PPT 5: Dialog Udin dan Asrul
Dialog antara dua sahabat, Udin dan Asrul, di Sinetron Para Pencari Tuhan kerap membuat saya berkerut kening walau tak jarang juga membuat saya tertawa.
Dialog barusan tentang betapa keluarga adalah urusan dunia yang kita yang sebaiknya kita cintai dengan sewajarnya saja, tidak terlalu berlebihan, apalagi menghamba. Karena pada akhirnya akan diambil kembali oleh-Nya, entah dengan cara yang menyakitkan ataupun tidak membuat saya terhenyak.
Terlebih dialog lanjutan mereka:
Udin: Boleh nangis?
Asrul: Boleh, tapi jangan sampai meraung-raung, seakan Allah hanya mampu menghadirkan kesusahan dalam hidupmu.
Subhanallah.
Dialog itu membuat saya berkaca dengan beribu bahkan berjuta air mata yang pernah menetes di pipi ini. Terkadang, jika sedang dirundung malang, kita bisa menangis sejadi-jadinya. Padahal, jika hal itu telah berlalu, toh pada akhirnya kita bisa melanjutkan hidup. Jadi, apa makna tangis kita itu sebenarnya?
Ada yang bilang, tangis bisa membuat kita merasa lega. Saya mau tidak mau setuju. Setelah selesai mengumbar kesedihan lewat air mata, biasanya dada menjadi plong. Tapi mudah-mudahan setelah diingatkan oleh Asrul melalui dialognya di atas, saya akan lebih beradab dalam menangis. Amin.
Foto dari: FB Udin Nganga dan Asrul Dahlan
Akhirnya, muncul juga cinta segitiga antara Aya-Azzam-Kalila di PPT 5. Aku pikir sudah akan dilupakan.
Yippieee! Hari ini banyaaaakkkk sekali yang bilang aku kurusan.

