güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

Kurusan

diet-pisangYippieee! Hari ini banyaaaakkkk sekali yang bilang aku kurusan.

Pertama suami, kedua Papaku, ketiga dll dst adalah teman-teman yang sore tadi BukBer denganku. Kebetulan memang kami terakhir bertemu sudah berbulan-bulan yang lalu.

Terakhir menimbang sekitar 4 hari yang lalu, beratku memang sudah turun 3,85 kg. Kira-kira per hari ini berapa ya? Mudah-mudahan memang sudah turun lagi.

Lucunya, suami dan Papaku awalnya termasuk orang-orang yang menentang keinginanku berdiet, selain Mama dan adikku. Maksud mereka baik, mereka tidak ingin aku memaksakan diri dan jatuh sakit.

Tapi insya Allah aku berusaha membuktikan bahwa aku akan baik-baik saja.

Seperti yang pernah aku ceritakan di sini, aku memulai diet dengan semacam susu kedelai yang disebut dengan shake. Kebetulan rasanya cukup enak, jadi aku suka. Tapi, supaya aku tidak merasa bosan, terkadang aku mengganti dengan sayur-sayuran atau buah-buahan. Well, ada kalanya juga aku agak nakal sedikit. Tapi jarang kok!

Oh ya, salah satu buah yang kebetulan sering kugunakan untuk pengganti cemilan adalah pisang. Ada yang bilang itu bukan pilihan yang tepat. Tapi sejauh ini yang mampu menghalau bunyi-bunyi tidak sopan di perutku adalah pisang, terutama pisang Ambon.

So, apakah aku akan melanjutkan dietku? Sepertinya iya. Karena, tujuan diet ini bukan semata agar aku kurusan alias langsing. Tapi aku juga ingin hidup lebih sehat. Jadi, dengan kedua alasan kuat tersebut, insya Allah aku akan berusaha istiqomah dengan diet kali ini.

Oh ya, aku sudah cukup sering berdiet. Beberapa sukses, beberapa tidak. Semoga yang satu ini termasuk yang sukses. Amin.

Ada yang lagi diet juga? Sharing yuk!

Dari Hati ke Hati dengan Suami

dari-hati-ke-hatiDalam rumah tangga, komunikasi menjadi salah satu hal terpenting. Jika komunikasi gagal, terkadang masalah pun bisa muncul. Atau bahkan masalah yang sudah ada justru akan bertambah rumit.

Berbekal pesan dari orang tua bahwa jika pagi jangan memulai keributan dan jika ada yang baru pulang jangan dilaporkan hal-hal yang tak mengenakan, maka saya pun berusaha menerapkannya.

Di samping itu, belajar dari lingkungan, perempuan adalah penyeimbang emosi dalam keluarga, entah itu emosi yang berupa rasa bahagia, rasa sedih, ataupun amarah. Jadi, perempuan harus pandai-pandai membaca situasi dan mengolahnya — meskipun laki-laki juga bukan berarti bisa seenaknya tanpa memperhatikan situasi lho.

Karena itu, saya selalu berusaha menjalin komunikasi dengan suami dalam situasi yang kira-kira netral ataupun riang.

Berikut ini adalah beberapa DOs and DON’Ts yang biasanya saya jadikan patokan.

DOs:

  • Perhatikan daily mood suami, setelah beberapa hari biasanya bisa terbaca kapan-kapan saja ia merasa nyaman. Di situlah saya biasanya mengambil kesempatan untuk berbicara.
  • Siapkan kata-kata yang netral, kalau perlu manis, meskipun sebenarnya yang ingin disampaikan adalah unek-unek.
  • Buatlah suasana yang nyaman sebelum memulai pembicaraan yang kira-kira agak serius dan berpotensi menguras emosi.
  • Jika kira-kira nada bicara kita atau suami tiba-tiba meninggi, istighfar dan hentikan atau alihkan pembicaraan, agar tidak terjadi pertengkaran.

DON’Ts:

  • Jangan pernah membicarakan masalah atau menceritakan sesuatu yang kurang mengenakkan saat suami baru pulang. Jalan yang macet sudah cukup membuatnya kesal, jangan kita tambahkan.
  • Jangan memulai pembicaraan untuk hal-hal yang penting saat kita sedang merasa kesal dan emosi. Tunggu hingga reda. Memang sih, kadang kayaknya jadi nggak seru lagi. Tapi apa mau jika berakhir dengan pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindarkan?
  • Jangan pernah memulai pembicaraan dengan kata-kata sindiran dan berharap ia paham. Karena, ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi: 1. Ia tak paham dan cuek, sehingga kita kesal sendiri; 2. Ia tersinggung, dan memicu pertengkaran.
  • Jangan menggunakan nada tinggi jika bisa diusahakan untuk menggunakan nada netral.
  • Jangan merepet panjang lebar (baca: mengomel tidak jelas). Kita sendiri tidak suka jika harus mendengarkan hal serupa, bukan?

Hm…apa lagi ya? Tapi ya kira-kira seperti itu lah.

Diharapkan, jika rambu-rambu di atas sudah saya turuti, saya dapat menghadirkan komunikasi dari hati ke hati yang nyaman dengan suami.

Atau, teman-teman punya pengalaman atau DOs and DON’Ts lainnya? Sharing yuk.

Tulisan ini sekedar self reminder, pengingat bagi saya. Senang sekali jika ada yang mau menambahkan :) .

Mengubah Doa agar Diijabah

Ada sesuatu yang telah bertahun-tahun kupintakan kepada-Nya. Namun tak kunjung dikabulkan. Lalu, apakah aku harus berhenti berdoa?

Dalam beberapa tausiah-nya, Ustadzah Halimah Alaydrus menyarankan agar kita terus berdoa meskipun doa kita tak kunjung dijawab oleh-Nya karena Allah pasti menyimpan hikmah di balik itu. Beliau pun mencontohkan beberapa kisah tentang doa yang pada akhirnya diijabah oleh-Nya karena sang pendoa istiqomah dengan doanya.

Tapi ya namanya manusia. Kadang aku sempat juga berada di titik jenuh (padahal sebetulnya nggak boleh lho). Namun kemudian, aku kembali mengingat kisah yang diajarkan oleh Ustadzahku itu.

Kini, di bulan Ramadhan ini, aku kembali berdoa, meminta hal yang sama kepada-Nya. Namun, ada yang berbeda.

Aku sedikit mengubah doa yang kupanjatkan. Tujuan akhirnya sama. Namun cara menyampaikannya dan permintaannya aku ganti. Jika dulu aku meminta A, kini aku meminta B, yang pada akhirnya bisa mewujudkan A.

Untuk doa A, aku mendapati adanya emosi di sana, adanya keangkuhan. Ya, aku memintanya karena emosi, dengan sekelibat kesombongan yang awalnya tak kusadari. Namun untuk doa B, aku memintanya dengan segala kepasrahan yang ada. Sepenuhnya meminta-Nya agar Ia memberikan belas kasih-Nya.

Semoga dengan diubahnya doaku, di bulan yang penuh rahmat ini, Allah akan mengabulkan doaku. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita semua. Amin.

Oh ya, ini ada artikel menarik tentang doa: http://www.kisahinspiratif.com/10-alasan-baik-mengapa-kita-perlu-berdoa-dengan-tekun.html

Sumber gambar: http://4syifa.wordpress.com/sendiri-dalam-sunyi/

Sekedar Mencoba

milkshakeBerawal hari ini, 11 Juli 2011, dan direncanakan untuk berakhir tanggal 31 Juli 2011. Duapuluh hari. Cukup kah?

Semoga.

Tadi mencoba yang rasa coklat. Hm…kurang nendang rasa coklatnya. Tapi not bad.

Besok dan lusa akan mencoba 2 rasa lainnya.

Setelah itu memutuskan untuk setia kepada 1 rasa saja hingga tanggal 31 Juli nanti.

Good luck, Nad!

Rasa Khawatir Itu

kamar tidurKemarin, setelah DP dibayarkan, yang ada hanyalah rasa riang dan semangat. Terbayang akan membeli ini dan itu untuk menghias calon rumahku itu. Diskusi dengan Hana gorden warna apa yang ia inginkan. Merencanakan untuk berbelanja keperluan rumah akhir bulan nanti.

Namun, sedikit demi sedikit, perasaan khawatir pun menjalar. Bukan apa-apa, akan ada beberapa perubahan nantinya. Beberapa kenyamanan yang kunikmati di rumah ini mungkin tidak akan kudapati di sana.

Mula-mula mengenai internet. Rumah kontrakan kami itu berada di dalam gang motor. Sementara, kami menggunakan koneksi internet kabel. Dan setahuku, internet kabel ini tidak masuk ke gang motor. Kalaupun iya, maksimal 50 meter dari jalan mobil. Rumahku nantinya sepertinya lebih dari 50 meter dari jalan mobil.

Abi sudah memperhitungkan beberapa opsi. Tapi sebenarnya, aku lebih suka jika tetap menggunakan jasa internet provider yang sekarang. Hm…we’ll see.

Kenyamanan antar-jemput. Selama ini, untuk ke sekolah, Hana diantar dan dijemput oleh Kakeknya. Jarak antara rumah Papa-Mamaku dan rumah kontrakan kami nanti tidak bisa dibilang dekat. Sehingga, aku tidak dapat lagi bergantung kepada Papa. Tadi sudah sempat cek jemputan sekolah. Hm…mahal juga ternyata.

Ada lagi kenyamanan lainnya yang mungkin akan berkurang — tapi tidak akan hilang sama sekali, insya Allah. Yaitu nikmatnya masakan dan kudapan buatan Mamaku. Kata Mama sih, kami bisa menggunakan jasa tukang ojek langganan keluarga untuk mengantarkan makanan ke rumah kontrakanku nanti. Hihi!

Lalu, bagaimana caraku menghapus kekhawatiran itu? Yang aku coba saat ini adalah membayangkan yang indah-indah. Hana akan memiliki kamarnya sendiri. Abi juga akan mendapatkan space-nya untuk ngoprek komputer (baca: kerja). Aku? Aku mungkin akan menguasai salah satu sudut ruangan untuk meja kerja dan buku-bukuku.

Semoga saja semua keindahan itu membantu menghalau kekhawatiran dan kupu-kupu di perutku ini.