma and Greg, dan banyak lagi.

Nah, yang membuat saya beberapa hari ini tertawa-tawa adalah Dharma and Greg. Dharma yang polos dan Greg yang ganteng plus orang tua dan teman-teman keduanya yang cukup sangat aneh menciptakan situasi-situasi yang berhasil memancing tawa.

Dan, saya merasa lebih santai. Somehow, bahkan saya bisa melupakan kekesalan, kelelahan, dan masalah saya.

Jadi, sepertinya, acara menonton sitcom ini akan terus berlanjut.

Oh ya, saya menontonnya di YouTube. Di bawah ini adalah episode yang sedang saya tonton:

Enjoy it! Dan, selamat tertawa!

PS: yup, lagi ber-saya ria nih.

Tanpanya…

Sudah hampir sebulan ini kami tidak dibantu oleh asisten yang menginap — kami di sini maksudku adalah aku dan Mama. Karena, biasanya kami dibantu oleh masing-masing asisten. Walau begitu, ada kerabat yang dengan baik hati membantu kami — sepasang suami istri.

Capek memang. Tapi, paling tidak, kami tidak perlu stres menghadapi serangkaian keanehan yang dulu biasa kami dapati dalam sikap, sifat, dan pekerjaan para asisten.

Oh ya, mereka sendiri lah yang memutuskan untuk berhenti. Jadi, kami tidak memberhentikan mereka. Seaneh apapun kekacauan yang mereka timbulkan, Mama berpesan untuk tidak memberhentikan asisten.

Padahal, menurutku pribadi, itu adalah jalan yang terbaik baik bagiku ataupun si asisten. Ibarat orang pacaran, kami sudah tidak ada kecocokan. Tapi, syukurlah, pada akhirnya mereka sendiri yang pergi.

Dari sekian hal yang selama ini dikerjakan oleh asisten, ada satu yang sama sekali aku tidak suka. Jadi, tak ada mereka pun aku memilih untuk mencari cara lain untuk tidak melakukannya. Menyetrika.

Memasak akusetrika suka, tapi daripada tidak dimakan karena rasanya aneh, aku serahkan kepada Mama saja pekerjaan satu ini. Mencuci masih oke walaupun pada akhirnya kakiku pecah-pecah. Mencuci piring pun masih okelah.

Hanya satu itu, menyetrika, yang aku paling tidak suka.

TTapi, di luar semua itu, sepertinya semua masih terkendali. Walaupun yang mengesalkan adalah di dalam rumah, ada orang yang memakai sandal yang digunakan di luar rumah. Hiks. Tapi, ya sudahlah. Pasrah saja. Kalau nggak capek, ya dipel lagi dan lagi. Kalau capek, ya biarkan saja.

Kemarin seorang temanku bertanya, “Capek ya bersih-bersihnya?”

“Siapa bilang gue bersih-bersih?”

*Wink2*

Jadi ya semua kembali ke mood dan energi aja. Kalau mood lagi bagus dan energi masih ada yang tersisa ya kerja. Kalau nggak ya dibawa santai aja.

Dan, hikmah terbesar dari tidak memiliki asisten adalah berkurangnya kesempatan untuk berbuat dosa. Gimana nggak? Namanya manusia ya, bisa dong kelepasan emosinya. Jadi, somehow, tanpanya justru lebih baik. ;)

Malam Pertama…

malam-pertamaHehe…bukan malam pertama itu. Tapi, ini malam pertama setelah sekian lama tak ada kerjaan tambahan. Biasanya, di luar pekerjaan utama di http://kainikat.com/ dan http://batikindonesia.com/, aku mengambil pekerjaan menerjemahkan buku dan menulis skrip.

Nah, semua sudah disetor, sudah selesai — alhamdulillah, jadi malam ini free. Horeee!!!

Oops. Bukannya happy atau gimana. Tapi, menangani 2 – 3 pekerjaan pada satu waktu cukup bikin stres juga. Pikiran dan tenaga harus dibagi dengan tepat. Jangan sampai ada yang dikorbankan — walaupun praktiknya gak gampang juga.

Dan, sekarang mau ngapain dong, setelah semua selesai?

Kayaknya, aku mau lebih sering nge-blog dan menulis fiksi. Sudah saatnya melakukan hal lain yang memang menjadi impian utama yang sampai sekarang belum 100% terwujud. Menerbitkan novel — kedua.

So, will you please excuse me, I gotta complete one story I started about…well, 9 months ago? ;)

[Picture by: Renate Kalloch]

Jangan Menyerah

Dari semua lagu lokal yang aku suka, ini yang paling berkesan. Lagu Jangan Menyerah dari d’Massiv. Ini bukan lagu pertama d’Massive yang aku suka — dan, ya, silakan call me cengeng or whatever, tapi at least aku jujur, aku suka lagu-lagu mereka. Tapi, lagu inilah yang paling segala-galanya di antara semua lagu mereka.

Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Lirik lagu ini dapat memberi kekuatan. Bahkan, bisa menjadi salah satu alasan bagiku untuk menambahkan kata TIDAK pada akhir puisiku — alasan lainnya ada di sini.

Sekarang, coba lihat sekeliling. Adakah manusia yang hidup tanpa masalah? Tanpa cobaan? Tentu tidak. Jadi, mari resapi bait ini:

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada obat yang paling mujarab dalam menghadapi penyakit kehidupan yang biasa kita kenal dengan kata masalah atau cobaan selain bersyukur.

Lupakan sejenak kepedihan yang ada dengan bersyukur. Jika masih memiliki kesehatan, bersyukurlah. Jika memiliki pekerjaan — sekalipun menguras tenaga, bersyukurlah. Jika dimarahi orang tua, bersyukurlah masih memiliki orang tua. Jika rumah terlalu kecil, bersyukurlah masih memiliki rumah. Jika hati tersiksa karena bulan ini tidak bisa beli buku, bersyukurlah karena mungkin bulan lalu masih bisa beli satu buku idaman — curahan hati terdalam kayaknya yang satu ini huehehe…!

Nggak usah melihat ke bawah — kadang kan kalau kita mengeluh, orang sering bilang: lihat tuh orang yang gak bisa makan, lihat tuh orang yang tinggal di kolong jembatan. Kadang, karena hal itu ada di mana-mana, rasa empati kita tidak mudah timbul.

Karenanya, minimal, mari kita lihat dulu apa yang ada dalam kehidupan kita. Apa yang kita punya. Sehingga, mudah-mudahan kita bisa melupakan apa yang kita nggak punya.

Sotoy banget ya tulisan ini? Hehe…sebenarnya sih ini lebih untuk diri sendiri. Self reminder yang panjang — karena biasanya self reminder-ku terbatasi oleh karakter status FB ;) .

Semoga aku bisa selalu ingat lagu d’Massiv satu ini jika katakanlah aku sedang muak dengan permasalahan hidup yang terkadang datang tanpa permisi. Semoga aku tidak akan berputus asa. Amin.