Menerima dengan Ikhlas
Mungkin tidak mudah, tapi harus diusahakan.
Baru-baru ini, saya melewati masa yang begitu menyesakkan. Seakan perjuangan selama ini sia-sia belaka.
Sedih, kecewa, terkejut. Semua bercampur aduk di dalam hati saya.
You can use the search form below to go through the content and find a specific post or page:
Mungkin tidak mudah, tapi harus diusahakan.
Baru-baru ini, saya melewati masa yang begitu menyesakkan. Seakan perjuangan selama ini sia-sia belaka.
Sedih, kecewa, terkejut. Semua bercampur aduk di dalam hati saya.
Tadi, aku melihat seorang nenek sedang duduk di tepi jalan. Sayang, posisiku tidak memungkinkan untuk mendekatinya.
Ia menarik perhatianku karena tepat saat aku menoleh ke arahnya, ia sedang menghela nafas. Hatiku langsung terasa seperti diremas-remas. Di tepi jalan yang panas, ia duduk sendiri, mengenakan pakaian seadanya, dengan jilbab yang usang, dan sebuah kantung plastik putih entah berisi apa, teronggok di sebelahnya.
Helaan nafasnya membuatku sedih sekaligus berpikir. Subhanallah. Betapa helaan nafas itu menyimpan jutaan kisah.
Ke mana suaminya? Ke mana anak-anaknya? Ke mana cucu-cucunya? Mengapa ia sendiri di sana? Mengapa wajahnya begitu muram? Sekedar karena cuaca yang panas kah? Atau karena pedih yang tersimpan di hatinya yang ia hempaskan dalam helaan nafasnya?
Jujur, aku pun kerap menghela nafas jika ada yang mengganjal di hati. Helaan nafas terkadang mampu menghalau sedikit ganjalan itu. Ada lega setelahnya.
Semoga nenek itu pun begitu.
Dalam hati, kudoakan agar Allah sudi menghapus beban di hatinya, juga melindunginya. Agar hidupnya lebih mudah setelah ini. Aamiin.
Picture by: Vivek Chugh (Goa, India)
Sejak kecil kita diajarkan doa sebelum makan. Tapi, pernah kah kita diajarkan doa sebelum masak?
Sebenarnya, setiap kali hendak beraktivitas, apapun itu, hendaknya kita berdoa. Tapi, kita ingatnya hanya saat mau makan, tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, dll., doa-doa yang sering diajarkan sejak kecil.
Belum lama ini, saya mengobrol dengan mertua yang memang kesehariannya senang memasak. Ummi — begitu saya memanggilnya — mengingatkan bahwa bagaimanapun masakan rumah lebih baik daripada masakan di luar.
Selain karena kita yakin akan kebersihannya, juga karena setiap hendak memasak, hendaknya kita berdoa, atau menyebut asma-Nya.
“Mau nyalain kompor, Ummi baca Bismillah, mau mulai ngegoreng, Ummi baca Bismillah.”
Subhanallah. Iya juga ya.
Saya sendiri masih nebeng masak dengan Mama saya. Insya Allah Mama dan Mbak Is (saudara yang membantu Mama memasak) juga selalu mengucapkan Bismillah saat hendak memasak.
Buat yang suka memasak di rumah, yuk, kita sebut asma-Nya sebelum mulai memasak.
Foto: Tiago Pantaleao, Barcelona, Spain (it’s his own father’s farm kitchen; beautiful, isn’t it?)
Salah satu minuman favoritku: Teh Tarik. Biasanya aku buat dari teh tarik sachet-an yang aku tambah sedikit susu kental manis dan bubuk kayu putih…eh bukan ding, bubuk kayu manis. Wkwkwk. [Asli, sebelum diedit barusan, aku cuma tulis bubuk kayu putih doang. Resep yang kacau!]
Barusan, sambil sarapan roti dan teh tarik, aku sambil blogwalking ke http://onewordonly.wordpress.com/. Eh, ternyata warnanya matching sama mug teh tarikku pagi ini ya?
Ah, kali ini masih harus kalah lagi. Padahal Garuda Muda menurut hemat saya sudah bermain dengan baik.
Memang, saya dan si Abi melihat Wanggai dan Diego tidak bermain seindah sebelumnya. Tapi, melihat permainan tim, sebenarnya kita ‘menang.’
Namun yang menyesakkan adalah lagi-lagi dikalahkan di kandang sendiri. Oleh lawan yang sama. Padahal kita sudah memberikan tim yang berbeda, dengan kualitas mental yang lebih baik (menurut saya).
Walau begitu, saya tidak sempat menghibur diri sendiri. Karena, segera setelah bola terlepas dari tangan Kurnia Mega, Hana, anak semata wayang saya, menangis tersedu-sedu.
Tangisan yang tidak sebentar. Hampir satu jam ia menangis karenanya. Ia baru berhenti menangis setelah kelelahan dan mengantuk, saat mulai terlelap di tempat tidur.
Ah, memang. Lagi-lagi yang tersisa adalah tangis. Semoga bukan hanya tangis. Melainkan ada harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, persepakbolaan Indonesia dapat memberikan predikat juara. Semoga semua dapat dibenahi. Semoga segalanya akan membaik.
Foto dari blog Andriyarusman.com.
© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine