Sudah hampir sebulan ini kami tidak dibantu oleh asisten yang menginap — kami di sini maksudku adalah aku dan Mama. Karena, biasanya kami dibantu oleh masing-masing asisten. Walau begitu, ada kerabat yang dengan baik hati membantu kami — sepasang suami istri.
Capek memang. Tapi, paling tidak, kami tidak perlu stres menghadapi serangkaian keanehan yang dulu biasa kami dapati dalam sikap, sifat, dan pekerjaan para asisten.
Oh ya, mereka sendiri lah yang memutuskan untuk berhenti. Jadi, kami tidak memberhentikan mereka. Seaneh apapun kekacauan yang mereka timbulkan, Mama berpesan untuk tidak memberhentikan asisten.
Padahal, menurutku pribadi, itu adalah jalan yang terbaik baik bagiku ataupun si asisten. Ibarat orang pacaran, kami sudah tidak ada kecocokan. Tapi, syukurlah, pada akhirnya mereka sendiri yang pergi.
Dari sekian hal yang selama ini dikerjakan oleh asisten, ada satu yang sama sekali aku tidak suka. Jadi, tak ada mereka pun aku memilih untuk mencari cara lain untuk tidak melakukannya. Menyetrika.
Memasak aku
suka, tapi daripada tidak dimakan karena rasanya aneh, aku serahkan kepada Mama saja pekerjaan satu ini. Mencuci masih oke walaupun pada akhirnya kakiku pecah-pecah. Mencuci piring pun masih okelah.
Hanya satu itu, menyetrika, yang aku paling tidak suka.
TTapi, di luar semua itu, sepertinya semua masih terkendali. Walaupun yang mengesalkan adalah di dalam rumah, ada orang yang memakai sandal yang digunakan di luar rumah. Hiks. Tapi, ya sudahlah. Pasrah saja. Kalau nggak capek, ya dipel lagi dan lagi. Kalau capek, ya biarkan saja.
Kemarin seorang temanku bertanya, “Capek ya bersih-bersihnya?”
“Siapa bilang gue bersih-bersih?”
*Wink2*
Jadi ya semua kembali ke mood dan energi aja. Kalau mood lagi bagus dan energi masih ada yang tersisa ya kerja. Kalau nggak ya dibawa santai aja.
Dan, hikmah terbesar dari tidak memiliki asisten adalah berkurangnya kesempatan untuk berbuat dosa. Gimana nggak? Namanya manusia ya, bisa dong kelepasan emosinya. Jadi, somehow, tanpanya justru lebih baik.