2 Sahabat dalam 1 Minggu
Posted in Teman on 04/19/2010 12:41 am by Nadiah Alwi
Aku memiliki 2 orang sahabat yang telah kukenal semenjak aku kecil. Yang pertama adalah seorang teman SD, yang kedua adalah seorang teman SMP. Sebenarnya teman SD ini juga kemudian menjadi teman SMP. Dan, teman SMP ini kemudian menjadi teman SMA.
Hm…tidak penting juga sih, apakah mereka teman SD, SMP, atau SMA. Karena, setelah kami mulai mengenal, kami menjadi sahabat.
Keduanya adalah orang yang mengenalku apa adanya. Mereka mengenalku sudah lebih dari dua puluh tahun! Dan, tidak, kami tidak bersahabat bertiga. Tapi, aku bersahabat dengan keduanya, aku dengan si A dan aku dengan si B. Sementara, A memang berteman dengan B, tapi apa yang mereka miliki tidak sama dengan apa yang kumiliki dengan masing-masing dari mereka.
Tapi, jujur, komunikasi kami sempat terputus semenjak tahun lalu karena satu dan lain hal.
Dan, minggu lalu, tiba-tiba aku sedang iseng membenahi kontak di HP-ku. Dan, aku menemukan sebuah nomor yang kuberi nama dengan nama si B. Aku tidak yakin itu nomornya, namun kucoba juga. Ternyata nomor ibunya. Dan, berhasillah aku kembali berkontakan dengan si B.
Mengingat aku sedang butuh bicara dengan seseorang tentang suatu masalah dan aku tidak dapat membicarakannya dengan siapapun kecuali A atau B. Maka, kuputuskan untuk menelepon B di awal minggu kemarin ini. Kuutarakan semua yang ada di hati. Ia mendengarkan dan memberikan saran yang sangat mengena di hati. Bahkan, sedikit menendang, tapi itulah yang sedang kubutuhkan.
Lalu, aku teringat A. Aku bertanya-tanya apa kabarnya. Ia tidak memiliki akun FB. Tapi, orang tua dan keluarganya punya. Aku meng-add ibunya. Dan, aku merasa rindu. Aku berniat untuk menghubunginya awal minggu depan ini. Di samping itu, aku merasa, jika aku tak menghubunginya, aku egois. Aku sudah mendapatkan ‘pencerahan’ dari berbincang dengan B. Sudah saatnya, aku melakukan hal yang sama terhadap orang lain. A. Karena, aku tahu A membutuhkan aku.
Tapi, tak ada angin tak ada hujan — atau ada, entahlah, minimal angin, ia datang ke rumahku kemarin malam. Dia menceritakan permasalahannya, dan kami menangis bersama. Kami berpelukan. Dan, aku baru menyadari bahwa aku begitu sayang kepadanya.
Bagaimana tidak, aku mengenalnya sejak kecil. Dan, ia telah menjadi bagian dari banyak peristiwa hidupku. Sampai-sampai aku bisa berdiri di hadapannya dengan benar-benar apa adanya. Tak ada yang perlu kututup-tutupi, kusembunyikan — seperti juga terhadap B.
Kepada A dan B, aku tidak perlu berpura-pura. Karena, bagaimanapun aku, aku tahu, mereka memahamiku, mereka menyayangiku.
Semoga ini bukan sekedar euforia sesaat.
Karena, aku merasa nyaman saat mereka kembali ada dalam hidupku. Aku bisa menceritakan semua tanpa merasa takut dihakimi atau dihina.
A hanya berkata, “Oh, gue baru tahu kalo ternyata elo lebih memilih melakukan itu daripada ini,” saat kujelaskan kepadanya mengenai permasalahanku. Ia berusaha memahamiku.
Dan, B berkata, “Only with you I can say anything and we laugh about it, we can laugh at ourselves,” saat ia bercerita, aku bercerita, dan kami tertawa sementara air mata mengalir di wajah kami.
Oh…aku sangat berharap, keberadaanku dalam hidup mereka dan keberadaan mereka dalam hidupku, kali ini dapat membantu kami menjadi lebih kuat dalam menghadapi apapun. Membantu kami dalam proses pendewasaan diri ini. Membantu kami menjalani hari dengan tersenyum. Amin.
——————————————–
Hm…aku juga punya teman-teman dan sahabat-sahabat lainnya. Dan, aku juga sangat bersyukur karena memiliki mereka. Tapi, kali ini, aku memohon ijin untuk bersyukur atas kedua sahabatku yang sempat jauh dan kini mendekat. Jadi, teman & sahabatku yang lain, kalian pun memiliki ruang di hatiku. Dan, aku juga sayang kalian. Dan, aku juga bersyukur memiliki kalian semua. Karena kehadiran kalian dalam hidupku lah, aku bisa tersenyum. Kalian, dengan makna masing-masing dalam hidupku. Kalian, dengan keindahan yang kalian tawarkan. Terima kasih.

