[cerbung - DOKTER IMPIAN] 1. Seorang Dokter untuk Warga Kota Berkulit Hitam

Kulit kami hitam, tapi kami bahagia.

pantaiApa yang lebih membahagiakan daripada tinggal di tepi pantai? Kulit legam tak jadi masalah. Setidaknya buatku. Entah buat teman-temanku yang lain yang lebih suka mengeram diri di rumah agar terlihat lebih putih—tapi tetap saja terlihat sama hitamnya denganku.

Oh ya, tadi sudah kukatakan kan bahwa aku tinggal di tepi pantai? Kota tempat tinggalku ini—ingat, kota, bukan desa—terletak di sebuah pulau yang kecil pun tidak besar pun tidak. Sedanglah—setidaknya untukku yang belum sekali pun menginjak pulau lain selain pulu tempat tinggalku dan beberapa pulau lain di sekelilingnya.

Aku hanya perlu bersepeda kurang dari sepuluh menit dari rumah, maka aku sudah bisa memandang hamparan laut yang luas.

Syukurlah, laut yang mengelilingi kotaku itu bukan laut lepas, melainkan laut dalam. Ombaknya tenang dan kalau pasang tidak menakutkan. Jadi, kami tak perlu takut akan tsunami—setidaknya itu yang dikatakan oleh guru Geografi-ku di sekolah.

Di salah satu tepian pantai, terdapat semacam pelabuhan kecil. Kadang kulihat perahu boat kecil yang membawa beberapa turis lokal maupun manca negara yang menginap di pulau seberang bersandar di dermaga. Mereka memotret-motret sebentar, bermain-main dengan penyu-penyu yang kerap muncul, lalu pergi lagi dengan boat itu, entah ke pulau lain, entah kembali ke pulau seberang.

Mereka tak pernah masuk lebih jauh dari itu karena pemerintah kota—ingat, kota, bukan desa—tak pernah mau mengijinkan orang asing masuk mengotori kota kami. Cukuplah televisi mengacaukan tata cara berpakaian dan pergaulan di pulau ini. Tak perlu ditambah lagi dengan berkelompok-kelompok orang yang menjajah dengan kedok turisme.

Tapi, ada satu orang asing yang diperbolehkan masuk kota, tinggal lama, bahkan mempengaruhi warga. Bukan guru—karena semua guru di kota ini adalah anak daerah yang kembali merantau dan ingin membangun tempat kelahiran mereka.

Lalu siapa?

Seorang dokter. Setiap hampir dua tahun sekali, kami mendapat jatah seorang dokter berbeda untuk mengurusi kami jika jatuh sakit.

Sudah beberapa kali ini kami didatangkan dokter perempuan. Tapi sekarang, yang datang justru dokter laki-laki.

Semenjak kecil, di kepalaku yang namanya dokter itu ya perempuan. Jadi, dokter laki-laki agak aneh rasanya.

Yah, ada yang mencapku kampungan. Tapi, jangan salahkan aku. Siapa suruh selalu dokter perempuan yang memeriksaku jika aku sakit semenjak aku umur nol hingga lima belas tahun seperti sekarang ini.

Jadi, dengan penuh rasa ingin tahu, kukayuh sepeda menuju rumah dinas dokter yang letaknya di tengah kota, sekitar delapan menit dari rumahku—ya, kalau aku bersepeda dengan sangat cepat seperti sekarang.

Rumah itu cukup besar untuk ukuran rumah yang hanya dihuni oleh satu orang. Tapi, kata kepala kota—bukan kepala desa!—, beliau ingin menunjukkan penghormatan kepada orang yang menjauhkan seluruh warganya dari segala macam penyakit. Dan, rumah besar itulah wujudnya.

Aku setuju dengan kepala kota. Bahkan, seluruh keluargaku pun setuju. Terutama karena nyawa Bapak pernah diselamatkan oleh dokter yang bertugas di kota kami saat Bapak terkena penyakit yang kemudian kami kenal dengan nama demam dengue, demam berdarah.

Bapak sudah demam selama tiga hari, tapi menolak diobati. Untunglah, aku nekat. Diam-diam, dengan sepedaku, kuhampiri rumah Dokter Nadya. Jalan begitu sunyi. Saat itu sudah jam sembilan malam — di kotaku, semua orang sudah tertidur semenjak jam delapan malam kecuali jika mereka punya televisi dan punya cukup uang untuk membayar biaya listrik yang membengkak akibat terlalu banyak menyalakan ‘kotak ajaib’ itu.

Dan, begitulah, akhirnya Bapak tertolong.

Kembali ke rumah dokter. Ternyata bukan hanya aku yang penasaran. Setidaknya ada dua puluh orang lainnya yang berkerumun di depan rumah dinas sang dokter. Sayangnya, aku tak suka keramaian. Jadi, kukayuh sepedaku menjauhi rumah itu. Awalnya aku ingin pulang, tapi aku tergoda untuk bermain-main sebentar di pantai.

4 Komen

  1. Rinurbad Says:

    Idenya keren..pembukanya asyik.
    BTW Nad..kurasa ‘mencap’ sebab ‘mengecap’ itu mencicipi, bukan? Hehe..
    teruskan menulis, Honey:D

  2. Nadiah Alwi Says:

    Waaahhh, makasih, jeng Rin…

    masukan2 kayak gitu tuh yang aku tunggu2…sejujurnya, aku juga merasa aneh dengan kata mengecap itu tapi gak nemu2 alasannya…thanks to you, now I know…udah diganti hehe…

    ;)

  3. Rinurbad Says:

    Sip, sip. BTW ‘kepala kota’ itu apakah gerangan? Walikota kali ya:D

  4. Nadiah Alwi Says:

    hahaha sebenernya sih kepala desa, tp si kepala desa gak mau wilayahnya disebut desa…kurang aku tekankan yak? :D

Silakan berkomentar.