• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Archive for the ‘Saya / Aku’ Category

You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:

Dec 28

Aku di 2011

tahun-baru-2011Biasanya, aku tidak mau membuat resolusi tahun baru. Tapi kali ini berbeda. Aku merasa aku harus mencanangkan resolusi.

Sebenarnya, dulu aku tidak mau beresolusi karena aku tidak ingin berharap. Aku takut akan harapan. Mungkin karena aku dulu aku terlalu berharap. Jadi, aku leboh fokus kepada akhir yang selalu positif. Tidak siap ketika ternyata hasilnya negatif.

Tapi, setelah aku intip di KBII online, kata harap memang pada akhirnya mengacu kepada hal yang berakhir positif alias harapan itu akan jadi kenyataan.

ha·rap 2 n keinginan supaya sesuatu terjadi >> ber·ha·rap v 1 berkeinginan supaya terjadi >> meng·ha·rap v 1 berharap akan; menantikan; menginginkan >> ha·rap·an n 2 keinginan supaya menjadi kenyataan.

Tapi ya memang aneh juga ya kalau berharap tapi nggak mikirin hasil alias kenyataannya? Haha!

Ya, pokoknya, bagaimana pun hasilnya, aku ikhlas. Karena, harapan yang akan kugantungkan kepada diriku sendiri pada tahun 2011 ini lebih kepada prosesnya. Karena, aku merasa pada tahun 2010 ini aku kurang giat dalam mengupayakan prosesnya.

Kira-kira apa yang akan aku lakukan tahun 2011 mendatang? Wah, banyak! Pokoknya harus memperkaya diriku baik dari berbagai segi, termasuk  kualitas diri dan kualitas materi. Yup, nggak mau muna ah. Siapapun butuh materi kan?

Yang pasti, aku berjanji untuk lebih giat tahun ini. Lebih semangat lagi dalam membesarkan nama http://KainIkat.com, http://BatikIndonesia.com, dan http://BukuMurMer.com. Lebih disiplin lagi dalam mencari dan mengerjakan job terjemahan. Lebih tekun lagi dalam menulis — tahun 2010 ini aku tidak mengirim cerpen ke majalah hiks.

Semoga dari semua niat baik itu akan ada hasil yang indah, apapun dan bagaimanapun itu. Amin.

Semangat menyongsong 2011!

Dec 06

Sekolah Lagi Berkat Blogfam

sekolah lagiSekolah lagi? Iya. Sudah beberapa minggu ini saya sekolah lagi. Menyenangkan sekali. Karena, sekolah yang saya ikuti adalah sekolah menulis.

Semenjak lulus dari Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Salah satu bidang yang saya minati adalah Creative Writing. Sayangnya, sepertinya program master dalam bidang ini hanya ada di luar negeri.

Karena tidak punya cukup uang untuk membiayai sendiri, saya pernah mendaftar program beasiswa. Tidak diterima, karena background saya di swasta (saat itu saya masih bekerja kantoran). Nggak nyambung dengan pekerjaan saya.

Karena itu, demi memuaskan minat saya dalam bidang kepenulisan dan kesukaan saya dalam belajar tentang kepenulisan, saya mengikuti beberapa workshop kepenulisan.

Pertama dulu sekali, di awal tahun 2004, saat saya sedang mengandung Hana. Workshop tersebut diselenggarakan oleh majalah MataBaca.

Dan, sekarang, saya sedang mengikuti Workshop Menulis Cerita Anak yang diadakan secara online oleh Blogfam — yang hari ini sedang berulang tahun ketujuh, selamat ya! Workshop ini, meski diadakan online, tidak main-main lho!

Sang pengajar yang telaten — yang juga penulis terkemuka, Kang Iwok Abqary, memberikan materi dan tugas dengan serius. Karenanya, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mangkir dari kelas dan mengerjakan tugas tepat pada waktunya. Masa gurunya serius, muridnya main-main? Rugi dong ah!

Kian hari materi dan tugas yang diberikan kian menyenangkan. Saya merasa, workshop ini mengobati keinginan saya kuliah Creative Writing yang terpaksa dipudarkan oleh keadaan. Workshop ini juga mengobati kerinduan saya akan mata kuliah Penulisan Populer yang pernah saya ambil saat kuliah dulu — mata kuliah favorit saya dengan dosen seorang penulis, Bapak Ismail Marahimin.

Jika dulu mata kuliah PenPop — begitu kami biasa menyingkat mata kuliah Penulisan Populer — dapat menggali minat saya dalam tulis-menulis yang sempat terkubur karena kesibukan kuliah — yang meski di Fakultas Sastra namun tidak terlalu banyak berhubungan dengan tulis-menulis, kecuali menulis makalah yang bejibun. Maka, Workshop Menulis Cerita Anak ini mulai membangkitkan keinginan terpendam saya untuk menulis cerita anak.

Selama ini, terlalu banyak yang membuat saya khawatir tentang menulis untuk anak. Namun, sepertinya workshop menarik ini mampu menghalau semua kekhawatiran saya. Tentunya, itu berkat ketelatenan Pak Guru Iwok — yang kerap digoda oleh para muridnya dengan panggilan Cik Gu ala Upin Ipin.

Oh ya, hebatnya, workshop ini tidak dipungut biaya sesen pun! Maka, yang dapat saya haturkan hanyalah doa yang tulus untuk rekan-rekan penggagas dan penyelenggara workshop ini di Blogfam.

Yang bisa saya sebutkan di sini di antaranya Mbak Indah Juli yang memberi informasi workshop ini via twitter, Bapak Kepala Sekolah Jaf yang rajin merapikan kelas dan memberi info menarik, dan tentunya Pak Guru Iwok Abqary yang telah mengajar dengan sabar dan dengan sangat menarik. Semoga kebaikan ketiganya dapat membawa kebaikan yang lebih indah lagi dalam kehidupan mereka. Amin.

Dan, sekali lagi, selamat ulang tahun untuk Blogfam! Terima kasih ya, berkat Blogfam saya bisa sekolah lagi!

Nov 08

Belajar Ikhlas dan Ridho

Setelah belajar memahami makna ikhlas dan ridho tempo hari, sudah saatnya bagiku untuk belajar ikhlas dan ridho itu sendiri.

Semoga pemahamanku akan keduanya sudah cukup untuk aku dapat belajar melaksanakannya.

Pelajaran akan keduanya dapat aku ambil dari Almarhum Nenekku dari pihak Papa yang biasa kupanggil Ibu. Ibu adalah perempuan sederhana pada masanya, yang menikah dengan Kakekku — yang tak pernah kukenal — yang merupakan seorang musisi terkenal pada jamannya.

Mungkin kesederhanaan Ibu yang membuat kakekku memilihnya. Dengan kebaya dan kainnya yang terus ia kenakan hingga akhir hayatnya, dengan senyumnya yang manis.

Namun, usia pernikahan mereka tidak terlalu lama karena kakekku berpulang saat Papaku masih duduk di bangku SMEA. Setelah itu, yang kutahu, Ibu dan Papa berjuang keras untuk menghidupi keluarga, menghidupi keempat adik Papa.

Mama bergabung dalam perjuangan tersebut sekitar sepuluh tahun kemudian. Dan, yang dicatat oleh Mama adalah segenap usaha Ibu yang dilakukannya dengan ikhlas. Berjualan kue di antaranya. Meski untungnya tak seberapa, Ibu tak meninggalkan pekerjaan itu. Demi anak-anaknya.

Menurut Mama, tak pernah Ibu mengeluhkan perekonomian mereka yang kala itu pas-pasan. Yang penting bagi Ibu adalah berusaha. Sebagai orang tua tunggal, Ibu tetap tegar. Memang, ada Papa dan Mama yang menemani Ibu berjuang. Tapi, tentu tidak dapat disamakan dengan peran seorang suami.

Yang Mama ingat lagi, Ibu tetap tersenyum, apapun yang terjadi.

Dan, beberapa waktu silam, setelah memanjatkan do’a kepada Allah SWT untuk Ibu, Mama memimpikan Ibu lagi. Seperti mimpi-mimpi sebelumnya, Mama menemukan Ibu dalam keadaan yang sangat baik, seperti dalam singgasana yang indah, dihiasi bunga, Ibu tampak cantik dan bahagia. Dalam mimpi itu, Ibu memeluk Mama, dan Mama menciumi Ibu. Meski hanya menantu, Ibu memang sangat menyayangi Mama.

Betapa indahnya. Ibu dengan segala keikhlasannya, dengan segala perjuangannya. Tanpa mengenal lelah, tanpa peduli akan rasa malu. Yang terpenting adalah membesarkan kelima buah hatinya.

Aku dan Mama merenungi kisah Ibu. Kami duduk berdua, menelusuri semua. Dan, ya, insya Allah jika memang yang Mama lihat dalam mimpi adalah hal yang benar-benar Ibu alami di sana, pastilah itu hadiah yang indah dari-Nya untuk keikhlasan dan keridhoan Ibu.

Kami pun tersadar. Mungkin kami belum seperti Ibu dalam menghadapi kehidupan ini — padahal yang Ibu alami jauh lebih “hebat” dari yang kami hadapi. Namun, kami ingin juga memiliki akhir seindah itu. Satu-satunya kunci adalah belajar ikhlas dan ridho akan apapun yang ditakdirkan atas kami.

Sehingga, kami juga tetap dapat tersenyum meski apapun yang terjadi. Seperti ibu penjual makanan di pasar pada foto di bawah ini, yang tersenyum riang meski mungkin ia harus seharian duduk menjajakan dagangannya.

perempuan ikhlas

[Foto oleh Mee Lin Woon, Sidney]

Nov 07

Masak Itu Berkah

Saya dan suami senang mencoba makanan baru — tepatnya suami, saya yang sudah tujuh tahun menjadi istrinya hanya ikut-ikutan :) . Tapi, tahu sendiri, sekarang apa-apa mahal. Kalau sering-sering jajan di luar, wah…bahaya! Maksudnya, berbahaya bagi kesehatan kantong, dompet, dan rekening tabungan.

Jadi, saya pun mulai mencoba-coba memasak.Tapi, dulu, saya pernah punya pengalaman menyedihkan dalam hal memasak untuk suami. Setelah selesai, masakan itu tidak dapat dimakan. Rasanya kayak jamu! Huhuhu. Antara malu dan sedih. Akhirnya, setelah itu, saya memutuskan untuk titip masak ke Mama, yang sudah pasti masakannya enak dan bisa dimakan.

Walau begitu, pada dasarnya saya sebenarnya senang memasak. Mungkin karena saya senang makan juga, hehehe. Kesukaan saya akan memasak ini saya puaskan dengan menonton acara masak-memasak di televisi. Dulu, yang saya suka tonton adalah Gula-gula (Bara Patirajawane) dan Kitchen Stadium.

Tapi, alhamdulillah, sekarang kami berlangganan tv kabel. Ada kanal AFC (Asian Food Channel). Waaaahhh, layaknya surga! Seharian yang muncul adalah gambar orang memasak.

Nah, ada dua acara di AFC yang saya suka. Pertama, Chef at Home (Michael Smith). Kedua, Nigella Bites (Nigella Lawson).

Chef at Home menghadirkan acara memasak sang chef, Michael Smith, untuk menyiapkan makan malam bersama istri dan anaknya — terkadang untuk beberapa tamu yang datang, seperti teman atau ayahnya. Chef at Home ini spesial karena memiliki tagline “Cooking without a recipe, you can do it, too.” Keren kan? Jadi, saya juga mestinya bisa! So inspiring. Plus, Smith kerap menyuguhkan tips-tips menarik dalam masak-memasak.

Nigella Bites tak jauh beda. Kadang ia memasak untuk keluarga dan temannya, atau kadang hanya untuk dirinya sendiri. Tips-tipsnya juga keren-keren.

Nah, yang paling berkesan dari Michael Smith adalah ajarannya bahwa kita dapat mencampur bumbu apa saja. Dan, kita juga dapat bereksplorasi dengan bumbu-bumbu tersebut. Yang terpenting, ada keseimbangan di sana. Ini saya pegang betul.

Berbekal menonton dua acara tersebut, saya membuat beberapa masakan. Butter bread pudding, fettucine alfredo, spaghetti bolognaise, creamy spaghetti, dan banyak lagi. Tapi, semalam ada yang berbeda. Saya masak mie ayam! :) Kali ini menu oriental — eh, apa menu lokal ya? :D

mie-ayam-berkah

Modal membuat mie ayam jamur ini nggak banyak. Hanya sekitar Rp. 30.000,-. Ayam setengah, jamur lima ribu, sawi, mie, dan kerupuk pangsit. Daaannnn, berkah! Modal segitu, bisa menghasilkan lima mangkuk mie ayam. Jadi, saya bisa mengirimi dua mangkuk mie ayam jamur untuk Mama. Berkah banget.

Coba bayangkan, kalau makan di luar, di tempat makan yang enak. Tiga puluh ribu hanya dapat dua mangkuk. Bahkan kurang, di beberapa resto. Ya nggak?

Yang diperlukan hanya sedikit kreativitas dan kehebohan di dapur :) .

Hari ini misalnya. Tadi pagi, saya titip pesan ke Mama untuk tidak dikirimkan makanan. Saya saja yang ke rumah Mama. Tapi. ada jadwal yang tidak sesuai dengan rencana. Jadi, saya tidak dapat kiriman makanan. Wah, saya dan Hana, anak saya laper banget! Oh ya, suami sedang mengaji, jadi paling tidak, saya cukup memikirkan makanan untuk saya dan Hana.

Beli kok males. Bikin? Yup, ide bagus. Kebetulan, saya masih punya pasta spaghetti mungil-mungil sebanyak 50 gr, sisa masak spaghetti bolognaise tempo hari. Lalu, saya masih punya sisa buah lemon dan daging asap. Maka, saya pun mulai berjibaku di dapur.

Pertama, mencacah bawang putih dan bawang bombay sambil merebus pasta. Lalu, saya menumis kedua bawang-bawangan tersebut sambil menggoreng daging asap — oh ya, bawang putih, atas saran Michael Smith, sebaiknya dimasukkan terakhir karena cepat menjadi coklat. Setelah itu, saya masukkan susu, garam, dan lada ke tumisan bawang.

Kemudian, saya masukkan oregano dan biji pala bubuk, sedikit saja, untuk menambah rasa. Lalu, saya masukkan spaghetti yang sudah direbus tadi ke dalam panci berisi cream sauce. Untuk memperkaya rasa, saya tambahkan perasan buah lemon, sedikit saja. Dan, setelah diicip dan rasanya sudah pas, saya letakkan di atas piring, lalu saya tambahkan daging asap yang telah digoreng tadi dan parutan keju. Yummy!

Saya dan Hana pun siap bersantap siang dengan sepiring spaghetti cream sauce dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah, tanpa harus mengeluarkan uang lagi. Enak, berkah!

Oh ya, satu lagi…yang pasti TANPA MECIN atau penyedap rasa lainnya, judulnya bebas MSG :D .

pasta-saus-putih

Gambar di atas adalah Hana sedang menunggu makan siang sambil membaca buku dan tentunya menu makan siang hari ini.

Jadi pingin belajar masakan lainnya supaya irit..ooopsss…supaya berkah maksudnya :) .

Nov 05

Jalan Sehat

jalan sehatTu wa ga pat! Itu mah gerak jalan. Ini bukan. Hehehe…cuma jalan kaki biasa, dari pasar atau ATM ke rumah. Jaraknya berapa ya? Yaaa pokoknya nggak jauh-jauh amat lah. Tapi, cukup untuk menghasilkan setetes dua tetes keringat. Semoga benar-benar bisa jadi ajang jalan sehat buatku.

Oke, kuakui, aku memang agak ndut. Catat, AGAK (baca: lumayan). Dulu, keinginan untuk diet besaaaaar sekali. Tapi, aku akhirnya tiba pada satu kesimpulan. Buat apa menyengsarakan diri dengan keinginan berdiet? Just enjoy life while you can. Yang penting sehat.

Semenjak saat itu, aku cuek bebek sama yang namanya menjaga makan. Yang penting happy!

Tapi, beberapa waktu silam, aku menderita diare sampai dua minggu. Kenapa lama sekali? Karena, alhamdulillah aku tidak dehidrasi. Jadi, aku tidak meminum obat pemampet diare. Biarlah racun-racun itu keluar dari tubuhku. Akibatnya, berat badanku turun hingga 4 – 5 kiloan.

Semua orang terpana *lebaynya*. Dan, aku kok ya merasa nyaman juga jadinya dengan tubuhku.

Semenjak saat itu, aku pun mengurangi jumlah nasi yang kumakan saat makan malam. Memang, berat badanku tidak turun lagi. Tapi, paling tidak ya tidak bertambah juga.

Lalu, apa hubungannya dengan jalan sehat? Begini, setiap pagi, aku bertugas mengantar anak ke sekolah — tentang anakku, bisa diintip di http://TingkahAnak.com. Dan, terkadang, aku harus ke ATM atau ke pasar setelahnya, jadi aku minta Papaku yang membantu mengantarkan aku dan anakku ke sekolah setiap pagi untuk menurunkan aku di sana, dan ditinggal saja, tidak usah ditunggu.

Nah, selain untuk mengirit ongkos — biasanya aku dari pasar ke rumah naik bajaj, setelah urusanku di pasar atau ATM selesai, aku coba-coba pulang dengan berjalan kaki. Ternyata, setelah jalan pagi itu, kok rasanya lebih segar?

Maka, sudah seminggu ini, aku berjalan pagi. Pinginnya sih dari sekolah anakku tapi kok lumayan jauh ya? Sementara dari pasar dulu lah.

Selain itu, kepergian seorang teman SMP yang begitu tiba-tiba akibat stroke membuatku merasa perlu lebih memperhatikan kesehatan. Memang, ajal akan tiba tanpa bisa kita hindari, tapi berusaha menjaga kesehatan juga penting. Semacam kewajiban kita terhadap tubuh tempat tuh kita menetap selama di bumi ini. Ya tak?

the-biggest-loser-mikeOh ya, satu hal lagi yang membuatku bersemangat adalah acara televisi yang ditayangkan di channel Diva (dulu Hallmark), The Biggest Loser. Acara The Biggest Loser ini menyuguhkan sekelompok orang berbadan gemuk yang berkeinginan untuk menurunkan berat badan.  Awalnya, mereka memiliki berat badan hingga ratusan kilo. Tapi, dalam beberapa bulan, ada yang bahkan bisa menurunkan berat badannya hingga puluhan kilo!

Caranya, mereka mengatur pola makan dan berolahraga. Dan, pada akhirnya, bukan saja mereka menjadi lebih ramping tapi mereka juga menjadi lebih sehat. Yang kedua ini sungguh menginspirasi!

Karena, sekarang banyak sekali produk-produk yang mengklaim dapat menurunkan berat badan, tapi apakah menyehatkan? Terlebih lagi, beberapa produk diet tersebut harganya mahal sekali. Jujur, aku tidak punya uang sebanyak itu.

Jadi, kuputuskan untuk menjadi sehat dengan agak menjaga pola makan dan berolahraga meski tidak seintens para peserta The Biggest Loser. Yang kucoba adalah sesekali memasak makanan yang lebih sehat, tidak terlalu sering ngemil, dan jalan sehat tadi itu — yang sesekali diikuti dengan olahraga kecil-kecilan di rumah, sambil menginat-ingat gerakan aerobik yang pernah kupelajari saat senam dulu, sebelum menikah hehehe.

Hidup sehat, bisa! Yang murah: jalan sehat!

Semangat!

[Ket. Gambar: Foto Mike The Biggest Looser dari http://www.biggest-loser.org/before-and-after-photos/, foto orang jogging hasil bidikan Tim & Annette]

« Newer Posts | Older Posts »

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top