güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Archive for the ‘Teman’ Category

Persahabatan

Tadi pagi, aku, Papa, adikku, dan Hana menemani Mama periksa rutin ke dokter. Hihi. Iya, rame-rame. Papa pingin tetap ikut meskipun tugas menyetir sudah diambil alih adikku. Hana? Dia sih memang ke mana emaknya pergi maunya ngintilin terus.

Alhamdulillah, kata dokter, sudah ada kemajuan. Dan yang penting dokter optimis akan kesembuhan Mama. Menularkan semangat ke pasien, si Mama, dan aku, yang ikut nemenin ke dalam ruangan dokter — Papa, adikku, dan Hana tunggu di luar.

Setelah selesai periksa, Mama mengajak kami menjenguk sahabatnya yang sedang sakit di rumah sakit lain. Kebetulan masih sama-sama di selatan Jakarta. Kuyakinkan Mama, “Mama nggak pusing? Kuat? Nggak capek?”

“Nggak. Bisa kok,” jawab Mama pasti.

Mobil pun meluncur ke sana. Sebenarnya, aku sudah merencanakan untuk menjenguk sahabat Mama satu ini sore harinya, tanpa Mama. Tapi Mama pingin ikut. Jadi sekalian deh.

Waktu Mama dirawat beberapa minggu silam, sahabatnya yang sudah seperti saudara ini datang menjenguk juga lho.  Bahkan, tante baik hati ini lah yang membantu membujuk Mama untuk menyetujui sebuah tindakan medis yang disarankan dokter. Padahal, tadinya Mama takut dan menolak. Padahal, saat itu ia juga sedang kurang enak badan. Kakinya lagi bengkak.

Yang lebih membantu lagi, anak perempuan sahabat Mama ini sudah selesai mengambil spesialisasi internis di FKUI — usianya di bawahku lho. Jadi, sedikit-sedikit, aku memang konsul kepadanya soal Mama. Aku yakin ia akan jadi dokter hebat. Psssttt…bahkan penjelasannya lebih detil daripada yang kudapat dari tim dokter yang menangani Mama di rumah sakit.

Tadi, saat Mama memasuki ruangan, sahabatnya itu kayaknya seneng banget. Walau sambil bilang, “Duh, gue marah deh Emma pake dateng segala,” senyum merekah di bibirnya.

Hihi. Ternyata si Tante nggak mau ngerepotin Mama. Padahal Mama malah seneng bisa ketemu langsung sama sahabatnya, daripada cuma nanya-nanya ke aku soal kondisi si Tante.

Melihat mereka ngobrol, aku merasakan haru. Persahabatan yang sudah berpuluh tahun itu terus terjaga dengan baik. Kelihatan banget mereka saling sayang. Pembicaraan yang terjalin begitu indah, santun namun santai.

Ah, aku segera berdoa dalam hati. Semoga Mama dan sahabatnya itu (dan sahabat-sahabatnya yang lain) segera sembuh total dan selalu diberi kesehatan oleh Allah agar mereka bisa terus menjalin persahabatan dan silaturahmi. Aamiin.

Indah ya hidup ini jika kita dikelilingi para sahabat yang selalu mendukung dalam suka maupun duka? Care to share your story tentang sahabat tersayang? :)

Foto: by Martine Sansoucy 

Are you OK?

Kali ini, aku ingin membahas tentang persahabatan…lagi. Ya, lagi. Karena sebenarnya sudah pernah juga aku sedikit menyinggung tentang 2 sahabatku di sini.

sahabat

Tapi kali ini bukan membahas keduanya. Melainkan aku sedang merasa menyesal dengan diriku sendiri.

Jadi, beberapa bulan silam, salah seorang sahabatku yang lain sedang dirundung masalah. Aku sebenarnya sudah dapat merasakan ada yang salah dengannya. Tapi aku memilih untuk diam.

Kenapa?

Karena aku pikir permasalahan itu berada di wilayah yang sangat pribadi. Aku mencoba menelaah — saat itu — bahwa jika aku di posisinya, aku lebih suka ditanya atau tidak? Dan, kebetulan aku juga bukan tipe orang yang want-to-know-ajah! Kalau tidak diceritakan ya aku tidak akan menanyakan.

Kupikir, jika memang seseorang ingin berbagi, itu semestinya datang dari dirinya sendiri, keinginan sendiri. Bukan karena ditanya.

Tapi kemarin, memang tanpa ditanya, sahabatku menceritakan tentang masalahnya. Dan, menurutnya, ia sebenarnya memang sudah ingin bercerita sejak dulu. Tapi pertemuan-pertemuan kami memang tidak pernah berdua saja. Selalu ada teman lainnya. Sehingga sepertinya kesempatan untuk bercerita tidak pernah ada.

Kemarin, kami berpelukan dalam tangis. Jujur, aku merasa menjadi seorang teman yang payah karena tidak ada di sana saat ia harus melewati semua itu.

Kini ia sudah baik-baik saja. Semua sudah lewat dan ia sudah dapat tersenyum kembali. Tapi, hingga sore kemarin, pikiranku masih digelayuti oleh permasalahannya — yang telah lewat itu.

Muncul penyesalan. Really wish I had been there for my dear friend. Really wish I had asked, had been a ‘lil bit fussy, so that I could lend her my shoulders.

Aku juga bertanya kepada beberapa teman, apakah mereka lebih suka ditanya jika sedang ada masalah atau tidak. Menurut salah seorang temanku yang lain, ia lebih suka ditanya. “Showing that you care,” katanya. Benar juga.

Aku pun meminta maaf kepada sahabatku itu, for not being there for her. Dan, ia berkata, it’s ok, kalau lo tahu waktu itu, entar lo ikut stres lagi. Subhanallah. Ia saja masih memikirkan aku.

Kemarin sore, aku pun menghubungi seorang teman lainnya yang aku tahu sedang berada dalam masalah juga. Aku sekedar bertanya, “Are you ok?” Alhamdulillah dia secara keseluruhan ok. Tapi seusai saling bercakap-cakap di telepon, ia mengirimkan SMS, “Thank you for calling.”

Ya, aku belajar sesuatu kemarin. Bahwa tidak ada salahnya menangakan kabar, atau sekedar bertanya, “Are you ok?” Karena itulah gunanya sahabat. You simply ask the question. Kalau mereka memang ingin bercerita, jadilah pendengar yang baik. Jika tidak, jangan ganggu privacy mereka.

Semoga setelah pelajaran berharga kemarin, aku bisa lebih menyayangi sahabat-sahabatku, bisa berada di sana saat mereka membutuhkan. Dan semoga semua sahabatku baik-baik saja. Amin.

Sindir-Menyindir

komunikasiHubungan antar teman semakin erat belakangan ini. Semenjak ada FB, twitter, BBM, YM, Skype, dll.

Ada yang lebih suka saling kontak via dunia maya saja, baik melalui jejaring sosial ataupun layanan chat. Ada juga yang lebih suka melanjutkan ke ajang tatap muka alias kopdar, kopi darat. Atau, ada juga yang intens melakukan keduanya.

Memang, semua ada hikmahnya. Walau memang ada juga yang pada akhirnya “tak sengaja” terperangkap dalam sisi negatifnya, seperti perselingkuhan ataupun CLBK dan sejenisnya. Tapi saya yakin yang lagi baca nggak begitu kan ya? ;) Klik untuk melanjutkan membaca ya »

2 Sahabat dalam 1 Minggu

sahabatAku memiliki 2 orang sahabat yang telah kukenal semenjak aku kecil. Yang pertama adalah seorang teman SD, yang kedua adalah seorang teman SMP. Sebenarnya teman SD ini juga kemudian menjadi teman SMP. Dan, teman SMP ini kemudian menjadi teman SMA.

Hm…tidak penting juga sih, apakah mereka teman SD, SMP, atau SMA. Karena, setelah kami mulai mengenal, kami menjadi sahabat.

Keduanya adalah orang yang mengenalku apa adanya. Mereka mengenalku sudah lebih dari dua puluh tahun! Dan, tidak, kami tidak bersahabat bertiga. Tapi, aku bersahabat dengan keduanya, aku dengan si A dan aku dengan si B. Sementara, A memang berteman dengan B, tapi apa yang mereka miliki tidak sama dengan apa yang kumiliki dengan masing-masing dari mereka.

Tapi, jujur, komunikasi kami sempat terputus semenjak tahun lalu karena satu dan lain hal.

Dan, minggu lalu, tiba-tiba aku sedang iseng membenahi kontak di HP-ku. Dan, aku menemukan sebuah nomor yang kuberi nama dengan nama si B. Aku tidak yakin itu nomornya, namun kucoba juga. Ternyata nomor ibunya. Dan, berhasillah aku kembali berkontakan dengan si B.

Mengingat aku sedang butuh bicara dengan seseorang tentang suatu masalah dan aku tidak dapat membicarakannya dengan siapapun kecuali A atau B. Maka, kuputuskan untuk menelepon B di awal minggu kemarin ini. Kuutarakan semua yang ada di hati. Ia mendengarkan dan memberikan saran yang sangat mengena di hati. Bahkan, sedikit menendang, tapi itulah yang sedang kubutuhkan.

Lalu, aku teringat A. Aku bertanya-tanya apa kabarnya. Ia tidak memiliki akun FB. Tapi, orang tua dan keluarganya punya. Aku meng-add ibunya. Dan, aku merasa rindu. Aku berniat untuk menghubunginya awal minggu depan ini. Di samping itu, aku merasa, jika aku tak menghubunginya, aku egois. Aku sudah mendapatkan ‘pencerahan’ dari berbincang dengan B. Sudah saatnya, aku melakukan hal yang sama terhadap orang lain. A. Karena, aku tahu A membutuhkan aku.

Tapi, tak ada angin tak ada hujan — atau ada, entahlah, minimal angin, ia datang ke rumahku kemarin malam. Dia menceritakan permasalahannya, dan kami menangis bersama. Kami berpelukan. Dan, aku baru menyadari bahwa aku begitu sayang kepadanya.

Bagaimana tidak, aku mengenalnya sejak kecil. Dan, ia telah menjadi bagian dari banyak peristiwa hidupku. Sampai-sampai aku bisa berdiri di hadapannya dengan benar-benar apa adanya. Tak ada yang perlu kututup-tutupi, kusembunyikan — seperti juga terhadap B.

Kepada A dan B, aku tidak perlu berpura-pura. Karena, bagaimanapun aku, aku tahu, mereka memahamiku, mereka menyayangiku.

Semoga ini bukan sekedar euforia sesaat.

Karena, aku merasa nyaman saat mereka kembali ada dalam hidupku. Aku bisa menceritakan semua tanpa merasa takut dihakimi atau dihina.

A hanya berkata, “Oh, gue baru tahu kalo ternyata elo lebih memilih melakukan itu daripada ini,” saat kujelaskan kepadanya mengenai permasalahanku. Ia berusaha memahamiku.

Dan, B berkata, “Only with you I can say anything and we laugh about it, we can laugh at ourselves,” saat ia bercerita, aku bercerita, dan kami tertawa sementara air mata mengalir di wajah kami.

Oh…aku sangat berharap, keberadaanku dalam hidup mereka dan keberadaan mereka dalam hidupku, kali ini dapat membantu kami menjadi lebih kuat dalam menghadapi apapun. Membantu kami dalam proses pendewasaan diri ini. Membantu kami menjalani hari dengan tersenyum. Amin.

——————————————–

Hm…aku juga punya teman-teman dan sahabat-sahabat lainnya. Dan, aku juga sangat bersyukur karena memiliki mereka. Tapi, kali ini, aku memohon ijin untuk bersyukur atas kedua sahabatku yang sempat jauh dan kini mendekat. Jadi, teman & sahabatku yang lain, kalian pun memiliki ruang di hatiku. Dan, aku juga sayang kalian. Dan, aku juga bersyukur memiliki kalian semua.  Karena kehadiran kalian dalam hidupku lah, aku bisa tersenyum. Kalian, dengan makna masing-masing dalam hidupku. Kalian, dengan keindahan yang kalian tawarkan. Terima kasih.

Didengar dan Mendengar

Suatu hari aku mengeluhkan ketidakberuntunganku kepada seorang teman. Responnya membuatku terhenyak.

“Mungkin Allah memberi anugrah dalam bentuk yang lain, Nad.”

Ah, ia betul. Aku semestinya tahu itu. Tapi, kadang mata kita terbutakan entah oleh apa — emosi, rasa kecewa, ekspektasi yang terlalu tinggi. Dan, kata-kata sederhana namun mengena dari orang lain yang sedang berpikiran jauh lebih jernih dari kita sangatlah berguna.

Ya kan? Kalau lagi sedih, sulit bagi kita untuk berpikiran jernih. Semua nampak salah dan suram. Dan, teman yang baik adalah teman yang membuka pikiran kita. Dan, ada baiknya juga jika kita bersedia membuka diri untuk sekedar meresapi kata-katanya.

Ini ada sedikit hubungannya dengan postinganku sebelumnya tentang “Curahan Hati.” Maksudku, jika kita sudah menuntut seseorang mendengarkan keluhan kita, kurasa cukup adil jika kita juga mau mendengarkan pendapat dan sarannya. Kalau perlu, lakukan — jangan hanya didengar lalu menguap begitu saja. Jika kita ingin didengar, kita pun harus mendengar.

Jadi, paling tidak curhat kita itu juga ada guna dan maknanya, bukan sekedar meluapkan emosi.

Sebenarnya, ini self reminder…hehehe…tapi harap maklum, rasa ingin sharing-ku lagi tinggi…

;)