güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Sekedar Cerita’ Category

Teh Tarik

Salah satu minuman favoritku: Teh Tarik. Biasanya aku buat dari teh tarik sachet-an yang aku tambah sedikit susu kental manis dan bubuk kayu putih…eh bukan ding, bubuk kayu manis. Wkwkwk. [Asli, sebelum diedit barusan, aku cuma tulis bubuk kayu putih doang. Resep yang kacau!] :D

Barusan, sambil sarapan roti dan teh tarik, aku sambil blogwalking ke http://onewordonly.wordpress.com/. Eh, ternyata warnanya matching sama mug teh tarikku pagi ini ya? ;)

Kalah Lagi

Ah, kali ini masih harus kalah lagi. Padahal Garuda Muda menurut hemat saya sudah bermain dengan baik.

Memang, saya dan si Abi melihat Wanggai dan Diego tidak bermain seindah sebelumnya. Tapi, melihat permainan tim, sebenarnya kita ‘menang.’

Namun yang menyesakkan adalah lagi-lagi dikalahkan di kandang sendiri. Oleh lawan yang sama. Padahal kita sudah memberikan tim yang berbeda, dengan kualitas mental yang lebih baik (menurut saya).

Walau begitu, saya tidak sempat menghibur diri sendiri. Karena, segera setelah bola terlepas dari tangan Kurnia Mega, Hana, anak semata wayang saya, menangis tersedu-sedu.

Tangisan yang tidak sebentar. Hampir satu jam ia menangis karenanya. Ia baru berhenti menangis setelah kelelahan dan mengantuk, saat mulai terlelap di tempat tidur.

Ah, memang. Lagi-lagi yang tersisa adalah tangis. Semoga bukan hanya tangis. Melainkan ada harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, persepakbolaan Indonesia dapat memberikan predikat juara. Semoga semua dapat dibenahi. Semoga segalanya akan membaik.

Foto dari blog Andriyarusman.com.

Urusan Rumah Tangga

Sebenarnya, kalau waktunya ada, nggak ada tuh cerita urusan rumah tangga terbengkalai. Tapi, masalahnya, waktunya memang nggak cukup. Padahal sekarang ini aku cuma megang 2 kerjaan. Di batik dan di buku (dua-duanya bisnis online).

Dan, ada lagi satu faktor pendukung lainnya kenapa urusan rumah tangga kerap terbengkalai. Tidak dibiasakan sejak kecil.

Sedari lahir sampai hendak menikah, aku tinggal dengan Kakek-Nenek. Kebetulan mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga yang bisa diamanahkan untuk mengurus rumah. Itu termasuk urusan kamarku. Jadi memang kadang pulang sekolah atau kuliah dulu itu, jreng…tau-tau kamarku sudah rapi jali!

Nah, saat menikah pun, setelah pindah rumah, aku mendapat bantuan dari asisten rumah tangga. Begitu juga saat kembali ke rumah Nenek dulu.

Tapi sekarang, di rumah kontrakan ini, semua harus dikerjakan sendiri. Beruntung suamiku mau berbagi tugas. Tapi ya tetap saja kadang ada yang terbengkalai.

Masalah tidak terbiasa sejak kecil ini cukup mengganggu pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba memberi tanggung jawab kepada Hana. Tapi kelemahanku adalah jika tidak dikerjakan oleh Hana, aku gemas dan mengerjakannya sendiri. Salah ya?

Aku punya seorang teman yang sejak kecil sudah diberikan tanggung jawab mengurus rumah tangga oleh orang tuanya. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak! Aku salut kepadanya dan kepada orang tuanya.

Memang sudah semestinya anak diajarkan untuk turut membantu di rumah, agar nanti setelah dewasa, ia sudah terbiasa. Ia akan melakukannya dengan otomatis dan riang.

Sekarang sih, kalau memang waktunya ada, aku senang-senang saja melakukan semua. Bersih-bersih, memasak, semua sebenarnya menyenangkan. Apalagi memasak. Tapi ya itu, waktunya nggak cukup sih (bukan lagi ngarang alasan lho… ^____^ )

Menjadi Manusia

Meminjam istilah Rini, saya sedang menjadi manusia. Lho, memang pernah tidak menjadi manusia?

Antara pernah dan tidak. Begini, ini ada hubungannya dengan pekerjaan. Pekerjaan tetap saya adalah sebagai online promo & marketing plus content editor pada sebuah toko online yang menjual kain batik dan kain ikat. Meskipun bekerja di rumah, saya tetap ‘ngantor’ dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.

Pekerjaan saya ini menuntut banyak perhatian dan ketekunan. Pada jam-jam tersebut, sulit bagi saya berbagi pikiran ke hal-hal lainnya. Ya, paling banter, kalau lagi mentok, saya bermain-main dengan akun sosmed pribadi, atau ngeblog (yang ini agak jarang, karena ngeblog sebenarnya kan juga butuh konsentrasi ya?).

Sementara, sejak lama, sebelum bekerja di toko online ini, saya sudah menjalani profesi fleelancer yang kebetulan saya sukai, sebagai penerjemah. Selain menulis, menerjemahkan adalah hal menyenangkan lainnya yang bisa mendatangkan rejeki buat saya. Hobi yang dibayar, begitu.

Sehingga, agak sulit menampik jika ada tawaran untuk menerjemahkan. Biasanya, bukan karena uangnya, melainkan karena muatan pada buku yang ditawarkan. Kalau menarik, kata tidak agak sulit keluar dari ketikan tangan saya (biasanya tawaran itu datang melalui email atau YM).

Namun, sejalan usia yang semakin bertambah, ketahanan tubuh saya tidak seperti dulu. Menerjemahkan adalah hal yang saya lakukan pagi-pagi sebelum memulai pekerjaan di toko online tersebut atau setelahnya, pada malam hari. Dulu sih kuat-kuat saja. Tapi, sekarang, saya lebih mudah merasa letih. Terlebih, saat deadline menghampiri.

Seperti kesepakatan dengan suami, saya memutuskan untuk cuti dulu dari menerjemahkan. Untuk sementara waktu. Dan inilah yang dimaksud dengan menjadi manusia. Saya memiliki waktu luang untuk mengurus anak, mengurus rumah, membaca, bercengkerama dengan orang tua, dll., dsb.

Masalahnya, sejak menjadi manusia begini, saya kok kangen dengan kegiatan mengalihbahasakan novel atau buku-buku non fiksi menarik seperti dulu? Nah, memang begitu bukan menjadi manusia? Hehe…tidak puas dengan keadaan dan selalu melihat hal lain sebagai rumput yang lebih hijau?

Maka, saya nikmati saja rasa kangen itu. Atau saya alihkan dengan menulis atau mengedit tulisan lama yang kemudian saya kirimkan ke majalah (atau mungkin nanti ke penerbit, untuk tulisan yanh agak tebal, insya Allah). Entah akan dimuat/diterbitkan atau tidak, yang penting saya merasa senang. Dan, mudah-mudahan kebiasaan saya dalam mengolah kata tidak tumpul.

Menjadi manusia? Enak!

Lebih Enak Mana?

Kerja di rumah atau di tempat lain?

Buat saya yang bekerja tanpa harus ngantor, lokasi kerja bisa di mana-mana. Bisa di atap rumah, di tengah jalan, di mana aja — Ok, that shounds lebay. Maksudnya, ya bisa saya lakukan di rumah, ataupun di tempat lain seperti kafe.

Memang sih, gaya banget kerja di kafe itu. Duduk di sofa, santai, dengan koneksi internet tak terbatas — kebetulan pekerjaan saya menuntut koneksi internet, dan ya itu…keren deh kayaknya.

Dan, hari ini saya terpaksa berkeren ria di sebuah kafe yang menjual kopi — iyalah kafe menjual kopi! — yang lumayan enak dengan nama brand lokal. Tapi saya nggak minum kopi, saya minum iced chocolate + hazelnut. Hm…so? Gimana rasanya?

Nggak seru! Saya terpaku pada tempat duduk ini. Belum lagi distraction berupa pengunjung kafe yang aneh-aneh. Baca: aneh. Andai ada yang enak dilihat gitu. Nggak ada. Hihi. Bukan cuma itu, saya harus mengeluarkan uang untuk minuman dan makanan yang sebenarnya nggak saya butuhkan. Dan, saya kebelet pipis! ^___^

Coba deh kalo di rumah. Saya bisa kerja di pojok kerja saya yang nyaman, ditemani suami tercinta yang juga Work at Home Daddy, bisa bobo-boboan kalo pinggang pegel, atau bahkan bisa kerja di atas tempat tidur. Plus, nggak ada dana yang harus dikeluarkan. Dan, saya bisa ke kamar mandi anytime saya mau.

Tapi ya, sesekali kerja di kafe gini boleh lah. Ganti suasana. Bahkan tadi sempat memberi sedikit ide untuk cerpen yang akan saya tulis. Hihi.

Sering-sering ngafe gini? Hm…saya harus pikir dua kali…dan cek dompet lima kali!

Yuk, ah…saya mau pulang dulu! Ada janji dengan pembatik yang menjadi rekanan di tempat kerja saya. Plus, saya pingin pipis!