• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Jun 23

Rasa Khawatir Itu

kamar tidurKemarin, setelah DP dibayarkan, yang ada hanyalah rasa riang dan semangat. Terbayang akan membeli ini dan itu untuk menghias calon rumahku itu. Diskusi dengan Hana gorden warna apa yang ia inginkan. Merencanakan untuk berbelanja keperluan rumah akhir bulan nanti.

Namun, sedikit demi sedikit, perasaan khawatir pun menjalar. Bukan apa-apa, akan ada beberapa perubahan nantinya. Beberapa kenyamanan yang kunikmati di rumah ini mungkin tidak akan kudapati di sana.

Mula-mula mengenai internet. Rumah kontrakan kami itu berada di dalam gang motor. Sementara, kami menggunakan koneksi internet kabel. Dan setahuku, internet kabel ini tidak masuk ke gang motor. Kalaupun iya, maksimal 50 meter dari jalan mobil. Rumahku nantinya sepertinya lebih dari 50 meter dari jalan mobil.

Abi sudah memperhitungkan beberapa opsi. Tapi sebenarnya, aku lebih suka jika tetap menggunakan jasa internet provider yang sekarang. Hm…we’ll see.

Kenyamanan antar-jemput. Selama ini, untuk ke sekolah, Hana diantar dan dijemput oleh Kakeknya. Jarak antara rumah Papa-Mamaku dan rumah kontrakan kami nanti tidak bisa dibilang dekat. Sehingga, aku tidak dapat lagi bergantung kepada Papa. Tadi sudah sempat cek jemputan sekolah. Hm…mahal juga ternyata.

Ada lagi kenyamanan lainnya yang mungkin akan berkurang — tapi tidak akan hilang sama sekali, insya Allah. Yaitu nikmatnya masakan dan kudapan buatan Mamaku. Kata Mama sih, kami bisa menggunakan jasa tukang ojek langganan keluarga untuk mengantarkan makanan ke rumah kontrakanku nanti. Hihi!

Lalu, bagaimana caraku menghapus kekhawatiran itu? Yang aku coba saat ini adalah membayangkan yang indah-indah. Hana akan memiliki kamarnya sendiri. Abi juga akan mendapatkan space-nya untuk ngoprek komputer (baca: kerja). Aku? Aku mungkin akan menguasai salah satu sudut ruangan untuk meja kerja dan buku-bukuku.

Semoga saja semua keindahan itu membantu menghalau kekhawatiran dan kupu-kupu di perutku ini.

Jun 21

Rumah oh Rumah

Masih diribetin sama urusan rumah? Iya nih! Rumah kontrakan. Huh!

Kata si Abi (suamiku), itu karena aku tak kunjung mengambil keputusan.

Awalnya, kami beriringan mencari rumah hilir mudik. Si Abi memasrahkan pilihan kepadaku. Yang mana saja. Tapi rumah yang sempat kupilih menurutnya kurang pas. Sampai akhirnya aku pasrah. Terserah. Namun ketika si Abi mulai menentukan pilihan, aku mengintervensi. Dan, akhirnya kini ia yang pasrah. Dan aku lah yang harus memilih.

Padahal kan, aku nggak pinter milih. Aku paling nggak bisa menentukan pilihan, mengambil keputusan. Takut salah. Bukan sifat yang baik sih. Tapi ya memang beginilah aku.

Kok bisa jadi begini? Entahlah. Aku beberapa kali merunut, mungkin akibat pola asuh yang salah? Tapi seingatku, Papa dan Mama memberikan keleluasaan kepadaku untuk menentukan sendiri apa yang kuinginkan. Mulai dari memilih sekolah, pekerjaan, hingga suami.

Mulai deh ngalor-ngidul nggak jelas.

Kembali ke rumah. Tadi pagi, semestinya kami membayar DP sebuah rumah yang sempat kami sepakati meskipun memang banyak minus-nya. Tapi ujug-ujug ada pilihan lain. Hati kami pun berbelok.

Sayangnya, belokan itu verboden. Alias rumah itu belum siap untuk ditempati. Sigh. Kami pun memutuskan, besok pagi kami akan membayar DP. Tapiiii…ada pilihan lain lagi! Haha! Pusing deh.

Kami sempat mencoba menghubungi pemilik rumah pilihan lain ini. Tapi nomornya tidak aktif. Besok pagi mungkin.

Walau begitu, aku sudah bertekad. Besok pagi apapun yang terjadi, kami sudah harus memutuskan. Pilih yang mana, lalu langsung DP.

Buat orang yang memiliki kesulitan dalam menentukan pilihan, ternyata keputusan harus diambil segera. Agar tidak terlalu lama berpusing-pusing.

Akankah keputusan itu diambil besok? We’ll see!

May 27

Memahami Karakter Manusia

Menurutku, ini hal yang paling sulit dipahami. Sudah bertahun-tahun berusaha, nggak lulus-lulus juga.

Ada yang bilang, “Ya nggak akan pernah lulus, manusia itu unik, berbeda-beda. Kamu paham si A, habis itu muncul si B yang beda sama sekali dengan si A.”

Iya juga ya?

Memang dalam memahami karakter manusia itu, menurutku — ini menurutku lho ya — harus intens dan kitanya harus sabar. Contohnya memahami pasangan (suami atau istri). Walau nilai kelulusan rendah, paling nggak, aku merasa sudah mulai agak cukup bisa memahami si Abi, suamiku.

Sementara orang-orang yang intensitas kontaknya denganku rendah kian hari kian sulit untuk dipahami. Sementara untuk meningkatkan intensitas kontak, aku kok kayaknya aku agak malas. Sementara, terkadang ada satu-dua hal yang bisa teratasi hanya jika terjadi kontak yang intens. Tapi…ya gitu deh.

Semoga suatu hari nanti bisa lulus memahami beragam karakter manusia.

Jan 08

Denting Piano

Entah mengapa, denting piano hampir selalu mampu membangkitkan rasa romantis dalam diriku. Aih!

Misalnya denting paino pada lagu My Confession yang dinyanyikan oleh Afgan berikut ini:

Padahal lagunya sedih. Ini liriknya:

You never see the way I look into your eyes
You never realize the love I feel inside
Pain and sorrow that haunted me
‘Cause words I’ve left unsaid to you

Dan dari kecil aku pingin banget bisa main piano. Dulu sering membayangkan, kalau lagi galau, tinggal ke piano dan memainkan lagu seperti di atas. Tapi hiks…piano harganya mahal bener. Nggak dibeliin deh.

Cuma, waktu adikku SMP (atau SMA, lupa), Papa beli keyboard. Dan, adikku berkesempatan kurus keyboard. Aku ikutan belajar sedikit-sedikit dari adikku itu. Cuma bisa tau kunci, itu pun yang satu jari! Haha. Tapi lumayan lah daripada nggak samsekal.

Cita-citaku: suatu hari bisa beli keyboard yang dimaininnya gampang! User friendly gitu. Kalo dah punya, kayaknya bakal seharian di depan keyboard. Sementara ini? Cukup di depan keyboard netbook aja dulu. Hihi!

Jan 05

Atasan

Bukan, ini bukan sedang membahas tentang baju atasan alias blouse dan teman-teman. Melainkan tentang atasan, alias bos.

Aku sekedar ingin menapaktilasi perjalananku sebagai bawahan dengan beragam atasan. Kesimpulanku, atasan yang baik adalah atasan yang tidak semata me-manage pekerjaan bawahannya sehingga tujuan perusahaan tercapai. Melainkan yang mampu menjadi guru bagi bawahannya. Yang sudi berbagi ilmu, baik ia sadari maupun tidak.

Tapi, itu tidak termasuk atasan menyebalkan yang darinya kita belajar untuk tidak menjadi pribadi yang pemarah, misalnya. Atau belajar untuk tidak menjadi bos yang cuma bisa menyuruh tapi jarang mampu memberikan solusi jika bawahan mentok dengan masalahnya.

atasanSo far, setelah aku hitung-hitung, aku pernah memiliki kurang lebih 12 orang atasan selama bekerja semenjak lulus kuliah di tahun 2000. Baik atasan langsung maupun tidak langsung.

Ehm, sebenarnya, sebelum lulus pun aku sudah pernah bekerja, menjadi guru pembimbing di BTA SMA 8.  Tapi saat itu aku belum melihat jajaran pimpinan BTA sebagai atasan, karena mereka lebih menganggap kami semua sebagai rekan. Jadi, rasanya agak berbeda.

Dari kedua belas atasan tersebut, 4 memberi kesan buruk, 3 biasa-biasa saja, dan 5 memberi kesan mendalam.

Yang lima itu di antaranya: Seorang pria berkebangsaan Inggris yang saat beliau wafat, aku menangis sejadi-jadinya — beliau sangat teramat baik, aku belajar banyak tentang kerendahan hati darinya;  seorang pria berkebangsaan India, yang mengajariku berpikir sistematis; seorang perempuan yang berhati lembut, yang darinya aku belajar bagaimana dapat bersikap tegas namun tetap dengan kelembutan — yang ternyata tidak mudah; dan dua orang pria lainnya yang dari mereka aku belajar mengenai banyak hal.

bos-yang-baikYang dua terakhir ini tergolong masih muda, hanya berbeda usia beberapa tahun dariku. Dan, mereka membuatku merasa seperti sponge — tanpa bob. Karena, begitu banyak yang mereka ketahui dan mereka bagi yang perlu kuserap. Bekerja dengan dan untuk mereka sama saja dengan sekolah lagi. Yang pasti, aku merasa, di bawah kepemimpinan mereka, kemampuan dan pengetahuanku bertambah, aku berkembang.

Kemarin, aku berkesempatan menemani seorang rekan kerja untuk mewawancarai seorang calon pegawai. Setelah sesi tanya jawab selesai, kami berdiskusi.

Dan, aku berkesempatan untuk berbagi tips dengannya. “Satu hal yang perlu kamu ketahui, atasan bukan sekedar orang yang nantinya bertugas memimpin kamu. Pastikan juga ia bisa menjadi guru untukmu. Caranya, kamu harus membuka diri. Jika tidak bisa, bilang tidak bisa. Pura-pura bisa justru akan merepotkan diri kamu sendiri. Kamu harus bisa mempelajari banyak hal dari atasanmu. Rugi kalau punya atasan cuma untuk kamu kasih wewenang buat menyuruh-nyuruh kamu. Serap semua ilmunya. Aplikasikan. Itu baru bawahan yang baik.”

Dan, itulah bawahan yang suatu hari nanti, pada akhirnya, bisa menjadi atasan. Plus, seperti pada pakaian, atasan dan bawahan pada akhirnya harus saling melengkapi, bukan?

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top