güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

Rumah oh Rumah

Masih diribetin sama urusan rumah? Iya nih! Rumah kontrakan. Huh!

Kata si Abi (suamiku), itu karena aku tak kunjung mengambil keputusan.

Awalnya, kami beriringan mencari rumah hilir mudik. Si Abi memasrahkan pilihan kepadaku. Yang mana saja. Tapi rumah yang sempat kupilih menurutnya kurang pas. Sampai akhirnya aku pasrah. Terserah. Namun ketika si Abi mulai menentukan pilihan, aku mengintervensi. Dan, akhirnya kini ia yang pasrah. Dan aku lah yang harus memilih.

Padahal kan, aku nggak pinter milih. Aku paling nggak bisa menentukan pilihan, mengambil keputusan. Takut salah. Bukan sifat yang baik sih. Tapi ya memang beginilah aku.

Kok bisa jadi begini? Entahlah. Aku beberapa kali merunut, mungkin akibat pola asuh yang salah? Tapi seingatku, Papa dan Mama memberikan keleluasaan kepadaku untuk menentukan sendiri apa yang kuinginkan. Mulai dari memilih sekolah, pekerjaan, hingga suami.

Mulai deh ngalor-ngidul nggak jelas.

Kembali ke rumah. Tadi pagi, semestinya kami membayar DP sebuah rumah yang sempat kami sepakati meskipun memang banyak minus-nya. Tapi ujug-ujug ada pilihan lain. Hati kami pun berbelok.

Sayangnya, belokan itu verboden. Alias rumah itu belum siap untuk ditempati. Sigh. Kami pun memutuskan, besok pagi kami akan membayar DP. Tapiiii…ada pilihan lain lagi! Haha! Pusing deh.

Kami sempat mencoba menghubungi pemilik rumah pilihan lain ini. Tapi nomornya tidak aktif. Besok pagi mungkin.

Walau begitu, aku sudah bertekad. Besok pagi apapun yang terjadi, kami sudah harus memutuskan. Pilih yang mana, lalu langsung DP.

Buat orang yang memiliki kesulitan dalam menentukan pilihan, ternyata keputusan harus diambil segera. Agar tidak terlalu lama berpusing-pusing.

Akankah keputusan itu diambil besok? We’ll see!

Memahami Karakter Manusia

Menurutku, ini hal yang paling sulit dipahami. Sudah bertahun-tahun berusaha, nggak lulus-lulus juga.

Ada yang bilang, “Ya nggak akan pernah lulus, manusia itu unik, berbeda-beda. Kamu paham si A, habis itu muncul si B yang beda sama sekali dengan si A.”

Iya juga ya?

Memang dalam memahami karakter manusia itu, menurutku — ini menurutku lho ya — harus intens dan kitanya harus sabar. Contohnya memahami pasangan (suami atau istri). Walau nilai kelulusan rendah, paling nggak, aku merasa sudah mulai agak cukup bisa memahami si Abi, suamiku.

Sementara orang-orang yang intensitas kontaknya denganku rendah kian hari kian sulit untuk dipahami. Sementara untuk meningkatkan intensitas kontak, aku kok kayaknya aku agak malas. Sementara, terkadang ada satu-dua hal yang bisa teratasi hanya jika terjadi kontak yang intens. Tapi…ya gitu deh.

Semoga suatu hari nanti bisa lulus memahami beragam karakter manusia.

Denting Piano

Entah mengapa, denting piano hampir selalu mampu membangkitkan rasa romantis dalam diriku. Aih!

Misalnya denting paino pada lagu My Confession yang dinyanyikan oleh Afgan berikut ini:

Padahal lagunya sedih. Ini liriknya:

You never see the way I look into your eyes
You never realize the love I feel inside
Pain and sorrow that haunted me
‘Cause words I’ve left unsaid to you

Dan dari kecil aku pingin banget bisa main piano. Dulu sering membayangkan, kalau lagi galau, tinggal ke piano dan memainkan lagu seperti di atas. Tapi hiks…piano harganya mahal bener. Nggak dibeliin deh.

Cuma, waktu adikku SMP (atau SMA, lupa), Papa beli keyboard. Dan, adikku berkesempatan kurus keyboard. Aku ikutan belajar sedikit-sedikit dari adikku itu. Cuma bisa tau kunci, itu pun yang satu jari! Haha. Tapi lumayan lah daripada nggak samsekal.

Cita-citaku: suatu hari bisa beli keyboard yang dimaininnya gampang! User friendly gitu. Kalo dah punya, kayaknya bakal seharian di depan keyboard. Sementara ini? Cukup di depan keyboard netbook aja dulu. Hihi!

Atasan

Bukan, ini bukan sedang membahas tentang baju atasan alias blouse dan teman-teman. Melainkan tentang atasan, alias bos.

Aku sekedar ingin menapaktilasi perjalananku sebagai bawahan dengan beragam atasan. Kesimpulanku, atasan yang baik adalah atasan yang tidak semata me-manage pekerjaan bawahannya sehingga tujuan perusahaan tercapai. Melainkan yang mampu menjadi guru bagi bawahannya. Yang sudi berbagi ilmu, baik ia sadari maupun tidak.

Tapi, itu tidak termasuk atasan menyebalkan yang darinya kita belajar untuk tidak menjadi pribadi yang pemarah, misalnya. Atau belajar untuk tidak menjadi bos yang cuma bisa menyuruh tapi jarang mampu memberikan solusi jika bawahan mentok dengan masalahnya.

atasanSo far, setelah aku hitung-hitung, aku pernah memiliki kurang lebih 12 orang atasan selama bekerja semenjak lulus kuliah di tahun 2000. Baik atasan langsung maupun tidak langsung.

Ehm, sebenarnya, sebelum lulus pun aku sudah pernah bekerja, menjadi guru pembimbing di BTA SMA 8.  Tapi saat itu aku belum melihat jajaran pimpinan BTA sebagai atasan, karena mereka lebih menganggap kami semua sebagai rekan. Jadi, rasanya agak berbeda.

Dari kedua belas atasan tersebut, 4 memberi kesan buruk, 3 biasa-biasa saja, dan 5 memberi kesan mendalam.

Yang lima itu di antaranya: Seorang pria berkebangsaan Inggris yang saat beliau wafat, aku menangis sejadi-jadinya — beliau sangat teramat baik, aku belajar banyak tentang kerendahan hati darinya;  seorang pria berkebangsaan India, yang mengajariku berpikir sistematis; seorang perempuan yang berhati lembut, yang darinya aku belajar bagaimana dapat bersikap tegas namun tetap dengan kelembutan — yang ternyata tidak mudah; dan dua orang pria lainnya yang dari mereka aku belajar mengenai banyak hal.

bos-yang-baikYang dua terakhir ini tergolong masih muda, hanya berbeda usia beberapa tahun dariku. Dan, mereka membuatku merasa seperti sponge — tanpa bob. Karena, begitu banyak yang mereka ketahui dan mereka bagi yang perlu kuserap. Bekerja dengan dan untuk mereka sama saja dengan sekolah lagi. Yang pasti, aku merasa, di bawah kepemimpinan mereka, kemampuan dan pengetahuanku bertambah, aku berkembang.

Kemarin, aku berkesempatan menemani seorang rekan kerja untuk mewawancarai seorang calon pegawai. Setelah sesi tanya jawab selesai, kami berdiskusi.

Dan, aku berkesempatan untuk berbagi tips dengannya. “Satu hal yang perlu kamu ketahui, atasan bukan sekedar orang yang nantinya bertugas memimpin kamu. Pastikan juga ia bisa menjadi guru untukmu. Caranya, kamu harus membuka diri. Jika tidak bisa, bilang tidak bisa. Pura-pura bisa justru akan merepotkan diri kamu sendiri. Kamu harus bisa mempelajari banyak hal dari atasanmu. Rugi kalau punya atasan cuma untuk kamu kasih wewenang buat menyuruh-nyuruh kamu. Serap semua ilmunya. Aplikasikan. Itu baru bawahan yang baik.”

Dan, itulah bawahan yang suatu hari nanti, pada akhirnya, bisa menjadi atasan. Plus, seperti pada pakaian, atasan dan bawahan pada akhirnya harus saling melengkapi, bukan?

Aku di 2011

tahun-baru-2011Biasanya, aku tidak mau membuat resolusi tahun baru. Tapi kali ini berbeda. Aku merasa aku harus mencanangkan resolusi.

Sebenarnya, dulu aku tidak mau beresolusi karena aku tidak ingin berharap. Aku takut akan harapan. Mungkin karena aku dulu aku terlalu berharap. Jadi, aku leboh fokus kepada akhir yang selalu positif. Tidak siap ketika ternyata hasilnya negatif.

Tapi, setelah aku intip di KBII online, kata harap memang pada akhirnya mengacu kepada hal yang berakhir positif alias harapan itu akan jadi kenyataan.

ha·rap 2 n keinginan supaya sesuatu terjadi >> ber·ha·rap v 1 berkeinginan supaya terjadi >> meng·ha·rap v 1 berharap akan; menantikan; menginginkan >> ha·rap·an n 2 keinginan supaya menjadi kenyataan.

Tapi ya memang aneh juga ya kalau berharap tapi nggak mikirin hasil alias kenyataannya? Haha!

Ya, pokoknya, bagaimana pun hasilnya, aku ikhlas. Karena, harapan yang akan kugantungkan kepada diriku sendiri pada tahun 2011 ini lebih kepada prosesnya. Karena, aku merasa pada tahun 2010 ini aku kurang giat dalam mengupayakan prosesnya.

Kira-kira apa yang akan aku lakukan tahun 2011 mendatang? Wah, banyak! Pokoknya harus memperkaya diriku baik dari berbagai segi, termasuk  kualitas diri dan kualitas materi. Yup, nggak mau muna ah. Siapapun butuh materi kan?

Yang pasti, aku berjanji untuk lebih giat tahun ini. Lebih semangat lagi dalam membesarkan nama http://KainIkat.com, http://BatikIndonesia.com, dan http://BukuMurMer.com. Lebih disiplin lagi dalam mencari dan mengerjakan job terjemahan. Lebih tekun lagi dalam menulis — tahun 2010 ini aku tidak mengirim cerpen ke majalah hiks.

Semoga dari semua niat baik itu akan ada hasil yang indah, apapun dan bagaimanapun itu. Amin.

Semangat menyongsong 2011!