Rasa Khawatir Itu
Kemarin, setelah DP dibayarkan, yang ada hanyalah rasa riang dan semangat. Terbayang akan membeli ini dan itu untuk menghias calon rumahku itu. Diskusi dengan Hana gorden warna apa yang ia inginkan. Merencanakan untuk berbelanja keperluan rumah akhir bulan nanti.
Namun, sedikit demi sedikit, perasaan khawatir pun menjalar. Bukan apa-apa, akan ada beberapa perubahan nantinya. Beberapa kenyamanan yang kunikmati di rumah ini mungkin tidak akan kudapati di sana.
Mula-mula mengenai internet. Rumah kontrakan kami itu berada di dalam gang motor. Sementara, kami menggunakan koneksi internet kabel. Dan setahuku, internet kabel ini tidak masuk ke gang motor. Kalaupun iya, maksimal 50 meter dari jalan mobil. Rumahku nantinya sepertinya lebih dari 50 meter dari jalan mobil.
Abi sudah memperhitungkan beberapa opsi. Tapi sebenarnya, aku lebih suka jika tetap menggunakan jasa internet provider yang sekarang. Hm…we’ll see.
Kenyamanan antar-jemput. Selama ini, untuk ke sekolah, Hana diantar dan dijemput oleh Kakeknya. Jarak antara rumah Papa-Mamaku dan rumah kontrakan kami nanti tidak bisa dibilang dekat. Sehingga, aku tidak dapat lagi bergantung kepada Papa. Tadi sudah sempat cek jemputan sekolah. Hm…mahal juga ternyata.
Ada lagi kenyamanan lainnya yang mungkin akan berkurang — tapi tidak akan hilang sama sekali, insya Allah. Yaitu nikmatnya masakan dan kudapan buatan Mamaku. Kata Mama sih, kami bisa menggunakan jasa tukang ojek langganan keluarga untuk mengantarkan makanan ke rumah kontrakanku nanti. Hihi!
Lalu, bagaimana caraku menghapus kekhawatiran itu? Yang aku coba saat ini adalah membayangkan yang indah-indah. Hana akan memiliki kamarnya sendiri. Abi juga akan mendapatkan space-nya untuk ngoprek komputer (baca: kerja). Aku? Aku mungkin akan menguasai salah satu sudut ruangan untuk meja kerja dan buku-bukuku.
Semoga saja semua keindahan itu membantu menghalau kekhawatiran dan kupu-kupu di perutku ini.
So far, setelah aku hitung-hitung, aku pernah memiliki kurang lebih 12 orang atasan selama bekerja semenjak lulus kuliah di tahun 2000. Baik atasan langsung maupun tidak langsung.
Yang dua terakhir ini tergolong masih muda, hanya berbeda usia beberapa tahun dariku. Dan, mereka membuatku merasa seperti sponge — tanpa bob. Karena, begitu banyak yang mereka ketahui dan mereka bagi yang perlu kuserap. Bekerja dengan dan untuk mereka sama saja dengan sekolah lagi. Yang pasti, aku merasa, di bawah kepemimpinan mereka, kemampuan dan pengetahuanku bertambah, aku berkembang.