Rumah oh Rumah
Posted in Rumah, Saya / Aku, Sekedar Cerita on 06/21/2011 11:31 pm by Nadiah AlwiMasih diribetin sama urusan rumah? Iya nih! Rumah kontrakan. Huh!
Kata si Abi (suamiku), itu karena aku tak kunjung mengambil keputusan.
Awalnya, kami beriringan mencari rumah hilir mudik. Si Abi memasrahkan pilihan kepadaku. Yang mana saja. Tapi rumah yang sempat kupilih menurutnya kurang pas. Sampai akhirnya aku pasrah. Terserah. Namun ketika si Abi mulai menentukan pilihan, aku mengintervensi. Dan, akhirnya kini ia yang pasrah. Dan aku lah yang harus memilih.
Padahal kan, aku nggak pinter milih. Aku paling nggak bisa menentukan pilihan, mengambil keputusan. Takut salah. Bukan sifat yang baik sih. Tapi ya memang beginilah aku.
Kok bisa jadi begini? Entahlah. Aku beberapa kali merunut, mungkin akibat pola asuh yang salah? Tapi seingatku, Papa dan Mama memberikan keleluasaan kepadaku untuk menentukan sendiri apa yang kuinginkan. Mulai dari memilih sekolah, pekerjaan, hingga suami.
Mulai deh ngalor-ngidul nggak jelas.
Kembali ke rumah. Tadi pagi, semestinya kami membayar DP sebuah rumah yang sempat kami sepakati meskipun memang banyak minus-nya. Tapi ujug-ujug ada pilihan lain. Hati kami pun berbelok.
Sayangnya, belokan itu verboden. Alias rumah itu belum siap untuk ditempati. Sigh. Kami pun memutuskan, besok pagi kami akan membayar DP. Tapiiii…ada pilihan lain lagi! Haha! Pusing deh.
Kami sempat mencoba menghubungi pemilik rumah pilihan lain ini. Tapi nomornya tidak aktif. Besok pagi mungkin.
Walau begitu, aku sudah bertekad. Besok pagi apapun yang terjadi, kami sudah harus memutuskan. Pilih yang mana, lalu langsung DP.
Buat orang yang memiliki kesulitan dalam menentukan pilihan, ternyata keputusan harus diambil segera. Agar tidak terlalu lama berpusing-pusing.
Akankah keputusan itu diambil besok? We’ll see!
So far, setelah aku hitung-hitung, aku pernah memiliki kurang lebih 12 orang atasan selama bekerja semenjak lulus kuliah di tahun 2000. Baik atasan langsung maupun tidak langsung.
Yang dua terakhir ini tergolong masih muda, hanya berbeda usia beberapa tahun dariku. Dan, mereka membuatku merasa seperti sponge — tanpa bob. Karena, begitu banyak yang mereka ketahui dan mereka bagi yang perlu kuserap. Bekerja dengan dan untuk mereka sama saja dengan sekolah lagi. Yang pasti, aku merasa, di bawah kepemimpinan mereka, kemampuan dan pengetahuanku bertambah, aku berkembang.
Biasanya, aku tidak mau membuat resolusi tahun baru. Tapi kali ini berbeda. Aku merasa aku harus mencanangkan resolusi.







