Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

Curahan Hati

Sering curhat? Atau, pernah curhat? Minimal pernah lah ya. Aku sih pernah banget. Dulu malah dikit-dikit curhat. Tapi, belakangan frekuensinya sudah berkurang sih. Atau, mungkin karena sekarang lebih pilih-pilih dalam bercurhat.

Misalnya curhat tentang jempol cantengan ke teman A, tentang buku yang sobek ke teman B, tentang genteng yang bocor ke teman C. Gak penting semua ya curhatnya?

Well, intinya, masing-masing teman — buatku — punya porsi dan makna tersendiri dalam hal percurhatan.

Kenapa begitu?

Begini, misalnya teman B, aku nggak mungkin bahas tentang jempol yang cantengan, karena dia orangnya ngiluan. Baru dengar kata cantengan aja, dia sudah pingsan. Apalagi dikasih tahu tentang sakitnya cantengan, dll, dsb. Bisa-bisa dibawa ke UGD dia!

Teman C, nggak ngerti dia masalah buku yang sobek. Lah wong dia nggak peduli sama buku, nggak suka baca, atau malah jangan-jangan nggak bisa baca?

Teman A diajak ngebahas masalah genteng bocor? Secara duidnya banyak, dia pasti bilang, “Gitu aja kok repot? Beli aja genteng baru, panggil tukang, beres!”

See? Jadi, sebelum curhat, kita juga mesti mendalami pribadi orang yang kita curhatin, supaya nggak kesel, sebel, kecewa, apalagi sakit hati.

Kenapa sih seneng banget curhat? Atau, kenapa butuh curhat?

Nah, kebetulan tadi pagi, aku baruuuu aja curhat. Tau nggak yang kurasakan setelah curhat? PLONG! LEGA. Padahal masalahnya juga masih ada di situ, gak hilang, lenyap atau apa. Masih bertengger kuat di sana. Tapi, kok bisa lega? Itulah ajaibnya curhat!

Nggak suka curhat? Nggak papa. Bukan hal yang jelek juga. Mungkin kamu punya cara lain untuk membuat hati plong, seperti misalnya nyanyi kencang-kencang di kamar mandi, cemberut seharian, macul, joged-joged, lompat-lompat, fitness, makan sebanyak-banyaknya, bikin status 2 menit sekali @ FB/TWITTER/MP/PLURK, ngeblog — yang menurutku sih judulnya curhat juga — atau apalah. Jadi, nggak harus curhat juga.

Kadang, aku bernyanyi sekencang-kencangnya untuk memplongkan dada. Atau, menghela nafas. Atau, makan — yang ini sudah harus dikurangi!

Tapi, yah…paling enak memang curhat ke orang yang tepat. ;)

Perburuan Rumah, dll, dsb

Harus kuakui, perburuan rumah terpaksa dihentikan. Seperti ceritaku sebelumnya, kami sudah menemukan sebuah rumah di bilangan Condet. Kami sudah mendapatkan harga yang cocok — meski kondisi rumah memerlukan perbaikan cukup banyak. Tapi, karena satu dan lain hal, terpaksa pembelian rumah itu dibatalkan.

Hm…ada dua penyebab sebenarnya. Yang pertama, Mamaku berharap kami tidak tinggal jauh darinya. Yang kedua, kami kesulitan mendapatkan KPR karena aku dan suami tidak memiliki slip gaji dan tidak bekerja di sebuah perusahaan selama minimal dua tahun. Itulah ternyata harga yang harus dibayar karena kami berdua memilih bekerja sendiri alias menjadi freelancer dan pewiraswasta kecil-kecilan.

Mengenai harapan Mama, aku tak bisa menampik. Saat ini, Mama dan Hana, anakku, adalah dua perempuan terpenting dalam hidupku. Jadi, sebisa mungkin, aku berusaha menyenangkan mereka. Meski mungkin tak selamanya berhasil.

Membeli rumah di kawasan dekat rumah Mama, di Tebet dan sekitarnya, adalah hal yang hampir dapat dibilang tidak mungkin. Karena, kalaupun harganya murah, tidak ada sertifikatnya — ya, aku tahu, toh sekarang tak ada gunanya juga jika rumah itu memiliki sertifikat. Jadi, kami memutuskan untuk mengontrak. Setelah urusan sekolah Hana beres, kami akan mencari kontrakan, insya Allah.

Sekarang, yang kulakukan adalah berusaha mengisi pundi-pundi kami agar niatan kecil ini dapat terlaksana. Selain tetap menghadirkan kain-kain cantik di http://kainikat.com/, aku juga aktif menerjemahkan. Selesai satu terjemahan, datang yang lain. Alhamdulillah.

Selain itu, aku juga berusaha menerapkan saran Richard Carlson, Not to Sweat the Small Stuff — meski pada kenyataannya tidak semudah itu. Begitu banyak hal perintilan yang mudah membuatku kesal belakangan ini. Huh!

Oh ya, satu lagi. Aku sedang berusaha menerapkan pola hidup AGAK sehat. Tidur cepat, bangun lebih pagi — untuk menerjemahkan — serta makan sayuran dan buah-buahan. Belum lama ini aku menonton video di FB tentang usus orang-orang yang pola makannya buruk. Wuih, seramnya! Di samping itu, belakangan punggungku terasa berat.

Aku ingin sehat, aku ingin bahagia. So, aku sedang berusaha menyehatkan jiwa dan raga. Dan, ngeblog sepertinya dapat membantu menyehatkan jiwa ;) .

Quick Update

Minggu ini cukup melelahkan. Begitu banyak target yang harus dicapai. Tapi, minggu ini juga cukup menyenangkan. Keluar rumah 2 kali.

Sayang, masalah perburuan rumah jadi terabaikan. Saat aku dan suami ada waktu, mendung menggelayut dan mengantarkan hujan. Karena kami naik motor, maka  rencana keliling cari rumah harus tertunda.

Kembali ke masalah keluar rumah, aku menargetkan untuk keluar rumah minimal satu kali dalam seminggu mulai minggu depan. Aku butuh suasana yang berbeda.

Setiap hari kerja di kamar ternyata bikin butek juga :D . I need some fun!

Selamat Tahun Baru!

Alhamdulillah, sudah tahun baru (hijriah). Setahun telah berlalu.

Seperti yang diajarkan mertua tercinta, sebelum Maghrib (setelah Ashar) membaca do’a akhir tahun, lalu setelah Maghrib membaca do’a awal tahun.

Saat berdo’a, tak terasa air mata berjatuhan. Mengingat semua dosa yangtelah diperbuat sambil berharap tahun depan menjadi tahun yang lebih baik.

Sudah lama aku tidak berani memiliki harapan besar. Tapi, kali ini tak terhindarkan. RUMAH. Ya, aku ingin memiliki a place that I can call HOME.

Bukan tak bersyukur, aku bersyukur sekali dapat menempati sebuah kamar di rumah Nenek di kawasan Tebet. Tapi, toh pada akhirnya rumah ini harus berpindah tangan alias dijual. Aku harus mempersiapkan diri.

Dan, memang sudah saatnya. Terakhir kami — aku, suami, dan anak — berumah sendiri adalah tahun 2005. Karena permintaan Nenek serta satu dan lain hal, kami kembali ke rumah Nenek yang memang pernah menjadi rumahku semenjak aku lahir hingga sebelum menikah.

Dan, aku rindu saat-saat itu. Sehingga, mungkin resolusi besar tahun ini (tahun baru hijriah ini, 2010 kalo masehinya) adalah a place of my own.

Resolusi lainnya adalah semakin banyak menerjemahkan, semakin sering menulis, semakin seru jualan online kain ikat dan batik-nya, semakin punya lebih banyak waktu buat Hana, semakin yakin untuk ngasih adik buat Hana (secara capek gitu ditanya-tanya terus), semakin bisa lebih sabar menghadapi apapun. AMIN.

Nengok sebentar ah ke belakang. Tahun kemarin (2009 kalo masehinya), adalah tahun belajar hal baru. Di antaranya:

  • Jualan kain ikat dan batik secara online. Dulu jual buku online (masih sih sampai sekarang). Agak beda perilaku pembeli dan pendekatannya.
  • Menulis skrip untuk acara TV. Thanks to Jeruk Oranye nih. Seru dan…seru pokoknya! Haha…

Terus, aku juga kembali menerjemahkan. Thanks to kepercayaan dari Ufuk Press.

Tahun 2009 aku berhasil melewati angka 20-an dalam hal perbukuan. Meski tak sebanyak kutu buku lainnya, lumayanlah, 30 buku berhasil kulahap.

Not the bestest year in my life, but surely one of yang paling seru.

Awal tahun 2009 kulalui dengan berita yang menghenyakkan, patah hati tingkat akut akibat dirumahkan oleh tempat kerja yang paling HEBAT selama hidupku. Mereka dipaksa tutup juga pada akhirnya oleh keadaan.

Tahun 2010 ini nampaknya aku akan tetap bekerja di rumah. Tapi, sesekali perlu juga kerja di luar rumah supaya nggak sumpek kali yeee…

SEMANGAT!

Kemauan yang Keras

Vonis terakhir dari suami adalah: “Kamu banyak maunya.”

Benar itu.

Kayaknya sebentar lagi dia juga akan bilang: “Kamu tuh kalau ada maunya kekeuh ya?

Aku gak akan ngelak kalau dia bilang begitu. Karena memang begitu adanya. Kalau sudah menginginkan sesuatu, aku agak maksa. Tanpa lupa berusaha tentunya.

Oh bukan, bukan dengan maksa orang lain untuk mewujudkan keinginanku itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga meski tanpa bantuan orang lain. Walau begitu, tak jarang orang membantu juga. Biasanya pada hal-hal yang berbau materi.

Untuk hal-hal non materi, misalnya saat lulus SMP dan berjuang agar diterima di SMA terbaik di Thorn Hill dulu [;D], serta saat berusaha mati-matian tembus UMPTN agar diterima di Fakultas Sastra selepas SMA.

Untuk yang berbau materi adalah ketika ulang tahun ke-17 aku pingin banget punya radio tape sendiri, uang yang kukumpulkan belum cukup. Ternyata, pada akhirnya keinginanku tercapai juga dengan hadiah berupa uang dari keluarga.

Yang berbau materi lainnya adalah keinginan untuk tinggal pisah rumah dengan keluarga setelah menikah. Keinginan kuat itu ternyata dipermudah Allah dan keluarga.

Nah, sekarang, aku lagi punya keinginan yang sangat besar dan kuat. Keinginan seperti saat setelah menikah dulu, living in my own place. Dan, tiap saat, yang keluar dari mulutku adalah tentang rumah. Ada rumah dikontrak di sini, ada rumah dijual di sana, ada apartemen bersubsidi di sini, ada town house keren di sana.

Terakhir aku bahas itu ke suami beberapa menit yang lalu, dia hanya menggeleng-geleng. Mau tak mau aku tersenyum juga. Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama juga aku tidak memiliki keinginan sebesar ini.

Dia tahu, aku banyak maunya, tapi rata-rata hal-hal perintilan dan kadang dapat tercapai dengan mudahnya. Tapi, ini hal besar. Besar sekali malah!

Entah kapan keinginan itu dapat terwujud. Masih dalam taraf berusaha. Semoga tak terlalu lama lagi aku dapat tidur di rumah impian (baik beli ataupun kontrak, tak mengapa). Amin.